Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 8 Oktober 2022

Jakarta, ICMES. Organisasi Kedokteran Hukum Iran telah merilis hasil penyelidikannya terhadap kasus kematian wanita muda Iran bersuku Kurdi, Mahsa Amini (22 tahun), dengan memastikan bahwa dia meninggal karena penyakit yang diidapnya, bukan karena pukulan ke kepala atau organ tubuh lainnya.

Pasukan Zionis Israel menembak mati dua remaja Palestina dalam insiden terpisah di wilayah pendudukan Tepi Barat, ungkap Kementerian Kesehatan Palestina.

Wakil Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah, Sheikh Ali Damoush, menegaskan bahwa ancaman yang dilontarkan Rezim Zionis Israel terhadap Lebanon tak ada gunanya, dan malah  memicu kepanikan warga pemukim Zionis di utara Israel.

Berita Selengkapnya:

Hasil Penyelidikan: Mahsa Amini Meninggal karena Penyakit, Bukan Penganiayaan

Organisasi Kedokteran Hukum Iran telah merilis hasil penyelidikannya terhadap kasus kematian wanita muda Iran bersuku Kurdi, Mahsa Amini (22 tahun), dengan memastikan bahwa dia meninggal karena penyakit yang diidapnya, bukan karena pukulan ke kepala atau organ tubuh lainnya.

Laporan medis resmi dirilis pada hari Jumat (7/10), sekitar tiga minggu setelah Amini pingsan di kantor polisi dan dinyatakan meninggal beberapa hari kemudian pada 16 September di sebuah rumah sakit Teheran.

Laporan itu menyebutkan, “Menurut dokumen rumah sakit, studi CT scan otak dan paru-paru, hasil pemeriksaan fisik tubuh dan otopsi, dan tes patologi, kematian dia bukan karena pukulan di kepala, organ-organ vital, dan anggota tubuh.”

Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa Amini pernah menjalani operasi craniopharyngioma pada usia delapan tahun yang menyebabkan erupsi gangguan pada hipotalamus dan kelenjar hipofisis, dan dia menggunakan hidrokortison, levothyroxine, dan desmopressin sebagai obat.

Menurut laporan itu, Amini pingsan pada 13 September, menyebabkan gangguan detak jantung dan penurunan tekanan darah karena tubuhnya tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru akibat penyakitnya.

Laporan itu menjelaskan, resusitasi kardiopulmoner yang tidak efektif pada menit-menit awal menyebabkan hipoksia otak yang parah, dan dia dinyatakan meninggal pada 16 September di Rumah Sakit Kasra karena kegagalan beberapa organ meskipun semua upaya telah dilakukan untuk menyelamatkannya.

Seperti diketahui, akibat isu bahwa Amini meninggal karena dianiya di kantor politisi, sempat terjadi aksi protes dan kerusuhan yang dilakukan oleh massa dalam jumlah terbatas di berbagai kota Iran, termasuk Teheran, selama beberapa hari. Namun aksi itu mereda setelah jutaan rakyat Iran di berbagai penjuru negara republik Islam ini menggelor demo tandingan dengan skala yang sangat masif. (presstv)

Pasukan Zionis Bunuh Dua Remaja Palestina di Tepi Barat

Pasukan Zionis Israel menembak mati dua remaja Palestina dalam insiden terpisah di wilayah pendudukan Tepi Barat, ungkap Kementerian Kesehatan Palestina, Jumat (7/10).

Menurut kementerian ini, seorang remaja berusia 14 tahun ditembak di kota Qalqilya di wilayah utara  Tepi Barat, dan seorang lagi gugur di desa al-Mazra’a al-Gharbiyah dekat Ramallah.

Militer Israel mengaku melakukan kegiatan rutin di dekat Qalqilya pada Jumat pagi ketika seorang tersangka melemparkan bom molotov ke pasukannya, yang membalas dengan tembakan langsung.

Kantor berita Palestina WAFA melaporkan terjadi konfrontasi antara warga Palestina dan pasukan Israel di kawasan tersebut, dan remaja yang diketahui bernama Adel Ibrahim Daoud ditembak di dekat pagar pemisah Israel.

Di al-Mazra’a al-Gharbiyah, saksi mata mengatakan tentara Israel menembaki penduduk Palestina yang terlibat bentrok dengan pemukim Israel, hingga  seorang remaja Palestina bernama Mahdi Ladadweh, 17 tahun,  gugur dan yang lain cedera.

Militer Israel mengklaim “perusuh” melemparkan batu ke pemukim dan pasukan Israel, menyebabkan seorang tentara menderita luka ringan, dan pasukan itu membubarkan kerusuhan “sesuai dengan prosedur operasi standar”, termasuk tembakan langsung.

Di pihak lain, Juru bicara Presiden Palestina Nabil Abu Rudeineh mengatakan, “Kejahatan ini adalah bagian dari serangkaian pelanggaran dan eksekusi lapangan terhadap rakyat kami. Kebijakan ini akan menyebabkan ledakan situasi dan lebih banyak ketegangan dan instabilitas.”

Israel telah mengintensifkan serangannya di Tepi Barat dalam beberapa bulan terakhir menyusul serangkaian operasi serangan jalanan orang Palestina yang menewaskan 19 orang di kota-kota Israel.

Lebih dari 80 warga Palestina, termasuk pejuang dan warga sipil, gugur sejak Januari, sehingga Komisi Eropa bahkan menyebut tahun ini sebagai tahun paling mematikan di Tepi Barat yang diduduki Israel sejak tahun 2008.

Menurut data PBB, sedikitnya 20 anak di bawah umur Palestina telah gugur di Tepi Barat pada tahun ini. (aljazeera)

Hizbullah: Ancaman Zionis Tak Berguna, Malah Menimbulkan Kepanikan Pemukiman Israel Sendiri

Wakil Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah, Sheikh Ali Damoush, Jumat (7/10), menegaskan bahwa ancaman yang dilontarkan Rezim Zionis Israel sehari sebelumnya terhadap Lebanon tak ada gunanya, dan malah  memicu kepanikan warga pemukim Zionis di utara Israel (Palestina pendudukan 1948).

Seperti pernah diberitakan, Israel Kamis lalu mengaku siap berkonfrontasi dengan Hizbullah menyusul apa yang disebutnya peningkatan tuntutan Lebanon dalam pembicaraan mengenai perbatasan maritim.

Menteri Pertahanan Israel  Benny Gantz menginstruksikan pembentukan pertahanan “untuk mempersiapkan skenario apa pun di mana ketegangan meningkat di arena utara – termasuk kesiapan pertahanan dan penyerangan.”

Menanggapi ancaman ini, Syeikh Ali Damoush dalam khutbah Jumatnya menegaskan, “Ancaman Israel yang kami dengar kemarin terhadap Libanon tak ada gunanya, sebagaimana dikatakan oleh Yang Mulia Sekjen Hizbullah (Sayid Hassan Nasrallah) – semoga Tuhan melindunginya- beberapa waktu lalu.”

Dia menjelaskan, “Keputusan dan atensi kami sudah jelas, dan orang-orang kami, yang gagah berani serta terdidik dalam madrasah Abu Abdillah Al-Husain (cucunda Nabi Muhammas saw) dan telah menghadapi semua perang dan agresi Israel pada semua periode di masa lalu dengan penuh sabar, teguh, solid dan siap berkorban, adalah salah satu elemen kekuatan yang kami miliki di Lebanon. Mereka tak kan terkalahkan oleh ancaman musuh dan tidak pula dibuat takut oleh perang psikologis  Isreel.”

Dia menambahkan, “Rezim Zionis bermaksud mengobarkan perang psikologis terhadap Lebanon untuk menakut-nakuti dan memaksa mereka mundur, tapi alih-alih menimbulkan ketakutan pada orang Lebanon, para pemukim Zionis di utara justru panik dan histeris sehingga mengungkapkan amarah besar mereka terhadap menteri perang mereka yang telah gegabah melontarkan pernyataan demikian tanpa berkoordinasi dengan mereka.”

Syeikh Ali Damoush mengatakan, “Pihak musuh sendirilah yang sekarang ketakutan, bingung dan terganggu, sementara kita berada dalam posisi yang kuat, karena kita adalah pihak yang benar, dan kebenaran tidak akan mati selagi ada tuntutan dan apalagi resistensi di belakangnya.”

Dia mengingatkan, “Musuh tak mengerti bahasa diplomatik. Keliru orang yang beranggapan bahwa musuh akan dapat menyerahkan hak Lebanon dengan logika negosiasi semata, sebab musuh tak paham kecuali bahasa kekuatan, dan inilah yang telah kami buktikan pada setiap pengalaman di masa lalu.” (raialyoum)