Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 5 Desember 2020

saudi dan israelJakarta, ICMES. Pemerintah Arab Saudi mendadak membatalkan jadwal kunjungan seorang petinggi Israel pada pekan lalu setelah Israel mengungkap adanya pertemuan rahasia Perdana Menteri Israel dengan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman di kota Neom, Saudi.

Emir Kuwait Nawaf Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah menyambut gembira tercapainya “kesepakatan final” untuk penyelesaian kemelut hubungan antarnegara Arab di kawasan Teluk Persia.

Satu bocah kecil Palestina gugur syahid diterjang peluru pasukan Zionis Israel di Tepi Barat, dan orang-orang berhasil menggagalkan upaya warga Zionis membakar sebuah gereja di kota Quds (Yerussalem).

Badan Kontra-Terorisme di Israel mengeluarkan peringatan yang mengklaim adanya peningkatan risiko serangan terhadap orang-orang Israel di seluruh dunia menyusul kasus pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Fakhri Mohsenzadeh.

Berita Selengkapnya:

Kesal Karena Israel Tak Merahasiakan, Riyadh Batalkan Kunjungan Direktur Mossad ke Saudi

Pemerintah Arab Saudi mendadak membatalkan jadwal kunjungan seorang petinggi Israel pada pekan lalu setelah Israel mengungkap adanya pertemuan rahasia Perdana Menteri Israel dengan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman di kota Neom, Saudi, ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo berkunjungan ke kota itu belum lama ini.

Pengungkapan itu semula diungkap oleh beberapa media Israel berdasarkan keterangan para pejabat, namun kemudian juga diungkap sendiri oleh Netanyahu, meskipun Saudi membantahnya.

Pengamat militer Alex Fishman di surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, Jumat (4/12/2020),  menyebutkan bahwa sumber-sumber politik Israel menduga kuat pejabat tinggi yang kunjungannya ke Saudi dibatalkan itu adalah direktur dinas rahasia Mossad Yossi Cohen, orang yang menjadi poros dalam hubungan antara Israel dan Saudi sehingga “pembatalan undangan itu menjadi satu peristiwa yang sangat penting”.

Fishman menambahkan bahwa pembatalan kunjungan pejabat Israel itu terjadi setelah Netanyahu buka mulut mengenai pertemuannya dengan Bin Salman di Saudi beberapa hari sebelum pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, pada 27 November.

Fishman mengutip sumber-sumber Israel yang memperkirakan bahwa pembatalan itu disebabkan oleh kekecawaan Saudi terhadap sikap Rezim Zionis Israel terkait dengan hubungan antara keduanya.

Fishman menambahkan bahwa kecurigaan mengenai  kemungkinan Saudi mengetahui sesuatu tentang pembunuhan yang telah direncanakan terhadap Fakhrizadeh. Menurutnya, Saudi kesal terhadap kegagalan Netanyahu dan orang-orang terdekatnya menjaga kerahasiaan pertemuan di Neom tersebut.

“Publikasi pertemuan itu tidak dengan persetujuan mereka, dan ini membuat Menteri Luar Negeri Saudi terpaksa mengumumkan penolakannya secara total atas terjadinya pertemuan itu,” ungkap Fishman.

Fishman menjelaskan bahwa bukan baru kali ini Netanyahu mengungkapkan pertemuan dan acara rahasia.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Netanyahu secara bertahap mematahkan kebijakan ‘pemadaman listrik’, yang telah melayani Israel selama bertahun-tahun dalam hubungan luar negerinya yang rahasia dan dalam mengelola urusan keamanan yang paling sensitif,” terangnya. (raialyoum)

Kuwait Sambut Gembira Kesepakatan Final mengenai Krisis Negara-Negara Arab Teluk

Emir Kuwait Nawaf Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah menyambut gembira tercapainya “kesepakatan final” untuk penyelesaian kemelut hubungan antarnegara Arab di kawasan Teluk Persia.

“Kami mengajak untuk mengenang upaya kebajikan dan konstruktif Yang Mulia Almarhum Emir Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, yang telah memimpin upaya ini sejak hari pertama perselisihan dan yang meletakkan dasar kesepakatan itu sehingga usahanya tetap ada di kedalaman hati nurani kita dan di halaman sejarah kita,” ungkap Al-Sabah, seperti dilansir kantor berita Kuwait, KUNA, Jumat (4/12/2020).

Al-Sabah menyampaikan ucapan selamat dan  apresiasinya  kepada para pemimpin negara-negara Arab Teluk karena telah mencapai “langkah bersejarah” ini, dan berterima kasih kepada semua orang yang mendukung upaya mediasi yang dilakukan oleh Kuwait.

Dia juga berterima kasih kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas “dukungannya, yang mencerminkan komitmen AS untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.”

Sebelumnya di hari yang sama  Menteri Luar Negeri Kuwait Ahmed Nasser Al-Muhammad Al-Sabah mengumumkan bahwa pembicaraan yang bermanfaat akan diadakan untuk menyelesaikan krisis Teluk yang terjadi sejak tahun 2017 antara Qatar di satu pihak dan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir di pihak lain.

Dia juga berterima kasih kepada penasihat Presiden AS, Jared Kushner, “atas hasil bermanfaat yang telah dicapai dalam cara penyelesaian perselisihan.”

Berbagai laporan menyebutkan bahwa Kushner yang juga menantu Trump itu dalam kunjungan ke Qatar pada Rabu lalu telah mempengaruhi krisis Teluk setelah dia berusaha memajukan proses penyelesaian perselisihan. (raialyoum)

Satu Bocah Palestina Gugur Diterjang Peluru Israel di Tepi Barat

Satu bocah kecil Palestina gugur syahid diterjang peluru pasukan Zionis Israel di Tepi Barat, Jumat (4/11/2020).

Kementerian Kesehatan Palestina dalam sebuah statemennya menyatakan bahwa bocah laki-laki berusia 13 tahun gugur syahid beberapa jam setelah menderita luka tembak di bagian perut. Dia terluka oleh peluru yang dilepaskan oleh pasukan Zionis di sebuah kawasan di Ramallah, Tepi Barat.

Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa selain bocah itu, empat remaja Palestina juga terkena tembakan peluru tajam dan peluru karet dalam peristiwa bentrokan warga Palestina dan pasukan rezim pendudukan tersebut menyusul aksi unjuk rasa protes terhadap perluasan permukiman Zionis.

Bentrokan juga terjadi di sejumlah desa di Tepi Barat hingga menyebabkan puluhan orang Palestina menderika luka tembakan peluru tajam dan peluru karet serta sesak nafas akibat gas air mata dalam peristiwa unjuk rasa mingguan yang dilakukan untuk menandai protes mereka terhadap proyek pembangunan permukiman Zionis.

Pembakaran Gereja

Dalam peristiwa lain, warga Palestina di kota Quds (Yerussalem) berhasil menggagalkan upaya warga pendatang Zionis untuk membakar Gereja Gethsemani di Quds Timur.

Para saksi mata mengatakan kepada Anadolu bahwa seorang pemukim Zionis menerobos masuk ke dalam gereja kemudian menuangkan bahan bakar dan mencoba membakar beberapa kursi yang ada.

Para saksi menambahkan bahwa penjaga gereja di luar tembok Quds bersama empat warga kota ini mengejar orang Zionis itu  dan menggagalkan upayanya, sebelum polisi Israel tiba.

Para saksi menyatakan bahwa petugas pemadam kebakaran Palestina “segera memadamkan api dan mencegah penyebarannya”, sementara polisi Israel dalam sebuah pernyataan mengaku telah menangkap warga Zionis tersebut.

Upaya pembakaran gereja itu mendapat kecaman keras dari otoritas serta faksi-faksi Palestina, yang menyebutnya sebagai aksi teror. (raialyoum)

Israel Keluarkan Peringatan Baru Mengenai Kemungkinan Serangan Iran

Badan Kontra-Terorisme di Israel mengeluarkan peringatan yang mengklaim adanya peningkatan risiko serangan terhadap orang-orang Israel di seluruh dunia menyusul kasus pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Fakhri Mohsenzadeh.

Badan yang berafiliasi dengan Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tersebut pada Kamis malam (3/12/2020) menyatakan bahwa “Iran bermungkinan mencoba melakukan serangan di negara-negara yang dekat dengannya; Seperti Georgia, Azerbaijan, Turki, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kurdistan Irak, serta negara-negara di Timur Tengah dan Afrika.”

Otoritas menambahkan bahwa mengingat ancaman baru-baru ini yang dikeluarkan oleh agen Iran, dan mengingat keterlibatan agen Iran sebelumnya dalam serangan di berbagai negara, ada kekhawatiran bahwa Iran akan mencoba bertindak dengan cara demikian terhadap target-target Israel.

Belum ada komentar langsung dari Iran terkait peringatan Israel tersebut.

Pada hari Jumat pekan lalu Iran mengumumkan bahwa ilmuwan nuklirnya, Mohsen Fakhrizadeh, 63 tahun, terbunuh oleh serangan teror ketika sedang melakukan perjalanan di daerah Damavand dekat Teheran, ibu kota Iran.

Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut pembunuhan itu sebagai “jebakan Israel”, dan bersumpah untuk membalasnya pada waktu yang tepat. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran juga bersumpah untuk melakukan “pembalasan yang keras”, dan menuduh Israel berada di balik serangan tersebut.

Menurut jaringan berita CNN, Rabu lalu seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Israel bertanggung jawab atas pembunuhan ilmuwan nuklir tersebut. (raialyoum)