Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 27 Agustus 2022

Jakarta, ICMES. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kana’ani mengutuk Presiden AS Joe Biden atas serangan udara dan artileri AS terbaru di provinsi, Deir Ezzur, Suriah timur.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa proses pemulihan kesepakatan nuklir 2015 sekarang tergantung pada Iran, dan bahwa kesepakatan itu akan “berguna” bahkan jika itu tidak menyelesaikan segalanya.

Asisten Presiden Iran Bidang Ekonomi, Mohsen Rezaee, menyebut tekanan ekonomi sebagai peluru terakhir bagi AS dan Eropa terhadap Iran, dan menilai AS dan Eropa tidak punya pilihan kecuali menerima perjanjian nuklir.

Rusia dilaporkan oleh media Israel telah menarik sistem pertahanan udara canggih S-300 dari Suriah di tengah invasinya ke Ukraina.

Berita Selengkapnya:

Iran Kutuk Instruksi Presiden AS untuk Serangan Udara di Suriah

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kana’ani mengutuk Presiden AS Joe Biden atas serangan udara dan artileri AS terbaru di provinsi, Deir Ezzur, Suriah timur.

“Washington menggambarkan serangan baru-baru ini oleh tentara agresornya terhadap kelompok-kelompok rakyat Suriah dan pasukan anti-terorisme sebagai tanggapan langsung terhadap serangan dan ancaman terus-menerus terhadap pasukan AS,” ungkap Kana’ani di Twitter, Jumat (26/8).

“Pada intinya, kehadiran pasukan pendudukan AS di Suriah dan agresi mereka terhadap para pembela kemerdekaan dan integritas teritorial negara ini melanggar hukum dan menyedihkan,” tambahnya.

Kamis lalu, Biden mengklaim bahwa serangan artileri AS di Suriah Timur diperintahkan untuk melindungi pasukan AS dari serangan “kelompok yang didukung Iran”.

“Saya mengarahkan serangan 23 Agustus demi  melindungi dan mempertahankan keselamatan personel kami. . . dan untuk mencegah Republik Islam Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Iran melakukan atau mendukung serangan lebih lanjut terhadap personel dan fasilitas AS,” kata Biden dalam sebuah pernyataan yang memberi tahu Kongres ihwal aksi tersebut.

Dia menegaskan bahwa serangan AS merupakan reaksi atas serangkaian serangan roket terhadap fasilitas AS dan militan sekutunya di daerah itu, termasuk dua di Garnisun al-Tanf dan Desa Hijau Situs Pendukung Misi pada 15 Agustus.

Biden menyebutkan bahwa serangan yang melibatkan helikopter serang Apache, pesawat tempur AC-130, dan artileri M777, itu menyasar fasilitas yang digunakan oleh tentara Suriah dan sekutunya untuk logistik dan penyimpanan amunisi.

Tentara AS telah menempatkan pasukan dan peralatan di bagian timur laut Suriah. Pentagon berdalih bahwa pengerahan itu dilakukan agar ladang minyak di daerah itu tidak jatuh ke tangan teroris ISIS.

Namun, pemerintah Damaskus, menegaskan bahwa tindakan AS itu semata bertujuan menjarah sumber daya alam Suriah

Mantan presiden AS Donald Trump pada lebih dari satu kesempatan mengakui bahwa pasukan AS bercokol di Suriah demi minyak negara Arab ini. (fna)

Soal Perjanjian Nuklir, Presiden Prancis: Bola Sekarang ada di Pihak Iran

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa proses pemulihan kesepakatan nuklir 2015 sekarang tergantung pada Iran, dan bahwa kesepakatan itu akan “berguna” bahkan jika itu tidak menyelesaikan segalanya.

Dalam kunjungannya ke Aljazair, Jumat (26/8), ketika ditanya wartawan mengenai peluang keberhasilan proses pemulihan antara Teheran  dan beberapa negara terkemukadunia itu Macron enggan berspekulasi.

“Sekarang bola ada di pengadilan Iran,” kata Macron kepada wartawan.

Momentum telah dibangun untuk menghidupkan kembali perjanjian penting yang memberikan keringanan sanksi Iran dengan imbalan pembatasan program nuklirnya.

Pihak-pihak dalam kesepakatan 2015 dengan Iran melihatnya sebagai cara terbaik untuk menghentikan apa yang mereka sebut upaya Iran membuat  bom nuklir, tuduhan yang selalu dibantah Teheran.

AS di masa kepresiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama tersebut pada tahun 2018, dan menerapkan kembali sanksi ekonomi berat terhadap Iran, dan Teheranpun lantas menarik kembali berbagai komitmennya sendiri.

Hanya beberapa minggu setelah prospek kesepakatan yang dihidupkan kembali tampak suram meskipun berbulan-bulan pembicaraan, Uni Eropa pada 8 Agustus mengajukan apa yang disebutnya “teks akhir” untuk memulihkan kesepakatan.

Pekan lalu, Iran kembali dengan serangkaian perubahan yang diusulkan, yang ditanggapi secara resmi oleh AS pada hari Rabu.

Macron, yang negaranya adalah salah dari enam negara penandatangan JCPOA, mengatakan,  â€œSaya pikir itu adalah kesepakatan, jika disimpulkan dalam ketentuan yang disajikan hari ini, yang berguna.”

Dia menambahkan,“Lebih baik daripada tidak ada kesepakatan.”

Mengacu pada peran regional Iran dan dugaan upaya “destabilisasi”, Dia juga mengatakan, “Tapi itu juga kesepakatan yang tidak menyelesaikan segalanya. Kami tahu itu.”  (an)

Iran Tegaskan Tak Ada Pilihan bagi AS dan Eropa Kecuali Terima Perjanjian Nuklir

Asisten Presiden Iran Bidang Ekonomi, Mohsen Rezaee, menyebut tekanan ekonomi sebagai peluru terakhir bagi AS dan Eropa terhadap Iran, dan menilai AS dan Eropa tidak punya pilihan kecuali menerima perjanjian nuklir.

“Sebuah kebijakan luar negeri terpadu saat ini sedang dilaksanakan dari tingkat tertinggi di Republik Islam Iran ke otoritas eksekutif; pemerintah, parlemen dan peradilan mengadopsi kebijakan yang sama dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam (Ayatullah Ali Khamenei). Karena itu, kita menyaksikan keberhasilan dalam kebijakan luar negeri Republik Islam dalam beberapa bulan terakhir,” tuturnya.

“Kebijakan luar negeri pemerintah (Sayid Ebrahim) Raisi menggunakan semua kemampuan hubungan luar negeri, mengadopsi kebijakan yang seimbang, dan berkomunikasi dengan semua negara dalam kerangka kebijakan dan kepentingan pemerintah,” imbuhnya.

Dia menyinggung apa yang disebutnya konspirasi musuh terhadap pemerintah Iran sejak awal kemenangan Revolusi Islam

“70 persen masyarakat tidak mengetahui konspirasi musuh dan kekuatan arogan di tahun-tahun awal kemenangan revolusi, dari pemboman kantor Partai Republik Islam hingga peledakan kantor Perdana Menteri, yang menyebabkan syahidnya Ayatullah Beheshti, Rajai, Bahonar dan banyak pejabat pemerintah lainnya yang mengabdi kepada Revolusi Islam,” terangnya.

Tanggal 24-30 Agustus oleh Iran diperingati sebagai “Pekan Pemerintah” untuk mengenang gugurnya  Mantan Presiden Mohammad Ali Rajaei,  dan Mantan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar. (alalam)

Rusia Dilaporkan Tarik Sistem S-300 dari Suriah

Rusia dilaporkan oleh media Israel telah menarik sistem pertahanan udara canggih S-300 dari Suriah di tengah invasinya ke Ukraina.

Times of Israel menyebutkan bahwa perusahaan intelijen satelit Israel, ImageSat International (ISI), Jumat (27/8), merilis gambar yang menunjukkan bahwa sistem S-300 yang ditempatkan di dekat kota Masyaf di barat laut Suriah telah dibongkar dalam beberapa pekan terakhir setelah berada di sana selama beberapa tahun.

Disebutkan bahwa radar sistem itu diboyong ke Pangkalan Udara Khmeimim Rusia di Suriah barat, sementara baterai S-300 dibawa ke pelabuhan Tartus dan kemudian diangkut dengan kapal Rusia menuju pelabuhan Laut Hitam Novorossiysk.

ISI menilai bahwa baterai itu dipulangkan ke Rusia untuk memperkuat pertahanan udaranya, yang dilaporkan telah rusak di tengah pertempuran di Ukraina. (ti)