Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 12 Maret 2019

khamenei - solemainiJakarta, ICMES: Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menganugerahi komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayjen Qasem Soleimani, lencana medali penghargaan “Zolfaghar” yang merupakan tanda kepangkatan tertinggi di negara republik Islam ini, sembari mendoakan agar pada akhirnya meraihkan kesyahidan.

Presiden Iran Hassan Rouhani berada di Baghdad, ibu kota Irak, dalam sebuah kunjungan yang ditujukan untuk memperkuat hubungan strategis antara Iran dan Irak di tengah upaya AS memisahkan keduanya dan mengekang pengaruh Iran di Timteng.

Sebanyak 12 anak kecil dan 10 wanita telah tewas dalam dua hari terakhir dalam pemboman yang menyasar rumah-rumah warga sipil di provinsi Hajjah di  barat laut Sanaa, ibu kota Yaman.

Berita selengkapnya:

Wow, Ayatullah Khamenei Doakan Jenderal Soleimani Mati Syahid

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menganugerahi komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayjen Qasem Soleimani, lencana medali penghargaan “Zolfaghar” yang merupakan tanda kepangkatan tertinggi di negara republik Islam ini, Senin (11/3/2019).

Dalam kata sambutannya pada upara penganugerahan tersebut, Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa jihad di jalan Allah SWT tak terbalaskan dengan penghargaan-penghargaan dunia. Hal ini dia jelaskan sembari mengutip firman Allah SWT dalam al-Quran al-Karim surat al-Taubah [11] ayat 111 :

إِنَّ اللهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِینَ أَنفُسَهُمْ وَ أَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ یُقَاتِلُونَ فِی سَبِیلِ اللهِ فَیَقْتُلُونَ وَ یُقْتَلُون.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.

Dia mengatakan, “Hal-hal yang kita miliki, baik ekspresi penghargaan secara bahasa maupun tindakan melalui lencana ataupun pangkat yang kita berikan, adalah sesuatu yang dapat kita tinjau melalui perhitungan-perhitungan materi untuk dunia namun bukanlah sesuatu yang patut disebut jika ditinjau dengan perhitungan maknawiyah dan ilahiah.”

Dia kemudian mengatakan kepada para perwira Iran yang hadir, “Segala puji bagi Allah SWT, Anda semua telah berusaha mewujudkan heroisme ini. Segala puji bagi Allah SWT, saudara kita yang sangat mulia, Tuan Soleimani, telah banyak mempertaruhkan nyawanya dalam menghadapi serangan musuh, dan telah berjihad di jalan Allah, karena Allah, dan dengan ikhlas kepada Allah.”

Ayatullah Khamenei kemudian mendoakan Jenderal Soleimani pada akhirnya meraih anugerah kesyahidan yang merupakan puncak harapan bagi setiap pejuang di jalan Allah.

“Insya Allah, semoga Dia memberinya pahala, menganugerahinya kehidupan yang bahagia yang ujungnya adalah kesyahidan, namun tentu bukan sekarang, sebab Republik Islam masih memerlukannya untuk masa bertahun-tahun, tapi pada akhirnya akan meraih kesyahidan, insya Allah. Semoga Allah memberkahi Anda,” ungkapnya.

Jenderal Soleimani adalah komandan Pasukan Quds dari pasukan elit Iran yang bernama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan tersohor sebagai salah satu satu komandan militer paling berpengaruh di dunia.

Majalah Foreign Policy yang berbasis di Washington belum lama ini menempatkan nama Soleimani di  urutan teratas daftar Pemikir Global 2019 di bidang pertahanan dan keamanan, yang disusul oleh Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen.

 

Sebuah tulisan singkat tentang komandan senior Iran ini telah menggambarkannya sebagai “wajah publik tanggapan Iran terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump.”

Jenderal Soleimani juga menjadi sorotan media dunia pada Juli lalu ketika dia memberikan reaksi sengit terhadap ancaman militer Trump terhadap Iran.

Solemani juga dikenal sebagai ahli strategi dan penasihat dalam operasi mliter kontra-terorisme terhadap kelompok-kelompok teroris takfiri di Suriah dan Irak. Dia memimpin para penasihat militer Iran yang mendukung tentara Suriah dan Irak dalam pemberantasan terorisme.

Jenderal Soleimani juga kerap terjun ke lapangan untuk mengawasi tahap demi tahap yang menentukan dalam operasi penumpasan ISIS, kelompok teroris yang pada akhir 2017 kehilangan semua wilayah yang direbutnya di Irak dan Suriah.

Doa Ayatullah Khamenei agar jenderal itu mati syahid menjadi satu lagi pertanda bahwa Iran tak dapat digertak oleh kubu imperialis dunia dengan ancaman militer, perang, dan kematian.  (alalam/presstv)

Berkunjung Ke Irak, Presiden Iran Kecam Kunjungan Rahasia Trump

Presiden Iran Hassan Rouhani berada di Baghdad, ibu kota Irak, dalam sebuah kunjungan yang ditujukan untuk memperkuat hubungan strategis antara Iran dan Irak di tengah upaya AS memisahkan keduanya dan mengekang pengaruh Iran di Timteng.

Rouhani bertemu dengan sejawatnya di Irak, Barham Salih, tak lama setelah tiba di Baghdad, Senin (11/3/2019), untuk pembicaraan penting yang disebutnya “sangat baik.”

“Memperkuat hubungan antara Teheran dan Baghdad adalah untuk kepentingan kedua negara, dan kami tidak akan membiarkan jalan positif menuju kemajuan ini terhenti,” ungkap Rouhani pada konferensi pers bersama Salih.

Salih menyebut kunjungan itu “sangat penting” dan mengatakan bahwa kedua pihak telah menyetujui kerangka kerja baru untuk kerja sama yang akan diumumkan pada hari berikutnya.

“Kita perlu melewati detail sepele dalam hubungan timbal balik dan berpikir tentang ruang yang lebih besar dan lebih luas untuk kerja sama dan hubungan karena ini akan melayani kepentingan kedua negara,” tambahnya.

Presiden Iran berterima kasih kepada Irak karena telah menampung jutaan warga Iran yang datang ke negara 1001 Malam ini setiap tahun pada momen Arba’in, yaitu peringatan hari ke-40 kesyahidan cucunda Rasulullah saw, Imam Hussein bin Ali bin Abi Thalib ra.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menilai kunjungan Rouhani ini “bersejarah dan mulia”, sementara para pengamat memandangnya sebagai reaksi Iran terhadap kunjungan singkat Presiden AS Donald Trump ke Irak pada Desember 2018.

Trump mendadak berkunjung ke Irak pada peringatan Natal tahun lalu, dan menghabiskan sebagian besar kunjungan singkatnya itu untuk menjelaskan keinginannya mempertahankan pasukan AS di Irak dengan tujuan “mengawasi” Iran melalui Irak yang berbatasan dengan Iran sepanjang 1.400 kilometer.

Kunjungan Trump itu telah memicu kemarahan banyak pejabat Irak dan para pemimpin di kawasan, termasuk Presiden Rouhani, yang menyebut kunjungan rahasia itu dilakukan Trump seolah-olah dia mendatangi negara bagian AS sendiri dan menciderai kedaulatan Irak.

Tidak seperti Trump yang harus mendarat di sebuah pangkalan militer di tengah kegelapan malam tanpa ada pejabat Irak yang menyambutnya, Rouhani mendarat di Baghdad di siang hari dan diterima secara resmi oleh pejabat tinggi Irak.

Rouhani menyebut kunjungan rahasia Trump itu “kekalahan” bagi AS di Irak”, dan menyoal mengapa Trump tidak memilih melakukan kunjungan “kunjungan terbuka dan resmi”.

Kepada wartawan di Teheran sebelum keberangkatan pada hari Senin Presiden Iran mengatakan bahwa hubungan antara Iran dan Irak tidak seperti hubungan antara Baghdad dan pasukan Amerika yang “menduduki”.

“AS dibenci di wilayah ini. Bom yang mereka jatuhkan terhadap rakyat Irak, Suriah, dan negara-negara lain tidak dapat dilupakan, dan pada saat yang sama, persaudaraan Iran terhadap negara-negara di kawasan ini akan selalu diingat, ”tuturnya.

Kunjungan Rouhani ke Irak yang dilakukan menyusul kekalahan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak merupakan sebuah pencapaian yang secara luas diyakini tidak mungkin terjadi tanpa peran penting Iran dalam memberikan bantuan konsultasi kepada pemerintah Irak dan Suriah.

Zarif di Baghdad pada Ahad lalu menegaskan bahwa Iran dan Irak menjalin hubungan “strategis” yang tidak dapat dilemahkan oleh negara manapun, dan mencatat bahwa para pemuda kedua negara telah bahu membahu memerangi ISIS. (presstv)

Puluhan Anak Kecil Dan Kaum Perempuan Tewas Dalam Pemboman di Yaman

Sebanyak 12 anak kecil dan 10 wanita telah tewas dalam dua hari terakhir dalam pemboman yang menyasar rumah-rumah warga sipil di provinsi Hajjah di  barat laut Sanaa, ibu kota Yaman, demikian dinyatakan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam sebuah pernyataannya pada hari Senin (11/3/2019).

Dalam pemboman di distrik Keshar itu sebanyak 30 orang lainnya, termasuk 14 remaja terluka dan beberapa di antaranya dilarikan ke rumah sakit di Sanaa.

Pernyataan itu tidak menyebutkan secara spesifik siapa yang bertanggung jawab atas pemboman itu, namun kelompok Ansarullah (Houthi) menegaskan bahwa aliansi militer pimpinan Arab Saudi telah melancarkan serangan udara ke daerah tersebut.

Juru bicara pemerintahan Ansarullah, Daifullah al-Shami, dalam sebuah pernyataan yang rilis kantor berita Saba menyebut pasukan koalisi “sengaja melakukan pembantaian itu.”

Koalisi itu sendiri belum merespon permintaan dari kantor berita AFP agar menjelaskan peristiwa tragis itu. (raialyoum)