Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 25 April 2020

satelit militer iran - nour 1 02Jakarta, ICMES. Divisi Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku mengorbitkan satelit militer kedua setelah sukses mengorbitkan satelit militer pertamanya.

Teheran menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) maupun sekutu Eropa-nya, tak patut ‘memberi kuliah’ kepada Iran mengenai program misilnya.

Rusia membantah klaim AS bahwa peluncuran sateit militer Iran melanggar kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231.

Pasukan koalisi Arab Saudi-Uni Emirat Arab (UEA) memperpanjang gencatan senjata Yaman satu bulan.

Berita selengkapnya:

Iran Berencana Orbitkan Satelit Militer Kedua dan Lain-Lain

Divisi Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pihaknya berencana mengorbitkan satelit militer kedua setelah sukses mengorbitkan satelit militer pertamanya.

Seperti dilaporkan Al-Alalam, Jumat (24/4/2020), seorang komandan di divisi tersebut, Brigjen Ali Jafarabadi, mengatakan, “Satelit Nour-2 sedang dalam perjalanan, dan langkah kami selanjutnya ialah menyampaikannya mengorbitkannya ke sekitar bumi.”

Dia menambahkan bahwa IRGC juga berencana melesatkan satelit-satelit lain yang berukuran lebih besar daripada Nour.

“Nour 1 adalah satelit militer pertama kami, dan kami akan membuat satelit-satelit lebih besar lagi yang akan ditempatkan pada orbit-orbit yang lebih tinggi di masa mendatang,” tuturnya.

Mengenai Nour 1 yang telah sukses diorbitkan IRGC pada Rabu lalu Brigjen Ali Jafarabadi menjelaskan bahwa satelit ini mengelilingi bumi sebanyak 16 kali per hari pada ketinggian 430 kilometer dari permukaan bumi, dan sensor-sensornya akan mulai bekerja dalam jangka waktu sekitar 10 hari ke depan.

Diberitakan sebelumnya bahwa Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional (SNSC) Iran, Ali Shamkhani, menyatakan negaranya masih memiliki berbagai kejutan dan prestasi lain yang akan ditunjukkan di masa mendatang.

“Kejutan-kejutan baru sedang dalam perjalanan,” cuitnya di Twitter sehari setelah pasukan elit Iran IRGC berhasil melejitkan satelit militer pertamanya ke ruang angkasa. (alalam)

Zarif Tegaskan AS dan Eropa Tak Bisa Dikte Iran Soal Program Rudal

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) maupun sekutu Eropa-nya, tak patut ‘memberi kuliah’ kepada Iran mengenai program misilnya.

“AS telah mengganggu semua terhadap Resolusi 2231  Dewan Keamanan PBB sejak 2017. Eropa mematuhi AS, bukan (Resolusi) 2231,” tulis Zarif di Twitter, Jumat (24/4/2020).

Dia menambahkan bahwa AS maupun Eropa tidak dapat memberikan kuliah di Iran berdasarkan kesalahan pembacaan Resolusi 2231.

Zarif menambahkan, “Iran tidak memiliki nuklir atau rudal yang ‘DIRANCANG untuk mampu membawa senjata mengerikan seperti itu.”

Sembari melampirkan sejumlah gambar dan tangkapan layar foto dokumen dan surat kabar tentang signifikansi senjata nuklir dan anggaran yang dialokasikan oleh AS dan sejumlah negara Eropa untuk pembangunan hulu ledak nuklir, Menteri Luar Negeri Iran menyoal siapa yang sebenarnya mengembangkan nuklir dan melanggar resolusi internasional.

Cuitan Zarif itu merupakan tanggapan atas klaim Menteri Luar Negeri AS, Make Pompeo, Rabu lalu bahwa “Iran perlu bertanggung jawab atas” peluncuran satelit militer, dan bahwa tindakan itu menyalahi Resolusi Dewan Keamanan 2231.

Seperti diketahui, pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Rabu lalu berhasil mengorbitkan militer pertama Iran, Noor-1, pada ketinggian 425 km dari permukaan bumi dengan menggunakan roket pembawa satelit Qassed. (presstv)

Kemlu Rusia Bantah Peluncuran Satelit Iran Langgar Perjanjian Nuklir

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menepis klaim “tidak berdasar” Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo bahwa peluncuran sateit militer Iran melanggar kesepakatan nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231.

Zakharova bahkan balik menuding AS sebagai pelanggar hukum dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang malah hendak memutar balik fakta dengan mengkambing hitamkan negara lain.

“Ini bukan pertama kalinya sebuah negara yang secara terang-terangan melanggar norma-norma hukum internasional dan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB 2231 sedang mencoba membelokkan kecaman internasional dengan cara menuduh Iran tidak patuh kepada persyaratan Dewan Keamanan,” tuding  Zakharova.

Sebelumnya, Ketua Komite Internasional Majelis Rusia Konstantin Kosachev juga menyatakan bahwa peluncurkan satelit militer Iran ke luar angkasa bukanlah pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB.

Sebagaimana AS, Inggris juga berusaha menyudutkan Iran terkait dengan peluncuran satelit itu. Dalam sebuah statemennya yang dirilis, Jumat,  Kementerian Luar Negeri Inggris  mengaku prihatin terhadap peluncuran satelit militer Iran dan mendesak Teheran agar mematuhi larangan PBB.

“Laporan bahwa Iran telah melakukan peluncuran satelit menggunakan teknologi rudal balistik menjadi keprihatian signifan dan tidak konsisten dengan Resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB,” bunyi statemen itu.

Sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Perancis juga merilis pernyataan senada dengan mengklaim peluncuran rudal Iran melanggar Resolusi 2231.

Perancis menyatakan bahwa Resolusi 2231 menyerukan kepada Iran untuk menghindari “segala kegiatan yang berkaitan dengan rudal balistik yang dirancang untuk dapat mengantar senjata nuklir, termasuk meluncurkan menggunakan teknologi rudal balistik seperti itu.”

Iran sendiri telah berulang kali mengaku tidak memiliki rencana mengembangkan senjata nuklir ataupun rudal yang mampu mengirimkan hulu ledak nuklir, sesuai pesan utama kesepakatan nuklir yang pernah dicapainya dengan negara-negara P5 +1, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Prancis , Cina, Rusia dan Jerman. (presstv)

Koalisi Saudi-UEA Perpanjang Gencatan Senjata Yaman 1 Bulan

Pasukan koalisi Arab Saudi-Uni Emirat Arab (UEA) memperpanjang gencatan senjata Yaman satu bulan.  Gencatan senjata sepihak ini sebelumnya berakhir pada Kamis lalu manakala  masyarakat internasional memperingatkan kemungkinan terjadinya “bencana” jika virus corona (Covid-19) menyebar di Yaman.

Koalisi yang dipimpin Saudi itu,  Jumat (24/4/2020), mengumumkan bahwa gencatan senjata sepihak di Yaman akan diperpanjang  selama satu bulan lagi dengan alasan demi mencegah penyebaran virus corona di negara miskin yang juga dilanda perang itu.

Sebelumnya dilaporkan bahwa gencatan senjata itu tidak diperpanjang.

Gencatan senjata itu sendiri ditolak oleh kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) yang menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, dan banyak wilayah lain di selatan di bagian Yaman.

Ansarullah menyatakan bahwa gencatan senjata itu hanyalah akal-akalan Saudi dan UEA untuk mengelabui publik internasional, karena dalam praktiknya pasukan koalisi itu masih melanjutkan serangan militernya.

Jurubicara koalisi Arab Saudi-UEA, Turki al-Maliki, dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh kantor berita Saudi, SPA,  mengumumkan bahwa koalisi pimpinan Saudi telah memutuskan untuk “memperpanjang gencatan senjata selama satu bulan sejak Kamis”.

“Koalisi ini menegaskan kembali bahwa masih ada peluang untuk memfokuskan semua upaya untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan abadi di Yaman,” lanjut al-Maliki.

PBB telah mendesak semua pihak yang bersiteru di Yaman agar menghentikan permusuhan selama pandemi Covid-19, sementara Yaman telah mencatat kasus infeksi pertamanya pada tanggal 10 April. (mee)