Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 26 Januari 2019

para aktivis saudiJakarta, ICMES: Kelompok-kelompok peduli hak asasi manusia (HAM) internasional mendesak pemerintah Riyadh agar mengizinkan kedatangan tim penyelidik independen ke Arab Saudi untuk menyelidiki dugaan-dugaan baru penyiksaan dan pelecehan seksual terhadap para aktivis HAM, termasuk kaum perempuan.

Arab Saudi yang selama ini dikenal sebagai negara terkemuka pengimpor rudal balistik dilaporkan mulai membangun pabrik rudal pertamanya di dekat kota pusat Al-Watah.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada menyerukan “zona aman” di perbatasan Suriah “dalam beberapa bulan”, sembari menegaskan bawa jika tidak demikian maka Ankara “akan dapat melakukannya sendiri.”

Berita selengkapnya:

Amnesti Dan HRW Serukan Penyelidikan Independen Kasus Pelecehan Seksual Para Aktivis HAM Saudi

Kelompok-kelompok peduli hak asasi manusia (HAM) internasional mendesak pemerintah Riyadh agar mengizinkan kedatangan tim penyelidik independen ke Arab Saudi untuk menyelidiki dugaan-dugaan baru penyiksaan dan pelecehan seksual terhadap para aktivis HAM, termasuk kaum perempuan.

Amnesti International dalam sebuah pernyataan yang dimuat di laman internetnya, Jumat (25/1/2019), mengaku telah menerima dari sekelompok aktivis HAM yang ditangkap pada Mei 2018 “kesaksian baru tentang penyiksaan dan perlakuan buruk”.

Dalam kesaksian itu, salah satu aktivis mengaku telah dibohongi oleh pihak pemeriksa bahwa anggota keluarganya telah meninggal dunia sehingga dia mempercayainya selama satu bulan penuh.

Dalam kasus lain disebutkan bahwa seorang aktivis pria dan seorang aktivis perempuan dipaksa saling berciuman di depan mata para petugas pemeriksa,  sementara beberapa aktivis lain, termasuk perempuan, mengaku telah “disiksa dengan sengatan listrik.”

Amnesti International  lantas mendesak otoritas Saudi agar mengizinkan “pengamat independen untuk menyelidiki tuduhan ini, untuk mengidentifikasi fakta secara netral, dan untuk mengidentifikasi orang-orang yang bertanggung jawab.”

Amnesti International  dan HRW telah berulang kali menuduh Arab Saudi menyiksa dan melakukan pelecehan seksual terhadap para aktivis, dan  Saudipun membantahnya pada November 2018 sembari menyebut laporan itu “tidak berdasar.”

Pada pertengahan Januari, Bloomberg melaporkan bahwa Kejaksaan Saudi membuka penyelidikan atas tuduhan penyiksaan terhadap para aktivis.

“Investigasi internal di Arab Saudi memiliki sedikit peluang untuk mengetahui kebenaran tentang perlakuan terhadap tahanan,” ujar Michael Page, Wakil Direktur HRW bagian Timur Tengah, Jumat (25/1/2019).

Dia juga mengatakan, “Jika Arab Saudi benar-benar ingin mengetahui apa yang terjadi dan meminta pertanggungjawaban para penyerang maka harus memperkenankan akses independen ke para tahanan ini.” (raialyoum)

Saudi Dilaporkan Mulai Membangun Pabrik Rudal Balistik Pertama

Arab Saudi yang selama ini dikenal sebagai negara terkemuka pengimpor rudal balistik mulai membangun pabrik rudal pertamanya di dekat kota pusat Al-Watah, demikian dilaporkan The Washington Post sembari mengutip keterangan para ahli, Rabu (23/1/2019).

The Washington Post mengutip pernyataan para ahli terkemuka yang menyebutkan bahwa citra satelit yang bertanggal November terlihat menunjukkan pabrik rudal balistik pertama Saudi yang berlokasi di pangkalan rudal yang terletak di dekat Al-Watah.

Hal itu dilaporkan menjadi penampakan pertama bahwa Saudi memroduksi senjata sendiri setelah sekian lama hanya mengimpor rudal balistik dari luar negeri.

Foto-foto itu ditemukan oleh Jeffrey Lewis, seorang ahli senjata nuklir di Middlebury Institute of International Studies di Monterey dan pendiri blog Arms Control Wonk, dan timnya.

Menurut The Washington Post, foto-foto itu mengungkap “kemungkinan Arab Saudi akan membangun rudal jarak jauh dan mencari senjata nuklir.” Lewis mengatakan, “Kita mungkin meremehkan keinginan dan kemampuan mereka.”

Temuan ini kemudian dikonfirmasi oleh Michael Elleman dari Institut Internasional untuk Kajian Strategi yang berbasis di London dan Joseph Bermudez dari Pusat Strategi dan Kajian Internasional yang berbasis di Washington.

Laporan media tentang pangkalan rudal balistik Saudi di Al-Watah pertama kali muncul dalam bentuk artikel yang diterbitkan pada Juli 2013 oleh Jane’s Defense Weekly. Situs itu mengungkapkan citra satelit yang tampak memperlihatkan situs-situs rudal permukaan-ke-permukaan yang sedang dibangun untuk mengakomodasi penyebaran rudal balistik jarak menengah Dongfeng DF-3A buatan Cina yang dibeli pada tahun 1980-an ketika diktator Irak Saddam Hussein memerangi Iran.

Menteri luar negeri Saudi tahun lalu mengancam bahwa negaranya akan membuat bom nuklir jika Iran bergerak untuk mengembangkan program senjata ini.

“Kami telah membuatnya sangat jelas bahwa jika Iran memperoleh kemampuan nuklir maka kami akan melakukan segala yang bisa untuk melakukan hal yang sama,” kata Adel al-Jubeir saat menjabat sebagai menteri luar negeri Saudi pada Mei 2018.

Ami Dor-On ahli nuklir senior Israel tahun lalu menyatakan ada laporan bahwa Riyadh membeli informasi dari Rezim Zionis Israel yang akan memungkinkannya mengembangkan senjata nuklir.

Pada Mei 2018 dia mengatakan  bahwa kerja sama dengan organisasi militer Israel iHLS itu berkemungkinan setelah terjadi perluasan hubungan antara Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan merupakan indikasi dari perlombaan senjata nuklir yang muncul di kawasan. (presstv)

Erdogan Serukan Pengadaan Zona Aman Di Perbatasan Suriah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada menyerukan “zona aman” di perbatasan Suriah “dalam beberapa bulan”, sembari menegaskan bawa jika tidak demikian maka Ankara “akan dapat melakukannya sendiri.”

“Kami berharap bahwa janji zona aman untuk melindungi perbatasan kami dari teroris akan dihormati dalam beberapa bulan, atau kami akan mengurus diri sendiri,” kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan  televisi Turki, Jumat (25/1/2019).

“Kesabaran memiliki batas dan kami tidak akan menunggu tanpa batas waktu untuk pemenuhan janji ini,” imbuhnya.

Pada pertengahan Januari lalu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan pengadaan “zona aman di sepanjang perbatasan dengan Suriah,” sebuah gagasan yang didukung oleh otoritas Turki yang segera mengaku siap melaksanakan proyek demikian.

Turki menilai gagasan itu akan memenuhi kebutuhan menjauhkan perbatasannya dari milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang dianggapnya sebagai kelompok teroris” dan dari kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Di pihak lain, YPG yang bersekutu dengan AS dan menguasai sebagian besar wilayah Suriah utara menolak usulan tersebut.

Sementara itu, Rusia yang merupakan salah satu aktor utama dalam konflik Suriah menyerukan pemulihan kekuasaan pemerintah Suriah atas daerah-daerah tersebut setelah AS mengumumkan rencana penarikan pasukannya dari Suriah.

Dalam percakapan telepon pada Ahad lalu Trump dan Erdogan sepakat untuk mempercepat pembicaraan yang sedang berlangsung antara para jenderal kedua negara yang terlibat dalam proyek tersebut. (raialyoum)