Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 31 Oktober 2020

hassan nasrallah lebanonJakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyayangkan terjadinya serangan di gereja kota Nice, Prancis, namun juga menegaskan bahwa umat Islam tidak dapat menolerir penistaan terhadap nabinya, dan bahwa Prancis bukannya berusaha mengatasi masalah melainkan malah beriniatif mengumumkan sebentuk perang.

Seorang jenderal Israel menyatakan bahwa ancaman terbesar bagi pasukan Zionis Israel di wilayah Golan saat ini berasal dari Iran dan Hizbullah Lebanon, dan bukan Suriah sendiri.

Berita Selengkapnya:

Sayid Nasrallah: Alih-Alih Mengatasi Masalah, Prancis Malah Nyatakan Perang

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyayangkan terjadinya serangan di gereja kota Nice, Prancis, namun juga menegaskan bahwa umat Islam tidak dapat menolerir penistaan terhadap nabinya, dan bahwa Prancis bukannya berusaha mengatasi masalah melainkan malah beriniatif mengumumkan sebentuk perang.

“Peristiwa di kota Nice dikecam keras oleh Muslimin di Prancis, Eropa, dan di manapun. Peristiwa ini ditolak oleh Israel, dan siapapun tak boleh mengaitkannya dengan Islam, yang mengharamkan pembunuhan dan gangguan terhadap orang yang tak berdosa,” katanya dalam pidato pada momen peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, Jumat (30/10/2020).

Meski demikian, dia memperingatkan bahwa umat Islam “tak dapat menolerir penghinaan terhadap nabinya sehingga menganggap pembelaan atasnya sebagai prioritas tertinggi”.

“Otoritas Prancis dan lain-lain tak boleh menimpakan kesalahan oknum tertentu kepada suatu agama ataupun penganut agama ini. Jika pelaku suatu kejahatan adalah seorang Muslim maka siapapun tak boleh melimpahkan tanggungjawab atasnya kepada Islam dan Muslimin,” imbuhnya.

Sayid Nasrallah kemudian menyayangkan pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebut peristiwa itu sebagai “teror Islam”.

Dia menyoal, “Orang yang berbuat kejahatan, dia sendirilah yang penjahat, bukan agamanya. Sekarang AS berbuat kejahatan di seluruh penjuru dunia, apakah lantas orang mengatakan bahwa teror AS ini adalah teror Kristen dengan alasan bahwa presiden atau mayoritas orang AS adalah Kristen?”

Dia menambahkan, “Hal yang sama juga pernah dilakukan Prancis terhadap Aljazair, dan dilakukan pula oleh yang lain di Libya di antara negara-negara kawasan, apakah lantas orang menyalahkan agama Kristen, atau umat Kristen, atau Al-Masih (Yesus)?”

Sekjen Hizbullah lantas menegaskan, “Tak ada yang namanya teror Islam, fasis Islam, orang yang berbuat jahat dia sendirilah yang jahat.”

Lebih lanjut, kepada Prancis dan Barat secara umum, Nasrallah mengatakan, “Faham terorisme takfiri di kawasan kami didukung oleh negara-negara Barat. Pemerintah AS dan negara-negara Eropa menyokong dan mendanai kelompok-kelompok takfiri di Suriah dan Irak. Penggunaan kelompok-kelompok seperti ini harus dihentikan… Kalian sekarang terkejut oleh aksi pemenggalan di sana (Prancis), sedangkan ini bermula di kawasan kami, dan kalianlah yang memfasilitasi kedatangan mereka ke kawasan. Usutlah tanggungjawab kalian sendiri.”

Sayid Nasrallah menjelaskan bahwa masalah di Prancis berawal dari tindakan “majalah keji” (Charlie Hebdo) memublikasi karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw sehingga membangkitkan protes yang kemudian menjurus ke peristiwa-peristiwa seperti pembunuhan dan pemenggalan guru sekolah Prancis oleh pemuda Muslim asal Cechnya.

“Alih-alih mengatasi masalah ini, otoritas Prancis malah mengumumkan perang jenis ini, berkeras kepala, dan mengatakan, ‘Ini adalah kebebasan berekspresi, dan kami akan melanjutkan karikatur yang menghina’, dan ini dari pucuk piramida,” kecam Nasrallah.

Sayid Nasrallah kemudian mengatakan, “Saya sampaikan pesan kepada otoritas Prancis, tak seorang di dunia Islam mencari permusuhan dan peperangan baru. Kalian berkewajiban membenahi kesalahan yang telah dilakukan ini, dan mengatasi kesalahan bukanlah ketundukan kepada terorisme. Bersikaplah fair dan adil. Penistaan kehormatan nabi kami tak dapat ditolerir oleh Muslim, bahkan rezim-rezim politikpun tak dapat menutupi kelancangan terhadap nabi berbagai bangsa ini. Tak usah berdalih lagi, atasilah pokok persoalan, dan jangan biarkan olok-olok dan pelanggaran ini berlanjut.” (almanar/rta)

Jenderal Israel: Bahaya Terbesar di Golan adalah Iran dan Hizbullah, Bukan Suriah Sendiri

Seorang jenderal Israel menyatakan bahwa ancaman terbesar bagi pasukan Zionis Israel di wilayah Golan saat ini berasal dari Iran dan Hizbullah Lebanon, dan bukan Suriah sendiri.

Komandan divisi ke-210 militer Israel, Mayjen Roman Goffman, kepada kantor berita TASS milik Rusia, Jumat (30/10/2020), mengatakan, “Bahaya terbesar jika kita melihat perbatasan Suriah adalah pembentukan sebuah front oleh Iran dan Hizbullah di Suriah selatan melawan Israel.”

Dia melanjutkan, “Ini adalah bahaya utama. Kami melihat bahaya bukan di Suriah atau Suriah sendiri, yang harus membangun kembali dirinya sebagai negara … Faktanya, Iran dan Hizbullah sedang menyusup ke wilayah tersebut dan memperkuat posisi mereka di sana secara mantap dan terus menerus.”

“Ini adalah bahaya besar bagi kami, dan bagi pemerintah Suriah dan warga Suriah yang tinggal di Suriah selatan,” tambah Goffman, sembari menuding Hizbullah menjadikan warga di Suriah selatan sebagai “sandera”.

Jenderal itu mengklaim, “Suriah sekarang dalam keadaan merosot sebagai sebuah negara, tentaranya sedang pulih setelah bencana, dan karena itu di perbatasan Lebanon bahayanya jauh lebih besar, dan Hizbullah adalah pasukan teroris yang nyata. Tetapi kami melihat bahwa tentara Suriah telah mulai mendapatkan kembali kemampuannya dan ini akan memakan waktu beberapa tahun.”

Goffman menegaskan bahwa tujuan strategis Israel adalah mencegah keberadaab Iran dan Hizbullah di Suriah, terutama di bagian selatan. (rta)