Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 9 November 2019

pertahanan udara iranJakarta, ICMES. Angkatan Bersenjata Iran menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (drone) tak dikenal yang melanggar wilayah udara Iran di kawasan pantai Teluk Persia.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan Amerika Serikat (AS) mengenai “potensi konfrontasi” jika AS menerapkan sanksi terhadap para pemimpin dan pejabat militer Iran.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths mengadakan pertemuan  Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman dua hari setelah tercapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Yaman selatan.

Pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi memuji dan menyambut gembira pesan terbaru ulama besar Irak Grand Ayatullah Sayid Ali Sistani terkait dengan gelombang unjuk rasa.

Berita selengkapnya:

Iran Tembak Jatuh Drone Dekat Teluk Persia, AS Mengaku Bukan Miliknya

Angkatan Bersenjata Iran menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (drone) tak dikenal yang melanggar wilayah udara Iran di dekat kota pelabuhan Mahshahr, provinsi Khuzestan, di kawasan pantai Teluk Persia.

Komandan Angkatan Udara Iran Brigjen Alireza Sabahi Fard mengatakan bahwa drone dijatuhkan pada Jumat pagi waktu setempat (8/11/2019) sebelum sempat menjangkau “daerah sensitif” berkat ketepatan sistem pertahanan udara buatan dalam negeri.

“Tindakan tegas ini dan penembakan rudal adalah reaksi terhadap gangguan drone asing ke wilayah udara negara kita,” tambahnya.

Tanpa menyebutkan negara pemilik drone itu, Sabahi Fard mengingatkan bahwa Iran telah berulang kali menegaskan kesiapannya menindak tegas segala bentuk pelanggaran terhadap wilayah udaranya.

Kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa drone itu dirontokkan dengan sistem pertahanan udara Mersad.

Sementara itu, gubernur Khuzestan Gholam Reza Shariati mengatakan kepada IRNA bahwa serpihan pesawat telah ditemukan dan sedang diselidiki.

Dia menekankan bahwa drone itu “pasti milik negara asing” dan akan diumumkan hasil penyelidikan atasnya.

Di pihak lain, Komando Pusat AS menepis dugaan bahwa drone AS tertembak jatuh oleh Iran.

“Informasi yang beredar dan mengklaim bahwa pesawat AS tertembak jatuh sepenuhnya salah,” ungkapnya di Twitter.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada 20 Juni lalu telah menembak jatuh pesawat mata-mata Global Hawk milik AS yang melanggar wilayah Iran di provinsi Hormozgan.  (presstv/raialyoum)

IRGC Peringatkan Potensi Konfrontasi Iran dengan AS dan Sekutunya

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan Amerika Serikat (AS) mengenai “potensi konfrontasi” jika AS menerapkan sanksi terhadap para pemimpin dan pejabat militer Iran.

Sebagaimana dilaporkan Fars, peringatan itu dinyatakan IRGC, Jumat (8/11/2019), empat hari setelah Washington memberlakukan sanksi ekonomi baru terhadap sembilan orang yang dekat dengan Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

IRGC menegaskan bahwa “penerapan sanksi AS terhadap Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran menambah tekad para pembela revolusi untuk menerapkan skenario mereka dalam menghadapi Setan Besar (AS) dan para sekutu Gedung Putih.”

Senin lalu AS mengumumkan sanksi ekonomi baru terhadap sembilan orang dan entitas yang dekat dengan Ayatullah Khamenei, termasuk putranya, bersamaan dengan peringatan 40 tahun peristiwa pendudukan kedutaan besar AS di Teheran oleh mahasiswa pada tahun 1979.

Ketegangan di kawasan Teluk Persia belakangan meningkat tajam hingga ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah Washington melontarkan tuduhan yang dibantah oleh Teheran bahwa Iran menyerang ataupun menghasut kelompok lain agar menyerang kapal tanker minyak di Teluk Persia. (raialyoum)

Putra Mahkota Saudi Adakan Pertemuan dengan Utusan Khusus PBB untuk Yaman

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths mengadakan pertemuan  Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman dua hari setelah tercapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Yaman selatan.

Kelompok loyalis presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dan separatis selatan Selasa lalu menandatangani perjanjian pembagian kekuasaan yang disponsori Saudi untuk mengakhiri konflik mereka di Yaman selatan.

Kantor Griffiths, Jumat (7/11/2019),  menyebutkan bahwa “Griffith memberi ucapan selamat kepada Pangeran atas keberhasilannya dalam mediasi yang mengarah pada kesepakatan Riyadh.”

Disebutkan bahwa pertemuan antara keduanya berlangsung pada Kamis lalu dan keduanya menekankan pentingnya mengurangi kekerasan untuk mendorong proses menuju solusi politik yang komprehensif di Yaman.

Dalam beberapa bulan terakhir sering terjadi kontak senjata antara separatis selatan dan loyalis Hadi yang sedianya bersekutu sejak 2015 dalam perang melawan kelompok Ansarullah (Houthi). Hal ini praktis melemahkan aliansi pimpinan Saudi yang memerangi Ansarullah.

Pertempuran antara separatis selatan dan loyalis Hadi menyebabkan separatis mengambil kendali atas Aden dan daerah lain pada bulan Agustus lalu. (raialyoum)

Relawan Irak Puji Seruan Terbaru Ayatullah Sistani

Pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi memuji dan menyambut gembira pesan terbaru ulama besar Irak Grand Ayatullah Sayid Ali Sistani terkait dengan gelombang unjuk rasa yang melanda Negeri 1001 Malam ini.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat malam (8/1/2019) al-Hashd al-Shaabi menyebut pesan itu “kebapakan”, dan menjadi “pelita di tengah kegelapan”.

“Putra dan putri Yang Mulia sangat mematuhi pengarahan dan pesan-pesan otoritas keagamaan serta menyokong tuntutan-tuntutan yang legal,” respon al-Hashd al-Shaabi kepada seruan Ayatullah Sistani.

Kelompok relawan yang andil besar dalam penumpasan kelompok teroris ISIS itu mengaku satu suara dengan rakyat Irak yang menghendaki pemenuhan secepatnya atas tuntutan mereka untuk peningkatan kesejahteraan hidup dan martabat mereka.

Wakil Ayatullah Sistani, Abdul-Mahdi Karbalai, dalam khutbah Jumat di Karbala menyatakan bahwa unjuk rasa yang melanda Irak merupakan momentum bagi para politisi yang berkuasa untuk memenuhi tuntutan rakyat.

Sementara itu, Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi, di hari yang sama merilis pernyataan berisi ancaman hukuman berat bagi para perusuh.

Dalam pernyataan itu dia menegaskan, “Terlihat jelas aksi para kriminal dan teroris menyertai aksi unjuk rasa dengan tujuan melemahkan kredibilitas dan kemampuan pemerintah serta menyasar rakyat dan keamanan Irak.”

Dia menambahkan bahwa kejahatan seperti membunuh warga dan aparat keamanan sama sekali tak ada kaitannya aksi demokratis, dan ancaman hukuman bagi pelaku kejahatan terhadap warga yang tak berdosa dan aparat keamanan serta perusakan terhadap fasilitas publik adalah penjara 20 tahun hingga seumur hidup. (fars)