Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 23 Februari 2019

iran brigjen hossein salamiJakarta, ICMES: Komandan IRGC Brigjen Hossein Salami menegaskan bahwa pembalasan atas serangan teror terhadap IRGC tidak akan terbatas pada kelompok teroris pelakunya.

Seorang anak Palestina gugur syahid dan 41 warga Palestina lainnya terluka oleh serangan pasukan Zionis Israel terhadap para demonstran damai pada hari Jumat ke-48 aksi “The Great March of Riturn”  di Jalur Gaza.

Gedung Putih mengumumkan bahwa sekira 200 pasukan AS yang disebutnya “penjaga perdamaian” akan tetap bertahan di Suriah di luar rencana penarikan pasukan AS.

Presiden Sudan Omar al-Bashir mengumumkan keadaan darurat untuk seluruh wilayah negaranya, setelah lebih dari dua bulan terjadi gelombang unjuk rasa protes anti rezim.

Berita selengkapnya:

IRGC: Balasan Iran Tak Terbatas Pada Kelompok Teroris

Para petinggi militer Iran terus melontarkan ancaman pembalasan atas serangan teror yang menewaskan 27 pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Zahedan, provinsi Sistan-Baluchestan, Iran timur, beberapa waktu lalu.

Kali ini, komandan IRGC Brigjen Hossein Salami, angkat suara dengan menegaskan bahwa serangan teror itu tidak akan dibiarkan begitu saja, dan bahwa pembalasan atasnya tidak akan terbatas pada kelompok teroris pelakunya.

“Kami tidak dapat mengungkapkan cara kami membalas para teroris, tapi tidak ada tindakan yang akan tetap tidak terbalas,” katanya kepada IRNA, Jumat (22/2/2019),

Dia menambahkan, “Skala pembalasan Iran tidak terbatas pada bentrokan dengan empat teroris; melainkan kami lebih bermaksud melacak para teroris dan menemukan siapa yang terkait dengan mereka.”

Dia juga mengingatkan, “Balasan-balasan kami sengit, dan siapa yang menerimanya akan terbiasa dengannya.”

Petinggi IRGC ini mengecam perilaku “permusuhan” Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang menurut Iran telah mendalangi serangan Zahedan, tetapi pada saat yang sama mencatat bahwa serangan teror semacam itu terlalu sepele untuk dapat mengusik daya pencegahan Iran.

“Kami berusaha mengalahkan kekuatan besar, dan insiden seperti itu terlalu kecil untuk kami,” sumbarnya.

Sehari sebelumnya, Komandan Pasukan Quds Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Qasem Soleimani mengancam Arab Saudi dengan reaksi terhadap serangan teror Zahedan.

“Arab Saudi membangun pengaruhnya di kawasan hanya dengan uang.  Ini adalah pengaruh yang keliru dan sia-sia … Kami akan membalas para syuahada kami … dan itu akan ada di mana saja di dunia,” ancamnya.  (presstv)

Aksi “The Great March of Riturn” Masuki Jumat ke-48, Satu Bocah Palestina Gugur

Seorang anak Palestina gugur syahid dan 41 warga Palestina lainnya terluka oleh serangan pasukan Zionis Israel terhadap para demonstran damai pada hari Jumat ke-48 (22/2/2019) aksi “The Great March of Riturn” yang menyerukan hak kepulangan para pengungsi Palestina dan pemecahan blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Ashraf al-Qudrah, menyatakan bahwa Yusuf Saeed Hussein al-Daya, 15 tahun, gugur setelah menderita luka di bagian dadanya akibat serangan pasukan pendudukan Israel di timur Gaza.

Dia menambahkan bahwa satu warga 41 warga Palestina lainnya menderita luka diterjang peluru pasukan Zionis dan telah dilarikan ke rumah sakit.

Ribuan warga Palestina pada Jumat sore mengikuti aksi tersebut yang kali ini mengangkat tema “Setia Kepada Para Syuhada Pembantaian di Haram Ibrahim” dan digelar secara damai sembari mengibarkan bendera-bendera Palestina di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza.

Pasukan Israel berusaha membubarkan aksi itu dengan menembakkan peluru tajam dan gas air mata ke arah demonstran sehingga para pemuda Palestina bereaksi dengan membakar ban-ban bekas dan melemparkan batu ke arah pasukan Israel.

Al-Qudrah menyebutkan bahwa sebagian besar korban cedera dirawat di lapangan karena luka mereka tidak parah.

Panitia penyelenggara aksi itu menyerukan kepada warga Palestina agar menggelar aksi The Great March of Riturn sebagai tanggapan atas suara-suara miring berkenaan dengan aksi itu, dan menegaskan bahwa aksi itu akan terus berlanjut sampai tujuannya tercapai. (alalam)

AS Sisakan 200-an Pasukannya Di Suriah

Gedung Putih mengumumkan bahwa sekira 200 pasukan AS yang disebutnya “penjaga perdamaian” akan tetap bertahan di Suriah di luar rencana penarikan pasukan AS pada musim semi ini.

Pengumuman itu dinyatakan oleh sekretaris pers Gedung Putih, Sarah Sanders, tanpa menyebutkan di mana pasukan itu berbasis, apa tanggung jawab mereka, atau berapa lama mereka akan tinggal, di luar “seperiode waktu.”

Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) lain yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa 200 pasukan akan “terbelah tengah” antara daerah-daerah yang dikuasai Kurdi Suriah di timur laut negara itu, dan garnisun Tanf di Suriah tenggara . Pejabat itu mengatakan bahwa totalnya bisa jadi sedikit lebih banyak dari angka itu.

Keputusan itu menunjukkan bahwa instruksi Presiden AS Donald Trump yang diumumkan pada bulan Desember bahwa 2000 tentara AS akan ditarik dari Suriah tidak sepenuhnya dijalankan. Padahal, saat itu Trump beralasan bahwa ribuan tentara itu akan ditarikan karena kelompok teroris ISIS sudah kalah, dan penarikan secara total diharapkan dapat dilakukan pada akhir April mendatang.

Trump memastikan ISIS sudah kalah, namun pejabat pertahanan, anggota parlemen dan beberapa asisten di Gedung Putih justru mengaku prihatin bahwa puluhan ribu teroris tetap tersebar di Suriah dan Irak.

Prancis dan Inggris, yang juga memiliki pasukan di Suriah, menolak permintaan AS agar meninggalkan pasukan di sana demi melanjutkan operasi melawan sisa-sisa gerilyawan dan untuk berpatroli di “zona aman” di sepanjang perbatasan timur laut Suriah dengan Turki, kecuali beberapa pasukan AS tetap ada.

Turki awalnya mengusulkan zona aman 20 mil untuk mencegah apa yang disebutnya serangan lintas-perbatasan Unit Perlindungan Rakyat (YPG), milisi Kurdi yang mendominasi aliansi Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang bersekutu dengan AS. (anadolu/gulfnews)

Al-Bashir Umumkan Setahun Situasi Darurat Di Seluruh Sudan

Presiden Sudan Omar al-Bashir mengumumkan keadaan darurat untuk seluruh wilayah negaranya, setelah lebih dari dua bulan terjadi gelombang unjuk rasa protes anti rezim.

Dalam pidato yang disiarkan di televisi negara dari istana kepresidenan dan di hadapan para pemimpin pemerintahan serta para petinggi partai yang berkuasa, Jumat (22/2/2019),  al-Bashir menyatakan “membubarkan pemerintah di tingkat federal dan pemerintah negara bagian.”

Aksi unjuk rasa masyarakat bermula pada 19 Desember 2018 untuk memprotes kenaikan harga tiga kali lipat, dan dengan cepat berubah menjadi gelombang aksi protes anti-rezim al-Bashir yang sudah tiga dekade berkuasa. Sebagian aksi itu berubah menjadi bentrokan berdarah.

Sebelum al-Bashir berpidato, media Sudan mengutip pernyataan kepala badan keamanan dan intelijen Sudan, Salah Abdullah (Qosh), kepada sejumlah pimpinan surat kabar harian bahwa al-Bashir akan mengumumkan keadaan darurat yang akan membubarkan pemerintah pusat dan negara bagian, pencopotan semua kepala negara bagian, dan menghentikan pelaksanaan amandemen konstitusi sehingga  memungkinkannya mencalonkan diri untuk masa jabatan baru.

Di pihak lain, Ikatan Profesional Sudan  dalam sebuah pernyataannya di hari yang sama mengingatkan pemerintah agar tidak “mencoba menghindari tuntutan rakyat dan melangkahi mereka,” serta menekankan bahwa tindakan demikian hanya akan menyebabkan “peningkatan aksi damai revolusi di jalanan.” (raialyoum)