Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 4 April 2020

corona di suriahJakarta, ICMES. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan ihwal cepatnya penyebaran virus corona di Timur Tengah.

Tiga kelompok di Iran sedang bekerja keras untuk menghasilkan vaksin virus corona (COVID-19) di tengah mobilisasi nasional melawan epidemi ini.

Kepala Asosiasi Pemakaman di Port Said, Mesir, dipecat setelah beredar sebuah video pengangkutan jenazah  korban virus corona (COVID-19) dengan  sebuah mobil bak terbuka.

Raksasa media sosial Twitter menghapus akun-akun palsu yang menyuarakan pesan-pesan kritis di Iran, Qatar, dan Turki.

Berita selengkapnya:

WHO Ingatkan Kondisi Timteng Terkait Laju Penyebaran COVID-19

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pemerintah negara-negara Timur Tengah harus bertindak cepat untuk menahan laju penyebaran virus corona (COVID-19), karena jumlah kasus di kawasan ini telah meningkat menjadi hampir 60.000, atau nyaris dua kali lipat jumlah yang tercatat pada satu minggu sebelumnya.

“Kasus-kasus baru telah dilaporkan di beberapa negara paling rentan dengan sistem kesehatan yang rapuh,” ungkap Ahmed al-Mandhari, direktur WHO untuk wilayah Mediterania Timur (EMRO), yang meliputi Pakistan dan Afghanistan serta negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), seperti dikutip Aljazeera, Jumat (3/4/2020).

Dalam sebuah pernyataan dia menambahkan, “Bahkan di negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih kuat, kita melihat lonjakan yang mengkhawatirkan dalam jumlah kasus dan kematian yang dilaporkan.”

Di luar Iran, yang telah melaporkan lebih dari 50.000 kasus, jumlah kasus  COVID-19 di Timur Tengah dan Afrika Utara relatif rendah dibandingkan dengan Eropa, AS dan Asia.

Namun, para pejabat kesehatan khawatir rendahnya jumlah kasus penyakit pernapasan yang sangat menular ini hanya lantaran banyak kasus yang tak terlaporkan. Mereka mengatakan banyak negara dengan pemerintahan yang lemah dan sistem kesehatan yang terkikis oleh konflik akan sangat kesulitan mengatasinya.

“Saya tidak bisa cukup menekankan urgensi situasi… Meningkatnya jumlah kasus menunjukkan bahwa penularan cepat terjadi di tingkat lokal dan masyarakat,” ujar al-Mandhari.

Dia juga mengatakan, “Kita masih memiliki jendela peluang, tapi jendela ini perlahan menutup hari demi hari.”

WHO menyatakan bahwa jumlah kasus COVID-19 di Timur Tengah kini bertambah dari 32.442 pada 26 Maret lalu menjadi 58.168, sementara angka kasus di dunia  mencapai 1,016,534 dengan 53,179 kematian. (aljazeera)

Tiga Kelompok di Iran Berjuang Membuat Vaksin COVID-19

Wakil Presiden Iran Urusan Sains dan Teknologi Sorena Sattari menyatakan tiga kelompok di negara ini sedang bekerja keras untuk menghasilkan vaksin virus corona (COVID-19) di tengah mobilisasi nasional melawan epidemi ini.

“Sejak awal krisis ini berbagai perusahaan berbasis pengetahuan, penelitian, dan banyak perusahaan baru telah melakukan upaya sepanjang waktu untuk berkontribusi dalam perang melawan virus corona,” tulis Sattari di halaman Instagram-nya, seperti dikutip FNA, Jumat (3/4/2020).

Sattari menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan itu terlibat dalam pembuatan masker, desinfektan, ventilator, peralatan ICU, perangkat CT-Scan, alat uji COVID-19 dan lain-lain.

Kementerian kesehatan Iran Kamis lalu mengumumkan adanya temuan 2.875 kasus baru infeksi COVID-19 di negara ini, sementara pasien yang meninggal sejauh ini  berjumlah 3.160 orang.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kianoush Jahanpour mengatakan bahwa dengan adanya temuan baru itu maka total jumlah kasus infeksi menjadi 50.468, sedangkan jumlah pasien yang sembuh 16.711 orang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan respon Iran terhadap virus sejauh ini sudah mencapai target. Namun, lanjut WHO, sanksi AS menjadi kendala besar sehingga Washington dapat terlibat dalam meningkatnya jumlah kematian di Iran jika tidak akan menghapus sanksi itu.

Organisasi Kesehatan Dunia telah mempertimbangkan beberapa prioritas dalam penanggulangan pandemi ini, dan Iran menjalankan prioritas seperti yang didefinisikan oleh WHO, yang mengirim delegasi terpisah ke semua negara.

Kasus infeksi COVID-19 di dunia sejauh ini dilaporkan mencapai  lebih dari 1,002,000  dengan jumlah kematian yang melampaui angka 51.000, sementara jumlah pasien yang sembuh sekitar 208.000 orang.

AS  merupakan negara yang paling terdera wabah ini di dunia, dan mencatat lebih dari 5.600 kematian, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins, yang juga telah mengkonfirmasi lebih dari 236.000 kasus infeksi penyakit di AS. (mm/fna/aljazeera)

Pejabat Pemakaman di Mesir Dicopot Karena Tolak Jenazah Korban COVID-19

Gubernur Port Said, Mesir, Adel El-Ghadban, mengumumkan bahwa kepala Asosiasi Pemakaman di Port Said telah dipecat setelah beredar sebuah video pengangkutan jenazah  korban virus corona (COVID-19) dengan  sebuah mobil bak terbuka.

Mengomentari kejadian itu, El-Ghadban dalam pernyataan di saluran TV Sada Elbalad, seperti dikutip RT, Sabtu (4/4/2020), menjelaskan, “Almarhum masuk rumah sakit pada tanggal 31 Maret dan telah dilakukan tes medis yang diperlukan untuknya hingga diketahui terinfeksi virus corona. Semua tindakan pencegahan telah diambil di rumah sakit, namun ada masalah dalam pemandian jenazah karena sebagian orang takut menghadapi kondisi ini. ”

El-Ghadban menambahkan, “Tugas rumah sakit selesai setelah jenazah diserahkan kepada keluarganya. Pihak keluarga kemudian menghubungi asosiasi pemakaman, tapi asosiasi ini menolak pengangkutan jenazah itu. Karena itu direktur asosiasi ini lantas dipecat dari jabatannya.”

El-Ghadhban mengaku telah menghubungi Kementerian Kesehatan agar menyediakan mobil untuk pengangkutan para korban meninggal akibat infeksi virus corona. (mrt)

Twitter Hapus Akun-Akun Palsu dari Negara-Negara Arab

Raksasa media sosial Twitter menghapus akun-akun palsu yang menyuarakan pesan-pesan kritis di Iran, Qatar, dan Turki.

Twitter telah menghapus ribuan akun yang terhubung ke Mesir, Arab Saudi dan beberapa negara lain karena mengambil arahan dari pemerintah ataupun mempromosikan konten pro-pemerintah.

Dalam sebuah posting di platformnya pada Kamis lalu (2/4/2020) Twitter mengaku telah memberangus 2.541 akun di jaringan El Fagr yang berbasis di Mesir karena menciptakan “akun tidak autentik untuk menyuarakan pesan kristis tentang Iran, Qatar dan Turki”.

“Informasi yang kami peroleh secara eksternal menunjukkan bahwa akun-akun itu mengambil arahan dari pemerintah Mesir,” ungkap Twitter.

Twitter juga menghapus 5.350 akun yang terkait dengan Arab Saudi dan beroperasi di beberapa negara, termasuk Saudi sendiri, Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA). Ribuan akun itu memiliki konten memuji kepemimpinan Saudi dan kritis terhadap aktivitas Qatar dan Turki di Yaman.

Tindakan ini ditempuh Twitter sekira empat bulan setelah perusahaan media sosial ini menutup hampir 6.000 akun yang dianggap terkait dengan operasi informasi yang didukung pemerintah di Arab Saudi.

Pada 20 Desember tahun lalu, Twitter menyatakan akun-akun Saudi yang dihapus mengandung konten dan aktivitas yang menguntungkan otoritas Saudi, terutama melalui “suka agresif, me-retweet, dan membalas”.

Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir sejak Juni 2017 memutus hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar, memberlakukan blokade laut, darat dan udara terhadapnya, menuduhnya menyokong “terorisme”,  dan mengecamnya karena terlalu dekat dengan Iran. Qatar resisten terhadap semua tindakan itu dan menegaskan bahwa pemutusan hubungan itu tidak didikung alasan yang sah. (aljazeera)