Jakarta, ICMES. Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian menyatakan Teheran siap berdialog dengan Kyiv mengenai tuduhan negara-negara Barat bahwa Iran mengekspor drone ke Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengklaim bahwa Rusia telah meminta dipasok 2000 unit drone Iran untuk mendukung serangan terhadap Ukraina.
Juru bicara Kemlu Iran, Nasser Kanaani, menegaskan bahwa Iran telah berulang kali mengumumkan penolakannya terhadap perang di Ukraina, tapi malah dituduh terlibat dalam perang ini oleh AS dan Eropa yang justru merupakan pihak yang memicu perang.
Berita Selengkapnya:
Iran Nyatakan Siap Dialog Soal Tuduhan Mengekspor Drone ke Rusia
Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian menyatakan Teheran siap berdialog dengan Kyiv mengenai tuduhan negara-negara Barat bahwa Iran mengekspor drone ke Rusia untuk digunakan dalam perang di Ukraina.
“Kami tidak menjual dan tidak akan menjual senjata dan drone untuk digunakan dalam perang melawan Ukraina, dan kerjasama antara Iran dan Rusia akan berlanjut tanpa ada hubungannya dengan perang Ukraina,†ujar Amir-Abdollahian dalam pertemuan dengan para peserta di Majelis Umum Organisasi Kantor Berita Asia-Pasifik (OANA) di Teheran, Senin (24/10).
Dia menyebutkan bahwa Teheran dan Moskow menjalin beragam kerjasama, termasuk di bidang pertahanan.
“Kami menerima senjata dari Rusia dan memasok senjata ke Rusia di masa lalu, tapi tidak selama perang Ukraina,†ungkapnya.
Mengacu pada pembicaraan terakhirnya dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, MenluIran mengatakan, “Saya mengatakan kepada Borrell bahwa kami siap membahas tuduhan penggunaan drone Iran dalam perang Ukraina, dan menyelidiki tuduhan ini dengan partisipasi tim ahli militer Iran dan Ukraina.â€
Iran dan Rusia membantah tuduhan bahwa Teheran menyediakan drone untuk Moskow.
Tuduhan terhadap Iran itu mencuat pertama kali pada bulan Juli lalu ketika Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan mengatakan Washington telah menerima “informasi†yang menunjukkan bahwa Iran sedang bersiap untuk memberi Rusia “hingga beberapa ratus drone, termasuk UAV berkemampuan senjata di sebuah garis waktu yang dipercepat†untuk digunakan dalam perang di Ukraina.
AS sendiri dan sekutu Eropanya sejak awal konflik di Ukraina telah membekali Kyiv dengan berbagai jenis serta menyulut api perang di Ukraina. (raialyoum)
Presiden Ukraina Klaim Rusia Minta Iran Pasok 2000 Unit Drone
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengklaim bahwa Rusia telah meminta dipasok 2000 unit drone Iran untuk mendukung serangan terhadap Ukraina.
“Menurut intelijen kami, Rusia telah meminta untuk dipasok sekira 2000 drone Iran tipe Shahed,” kata Zelensky dalam konferensi yang diselenggarakan oleh surat kabar Israel Haaretz, Senin (24/10).
Presiden Ukraina juga mengkritik netralitas Israel sejak Rusia menginvasi negaranya. Dia menilai netralitas ini membuka peluang bagi terbentuknya aliansi Moskow-Teheran, terutama dalam suplai tentara Rusia dengan drone Iran.
“Aliansi ini tidak akan terjadi jika politisi Anda telah mengambil keputusan pada saat itu, keputusan yang kami tuntut,†kata Zelensky dalam konferensi video tersebut, mengacu pada desakan Kyiv agar mendapat dukungan Israel dalam menghadapi Rusia.
Zelensky mengaku menduga Rusia membantu program nuklir Iran sebagai bagian dari imbalan untuk drone Iran yang diterima Moskow.
Dia kembali mengimbau Israel untuk memasok senjata ke negaranya, terutama untuk menghadapi ancaman serangan udara oleh Rusia menggunakan drone tempur Iran.
Ditujukan kepada para peserta konferensi video, Zelensky mengatakan, “Saya punya pertanyaan untuk Anda: Bagaimana menurut Anda Rusia membayar Iran? Apakah Iran hanya mementingkan uang? Mungkin ini bukan tentang uang sama sekali, melainkan tentang bantuan Rusia untuk program nuklir Iran.”
Zelensky mengklaim tentara Rusia menerima instruksi dari Iran saat menggunakan drone untuk menyerang Ukraina belakangan ini.
Dia berpendapat bahwa aliansi ini atau serangan Rusia ini tidak akan terjadi seandainya pada tahun 2014 Israel memutuskan untuk memasok senjata ke Ukraina. Rusia saat itu mencaplok Semenanjung Krimea Ukraina dan memulai perang di wilayah Donbas.
Iran membantah keras tuduhan menyuplai drone ke Rusia untuk digunakan dalam perang melawan Ukraina, dan Rusia pun membantah mendapatkan drone Iran.
Ukraina berasumsi bahwa Israel sangat mengenal sistem senjata musuh bebuyutannya Iran sehingga memiliki alat pertahanan yang efektif melawannya, namun Israel masih menolak memasok senjata ke Ukraina karena pertimbangan masih menjalin hubungan baik dengan Rusia. (raialyoum)
Iran Bantah Klaim Keberadaan Orang Iran di Krimea untuk Bantu Rusia Gunakan Drone
Juru bicara Kemlu Iran, Nasser Kanaani, menegaskan bahwa Iran telah berulang kali mengumumkan penolakannya terhadap perang di Ukraina, tapi malah dituduh terlibat dalam perang ini oleh AS dan Eropa yang justru merupakan pihak yang memicu perang.
“Iran tidak mengekspor senjata ke pihak mana pun dalam perang. Kami telah mengumumkan ini berulang kali dan siap berkontribusi untuk mengakhiri perang ini,†ujar Kanaani dalam konferensi pers mingguannya, Senin (24/10).
Dia menambahkan, “Negara-negara Baratlah yang mendukung salah satu pihak dalam perang, bukan Iran.â€
Dia menepis klaim keberadaan orang Iran di Krimea dengan mengatakan, “Tak benar klaim AS bahwa ada orang Iran di Krimea untuk membantu Rusia menggunakan drone. Kami menepis keras hal itu. Perang yang mereka ikuti melalui media adalah demi mengalihkan opini publik dari tindakan mereka mempersenjata satu pihak dalam perang.â€
Sebelumnya, Gedung Putih mengumumkan sedang mempertimbangkan penjatuhan sanksi baru terhadap Iran dengan dalih menanggapi tindakan Iran memasok drone ke Rusia.
Sementara itu, sebuah sumber PBB mengatakan bahwa Rusia telah meminta penyelenggaraan pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari ini, Selasa (25/10), untuk membahas apa yang diklaim Rusia sebagai rencana Kyiv untuk menggunakan “bom kotor” (senjata nuklir berdaya rendah).
Sumber itu mengatakan kepada kantor berita Sputnik bahwa Rusia telah meminta penyelenggaraan pertemuan Dewan Keamanan secara tertutup “untuk membahas provokasi yang akan segera terjadi dengan menggunakan bom kotor.”
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Senin (24/10), menegaskan bahwa masalah persiapan rezim Kyiv untuk provokasi dengan memakai bom kotor akan dibahas di Dewan Keamanan PBB dalam beberapa hari mendatang.
Menanggapi bantahan Barat terhadap klaim Mowkok bahwa rezim Kyiv sedang berusaha membuat “bom kotor”, Lavrov mengatakan, “Bantahan ini tidak berdasar.”
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu Ahad lalu menyatakan keprihatinan kepada menteri pertahanan AS Inggris, Prancis dan Turki atas dugaan rencana penggunaan “bom kotor” oleh Kyiv, ungkap Kementerian Pertahanan Rusia.
Koordinator Komunikasi Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby membantah klaim Rusia bahwa Ukraina berencana meledakkan bom kotor agar kemudian Rusia menjadi kambing hitam.
“Itu sama sekali tidak benar. Kami tahu itu tidak benar,†tegas Kirby. (raialyoum)







