Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 11 Mei 2021

Jakarta, ICMES. Para pejuang Palestina di Jalur Gaza melesatkan roket-roketnya untuk menyerang Israel setelah tenggat waktu yang mereka tetapkan habis.

Pasukan Israel menyerbu komplek dan halaman Masjid Al-Aqsa serta melepaskan tembakan peluru karet, granat kejut dan gas air mata terhadap para jemaah Palestina.

Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniyeh menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam terhadap kebrutalan Islam di kota Quds (Yerussalem).

Untuk pertama kalinya pemerintah Iran mengkonfirmasi adanya dialog dan pembicaraan antara Iran dan Arab Saudi untuk mengatasi perselisihan antara kedua negara.

Berita Selengkapnya:

Makin Mencekam, Pejuang Palestina Lesatkan Roket  ke Quds

Para pejuang Palestina di Jalur Gaza melesatkan roket-roketnya untuk menyerang Israel setelah tenggat waktu yang mereka tetapkan habis.

Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menyatakan pihaknya “telah mengarahkan serangan roket terhadap musuh di kota pendudukan Quds atas kejahatan dan agresinya ke kota suci ini dan kebrutalannya terhadap saudara-saudara kami di lingkungan Sheikh Jarrah dan Masjid Al-Aqsa.”

Al-Qassam menambahkan, “Pesan kepada musuh agar dipahami dengan baik; jika kalian beraksi lagi maka kami akan beraksi lagi, dan kalian main menjadi-jadi maka kamipun akan makin menjadi-jadi.”

Tembakan rudal itu membuat sirene berbunyi kencang dan terdengar suara-suara ledakan di Quds, sementara warga Palestina Palestina di sekitar Masjid Al-Aqsa bersuka ria atas adanya serangan itu.

Belum ada laporan mengenai dampak lebih jauh serangan roket dari Gaza tersebut.

Sebelumnya, para pemimpin kubu resistensi Palestina menetapkan tenggat waktu paling lembat Senin pukul 18.00 waktu setempat kepada Rezim Zionis Israel untuk menarik pasukannya dari komplek Masjid Al-Aqsa di kota Quds.

Juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, Abu Obeida, di Twitter, Senin (10/5), menyatakan, “Para pemimpin kubu resistensi di pusat komando bersama memberikan kepada rezim pendudukan (Israel) tenggat waktu sampai jam 6 sore hari ini untuk menarik pasukan dan para perampasnya dari Masjid Al-Aqsa yang diberkahi dan dari lingkungan Sheikh Jarrah serta membebaskan semua orang yang ditangkap selama gelombang kebangkitan (rakyat Palestina) belakangan ini. Jika tidak maka orang yang telah memberikan peringatan akan memiliki alasan (untuk bertindak).”

Sementara itu, berbagai faksi pejuang Palestina telah menyerukan kepada khalayak Palestina untuk bergerak secara massal menuju Al-Quds demi mencegah berlanjutnya serangan pasukan dan warga Zionis ke Masjid Al-Aqsa. Mereka menegaskan bahwa para pejuang tidak akan berdiam diri.

Sekjen Gerakan Al-Ahrar, Khalil Abu Khalid, dalam jumpa pers faksi-faksi pejuang Palestina di halaman gedung parlemen Gaza, Senin, menegaskan, “Bangsa kami di Quds senantiasa berada dalam konfrontasi langsung melawan rezim pendudukan untuk menghadang kejahatan dan pelanggaran imigran Zionis terhadap Masjid Al-Aqsa.”

Dia menambahkan, “Gaza sekarang menentukan sikap dan menyatakan kepada saudara-saudara  kami di Quds bahwa mereka tak sendirian. Kubu resistensi telah menyatakan keputusannya dan telah menyampaikan peringatan belakangan ini atas nama para komandan resistens. Kami katakan bahwa kubu resistensi memantau apa yang terjadi, jari-jari mereka ada di pelatuk dan tak akan membiarkan musuh mencelakakan rakyat kami.”

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungannya kepada aksi-aksi brutal pasukan Zionis di Quds dan komplek Masjid Al-Aqsa, sembari menuding media massa dunia telah membuat laporan-laporan yang keliru mengenai apa yang terjadi di sana. (alalam/raialyoum/rt/alghad))

Mencekam, Masjid Al-Aqsa Jadi Ajang Kebrutalan Pasukan Israel, 305 Orang Palestina Terluka

Pasukan Israel menyerbu komplek dan halaman Masjid Al-Aqsa serta melepaskan tembakan peluru karet, granat kejut dan gas air mata terhadap para jemaah Palestina, Senin pagi waktu setempat (10/5/2021).

Lembaga Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan pihaknya telah menangani 305 korban luka kekerasan pasukan Rezim Zionis Israel terhadap warga Palestina di komplek dan di dalam bangunan-bangunan Masjid Al-Aqsa.

Dalam siaran persnya, Senin, lembaga itu menyebutkan bahwa pasukan Zionis berusaha mencegah masuknya tim medis ke komplek Al-Aqsa, sementara di dalamnya ada ratusan korban luka yang sebagian di antaranya parah, termasuk di bagian wajah dan mata, serta banyak korban yang menderita sesak nafas.

“Ada empat korban luka yang sangat parah, 13 orang terkena di bagian mata, dan korban lainnya ringan dan sedang,” ungkap lembaga itu.

Sedikitnya 228 korban telah dilarikan dari Gerbang Al-Asbat ke beberapa rumah sakit di kota Quds dan beberapa korban lagi terhalang oleh tindakan pasukan Zionis ketika hendak dilarikan ke rumah sakit.

Dikutip kantor berita Palestina, Wafa, Kepala Pengurus Masjid Al-Aqsa, Seikh Omar al-Kiswani mengatakan, “Pasukan pendudukan menyerang Masjid Al-Aqsa secara brutal, belum pernah terjadi sebelumnya, dan terencana sebelumnya. Pasukan pendudukan juga menyerang jemaah Musholla Al-Qibla Masjid Al-Aqsa, Musholla Bab Al-Rahmah, dan Kubah Al-Sakhra serta mengeluarkan jemaah shalat darinya.”

Al-Kiswani menambahkan, “Serangan terhadap Masjid Al-Aqsa (seperti) ini belum pernah terjadi sebelumnya, korban luka ratusan orang. Dunia harus campur tangan mencegah agresi rezim pendudukan yang berkelanjutan terhadap Masjid Al-Aqsa.”

Sebelumnya, badan wakaf Islam Palestina menyatakan, “Pasukan pendudukan menyerbu komplek Masjid secara brutal dan mengejutkan secara tanpa sebab, dan mencegah tim medis mengevakuasi para korban dari lokasi peristiwa.”

Anggota Komisi Pusat Gerakan Fatah Palestina Hussain al-Sheikh mengatakan, “Para pemimpin Palestina sedang mempelajari semua opsi untuk bereaksi terhadap agresi pasukan pendudukan Israel terhadap tempat-tempat suci dan warga di Masjid Al-Aqsa yang diberkahi.”

Dia menilai serbuan pasukan Zionis ke komplek Al-Aqsa hingga ke dalam bangunan-bangunan yang ada di sana sebagai “kejahatan yang brutal”. (raialyoum)

Haniyeh: Hamas Tak akan Tinggal Diam terhadap Kebrutalan Israel di Quds

Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniyeh menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam terhadap kebrutalan Islam di kota Quds (Yerussalem).

“Kubu resistensi tidak akan diam berpangku tangan terhadap apa yang terjadi di kota pendudukan Quds, dan kalimat kubu resistensi akan menjadi penentu keputusan dalam konfrontasi selagi rezim pendudukan tidak mundur,” ungkap Haniyeh, Senin (10/5).

Pasukan Zionis Israel sejak Senin pagi menyerbu komplek Masjid Al-Aqsa, Quds, serta menyerang jamaah Palestina dengan peluru karet, gas air mata dan granat kejut hingga menjatuhkan ratusan korban luka.

Haniyeh menegaskan bahwa Israel harus bertanggungjawab penuh atas segala dampak agresi dan kebrutalannya di Masjid Al-Aqsa.

“Kami dan bangsa kami tak akan pernah menerima berlanjutnya rencana-rencana rezim pendudukan di Quds, aksi resistensi di lapangan akan berlanjut, dan akan ada eskalasi untuk mencegah rezim upaya pendudukan dan para imigrannya untuk mencapai tujuan mereka,” tegasnya.

Haniyeh menambahkan bahwa Hamas akan “melanjutkan mobilisasi untuk menyokong dan membela Quds dan pendudukan di level politik, diplomatik, media dan kemanusiaan serta menyiapkan elemen-elemen kebertahan dan keberlanjutan”.

Tanpa menyebutkan nama negara, Haniyeh menegaskan kepada semua pihak yang berkomunikasi dengan Hamas, terutama negara-negara Arab, bahwa “rezim pendudukan tidak menghormati janji-janjinya dan tidak konsisten kepada apapun, dan rezim ini harus menghentikan aksi kejinya terhadap Quds, Al-Aqsa dan (lingkungan) Sheikh Jarrah,” ujar Haniyeh.

Bekalangan ini warga Palestina di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas melancarkan aksi menerbangkan bom-bom balon dari wilayah tersebut ke wilayah Israel hingga menimbulkan kebakaran di beberapa wilayah Israel. (raialyoum)

Pertama Kali, Iran Konfirmasi Pembicaraannya dengan Arab Saudi

Untuk pertama kalinya pemerintah Iran mengkonfirmasi adanya dialog dan pembicaraan antara Iran dan Arab Saudi untuk mengatasi perselisihan antara kedua negara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengkonfirmasi hal itu, Senin (10/5), sembari menyebutkan bahwa pembicaraan tersebut berfokus pada berbagai isu bilateral dan regional.

“Selama ini kami menyambut dialog dalam segala bentuk dan levelnya, maka biarlah kami menunggu dan melihat hasil dialog, dan memberikan putusan sesuai hasilnya,” ungkap Khatibzadeh.

Dia menekankan, “Mencabut sumbu ketegangan akan menguntungkan Iran dan Saudi di kawasan. Dengan adanya perubahan situasi yang kami lihat, kami berharap dapat mencapai kesefahaman yang mengarah pada hubungan bilateral dan perkembangan regional, dan kami akan mengerahkan segenap upaya kami dalam rangka ini.”

Beberapa hari lalu Presiden Irak Barham Salih menyatakan bahwa Baghdad menjadi tuan rumah beberapa pertemuan antara Iran dan Saudi belakangan ini.

Pada bulan lalu Kementerian Luar Negeri Iran ketika diminta berkomentar mengenai laporan adanya dialog antara Iran dan Saudi di Baghdad menyatakan, “Berita tentang ini masih simpang siur.” (raialyoum)