Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 30 Maret 2019

gaza great marchJakarta, ICMES: Satu warga Palestina gugur syahid terkena tembakan pasukan Zionis Israel di dekat pagar pemisah Jalur Gaza-Israel (Palestina Pendudukan 1948) beberapa jam sebelum aksi unjuk rasa akbar dimulai untuk menandai peringatan 1 tahun aksi Great March of Return.

Pasukan artileri Israel menyerang sebuah pos pemantauan milik kelompok pejuang “Hamas” di sebelah timur Jalur Gaza namun tak ada laporan mengenai jatuhnya korban.

Para pejabat Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa negara ini telah membatalkan rencana penarikan total pasukannya dari Suriah, dan akan mempertahankan sebagian besar pasukannya di sana.

Sayap militer kelompok Sadr di Irak, “Saraya al-Salam”, Jumat (29/3/2019), menyatakan pihaknya berhasil membunuh “pemimpin ISIS paling berbahaya dan empat orang asistennya”.

Berita selengkapnya:

Peringatan Bumi Palestina , 1 Warga Gugur Di Gaza

Satu warga Palestina gugur syahid terkena tembakan pasukan Zionis Israel di dekat pagar pemisah Jalur Gaza-Israel (Palestina Pendudukan 1948) beberapa jam sebelum aksi unjuk rasa akbar dimulai untuk menandai peringatan 1 tahun aksi Great March of Return dan Hari Tanah Palestina, Sabtu (30/3/2019).

Departemen Kesehatan di Jalur Gaza menyatakan bahwa Mohammed Saad, 20, gugur syahid setelah kepalanya terkena serpihan peluru yang ditembakkan oleh tentara Israel di sebelah timur Kota Gaza.

Para pengunjuk rasa mengatakan bahwa Saad telah berpartisipasi dalam demonstrasi semalam menjelang demonstrasi besar-besaran yang dijadwalkan pada Sabtu sore waktu setempat.

Pawai akbar ini diadakan pada peringatan tahun pertama aksi protes yang dinamai “ Great March of Return” dan selalu diadakan setiap hari Jumat sejak 30 Maret 2018.

Dalam aksi itu warga Palestina menuntut diakhirnya pendudukan Israel atas tanah mereka, dan menegaskan hak para pengungsi Palestina pulang ke kampung halaman mereka.

Brigade al-Quds, sayap militer faksi Jihad Islam Palestina, mengingatkan tentara Israel untuk tidak menembak para peserta aksi ini.

Menjelang protes, tentara dan tank Israel dikerahkan di dekat pagar pemisah tersebut. Bala bantuan juga dikerahkan pada hari Jumat pagi. Pada hari itu pejabat medis Gaza mengatakan bahwa pasukan Israel menembak dan melukai 10 warga Palestina yang berada di sekitar pagar.

Di kota suci Al-Quds (Yerussalem), pasukan pendudukan Israel menyampaikan peringatan mereka pada malam Hari Bumi Palestina, sementara warga Palestina menggelar shalat Jum’at di Masjid Al-Aqsa di tengah penyebaran pasukan pendudukan.

Pada peringatan itu, kamp-kamp pengungsi Khan Dannoun dan Jirmana di daerah pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah, diwarnai aksi unjuk rasa protes terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat Doland Trump mengakui kedaulatan pendudukan atas Dataran Tinggi Golan milik Suriah, dan mengecam sepak terjang AS di Timteng.

Menurut Departemen Kesehatan Palestina di Gaza, tentara Israel telah membunuh hampir 260 warga Palestina sejak awal protes “Great March of Return”, dan melukai 26.000 lainnya.

Sebuah tim pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menemukan fakta bahwa pasukan Israel melakukan pelanggaran HAM selama aksi kekerasan terhadap para demonstran Palestina di Gaza, dan bahwa pelanggaran itu bisa jadi merupakan kejahatan perang. (presstv/alalam/raialyoum)

Pasukan Israel Serang Pos Hamas Di Gaza

Pasukan artileri Israel menyerang sebuah pos pemantauan milik kelompok pejuang “Hamas” di sebelah timur Jalur Gaza, Jumat malam (29/3/2019), namun tak ada laporan mengenai jatuhnya korban.

Seorang saksi mata kepada koresponden kantor berita Turki Anadolu mengatakan, “Sebuah tank Israel menembaki pos pemantauan milik Hamas di sebelah timur area Juhr Deik, Jalur Gaza tengah.”

Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza tidak mencatat adanya korban akibat serangan itu.

Pasukan pendudukan Israel dalam sebuah pernyataannya menyebutkan bahwa sebuah tank telah menggempur sebuah posisi militer milik Hamas di Jalur Gaza, namun dalam jangka waktu yang “tidak lama”. Pasukan Zionis ini berdalih bahwa serangan itu dilakukan sebagai “balasan atas pelemparan bahan peledak selama jam malam.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Kamis lalu mengancam pihaknya akan melancarkan serangan militer secara masif di Gaza jika dinilai perlu, dua hari setelah berkobar pertempuran yang menyebabkan beberapa orang terluka di kedua belah pihak. (raialyoum)

Para Pejabat AS Nyatakan Masih Banyak Tentara AS Yang Dipertahankan Di Suriah

Para pejabat Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa negara ini telah membatalkan rencana penarikan total pasukannya dari Suriah, dan akan mempertahankan sebagian besar pasukannya di sana.

Mereka mengatakan kepada New York Times, Jumat (29/3/2019), bahwa Pentagon mempertimbangkan pengurangan jumlah pasukan tempurnya di Suriah timur laut, dan bahwa sekira separuhnya (kurang lebih 1000 personil) akan ditarik pada awal Mei 2019, namun kemudian proses itu ditangguhkan.

Menurut mereka, militer AS kemudian akan mengevaluasi situasi dan mengurangi jumlah pasukan di Suriah setiap enam bulan atau lebih, hingga mencapai 400 personil.

Presiden AS Donald Trump pada Desember lalu mengumumkan rencana penarikan 2000 pasukan AS dari Suriah, namun setelah itu para pejabat AS malah memberikan berbagai pernyataan simpang siur terkait rencana kontroversial itu.

Para pejabat AS yang meminta tidak disebutkan identitasnya tersebut mengatakan kepada New York Times bahwa dalam rencana terbaru AS mengenai Suriah Pentagon mungkin tidak harus mencapai tingkat pasukan terendah sampai musim gugur tahun 2020. (presstv)

Pasukan Relawan Irak Habisi Tokoh ISIS “Paling Berbahaya”

Sayap militer kelompok Sadr di Irak, “Saraya al-Salam”, Jumat (29/3/2019), menyatakan pihaknya berhasil membunuh “pemimpin ISIS paling berbahaya dan empat orang asistennya” dalam sebuah operasi militer di provinsi Salah al-Din, Irak utara.

Juru bicara Saraya al-Salam, Safa al-Tamimi, menjelaskan rincian operasi militer yang dilakukan oleh intelijen Brigade III sayap militer Saraya al-Salam.

Dia mengatakan bahwa operasi ini tuntas dengan terbunuhnya seseorang bernama Muhammad yang merupakan “sosok paling berbahaya yang menjabat wali militer ISIS dan bertanggung jawab atas perekrutan anak-anak kecil serta pengerahan pelaku bom bunuh diri dan berbagai operasi teror lainnya”.

Dia juga menyebutkan bahwa operasi itu mengakibatkan tiga pejuang Saraya al-Salam terluka. (raialyoum)