Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 31 Agustus 2019

ledakan roket satelit iranJakarta, ICMES: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan negaranya “tidak terlibat” dalam apa yang diduganya sebagai peristiwa ledakan roket pembawa satelit Iran saat peluncurannya di daerah Semnan.

Militer mengingatkan negara-negara Arab pesisir Teluk Persia ihwal persekutuan mereka dengan Rezim Zionis Israel.

Hizbullah menyerahkan bangkai dua drone Israel yang jatuh Ahad lalu di pinggiran selatan Beirut, ibu kota Libanon, kepada intelijen militer negara ini.

75 orang menderita luka, 42 di antaranya terkena peluru tajam, akibat serangan pasukan Zionis Israel terhadap warga Palestina.

Ansarullah menanggapi pernyataan Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) mengenai serangan udaranya di Aden, Yaman selatan.

Berita selengkapnya:

Trump Nyatakan AS Tidak Terlibat dalam Ledakan Pada Peluncuran Satelit Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan negaranya “tidak terlibat” dalam apa yang diduganya sebagai peristiwa ledakan roket pembawa satelit Iran saat peluncurannya di daerah Semnan.

Hal tersebut dinyatakan Trump di halaman Twitter-nya, Jumat (30/8/2019).

“AS tidak terlibat dalam bencana kecelakaan dalam persiapan final peluncuran Safir SLV di situs peluncuran Semnan di Iran. Saya mengharapkan apa yang terbaik bagi Iran dan semoga sukses dalam memastikan apa yang terjadi di situs itu,” cuit Trump sembari menyertakan foto hasil pencitraan satelit beserta keterangannya.

Dalam foto itu terlihat kondisi berantakan dan kehancuran akibat ledakan yang terjadi pada situs tersebut.

Hingga berita ini disusun belum ada tanggapan dari pihak Iran terkait dengan cuitan Presiden AS tersebut. (twitter)

Iran Peringatkan Para Jirannya di Teluk Persia Ihwal Persekutuan dengan Israel

Komandan Angkatan Udara Iran Brigjen Alireza Sabahifard mengingatkan negara-negara Arab pesisir Teluk Persia ihwal persekutuan mereka dengan Rezim Zionis Israel, dan menegaskan bahwa Iran sanggup merealisasikan ancamannya jika mendapat serangan.

“Kami tidak mengupayakan perang dan tidak pula membuat-buat konfrontasi, tapi keamanan kawasan merupakan garis merah bagi kami, dan kami tidak akan pernah berbasa-basi dengan siapapun soal ini,” tegasnya, Jumat (30/8/2019).

Dia menekankan keharusan negara-negara Teluk Persia menjamin sendiri keamanan kawasan ini tanpa campur tangan pasukan asing.

Sabahifard kemudian mengingatkan apa yang disebutnya “aliansi pertunjukan” dan “keberadaan Rezim Zionis di Teluk Persia” sebagai pembangkit ketegangan yang tidak akan mendatangkan apa-apa kecuali kekacauan di kawasan ini.

Dia mengimbau para penguasa negara-negara Arab Teluk Persia agar meninjau kembali kebijakan keamanan mereka, dan supaya mereka tidak sekali-kali bersekutu dengan “kaum Zionis, musuh umat Islam.”

Dia menambahkan, “Peralatan perang musuh sekarang terhenti sejauh 200 mil dari Selat Hormuz tanpa berani mendekat, satu hal yang menunjukkan tingginya level kekuatan Angkatan Bersenjata Iran, yang berjalan di jalur Wilayatul Faqih dan pengarahan bijaksana Pemimpin Besar Revolusi (Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei).”

Dia juga menegaskan, “Musuh tahu persis bahwa mereka tak dapat menjajal kesiapan militer Republik Islam Iran, dan kesalahan pertama mereka akan menjadi kesalahan terakhir yang keluar dari mereka.” (alalam/raialyoum)

Hizbullah Serahkan Bangkai Dua Drone Israel Kepada Tentara Libanon

Kelompok pejuang Hizbullah menyerahkan bangkai dua drone Israel yang jatuh Ahad lalu di pinggiran selatan Beirut, ibu kota Libanon, kepada intelijen militer negara ini.

Portal berita Al-Ahed, Jumat (30/8/2019), mengutip pernyataan sumber keamanan Hizbullah bahwa koordinasi antara kelompok pejuang ini dan Angkatan Bersenjata Libanon dilakukan sejak terjadinya insiden tersebut.

“Gambarannya sudah jelas bagi kubu resistensi (Hizbullah), dan apa yang banyak beredar di media tidaklah akurat,” ungkap sumber itu terkait dengan peluncuran dua drone itu dari arah laut.

Sebelumnya, Hizbullah mengumumkan bahwa dua drone Rezim Zionis itu membawa bahan peledak, dan satu di antaranya jatuh akibat kerusakan teknis, sedangkan yang lain meledak di dekat kantor media Hizbullah hingga menimbulkan kerugian materi di sana.

Kantor berita Libanon, NNA, melaporkan bahwa tiga orang menderita luka ringan terkena serpihan drone yang meledak.

Berbagai spekulasi berkembang terkait dengan sasaran drone itu. Rezim Zionis sendiri membisu terkait peristiwa itu, namun medianya menyebutkan serangan itu dilancarkan terhadap apa yang diklaim Israel sebagai proyek rudal berpresisi tinggi Hizbullah di bawah pengawasan Iran.

Sumber-sumber politik Libanon menduga kuat bahwa serangan drone Israel itu ditujukan terhadap tokoh-tokoh Hizbullah. (raialyoum)

Unjuk Rasa di Gaza, 75 Warga Palestina Terluka Diserang Israel

Departemen Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan sebanyak 75 orang menderita luka, 42 di antaranya terkena peluru tajam, akibat serangan pasukan Zionis Israel terhadap warga Palestina yang berunjuk rasa di wilayah perbatasan Gaza-Israel, Jumat (30/8/2019).

Disebutkan pula bahwa di antara para korban itu terdapat 18 anak kecil dan dua perempuan serta terjadi terjadi kerusakan pada dua mobil ambulan Palestina akibat serangan tersebut.

Pasukan Zionis dilaporkan telah melepaskan tembakan ke arah warga Palestina ketika mereka baru tiba di kamp-kamp Al-Awdah untuk mengikuti aksi Great March of Return yang diselenggarakan setiap hari Jumat untuk memperjuangkan hak kepulangan para pengungsi Palestina dan menuntut pencabutan blokade Israel terhadap Jalur Gaza. (rt)

Ansarullah Tanggapi UEA Soal Serangan Udara di Aden

Petinggi kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) Mohammad Ali al-Houthi  menanggapi pernyataan Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) mengenai serangan udaranya di Aden, Yaman selatan.

Ketua Komisi Tinggi Revolusi Yaman itu menilai pernyataan UEA tersebut menunjukkan ilegalitas pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman.

“Pengakuan UEA dalam statemennya atas pemboman terhadap apa yang disebutnya para teroris yang didukung Saudi menunjukkan bahwa agresi terhadap Yaman merupakan tindakan ilegal dan bahwa AS, Saudi, UEA, para sekutu serta pendukung dan pendiri mereka adalah teroris yang bertujuan menghancurkan Yaman,” ungkap Ali al-Houthi di Twitter, Jumat (30/8/2019).

Dia menambahkan, “Pengakuan resmi UEA, selaku anggota koalisi itu, atas status mereka sebagai teroris merupakan penegasan bahwa AS adalah induk dan pembuat teroris di Yaman, dan bahwa AS bertanggungjawab penuh atas terorismenya di Yaman.”

Dia juga menilai statemen itu telah melimpahkan kepada Saudi tanggungjawab atas dukungannya kepada kawanan teroris, bukan perang terhadapnya seperti yang mereka klaim.

Mohammad Ali al-Houthi lantas menegaskan kemenangan Yaman berkat keteguhannya dalam melawan agresi dan terungkapnya kedok para agresor sebagai pengusung terorisme.

Seperti pernah diberitakan, jet-jet tempur UEA telah melancarkan serangan terhadap pasukan kubu presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi di ibu kota sementaranya, Aden, dan provinsi Abyan, Yaman selatan.

Kementerian pertahanan kubu Mansour Hadi menyatakan bahwa serangan itu telah menjatuhkan lebih dari 300 korban tewas dan luka yang banyak di antaranya adalah warga sipil. (rt)