Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 10 Maret 2020

khamenei di maktabahJakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Khamenei mengimbau kepada warga Iran untuk tidak menunaikan iktikaf pada bulan Rajab tahun ini akibat merebaknya wabah virus corona (Covid-19).

Kepala Pengadilan Iran Ayatullah Ebrahim Raeisi mengecam lembaga-lembaga internasional pengklaim peduli HAM karena mereka justru bungkam di depan kejahatan para radikalis Hindu terhadap warga Muslim di India.

Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok selamat dari upaya pembunuhan yang menyasar konvoi mobilnya di Khartoum, ibukota Sudan.

25 teroris ISIS tewas dan sembilan terowongan milik mereka hancur dalam operasi militer Badan Kontra-Terorisme Irak di wilayah pegunungan Qarah Jou di wilayah utara negara ini.

Berita selengkapnya:

Kuatir Corona, Ayatullah Khamenei Imbau Warga Iran Tidak Menunaikan Iktikaf “Ayyamul Bidh”

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Khamenei mengimbau kepada warga Iran untuk tidak menunaikan iktikaf pada bulan Rajab tahun ini akibat merebaknya wabah virus corona (Covid-19).

Dalam laporan yang dimuat di website kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Ayatullah Uzma Sayid Khamenei disebutkan bahwa dia selama ini selalu menekankan penunaian iktikaf di “Hari-hari Bidh” (Ayyamul Bidh) yang jatuh pada tanggal 13-15 Rajab sebagai momentum penyucian kalbu, taubat, dan pembinaan diri, dan kaum Muslimin Iranpun, termasuk anak-anak muda, pasca kemenangan revolusi Islam selalu antusias memanfaatkan momentum itu dengan menunaikan iktikaf di masjid-masjid selama tiga hari berturut-turut.

Hanya saja, lanjut laporan itu, karena sedang terjadi wabah virus corona dan sudah ada petunjuk dari lembaga-lembaga berwenang dalam upaya pencegahan eskalasi wabah ini maka pada tahun ini masyarakat diimbau untuk tidak menunaikan ibadah iktikaf.

Disebutkan pula bahwa di tengah kondisi demikian kepala Komisi Pusat Iktikaf telah melayangkan surat kepada Ayatullah Khamenei berisi permohonan kepadanya agar memberikan wejangan kepada masyarakat yang tak dapat menunaikan ibadah tersebut pada tahun ini.

Ayatullah Khamenei lantas meresponnya dengan imbaun bahwa masyarakat yang tak dapat menunaikan ibadah itu sebaiknya menunaikan “shalat Jakfar al-Thayyar” pada Ayyamul Bidh. (alalam)

Iran Kecam Kebungkaman Dunia terhadap Kerusuhan Anti-Muslim di India

Kepala Pengadilan Iran Ayatullah Ebrahim Raeisi mengecam lembaga-lembaga internasional pengklaim peduli HAM karena mereka justru bungkam di depan kejahatan para radikalis Hindu terhadap warga Muslim di India.

Ayatullah Raeisi juga mendesak pemerintah India untuk tidak membiarkan kejahatan dan pembunuhan itu berkelanjutan.

“Kita sekarang menyaksikan kejahatan mengerikan terhadap umat Islam yang dilakukan oleh para ekstremis yang serupa dengan ISIS dan kelompok-kelompok yang didukung oleh AS dan Zionis, hingga melukai bang-bangsa kawasan di tengah ekstremisme, pembunuhan, penjarahan, dan penghancuran rumah-rumah,” ungkap Raeisi.

Dia menyebutkan ada benang merah yang menunjukkan keterlibatan Inggris dalam peristiwa-peristiwa berdarah di India.

“Jika kita mempelajari dengan cermat akar-akar aneka peristiwa historis maka kita akan melihat di sana adanya tangan jahat Inggris yang selalu berusaha membangkitkan pertikaian, dan kini setelah kunjungan (Presiden AS Donald) Trump kita segera menyaksikan terjadinya bentrokan-bentrokan itu,” terangnya.

Ayatullah Raeisi mengimbau para pejabat Inggris untuk mencermati analisa-analisa AS yang cenderung membangkitkan perselisihan bangsa India sehingga harus waspada dan tidak memberikan peluang kepada kelompok-kelompok radikal Hindu.

“Kami juga meminta pengadilan India menindak secara hukum para penyebab dan pelaku kejahatan itu, dan tidak memperkenankan serangan terhadap jiwa dan harta benda kaum tertindas,” lanjutnya.

Dia juga menyatakan bahwa kebungkaman lembaga-lembaga pengklaim peduli HAM dunia terhadap kejahatan tersebut membuktikan bahwa mereka lebih merupakan alat politik bagi kekuatan-kekuatan arogan dunia.

Seperti diketahui, kekerasaan para ekstremis Hindu terhadap warga Muslim melanda berbagai kawasan di New Delhi, ibu kota India, hingga  menjatuhkan banyak korban jiwa dan materi.

Kerusuhan itu dipicu oleh UU Amandemen Warga Negara (Citizenship Amendment Bill/CAB) yang diajukan oleh Perdana Menteri Narendra Modi. UU ini dinilai mendiskriminasi warga Muslim karena antara lain mengecualikan umat Muslim dalam pemberian kemungkinan kewarganegaraan India kepada imigran ilegal dari Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan.

Karena itu, ribuan warga Muslim lantas menggelar unjuk rasa, namun mereka dan warga Muslim lainnya malah diserang oleh para ekstremis Hindu yang mendukung UU tersebut hingga menjatuhkan banyak korban jiwa dan luka serta menimbulkan kerusakan pada properti dan rumah ibadah. (alalam)

Perdana Menteri Sudah Selamat dari Upaya Pembunuhan

Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok selamat dari upaya pembunuhan yang menyasar konvoi mobilnya di Khartoum, ibukota Sudan, Senin (9/3/2020).

Hamdok mengaku berada dalam kondisi “baik” dan bahwa insiden itu akan menjadi “dorongan tambahan untuk roda perubahan di Sudan”, di mana dia memimpin pemerintahan transisi pasca kudeta terhadap Omar al-Bashir yang telah lama menjabat sebagai presiden.

Direktur kantor perdana menteri, Ali Bakhit, mengatakan, “Sebuah ledakan menerjang ketika mobil Perdana Menteri Abdalla Hamdok melaju.”

Radio pemerintah melaporkan mobil itu terkena tembakan dan proyektil, sementara televisi pemerintah menyebutnya telah menjadi sasaran bom mobil.

“Saya melihat saat ledakan dan serangan, dan serangan datang dari gedung tinggi,” kata seorang saksi mata kepada Reuters.

Radio Omdurman mengatakan senjata otomatis juga digunakan dalam serangan itu dan Hamdok lantas dibawa “ke rumah sakit”.

Hamdok di Twitter usai peristiwa itu menegaskan bahwa upaya pembunuhan itu akan “tidak menghentikan jalan perubahan”.

“Apa yang terjadi tidak akan menghentikan jalan perubahan, itu akan menjadi dorongan tambahan dalam gelombang kuat revolusi,” cuitnya.

Pada gambar yang disiarkan di saluran TV regional dan media sosial terlihat mobil-mobil konvoi, termasuk beberapa mobil putih jenis SUV, rusak parah.

Pemerintah Hamdok sedang berjuang mengatasi parahnya krisis ekonomi yang telah memicu aksi protes berbulan-bulan terhadap Bashir dan berlanjut setelah kejatuhannya pada bulan April tahun lalu. (mee)

25 Anggota ISIS Tewas di Irak Utara

Sebanyak 25 teroris ISIS tewas dan sembilan terowongan milik mereka hancur dalam operasi militer Badan Kontra-Terorisme Irak di wilayah pegunungan Qarah Jou di wilayah utara negara ini.

Biro Media Keamanan Irak dalam sebuah pernyataannya tentang peristiwa itu menyebutkan, “Setelah operasi yang sukses di daerah Khanouka di perbukitan Hamrin, para pejuang  Badan Kontra-Terorisme Irak terus mengejar gerombolan teroris ISIS.”

Media itu juga menyatakan bahwa personel badan itu melalui koordinasi dengan angkatan udara pasukan koalisi internasional telah melancarkan operasi pendaratan pasukan di daerah Pegunungan Qarah Jou di selatan distrik Makhmour, dan kemudian berkonfrontasi dengan gerombolan-gerombolan teroris sejak dini hari Ahad hingga dini hari Senin (8-9/3/2020).

Dalam operasi yang juga dibantu beberapa serangan udara beruntun itu sebanyak 25 teroris tewas, dan sembilan terowongan serta sebuah kamp pelatihan mereka hancur. (rt)