Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 25 Juni 2022

Jakarta, ICMES. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa informasi yang terhimpun menunjukkan bahwa peluru yang menewaskan wartawati Al Jazeera Shireen Abu Akleh pada 11 Mei lalu adalah peluru yang ditembakkan oleh pasukan Israel.

Republik Islam Iran mulai menanggapi klaim Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid bahwa Iran berusaha mengincar dan menyerang orang Israel di Istanbul, Turki.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail mengadakan pertemuan dengan Sekjen Jihad Islam Palestina Ziad al-Nakhala, Beirut, di ibukota Lebanon.

Berita Selengkapnya:

PBB Nyatakan Shireen Abu Akleh Tertembak Mati oleh Tembakan Pasukan Israel

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa informasi yang terhimpun menunjukkan bahwa peluru yang menewaskan wartawati Al Jazeera Shireen Abu Akleh pada 11 Mei lalu adalah peluru yang ditembakkan oleh pasukan Israel.

“Semua informasi yang kami kumpulkan … konsisten dengan temuan bahwa tembakan yang membunuh Abu Akleh dan melukai rekannya Ali Sammoudi berasal dari pasukan keamanan Israel dan bukan dari tembakan sembarangan oleh orang Palestina bersenjata,” ungkap juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) Ravina Shamdasani kepada wartawan di Jenewa, Jumat (24/6).

Shamdasani menambahkan bahwa informasi yang dikumpulkan OHCHR menunjukkan tidak ada “aktivitas orang-orang Palestina bersenjata di sekitar para jurnalis itu”.

Abu Akleh dibunuh oleh pasukan Israel ketika dia sedang meliput serangan tentara Israel di Jenin, Tepi Barat.

Kejahatan ini membangkitkan kemarahan khalayak dunia, terutama orang-orang Palestina, dan ribuan orangpun menghadiri prosesi pemakamannya di Quds Timur. Polisi Israel sempat menyerang para pengusung jenazah di pemakaman sehingga peti jenazah Abu Akleh nyaris terjatuh ke tanah.

Sejumlah  saksi mengatakan bahwa pasukan Israellah yang membunuh Abu Akleh, dan investigasi yang dilakukan oleh beberapa organisasi media juga memperoleh kesimpulan yang sama.

Shamdasani mengatakan bahwa penyelidikan OHCHR menunjukkan bahwa Abu Akleh dan rekan-rekan jurnalisnya telah melakukan upaya bersama untuk terlihat sebagai anggota pers di depan tentara Israel yang ditempatkan lebih jauh di jalan.

“Para jurnalis mengatakan mereka memilih jalan samping untuk pendekatan mereka demi menghindari lokasi orang Palestina bersenjata di dalam kamp dan bahwa mereka berjalan perlahan supaya kehadiran mereka terlihat oleh pasukan Israel yang dikerahkan di jalan,” papar Shamdasani.

“Temuan kami menunjukkan bahwa tidak ada peringatan yang dikeluarkan dan tidak ada penembakan yang terjadi pada waktu itu dan di lokasi itu. Beberapa peluru tunggal yang tampaknya ditujukan dengan baik ditembakkan ke arah mereka (para jurnalis) dari arah pasukan keamanan Israel,” lanjutnya.

Shamdasani menyebutkan bahwa peluru terus ditembakkan ke seorang pria tak bersenjata yang mencoba datang membantu Abu Akleh, serta seorang jurnalis yang berlindung di balik pohon.

Menurut Shamdasani, Kepala OHCHR Michelle Bachelet mendesak otoritas Israel membuka penyelidikan atas kejahatan ini.

Menanggapi pernyataan Shamdasani tersebut, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bersikeras bahwa telah terjadi baku tembak antara pasukan Israel dan orang-orang bersenjata Palestina.

Para pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Naftali Bennett, semula berusaha berkelit dengan menyatakan bahwa Abu Akleh bisa jadi tertembak oleh orang-orang bersenjata Palestina.

Namun, Israel kemudian mundur dan menyatakan tidak menutup kemungkinan bahwa seorang tentara Israel telah melepaskan tembakan.

Israel belum menyimpulkan apakah ada orangnya yang akan menghadapi tuntutan pidana atas pembunuhan itu, dan belum merilis temuan yang muncul dari penyelidikan internal.

Pada 26 Mei Jaringan Media Al Jazeera mengumumkan bahwa mereka telah menugaskan tim hukum untuk mengadukan pembunuhan itu ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag.

Pengacara yang menangani kasus yang diajukan ke ICC atas serangan terhadap para jurnalis Palestina oleh pasukan Israel juga mengaku akan menambahkan pembunuhan Abu Akleh ke dalam kasus tersebut. (aljazeera)

Iran Mulai Angkat Bicara Soal Tuduhan Mengincar Orang Israel di Turki

Republik Islam Iran mulai menanggapi klaim Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid bahwa Iran berusaha mengincar dan menyerang orang Israel di Istanbul, Turki.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, membantah apa yang dia sebut “tuduhan konyol” Israel itu, dan balik menuding Tel Aviv berusaha merusak hubungan Ankara dengan Teheran.

 “Tuduhan tak berdasar Menteri Luar Negeri Zionis di Ankara pada konferensi pers bersama dengan mitranya dari Turki, Mevlut Cavusoglu, adalah konyol dan termasuk dalam konteks skenario yang telah disiapkan sebelumnya untuk merusak hubungan antara dua negara Muslim,” ungkap Khatibzadeh, Jumat (24/6).

Khatibzadeh menganggap klaim Israel itu bagian dari trik Tel Aviv untuk mengalihkan opini publik Turki dan kawasan sekitar dari isu Palestina dan terorisme Israel.

“Tetangga kami Turki sangat menyadari tuduhan tak berdasar oleh entitas palsu dan teroris Zionis, dan Turki tidak diharapkan untuk tinggal diam terhadap tuduhan yang memecah belah ini, karena entitas ini telah berulang kali menunjukkan bagaimana mereka tak dapat dipercaya,” tegas Khatibzadeh.

Khatibzadeh juga mengatakan, “Tanggapan Iran terhadap pembunuhan dan aksi sabotase yang dilakukan oleh Rezim Zionis akan tegas dan kuat, dan tidak akan mengancam keamanan warga biasa dan keamanan negara lain.”

Dalam konferensi pers dengan rekannya dari Turki, Mevlut Cavusoglu, di Ankara pada Kamis lalu, Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid menuduh Iran berada di balik upaya serangan terhadap orang Israel di Turki.

Lapid juga menyatakan apresiasinya atas apa yang dia sebut bantuan Turki dalam penggagalan operasi-operasi yang diduga anti-Israel di Istanbul. (fna)

Pemimpin Hamas dan Pemimpin Jihad Islam Adakan Pertemuan di Beirut

Kepala Biro Politik Hamas Ismail mengadakan pertemuan dengan Sekjen Jihad Islam Palestina Ziad al-Nakhala, Beirut, di ibukota Lebanon, Kamis malam (23/6).

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh delegasi petinggi dari kedua gerakan tersebut, Haniyeh dan al-Nakhala membicarakan perkembangan situasi lapangan dan politik terkait perjuangan Palestina, selain situasi di Quds (Yerussalem) dan Masjid Al-Aqsha.

Kedua pemimpin itu juga membahas perubahan politik regional dan upaya Rezim Zionis Israel mempengaruhi kawasan Timur Tengah melalui normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab dan dampak negatifnya pada tujuan Palestina dan kawasan ini.

Mereka menegaskan kembali perlunya perlawanan komprehensif sebagai pilihan strategis untuk melawan okupasi Israel.

Para pejabat senior Palestina juga membahas situasi rakyat Palestina di dalam dan luar negeri dan di kamp-kamp pengungsi dan bagaimana mereka mendapat kehidupan yang layak di mana pun mereka berada.

Pertemuan tersebut menyoroti upaya yang dilakukan untuk merestrukturisasi rumah Palestina dan mencapai persatuan nasional atas dasar resistensi terhadap Israel dan pemenuhan aspirasi Palestina.

Sebelumnya di hari yang sama, Ismail Haniyeh mengadakan pertemuan dengan Sekjen Hizbullah Sayid Nasrallah di Beirut.

Keduanya mendiskusikan cara-cara mempromosikan poros perlawanan regional terhadap Israel dan menggagalkan ancaman yang ditimbulkan oleh rezim penjajah tersebut, serta membahas perkembangan terbaru di Palestina, Lebanon, dan kawasan sekitarnya. (alalam)