Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 10 Desember 2019

IRGCJakarta, ICMES. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersumpah akan meratakan negara ilegal Zionis Israel dengan tanah.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding sebagian negara Arab telah memotivasi Rezim Zionis Israel dalam melakukan kekerasan terhadap orang-orang Palestina.

Jet tempur Su-35 Rusia di Suriah selatan dilaporkan telah mencegat jet tempur Israel, yang diduga merencanakan serangkaian serangan udara ke Pangkalan T4 yang merupakan pangkalan udara militer terbesar di Suriah.

Presiden Suriah Bashar Assad menegaskan bahwa Uni Eropa, AS, Turki, dan beberapa negara lain merupakan barisan pembuat kekacauan dan gerakan terorisme di Suriah.

Berita selengkapnya:

Pasukan Elit Iran Bersumpah akan Ratakan Tel Aviv dengan Tanah

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersumpah akan meratakan negara ilegal Zionis Israel dengan tanah.

“Sedikit saja Israel melakukan kesalahan terhadap Iran, kami dari Libanon akan meratakan Tel Aviv dengan tanah,”  tegas Penasehat Komandan IRGC Brigjen Morteza Ghorbani, Senin (9/12/2019).

Menteri Pertahanan Israel Naftali Bennett pada Ahad lalu mengancam akan menjadikan Suriah sebagai Vietnam bagi pasukan Iran, dan mengaku bekerja tanpa lelah demi mencegah eksistensi militer Iran di Suriah.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Israel, Yisrael Katz, Sabtu lalu bersumbar bahwa Israel sedang mempertimbangkan tindakan militer terhadap Iran, jika Teheran terus berusaha membuat bom nuklir.

Menanggapi ancaman-ancaman tersebut, Ghorbani memastikan bahwa jari pasukan Iran ada pada pelatuk dan hanya tinggal menunggu istruksi dari Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

“Jika Pemimpin Besar memerintahkan serangan rudal ke Israel maka semua orang Zionis akan mengangkat tangan dan menyerah. Kami akan potong telinga mereka. Kami tidak takut kepada bakteri pembusukan!” tegas Ghorbani.

Dia mengingatkan, “Hati dan jiwa bangsa-bangsa Yaman, Suriah, Libanon, dan Irak bersama Iran. Berbagai insiden (kerusuhan) yang terjadi belakangan ini Libanon, Irak, dan Iran ditujukan untuk menghantam persatuan Poros Resistensi di mana Republik Islam Iran berada.” (rtarabic)

Erdogan: Kekerasan Israel Mendapat Motivasi dari Sebagian Negara Arab

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding sebagian negara Arab telah memotivasi Rezim Zionis Israel dalam melakukan kekerasan terhadap orang-orang Palestina.

Seperti dilaporkan kantor berita Turki, Anadolu, Senin (9/12/2019), Erdogan dalam kata sambutan pada pertemuan para menteri sosial negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di kota Istanbul, Turki, mengatakan, “Kekerasan Israel mendapat motivasi dari Barat dan sebagian negara Arab.”

Erdogan tidak menyebutkan nama negara Arab tersebut, namun sudah diketahui publik bahwa Arab Saudi dan sebagian negara Arab sekutunya di pesisir Teluk Persia, terutama Bahrain dan Uni Emirat Arab, terlibat hubungan mesra secara diam-diam maupun terbuka dengan Israel.  Mereka juga secara lebih terbuka mempromosikan normalisasi hubungan diplomatik  Arab dengan Israel.

“Situasi di Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) dan Palestina memburuk dari hari ke hari,” ungkap Erdogan.

Dia mengingatkan, “Dunia Islam yang menutup diri karena berbagai faktor telah menyia-nyiakan kemampuan dan potensinya.”

Menurut Presiden Turki, Dunia Islam “yang menempati seperempat penduduk dunia tidak memiliki pengaruh yang setara dengan kapasitas kemampuan dan potensinya”.

“Sering kali kami merasa sendirian ketika kami memrotes praktik penindasan terhadap Palestina dan Quds,” keluhnya.

Erdogan juga menegaskan, “Imperialis global terus melanjutkan politik pecah belah (devide et impera) terhadap negara-negara Islam.” (raialyoum)

Jet Tempur Su-35 Rusia Cegat Jet Tempur Israel di Suriah

Jet tempur Su-35 Rusia di Suriah selatan dilaporkan telah mencegat jet tempur Israel, yang diduga merencanakan serangkaian serangan udara ke Pangkalan T4 yang merupakan pangkalan udara militer terbesar di Suriah.

Portal Avia.pro melaporkan pencegatan tersebut sembari mengutip keterangan akun militer Suriah di Twitter, Senin (9/12/2019).

“Ternyata insiden itu sangat krusial, dan perlu disebutkan bahwa sebelumnya di Suriah selatan, jet-jet tempur Israel terlihat dan kemudian jet-jet tempur Rusia dikirim untuk mencegat mereka,” tulis portal tersebut.

Beberapa sumber menjelaskan bahwa jet tempur Israel mundur setelah dua jet tempur Su-35 lepas landas dari pangkalan Hmeimim, Suriah.

Tidak atau belum ada komentar resmi tentang laporan ini, baik dari Rusia, Israel maupun Suriah.

Pada 20 November lalu Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim bahwa jet-jet tempur  telah membom puluhan sasaran militer milik Pasukan Quds Iran dan Angkatan Bersenjata Suriah, termasuk berupa rudal darat-ke-udara, markas besar, gudang senjata dan pangkalan militer.

Militer Zionis Israel menganggap “rezim Suriah” bertanggung jawab atas serangan dari wilayah Suriah ke sasaran Israel di wilayah pendudukan Golan.

“Kami menganggap rezim Suriah bertanggung jawab atas tindakan yang terjadi di wilayah Suriah, dan kami memperingatkannya agar tidak membiarkan serangan lebih lanjut terhadap Israel. Kami akan terus bertindak tegas selagi hal ini dirasa perlu terhadap penetrasi Iran di Suriah,” tegas IDF. (raialyoum)

Assad: Eropa, AS, dan Turki Dalang Terorisme di Suriah

Presiden Suriah Bashar Assad menegaskan bahwa Uni Eropa, AS, Turki, dan beberapa negara lain merupakan barisan pembuat kekacauan dan gerakan terorisme di Suriah.

“Eropa adalah pemain utama dalam penciptaan kekacauan di Suriah. Selanjutnya, mereka menanam dan mereka pula yang menuai, teroris disokong Eropa, dan tentunya juga AS, Turki, dan lain-lain,” tutur Assad dalam wawancara eksklusif dengan saluran TV Rai News yang berbasis di Italia, Senin (9/12/2019).

Presiden Suriah menjelaskan, “Uni Eropa secara terbuka mendukung kawanan teroris di Suriah sejak hari pertama, ataupun minggu pertama, sejak awal. Mereka bertanggungjawab di depan pemerintah Suriah. Beberapa rezim seperti rezim Prancis mengirim mereka senjata. Mereka mengatakan demikian, salah satu pejabat mereka, saya kira mantan Menteri Luar Negeri Prancis  Laurent Fabius, mengatakan, ‘Kami mengirim senjata.’ Mereka mengirim senjata dan menciptakan kekacauan ini. Karena itulah sejumlah besar orang, jutaan orang, tidak bisa lagi tinggal di Suriah dan mendapatkan kesulitan untuk itu, sehingga harus keluar darinya.”

Mengenai peran Rusia di Suriah, Assad mengatakan, “Rusia menganggap hukum dan sistem internasional yang menjadi pijakannya adalah untuk kepentingan Rusia dan seluruh dunia. Dengan demikian, menurut mereka, dukungan kepada Suriah adalah dukungan kepada hukum internasional. Ini satu poin. Poin kedua adalah bahwa tindakan mereka terhadap teroris adalah untuk kepentingan rakyat Rusia dan demi kepentingan seluruh dunia.”

Assad menilai penempatan pasukan Rusia di Suriah timur sebagai tindakah untuk menciptakan keseimbangan dengan pasukan AS dan Turki.

Mengenai kemungkinan mengadakan pertemuan dengan sejawatnya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan, Assad mengatakan, “Saya tidak akan merasa bangga jika suatu hari saya harus melakukan ini. Sebaliknya, saya akan merasa jijik ketika berhadapan dengan Islamis oportunistik seperti ini. Tugas saya berkaitan dengan kepentingan Suriah. Jadi, di manapun kepentingan itu ada saya akan bergerak kepadanya.”

Presiden Suriah kemudian berkomentar untuk pertama kalinya ihwal perkembangan situasi di Libanon dengan menyebutnya bahwa berdampak bagi Suriah.

“Libanon lebih berpengaruh di Suriah daripada negara lain karena negara ini tetangga dekat kami. Tapi sekali lagi, jika apa yang terjadi secara spontan dan terkait dengan reformasi dan keberlepasan dari sistem politik sektarian, maka ini akan baik  bagi Lebanon,” ujarnya. (raialyoum)