Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 29 Juni 2019

Negara-negara penandatangan perjanjian nuklir Iran, JCPOA, sebelum AS keluar darinya.

Negara-negara penandatangan perjanjian nuklir Iran, JCPOA, sebelum AS keluar darinya.

Jakarta, ICMES: Wakil Menlu Iran Abbas Araqchi menilai ada suatu kemajuan dalam pertemuan mengenai penyelamatan perjanjian nuklir Iran di Wina, tapi belum memenuhi desakan Teheran.

Pasukan Yaman telah merontokkan dua lagi drone atau pesawat nirawak milik pasukan koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi.

Rusia mengaku siap mengirim S-400 ke Iran, tapi belum menerima permintaan resmi dari Teheran untuk pembelian sistem rudal pertahanan udara canggih itu.

Berita selengkapnya:

Iran Sebut Pertemuan Wina Tak Cukup untuk Selamatkan Perjanjian Nuklir

Negara-negara penandatangan yang masih tersisa dalam kesepakatan nuklir Iran, Rencana Aksi Komprehensif (JCPOA), mengadakan pertemuan di Wina, ibukota Austria, Jumat (28/6/2019), sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan perjanjian ini setelah AS keluar darinya secara sepihak pada tahun 2018.

Tentang ini, Wakil Menlu Iran Abbas Araqchi menilai ada suatu kemajuan dalam pertemuan itu, tapi belum memenuhi desakan Teheran.

“Itu merupakan langkah maju, tapi masih belum cukup dan tidak memenuhi harapan Iran,” ujar Abbas Araqchi kepada wartawan, setelah hampir empat jam berunding dengan para diplomat senior Inggris, Cina, Prancis, Jerman dan Rusia.

Pada Mei 2018 Presiden AS Donald Trump menarik negaranya dari JCPOA, sebuah perjanjian multilateral yang diteken Iran bersama enam negara terkemuka dunia pada tahun 2015. AS kemudian memberlakukan kembali sanksi sepihak terhadap Iran yang semula dicabut berdasarkan JCPOA.

Belakangan ini, negara-negara Eropa yang terlibat dalam JCPOA dikenai ultimatum dua bulan untuk membantu Iran mengendalikan sanksi AS, dan jika ini tidak dipenuhi maka Iran akan mengurangi komitmennya kepada JCPOA pada 7 Juli mendatang.

Pada awal Mei lalu, Teheran menangguhkan batas-batas pada produksi uranium yang diperkaya dan air berat. Meski tindakan ini secara teknis tidak melanggar kesepakatan, namun menandakan menipisnya kesabaran Teheran.

“Keputusan untuk mengurangi komitmen kami telah dibuat di Iran dan kami melanjutkan proses itu kecuali jika harapan kami terpenuhi,” ungkap Araqchi.

Mengenai instrumen perdagangan baru Eropa dengan Iran (INSTEX), Araqchi menyatakan Eropa telah mengkonfirmasi bahwa mekanisme ini sekarang sudah “operasional” dan transaksi pertama sudah diproses. Namun, dia menilainya ini masih belum cukup karena negara-negara Eropa tidak membeli minyak Iran.

“Agar INSTEX bermanfaat bagi Iran, Eropa perlu membeli minyak atau mempertimbangkan batas kredit untuk mekanisme ini, jika tidak maka INSTEX tidaklah seperti yang mereka atau yang kami harapkan,” tuturnya.

Di pihak lain, Uni Eropa juga merilis statemen yang mengkonfirmasi pelaksanaan mekanisme perdagangan khusus itu.

“Prancis, Jerman, dan Inggris memberi tahu para peserta bahwa INSTEX telah dioperasionalkan dan tersedia untuk semua negara anggota UE, dan bahwa transaksi pertama sedang diproses,” bunyi statemen itu.

Mekanisme perdagangan ini dibuat pada tahun lalu setelah AS keluar dari JCPOA, namun selama berbulan-bulan Perancis, Jerman dan Inggris tidak mengimplementasikan INSTEX sehingga Iran lantas menyoal keseriuan mereka ihwal gagasan itu.

Sedangkan China masih akan terus mengimpor minyak Iran. Beijing mengabaikan sanksi sepihak AS terhadap Iran, dan memastikan akan tetap mengimpor minyak Iran meskipun AS mengembargo Iran. (railayoum/presstv)

Pasukan Yaman Tembak Jatuh Drone Pasukan Koalisi Arab

Pasukan militer Yaman yang didukung oleh pejuang sekutu dari Komite Rakyat telah merontokkan dua lagi drone atau pesawat nirawak milik pasukan koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi, Jumat (28/6/2019).

Sumber anonim pasukan pertahanan udara Yaman mengatakan kepada biro media gerakan Ansarullah (Houthi) Ansarullah bahwa pasukan Yaman dan sekutunya telah menembak jatuh drone itu ketika alat itu sedang dalam misi pengintaian di timur daerah pegunungan Jabal al-Nar yang terbang di angkasa Jizan, 967 km dari Riyadh.

Perkembangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah pasukan Yaman tersebut merontokkan drone pengintai pasukan koalisi di angkasa timur laut distrik al-Durayhimi di provinsi Hudaydah, Yaman.

Selama 21-23 Juni lalu pasukan Yaman juga telah merontokkan beberapa drone pasukan koalisi Arab.

Sementara itu, delapan orang, termasuk wanita dan anak kecil Yaman, terbunuh dan beberapa lainnya menderita luka-luka terkena serangan jet tempur pasukan koalisi ke sebuah rumah di daerah Wadi Warzan, distrik Dimnat Khadir, provinsi Taiz.

Selain itu, tiga wanita menderita luka-luka terkena serangan mortir pasukan loyalis mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi ke permukiman sipil di daerah al-Salkhaneh distrik al-Hali, provinsi Hudaydah.

Seperti diketahui, Saudi dan sejumlah sekutu regionalnya melancarkan invasi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dengan dalih membasmi Ansarullah dan memulihkan pemerintahan Hadi.

Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED) yang bermarkas di AS memperkirakan bahwa perang yang dikendalikan Saudi di Yaman itu merenggut nyawa lebih dari 60.000 warga Yaman sejak Januari 2016.

Perang ini juga telah menimbulkan banyak kerugian pada infrastruktur negara, menghancurkan rumah sakit, sekolah, dan pabrik di Yaman. PBB menyatakan lebih dari 24 juta orang Yaman, yang 10 juta di antaranya penderita kelaparan tingkat ekstrem, sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. (presstv)

Rusia Siap Kirim S-400 ke Iran, Tapi Belum Ada Permintaan

Rusia mengaku siap mengirim S-400 ke Iran, tapi belum menerima permintaan resmi dari Teheran untuk pembelian sistem rudal pertahanan udara canggih itu.

“Kami terbuka untuk diskusi tentang pengiriman sistem pertahanan udara S-400 Triumph, antara lain ke Iran, terutama mengingat bahwa alat ini tidak tunduk pada batasan yang dijabarkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB yang dikeluarkan pada 20 Juni 2015, ”ungkap seorang perwakilan dari biro pers Layanan Federal Rusia untuk Kerja Sama Militer-Teknis kepada Sputnik, Jumat (28/6/2019).

Pejabat anonim itu merujuk pada Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB yang disetujui empat tahun lalu untuk mendukung kesepakatan nuklir Iran dengan enam negara lain saat itu, termasuk Rusia.

Sejauh ini, Iran telah menerima sistem pertahanan rudal versi lama, S-300, itupun setelah Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB disetujui pada tahun 2015, yakni setelah tertunda sekian tahun, mengingat  kesepakatannya senilai 800 juta dolar dicapai padahal 2007.

Resolusi itu mengakhiri semua sanksi Dewan Keamanan terhadap Teheran, termasuk yang melarang pasokan senjata.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 30 Mei lalu, Bloomberg mengklaim Rusia telah menolak permintaan Iran untuk membeli S-400, karena “khawatir penjualan itu akan menambah ketegangan” di Timur Tengah. Namun seorang wakil perdana menteri Rusia menepis klaim itu pada awal Juni lalu.

Pejabat Rusia yang berbicara pada Jumat kemarin juga menekankan bahwa Rusia “belum menerima permintaan resmi dari mitra kami tentang masalah ini.”

Pernyataan terbaru ini mengemuka tengah eskalasi ketegangan antara AS dan Iran di mana Presiden AS Donald Trump telah menarik negaranya keluar dari perjanjian nuklir Iran, Rencana Aksi Komprehensif (JCPOA), kemudian menjatuhkan sanksi sepihak terhadap Iran, dan bahkan beberapa kali mengancam akan melancarkan serangan militer ke Iran.

Meskipun AS keluar, namun negara-negara lain penandatangan JCPOA masih mempertahankan perjanjian ini, dan merujuk pada hukum internasional, termasuk Resolusi 2231, untuk kerja sama dengan Teheran.

S-400 adalah sistem pertahanan udara dan rudal canggih untuk melawan serangan yang masuk melalui angkasa dari jarak hingga 400 kilometer. (presstv)