Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 31 Juli 2020

tentara israel dekat perbatasan libanonJakarta, ICMES. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mendapat instruksi untuk menyerang target-target vital tertentu di Libanon jika mendapat serangan balasan dari Hizbullah.

Duta Besar Rusia untuk Libanon menyebut AS berilusi dapat melucuti gerakan perlawanan Hizbullah Libanon melalui sanksi.

Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar menuduh Uni Emirat Arab (UEA) melakukan “tindakan jahat” di Libya dan Suriah, dan bersumpah bahwa Ankara akan meminta pertanggungjawaban “di tempat dan waktu yang tepat”.

Pasukan loyalis presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Dewan Transisi Selatan (STC) di provinsi Abyan di bagian tenggara Yaman.

Berita selengkapnya:

Israel Ancam Serang Target Vital di Libanon Jika Diserang Hizbullah

Media Israel, Jumat (31/7/2020), memberitakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mendapat instruksi untuk menyerang target-target vital tertentu di Libanon jika mendapat serangan balasan dari Hizbullah.

Mengutip keterangan sumber khusus, saluran i24news milik Israel melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz, memerintahkan IDF agar menghancurkan fasilitas vital Lebanon jika Hizbullah menyerang tentara atau warga Israel sesuai ancamannnya untuk membalas darah salah seorang anggotanya yang terbunuh oleh serangan Israel ke Damaskus.

Sumber itu menyebutkan bahwa Gantz mengeluarkan instruksi itu Kamis lalu dalam rapat yang dihadiri oleh Kepala Staf IDF, Aviv Kochavi, dan sejumlah komandan militer senior.

“Jika Hizbullah menyerang maka kita akan melihat respons Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Libanon beserta infrastruktur dan instalasi vitalnya,” ungkap sumber itu.

Sebuah surat kabar Arab melaporkan adanya gerakan dan bala bantuan tentara Israel secara signifikan ke arah wilayah utara yang berbatasan dengan Lebanon, yang dinilai sebagai yang terbesar sejak perang Libanon kedua pada Juli 2006.

Militer Israel Senin lalu mengaku telah “menggagalkan operasi sabotase di Jabal Ros di wilayah perbatasan Israel (Palestina pendudukan 1948) – Lebanon, setelah sejumlah anggota Hizbullah menyusup ke wilayah Israel”, dan menyatakan tak ada korban di pihak pasukan Israel dalam peristiwa ini.

Hizbullah membantah narasi Israel tersebut dalam sebuah pernyataan dengan menegaskan, “Sama sekali tidak benar semua yang diklaim oleh media musuh tentang penggagalan operasi infiltrasi dari wilayah Libanon ke Palestina pendudukan itu, serta jatuhnya korban jiwa dan luka di pihak Poros Resistensi (Hizbullah) dalam operasi pemboman yang terjadi di sekitar posisi-posisi pasukan pendudukan di  wilayah pertanian Shebaa. Semua itu merupakan upaya untuk menciptakan kemenangan ilusif dan palsu.” (raiayoum)

Rusia: AS Berilusi Melucuti Senjata Hizbullah

Rusia menyebut AS berilusi dapat melucuti gerakan perlawanan Hizbullah Libanon melalui sanksi.

“Melucuti Hizbullah adalah tujuan utama sanksi AS … Saya tidak berpikir bahwa tujuan seperti itu akan tercapai melalui metode ini. AS tidak akan berhasil memaksa Hizbullah meletakkan senjatanya. Ini adalah ilusi, ” kata Duta Besar Rusia untuk Libanon, Alexander Zasypkin, dalam wawancara eksklusif saluran TV Al-Mayadeen yang berbasis di Beirut, Jumat (31/7/2020).

Pada akhir Oktober 2018 pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberlakukan babak baru sanksi terhadap Hizbullah serta menarget sejumlah orang dan organisasi internasional yang menjalin hubungan bisnis dengan Hizbullah.

“Kami (Rusia) telah melakukan upaya di Suriah. Ini tidak hanya bermanfaat bagi Suriah, tetapi juga bagi Libanon karena melindungi negara ini dari potensi ancaman terorisme. Jika terorisme terjadi di Suriah, akan mudah bagi ribuan teroris untuk menyeberang ke Libanon, dan ini akan menyebabkan pemisahan negara,” lanjut Zasypkin.

Mengenai Iran, dia juga menyebut negara republik Islam itu berperan positif di kawasan Timur Tengah, dan mengutuk pelecehan jet tempur AS terhadap pesawat penumpang Iran di angkasa Suriah belum lama ini.

“Amerika menciptakan masalah dan melanggar hukum internasional. Tujuannya adalah untuk menciptakan ketegangan dan membangun kembali kehadiran, peran dan pengaruh mereka, ”ungkap diplomat Rusia itu.

Mengenai Suriah dia mengatakan bahwa perimbangan kekuatan di sana sudah berubah dan tidak lagi menguntungkan kelompok-kelompok teroris yang telah memancing kedatangan kekuatan-kekuatan asing, terutama pasukan koalisi pimpinan AS. (presstv)

Turki Tuding UEA Berbuat Jahat di Libya, dan akan Minta Pertanggungjawaban

Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar menuduh Uni Emirat Arab (UEA) melakukan “tindakan jahat” di Libya dan Suriah, dan bersumpah bahwa Ankara akan meminta pertanggungjawaban “di tempat dan waktu yang tepat”.

“UEA mendukung organisasi-organisasi teroris yang bermusuhan dengan Turki dengan maksud untuk mencelakakan kami. UEA harus mempertimbangkan ukurannya yang kecil dan tingkat pengaruhnya, dan tidak boleh menyebarkan hasutan dan kerusakan,” kata Akar, Jumat (31/7/2020).

Akar juga mengatakan bahwa Uni Emirat Arab adalah negara yang “berguna” bagi orang lain. “(Mereka) melayani orang lain secara politik atau militer, dan (mereka) digunakan dari jarak jauh,” katanya.

Hubungan Ankara dengan UEA keruh sejak peristiwa kudeta gagal di Turki pada tahun 2016, ketika para pejabat Turki mulai mempertanyakan secara terbuka apakah putra mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed, terkait dengan peristiwa itu.

Mei lalu Kementerian Luar Negeri Turki menuduh UEA mendukung kelompok militan Somalia al-Shabab serta ambisi separatis Dewan Transisi Selatan (STC) di Yaman.

Belakangan, Turki mencurigai pesawat milik UEA awal Juli lalu digunakan untuk menyerang sistem pertahanan udara Turki di pangkalan udara al-Watiya, Libya barat, yang dikuasai oleh Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Turki.

Turki secara militer mendukung GNA dalam melawan kubu Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar yang didukung Mesir dan UEA.

Mengenai Mesir, Akar mengatakan, “Saya menyarankan Mesir untuk menahan diri dari pernyataan yang bukannya melayani perdamaian di Libya, tapi malah memicu perang.” (raialyoum/mee)

Pasukan Hadi Bertempur Sengit dengan STC di Yaman

Pasukan loyalis presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Dewan Transisi Selatan (STC) di provinsi Abyan di bagian tenggara Yaman.

Reporter RT Arabic, Jumat (31/7/2020), melaporkan bahwa kedua pihak saling gempur dengan menggunakan senjata artileri di poros al-Tharyah, provinsi Abyan, dua hari setelah dimulainya penerapan komponen politik Perjanjian Riyadh yang diteken oleh kedua pihak pada November 2019.

Pada pekan lalu STC menyatakan bersedia membatalkan status otonomi wilayah kekuasaan mereka, yang mereka deklarasikan pada akhir April lalu, dengan tujuan memberikan kesempatan kepada pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi untuk merampungkan Perjanjian Riyadh.

Pembatalan itu dinyatakan demi merespon inisiatif baru Saudi untuk menyudahi pertikaian antara kubu Hadi dan kubu STC yang berkelanjutan sejak lebih dari satu tahun silam. (rtarabic)