Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 7 Mei 2022

Jakarta, ICMES. Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak menunjukkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan Israel akan mendapat “kutukan” dekade ke-8 dan musnah sebelum memperingati HUT ke-80 berdirinya Israel.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengirim undangan resmi kepada kepala biro politik Hamas, Ismail Haniyeh, untuk mengunjungi Moskow, ibu kota Rusia, dalam waktu dekat.

Polisi entitas Zionis Israel masih berusaha melakukan pengejaran pelaku serangan terbaru di Elad dekat Tel Aviv dengan menggelar operasi keamanan berskala besar.

Pakar politik Iran Hasan Hanizadeh memandang tidak tertutup kemungkinan Menlu Iran dan Menlu Arab Saudi akan mengadakan pertemuan dalam waktu dekat.

Berita Selengkapnya:

Kutukan Dekade  Kedelapan, Ehud Barak Khawatir Israel akan Segera Musnah

Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak menunjukkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan Israel akan mendapat “kutukan” dekade ke-8 dan musnah sebelum memperingati HUT ke-80 berdirinya Israel.

Dikutip Rai Al-Youm, Jumat (6/5), Ehud Barak dalam sebuah artikel yang dimuat surat kabar Haaretz menyatakan; “Dalam sejarah Yahudi, negara Yahudi tak pernah berusia lebih dari 80 tahun kecuali pada periode Raja Daud dan periode Hasmonean, dan dalam dua periode inipun awal perpecahan masing-masing terjadi pada dekade kedelapan.”

Dia menambahkan, “Pengalaman negara Ibrani Zionis sekarang adalah pengalaman ketiga dan sedang berada di dekade kedelapan, dan dikhawatirkan akan turun kutukan dekade kedelapan sebagaimana pernah turun pada pendahulunya.”

Barak menyebutkan bahwa Israel bukan satu-satunya negara yang telah dikutuk oleh dekade kedelapan, sebab di Amerika juga pernah meletus perang saudara pada usianya yang 80-an tahun, Italia berubah menjadi negara fasis pada dekade kedelapan, dan Jerman berubah menjadi negara Nazi pada dekade kedelapan, yang menjadi penyebab kekalahan dan perpecahannya, dan pada usia 80-an tahun revolusi Komunis pula Uni Soviet berantakan dan runtuh. (raialyoum)

Rusia Resmi Mengundang Pemimpin Hamas

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengirim undangan resmi kepada kepala biro politik Hamas, Ismail Haniyeh, untuk mengunjungi Moskow, ibu kota Rusia, dalam waktu dekat.

Sumber Hamas mengkonfirmasi kepada saluran TV Al-Mayadeen bahwa delegasi Hamas akan mengunjungi Moskow lagi bulan depan, dan delegasi ini meninggalkan Rusia terlebih dahulu karena pertimbangan adanya pertemuan di Aljazair.

Sebelumnya, Wakil Ketua Hamas di luar negeri, Mousa Abu Marzouk, menyebutkan bahwa kunjungan delegasi Hamas ke Moskow membuahkan hasil.

Di akun Twitter-nya dia menyebutkan; “Kunjungan itu dilakukan dalam rangka memperdalam konsultasi dan koordinasi bilateral kami dengan teman-teman Rusia. Kami membahas serangan Israel di Quds (Yerussalem) dan dampaknya yang berbahaya, serta pelanggaran di Tepi Barat dan Gaza.”

Dia juga menyebutkan adanya diskusi kedua pihak seputar isu-isu regional dan internasional, serta penolakan bersama keduanya terhadap unilateralisme Amerika Serikat dalam resolusi internasional.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov Kamis lalu mengaku bersama delegasi Hamas telah membahas situasi Palestina dan aneka peristiwa yang terjadi di komplek Masjid Al-Aqsa.

“Kami sedang menunggu delegasi dari Fatah dan Organisasi Pembebasan Palestina untuk segera mengunjungi Rusia,” imbuhnya usai mengadakan pertemuan dengan Hamas.

Dia menegaskan kesiapan Moskow menjadi tuan rumah pertemuan sesama kelompok Palestina.

Patut dicatat bahwa antusiasme hubungan Rusia dengan Palestina ini terjadi di tengah keruhnya hubungan Rusia dengan Israel terkait dengan krisis Ukraina, menyusul menyusul kemarahan Israel atas pernyataan Menlu Rusia Sergei Lavrov bahwa penjahat Perang Dunia II dari Jerman Adolf Hitler adalah keturunan Yahudi. (raialyoum)

Polisi Israel Masih Berusaha Memburu Pelaku Serangan Terbaru di Tel Aviv

Polisi entitas Zionis Israel masih berusaha melakukan pengejaran pelaku serangan terbaru di Elad dekat Tel Aviv dengan menggelar operasi keamanan berskala besar dini hari Jumat (6/5).

Seperti pernah diberitakan, beberapa orang Palestina Kamis malam lalu melancarkan operasi serangan yang menewaskan tiga orang Israel di Elad di tengah suasana peringatan berdirinya “negara Israel.”

Serangan itu tercatat yang keenam dalam gelombang aksi heroik orang Palestina sejak 22 Maret, dan terjadi di kota Elad yang terletak di Israel tengah dan berpenduduk sekitar 50,0000 orang, termasuk sejumlah besar ekstremis Yahudi.

Saksi mata menyatakan bahwa para penyerang keluar dari sebuah mobil dengan membawa dua kapak, dan kemudian melarikan diri dengan mobil yang sama, meninggalkan tiga korban tewas dan empat korban luka.

Sembari menyerukan kepada penduduk agar memberikan informasi tempat persembunyian pelaku, Polisi Israel mempublikasikan dua foto beserta nama tersangka, yaitu Yusuf al-Rifai, 19 tahun, dan Subhi Emad Abu Shaqir, 20 tahun, yang disebutkan berasal dari desa Ramaneh di Provinsi Jenin, wilayah pendudukan Tepi Barat.

Gelombang serangan orang Palestina di Israel membangkitkan kemarahan Israel hingga mengkampanyekan pembunuhan pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, namun Hamas mengaku tak menggubris ancaman itu.

 “Kampanye ancaman dan hasutan Israel untuk membunuh mujahid Yahya Sinwar atau pemimpin gerakan mana pun tak membuat kami takut, begitu pula anak terkecil di Hamas,” tegas anggota biro politik Hamas, Izzat al-Rish.

Al-Rishq menyebut ancaman itu sebagai upaya sia-sia untuk meredakan ketakutan para pemukim Zionis, dan justru hanya menambah tekad Hamas untuk mempertahankan Quds  dan Masjid Al-Aqsa sampai pendudukan berakhir bahkan di jengkal terakhir tanah Palestina.

Sementara itu, bentrokan terjadi terjadi di Tepi Barat, terutama di desa Beita dan Beit Dajan, dekat kota Nablus, Jumat, mengakibatkan 38 warga Palestina terluka, menurut laporan tersebut lembaga Bulan Sabit Merah Palestina.

Bentrokan antara warga Palestina dan pasukan Israel kerap terjadi di daerah tersebut belakangan ini ketika warga Palestina melancarkan aksi protes terhadap penyitaan tanah Palestina untuk kepentingan pemukim Zionis. (raialyoum/alalam)

Dialog Teheran-Riyadh, Menlu Iran dan Menlu Saudi Berkemungkinan akan Mengadakan Pertemuan

Pakar politik Iran Hasan Hanizadeh memandang tidak tertutup kemungkinan Menlu Iran dan Menlu Arab Saudi akan mengadakan pertemuan dalam waktu dekat ini sebagai tindak lanjut dialog dan upaya rekonsiliasi kedua negara yang putus hubungan sejak Januari 2016.

Dalam wawancara dengan IRNA, Jumat (6/5), Hanizadeh mengatakan bahwa Saudi harus membuktikan iktikad baiknya untuk menjalin hubungan yang berkelanjutan dengan Iran, dan bahwa kedua negara telah mencapai hasil-hasil positif pada putaran kelima pembicaraan antara keduanya.

Dia lantas mengatakan, “Menlu Iran dan Menlu Saudi bisa jadi akan bertemu dalam waktu dekat.”

Hanizadeh menyebutkan bahwa pembicaraan Iran-Saudi dimulai setahun yang lalu di Baghdad, ibukota Irak, dan sejauh ini kedua pihak telah mengadakan lima putaran pembicaraan.

Dia menjelaskan bahwa beberapa masalah penting yang dibahas oleh kedua negara antara lain ialah campur tangan Saudi dalam isu-isu yang berkaitan dengan Poros Resistensi dan kecenderungan Saudi menyesuaikan diri dengan Rezim Zionis Israel, serta hubungan bilateral yang diharapkan dapat mengatasi banyak masalah.

Menurut Hanizadeh, perang Saudi terhadap Yaman juga merupakan masalah yang disorot dalam putaran pembicaraan itu. Pihak Iran menekankan bahwa perang ini tidak menghasilkan apapun untuk Saudi sehingga Saudi lebih baik berdialog dengan berbagai kelompok politik di Yaman, termasuk Ansarullah (Houthi).

Hanizadeh juga mengatakan bahwa masalah Yaman merupakan masalah paling pelik dalam pembicaraan Iran-Saudi, dan dalam konteks ini Saudi telah  beberapa kali mengumumkan gencatan senjata. (alalam)