Rangkuman Berita Utama Timteng  Selasa 12 Oktober 2021

Jakarta, ICMES. Hasil sementara pemilu parlemen Irak mencatat aliansi-aliansi Syiah berada di urutan pertama dalam perolehan suara, dan disusul setelahnya berbagai aliansi Sunni dan Kurdi.

Jubir Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) Brigjen Yahya Saree, Senin (11/10), menyatakan akan menyelenggarakan konferensi pers pada hari ini, Selasa (12/10), untuk menjelaskan operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh pihaknya di provinsi Ma’rib belakangan ini.

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian menyatakan pihaknya telah memulai pembicaraan baru dengan Arab Saudi mengenai Yaman, dan menilai pembicaraan itu berlangsung dalam proses yang baik.

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato terbaru, Senin (11/10), berbicara mengenai berbagai isu internal Lebanon dan isu regional, termasuk Afghanistan, serta mendesak pemerintah Lebanon agar menanggapi tawaran bantuan Iran di bidang listrik di mana Lebanon mengalami krisis besar.

Berita Selengkapnya:

Hasil Sementara Pemilu Parlemen Irak, Kelompok Sadr Pimpin Perolehan Suara

Hasil sementara pemilu parlemen Irak mencatat aliansi-aliansi Syiah berada di urutan pertama dalam perolehan suara, dan disusul setelahnya berbagai aliansi Sunni dan Kurdi.

Menurut data awal yang dilansir oleh beberapa media Irak, dari pihak Syiah kelompok Moqtada Sadr memimpin perolehan suara dengan merebut 73 kursi parlemen. Sedangkan dari pihak Sunni, aliansi yang dipimpin oleh Mohammad Al-Halbusi, mantan ketua parlemen Irak, mendapat suara terbanyak dan merebut 38 kursi parlemen.

Sedangkan dari pihak Kurdi, suara terbesar diraih oleh Partai Demokrasi Kurdistan Irak yang telah merebut 32 kursi.

Data final yang diumumkan oleh Komisi Tinggi Pemilu Irak menyebutkan bahwa peserta pemilu berjumlah lebih dari 9 juta orang atau sekitar 41 persen dari total 22 juta warga yang berhak pilih. (tasnim) 

Ansarullah akan Ungkap Operasi Militernya di Ma’rib, Saudi Mengaku Habisi Ratusan Pasukan Ansarullah

Jubir Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi) Brigjen Yahya Saree, Senin (11/10), menyatakan akan menyelenggarakan konferensi pers pada hari ini, Selasa (12/10), untuk menjelaskan operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh pihaknya di provinsi Ma’rib belakangan ini.

“Tepat pada pukul 3 sore hari Selasa besok, insya Allah, akan ada konferensi pers angkatan bersenjata untuk mengungkap rincian operasi militer masif di Provinsi Ma’rib,” katanya.

Dia menambahkan bahwa pengungkapan mengenai operasi militer itu akan mencakup antara lain penayangan rekaman-rekaman video dokumenter dan penjelasan mengenai rincian operasi rudal dan pesawat nirawak dan pengoperasian pertahanan udara.

Di pihak lain, pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi di hari yang sama mengklaim bahwa sedikitnya 156 pasukan Ansarullah yang mereka sebut teroris terbunuh oleh serangan udara koalisi belakangan ini di kawasan Al-Abdiyah di selatan Provinsi Ma’rib.

“Kami telah melancarkan 33 operasi serangan terhadap kendaraan militer dan anasir Houthi di Al-Abdiyah dalam 24 jam terakhir. Operasi serangan ini mencakup penghancuran delapan kendaraan militer dan kerugian jiwa lebih dari 156 anasir teroris,” ungkap kubu koalisi.

Sumber-sumber militer pendukung pemerintahan presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi menyatakan bahwa 17 pasukan Hadi terbunuh dalam dua hari terakhir di Al-Abdiyah yang dikepung oleh Ansarullah.

Sejak Februari lalu Ansarullah meningkatkan operasi militernya untuk merebut kota Ma’rib yang selain kaya minyak juga merupakan daerah strategis yang akan memudahkan Ansarullah memperluas kekuasaannya atas berbagai provinsi lain, dan pada gilirannya juga akan memperkuat posisinya dalam perundingan damai di masa mendatang. (alalam/raialyoum)

Iran Mengaku Mulai Mengadakan Pembicaraan Baru dengan Saudi mengenai Yaman

Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian menyatakan pihaknya telah memulai pembicaraan baru dengan Arab Saudi mengenai Yaman, dan menilai pembicaraan itu berlangsung dalam proses yang baik.

Dikutip IRNA, Senin (11/10), dalam wawancara dengan saluran CNBC yang berbasis di AS Abdollahian mengatakan bahwa Iran selalu memandang krisis Yaman hanya bisa diselesaikan melalui jalur politik.

Menurutnya, Iran sejak awal sudah menyatakan bahwa solusi militer untuk Yaman tak dapat diterima, dan karena itu Iran mengajukan rencana penyelesaian melalui kanal politik.

Abdollahian juga mengatakan negaranya selalu menyambut baik dialog regional, termasuk dengan Arab Saudi.

“Kami telah memulai pembicaraan baru dengan Saudi, dan saya kira pembicaraan ini berjalan di jalur yang baik,” lanjutnya.

Yaman dilanda perang sejak sekira tujuh tahun silam, yang menyebabkan lebih dari 233,000 orang tewas, dan 80% penduduknya yang berjumlah sekira 30 juta orang bergantung pada bantuan di tengah kondisi kemanusiaan yang terburuk di dunia, menurut laporan PBB.

Perang itu berbias konflik regional karena sejak Maret 2015 pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan invasi militer untuk membela pemerintahan presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi dalam perang melawan Ansarullah, pihak yang didukung Iran dan menguasai beberapa provinsi dan Ibu Kota Sanaa.

Mengenai perundingan nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia di Wina, Abdollahian mengatakan, “Kami sekarang sedang meninjau putaran-putaran perundingan sebelumnya, terutama yang terbaru di Wina, dan saya kira kami akan kembali berunding dalam waktu dekat ini.”

Namun demikian, dia meragukan iktikad AS untuk kembali kepada perjanjian nuklir yang telah dikhianatinya di masa kepresidenan Donald Trump.

“Kami melihat adanya perilaku yang kontradiktif dari pemerintah AS, mereka mengaku siap berunding secara bilateral dan mengaku siap kembali kepada komitmennya, tapi mereka tidak menunjukkan kepada pemerintah Iran langkah operasional apapun yang membuktikan kejujuran niat mereka,” ujar Abdollahian.

Hubungan Iran-Saudi terputus sejak tahun 2016 menyusul peristiwa serangan terhadap Kedutaan Besar Saudi di Teheran oleh massa pengunjuk rasa yang memrotes hukuman mati pemerintah Saudi terhadap ulama Syiah Saudi Syeikh Nimr Al-Nimr.

Dalam konferensi pers pekan lalu Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan menyatakan negaranya telah mengadakan putaran keempat perundingan langsung dengan Iran pada 21 September lalu. Meski demikian, dia juga menyebut perundingan itu masih berada di tahap “eksplorasi”. (raialyoum)

Sayid Nasrallah: AS Pindah Teroris ISIS ke Afghanistan

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato terbaru, Senin (11/10), berbicara mengenai berbagai isu internal Lebanon dan isu regional, termasuk Afghanistan, serta mendesak pemerintah Lebanon agar menanggapi tawaran bantuan Iran di bidang listrik di mana Lebanon mengalami krisis besar.

“Ada tawaran baru Iran mengenai listrik, tanggapilah tawaran ini. Mintalah pengecualian dari orang yang Anda sebut sebagai kekasih dan sahabat kalian, AS, untuk menerima tawaran Iran,” ungkapnya.

Mengenai pendatangan bahan bakar minyak Iran ke Lebanon, dia mengatakan, “Dalam masalah impor minyak ini sekarang kita berada di tahap awal, yang akan berlanjut sampai akhir Oktober. Dalam masalah bahan bakar minyak kami tidak bersaing dengan berbagai perusahaan dan stasiun yang ada, melainkan semata demi memenuhi kebutuhan darurat.”  Dia menambahkan bahwa tahap kedua akan dimulai pada November mendatang.

Sayid Nasrallah menyatakan belasungkawa atas tragedi bom bunuh diri yang menerjang sebuah masjid warga Muslim Syiah di Kunduz, Afghanistan, dan menjatuhkan ratusan korban tewas dan luka.

“Kami memiliki informasi bahwa AS telah memindah para takfiri ISIS dari Irak dan Suriah ke Afghanistan… Sebelum keluar, AS datang ke Afghanistan untuk perang saudara di sana,” ujarnya.

Dia lantas mengatakan bahwa pihak yang berkuasa di Afghanistan sekarang bertanggungjawab melindungi warga negara ini tanpa mengindahkan faktor sektarian.

Mengenai Palestina dia mengatakan, “Sudah menjadi kewajiban moral untuk mendukung Syahid Nezar Banat, pemikir pemberani Palestina, yang telah dibunuh oleh otoritas Palestina. Kami berbela sungkawa dan turut bersimpati kepada keluarga Syahid Banat serta semua rekan dan para pecintanya, dan meminta otoritas Palestina menegakkan keadilan dalam perkara ini.”

Mengenai Yaman, Sayid Nasrallah mengapresiasi cara umat Islam negara ini dalam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad saw.

“Kami takjub dan hormat atas apa yang dilakukan oleh bangsa Yaman yang mulia dan teraniaya dalam memperingati Maulid Nabi Yang Mulia, meskipun mengalami perang, kehancuran, resiko besar dan blokade,” tuturnya, mengacu pada rapat akbar jutaan orang di berbagai kawasan yang dikuasai Ansarullah setiap tahun dalam peringatan Maulid Nabi saw.

Sekjen Hizbullah menyebutnya sebagai aksi “mencengangkan dan membuat kita malu di depan kondisi yang mereka alami” dan “hujjah bagi Muslimin di dunia ihwal khidmat kebangsaan pada peringatan Maulid Nabi Yang Mulia”. (alalam)