Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 30 November 2019

irak adil abdul-mahdi mundurJakarta, ICMES. Pemimpin kelompok Sadr di Irak, Sayid Moqtada Sadr, menyatakan bahwa pengunduran diri Adil Abdul-Mahdi dari jabatannya sebagai perdana menteri Irak merupakan “hasil pertama revolusi”.

Jet tempur Israel menyerang sebuah pos pemantau milik para pejuang Palestina di Jalur Gaza pada Jumat malam menyusul adanya penembakan roket dari kawasan ini ke arah permukiman Zionis.

Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman Mahdi al-Mashat menyatakan pihaknya siap mengadakan perundingan serius untuk menghentikan perang secara total di negara ini.

Berita selengkapnya:

Moqtada Sadr Sambut Gembira Pengunduran Diri Abdul-Mahdi Mundur dari Jabatan PM Irak

Pemimpin kelompok Sadr di Irak, Sayid Moqtada Sadr, menyatakan bahwa pengunduran diri Adil Abdul-Mahdi dari jabatannya sebagai perdana menteri Irak merupakan “hasil pertama revolusi”.

“Syukur kepada Allah, terima kasih kepada para revolusioner, terima kasih kepada marji, terima kasih kepada setiap orang yang memberikan dukungan, kepala pemerintahan telah mengundurkan diri. Segala puji bagi Allah. Ini merupakan hasil pertama revolusi, bukan yang terakhir. Tapi ketahuilah bahwa pengunduran diri ini tidak berarti berakhirnya korupsi,” komentar Moqtada Sadr dalam sebuah statemennya, Jumat (29/11/2019).

Dia mengajukan beberapa usulan di mana yang pertama di antaranya ialah “pencalonan perdana menteri melalui referendum atas lima calon, dan meletakkan kotak-kotak referendum rakyat di tempat terbuka yang dipakai dalam aksi protes”.

Dia menyerukan “tindakan untuk pembentukan dewan pemberantasan korupsi yang terdiri atas para hakim senior berkompeten, bersih, dan berani menindak orang yang telah dan akan berbuat korupsi”.

Dia juga mengusulkan pemilihan perdana menteri baru yang  jauh dari partai, milisi, sektarianisme, dan rasisme, serta aktivasi peran hakim, dan keterjauhan dari polemik parlemen “yang sebagian anggotanya tak kalah korupnya dengan pemerintah”.

Sayid Moqtada Sadr juga menekankan keharusan “kontinyuitas unjuk rasa damai, tidak mengendur, dan interaksi secara tegas terhadap siapapun yang melakukan tindak kekerasan dari pihak pengunjuk rasa  maupun pihak lawan mereka”.

Di bagian akhir dia menyatakan, “Kami berharap kepada negara-negara sahabat dan lain-lain agar memberikan kesempatan kepada orang-orang Irak untuk menentukan nasibnya sendiri.”

Sebelumnya di hari yang sama Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi mengumumkan niatnya untuk mengajukan permintaan resmi pengunduruan dirinya kepada parlemen sebagai bentuk respon atas seruan ulama panutan (marji’) Grand Ayatullah Sayid Ali al-Sistani.

Ketua parlemen Irak Mohammad al-Halbusi dan kelompok “Sa’irun” yang didukung kelompok Sadr menyerukan sidang darurat, Sabtu (30/11/2019), untuk menerima pengunduran diri Abdul-Mahdi.

Abdul-Mahdi menjabat sebagai perdana menteri Irak sejak Oktober 2018 berkat dukungan dua faksi terbesar Syiah di parlemen, yaitu Sa’irun yang mendapat 54 kursi dan Fath yang mendapat 47 di antara total 329 kursi.

Irak dilanda gelombang unjuk rasa protes terbesar terhadap pemerintah sejak awal bulan lalu. Dilaporkan bahwa ratusan orang tewas dan belasan ribu orang terluka akibat kekerasan yang terjadi dalam banyak peristiwa unjuk rasa. (raialyoum)

Israel Serang Posisi Pejuang Palestina di Gaza

Jet tempur Israel menyerang sebuah pos pemantau milik para pejuang Palestina di Jalur Gaza pada Jumat malam (29/11/2019) menyusul adanya penembakan roket dari kawasan ini ke arah permukiman Zionis.

Reporter kantor berita berita Turki, Anatolia, melaporkan bahwa jet tempur Israel menembakkan sedikitnya dua roket terhadap pos tersebut, namun tidak menjatuhkan korban jiwa maupun luka.

Militer Israel dalam sebuah pernyataan singkatnya mengaku telah menyerang sebuah posisi militer Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) di bagian utara Jalur Gaza “sebagai balasan atas penembakan roket dari Jalur Gaza ke arah Israel”.

Sebelumnya, juru bicara militer Israel menyatakan pihaknya telah memantau penembakan roket dari Jalur Gaza ke arah permukiman Israel yang dekat Jalur Gaza, dan roket itu jatuh di lokasi terbuka sehingga tidak menimbulkan kerugian.

Eskalasi ini terjadi beberapa jam setelah satu remaja Palestina berusia 16 tahun gugur syahid dan empat pemuda Palestina lainnya terluka oleh peluru yang ditembakkan pasukan Zionis Israel di bagian timur Khan Yunis, Jalur Gaza selatan.

Pihak penyelenggara aksi unjuk rasa untuk pemulangan para pengungsi Palestina dan pemecahan blokade Israel atas Jalur Gaza menyatakan bahwa “kejahatan (penembakan) itu merupakan salah satu bukti terkuat tingginya tingkat terorisme dan kedengkian para politisi dan partai-partai ekstremis Zionis”.

Panitia aksi unjuk rasa yang dilancarkan setiap hari Jumat di dekat perbatasan Gaza-Israel (Palestina pendudukan 1948) itu menyatakan terpaksa menunda aksi pada Jumat kemarin akibat situasi keamanan yang “sangat berbahaya” menyusul ancaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melancarkan agresi baru secara menyeluruh ke Jalur Gaza.

Menurut panitia, ancaman itu dinyatakan Netanyahu demi menyelamatkan dirinya dari jeratan hukum yang sedang mengancam dirinya terkait dengan kasus korupsi. (raialyoum)

Ansarullah di Yaman Nyatakan Situasi tak akan Stabil jika Persyaratannya tak Diterapkan

Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman Mahdi al-Mashat menyatakan pihaknya siap mengadakan perundingan serius untuk menghentikan perang secara total di negara ini.

“Kami di Yaman dan kawasan telah menunjukkan bahwa kami adalah umat yang satu dan terpadu, dan selagi persyaratan kami tidak direspon maka tidak akan ada stabilitas,” ujar al-Mashat, kepala pemerintahan yang berafiliasi dengan kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) yang berkuasa di Sanaa, ibu kota Yaman, Jumat malam (29/11/2019).

Dia menambahkan, “Revisi menyeluruh atas semua kekeliruan dan konsisten kepada penjagaan kehormatan Yaman merupakan salah satu persyarataan utama stabilitas di kawasan.”

Dia mengingatkan, “Berlanjutnya perang dan blokade terhadap Yaman membuat kawasan secara umum mengarah kepada bahaya besar yang sulit ditanggung.”

Dia melanjutkan, “Kami mengapresiasi hasil-hasil terbaru proses gencatan senjata, dan menyambut baik rencana yang mengarah pada pembebasan orang-orang kami yang ditawan… Kami juga menyambut baik setiap perundingan serius yang menjurus pada penghentian perang dan pengrusakan, pencabutan blokade, dan diakhirnya keberadaan militer asing di negeri kami.”

Menteri Luar Negeri Oman Senin lalu menyatakan bahwa sebagaimana Ansarullah, Arab Saudi juga serius mengenai perundingan untuk mengakhiri konfrontasi di Yaman.

Kantor berita Turki, Anatolia, belum lama ini mengutip keterangan narasumber yang mengetahui masalah ini bahwa Oman sedang mempersiapkan pendahuluan untuk pertemuan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman dengan delegasi Ansarullah yang akan dipimpin oleh Mohammad Abdul Salam.

Menurut sumber itu, Oman sedang mengupayakan penandatanganan perjanjian antara Saudi dan Ansarullah, dan upaya Oman ini dilakukan sekaligus demi mendekatkan pandangan Iran dengan Saudi dan Uni Emirat Arab mengenai Yaman.

Juru bicara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi Kolonel Turki al-Maliki Selasa lalu menyatakan pihaknya memutuskan untuk membebaskan 200 tawanan Ansarullah demi penerapan perjanjian yang telah dicapai di Stockholm, Swedia.  (fars)