Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 21 Mei 2022

Jakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasralah menyatakan rakyat Palestina tak lagi menunggu bantuan rezim-rezim Arab dalam melawan Israel karena mereka telah memilih sendiri jalan perjungannya.

Kemhan Suriah mengutip pernyataan sumber militer, Jumat (20/5), bahwa Israel melancarkan serangan rudal yang dilesatkan dari Dataran Tinggi Golan dengan sasaran daerah selatan Damaskus, menewaskan tiga orang dan menimbulkan kerugian materi.

Saluran Kan yang berbasis di Israel menyatakan bahwa semua latihan militer yang dilakukan oleh Israel hanyalah omong kosong belaka ketika Israel sedang kesepian akibat tersitanya perhatian negara-negara Barat kepada urusan perang di Ukraina.

Rabi Stephen Burg, CEO kelompok Yahudi Ortodoks modern Aish Global yang berbasis di Quds (Yerussalem), mengaku terkesima pada keterbukaan Saudi kepada Israel sehingga, menurutnya, normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi hanyalah “masalah waktu.”

Berita Selengkapnya:

Nasrallah: Orang Palestina Tak Lagi Menunggu Bantuan Arab dalam Melawan Israel

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasralah menyatakan rakyat Palestina tak lagi menunggu bantuan rezim-rezim Arab dalam melawan Israel karena mereka telah memilih sendiri jalan perjungannya.

Dalam pidatonya pada peringatan enam tahun gugurnya Sayyid Mustafa Badr al-Deen, seorang pemimpin militer Hizbullah dan penasihat Nasrallah sendiri, Jumat (20/5), dia memastikan rezim-rezim Arab tak dapat melindungi negara mereka sendiri sehingga tak dapat diharapkan akan dapat membela perjuangan Palestina.

Dia mengatakan Badr al-Deen adalah martir yang telah berperang melawan “arogansi global” yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) dan rezim Israel.

“Generasi Badr al-Deen tidak menunggu keputusan Arab, dunia Islam, atau internasional untuk memulai perlawanan mereka. Rakyat Palestina juga tidak akan lagi menunggu rezim-rezim Arab, Liga Arab, atau PBB datang membantu mereka dalam memerangi pendudukan Israel,” katanya.

Sayid Nasrallah menyebut hari Hari Nakba menjadi bencana bukan hanya bagi Palestina melainkan juga untuk semua negara Arab di kawasan, dan dunia Arab pun gagal membela Palestina bahkan ketika saat itu mereka kuat dan bersatu.

Hari Nakba, yang diadakan setiap tanggal 15 Mei, adalah peringatan tragedi perampasan dan pengusiran orang-orang Palestina dari tanah leluhur mereka menjelang pembentukan rezim Israel pada tahun 1948.

Selama tahun itu, 85% rakyat Palestina diusir dari tanah air mereka, dan sebanyak lebih dari 500 desa diratakan dengan tanah demi berdirinya negara imitasi Zionis Israel.

Meski bangsa Palestina telah diperlakukan sedemikian kejam, dan kejahatan kaum Zionis terhadap mereka masih berlanjut sampai sekarang, beberapa negara Arab pada tahun 2020 malah tak segan-segan memulai normalisasi hubungan mereka dengan Israel, sehingga orang Palestina menyebut mereka barisan pengkhianat. (presstv)

Israel Kembali Serang Suriah, Tiga Orang Dikabarkan Tewas

Kemhan Suriah mengutip pernyataan sumber militer, Jumat (20/5), bahwa Israel melancarkan serangan rudal yang dilesatkan dari Dataran Tinggi Golan dengan sasaran daerah selatan Damaskus, menewaskan tiga orang dan menimbulkan kerugian materi.

Beberapa media Suriah melaporkan bahwa pasukan pertahanan udara Suriah mencegat rudal-rudal Israel dekat Damaskus. Kantor berita SANA menyebutkan; “Pertahanan udara kita mencegat target-target penyerang di angkasa Damaskus dan menjatuhkan beberapa di antaranya di angkasa selatan Damaskus.”

Koresponden AFP di Damaskus mengaku mendengar beberapa suara ledakan kuat pada malam hari.

Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) menyebutkan bahwa serangan Israel tersebut menyasar pangkalan-pangkalan Iran dekat Damaskus.

Pada 14 Mei lalu Israel juga telah melancarkan serangan yang menewaskan lima tentara Suriah, dan pada 27 April,rezim Zionis melancarkan serangan tersengitnya sejak awal tahun 2022 hingga, menurut SOHR, menewaskan 10 orang, termasuk 6 tentara Suriah. (raialyoum)

Barat Sibuk Urusan Ukraina,  Israel Cari Perhatian dengan Berlagak Siap Gempur Iran

Saluran Kan yang berbasis di Israel menyatakan bahwa semua latihan militer yang dilakukan oleh Israel hanyalah omong kosong belaka ketika Israel sedang kesepian akibat tersitanya perhatian negara-negara Barat kepada urusan perang di Ukraina.

Menyinggung ketegangan Israel dengan Iran, kesiapan Israel berperang dengannya, dan laporan terbaru mengenai pengayaan uranium Iran, Kan menyatakan, “Tak ada yang baru dalam ketegangan yang terjadi pada pekan ini.”

Mengenai kunjungan Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz ke Amerika Serikat (AS) dan kunjungan lain ke Israel oleh komandan Komando Pusat Angkatan Darat AS, Kan mencatat “tak ada perubahan mendasar yang nyata.”

Kan menyatakan; “Yang benar adalah bahwa Iran mengalami kemajuan dalam jumlah pengayaan uranium, tapi masih jauh dari bom, meski ada pernyataan yang dikeluarkan oleh Israel bahwa ada kemajuan dalam pengayaan itu.”

Media Israel ini juga menyebutkan bahwa mengenai kesiapan Israel pun “juga tak ada sesuatu yang baru”.

“Ini berarti bahwa tentara Israel telah mempersiapkan rencana untuk Iran sejak 2007, dan mereka sedang berlatih pada tingkat ini atau itu, dan pada minggu ini dalam kerangka latihan militer staf-staf angkatan bersenjata… Tapi sekali lagi, ini omong belaka,” lanjutnya.

Kan menjelaskan, “Pada tingkat kesiapan, Israel tidak boleh melampaui apa yang direncanakan di masa lalu, yaitu koordinasi dengan AS. Mengenai latihan, Israel ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan ini, baik kepada Israel sendiri maupun kepada para mitranya. Tetapi sebenarnya Israel tak berniat apa-apa.”

Media ini melanjutkan, “Minggu ini kita bukan melihat indikasi bahwa Israel bermaksud melakukan hal lain, melainkan sekedar ingin mengatakan bahwa kami di sini, jangan lupakan kami, karena kalian disibukkan oleh Rusia dan Ukraina.”

Menurut Kan, sepulang dari kunjungan ke AS, Menhan Israel Benny Gantz  menyadari bahwa dunia sekarang sedang disibukkan oleh urusan lain, yaitu Ukraina, sedangkan yang berurusan dengan Iran sekarang hanyalah Israel sehingga Israel melakukan latihan perang sebagai peringatan kepada dunia bahwa Israel punya kekuatan.

Komentator untuk urusan militer di saluran yang sama mengatakan, “Tidak semua orang di lembaga keamanan Israel percaya bahwa Israel dapat menghancurkan fasilitas nuklir di Iran sendirian, baik sekarang maupun beberapa tahun lagi. Israel bahkan mungkin tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu, dan jawabannya mungkin negatif.” (almayadeen)

Pulang dari Saudi, Rabi Yahudi Israel Mengaku Terkesima

Rabi Stephen Burg, CEO kelompok Yahudi Ortodoks modern Aish Global yang berbasis di Quds (Yerussalem), mengaku terkesima pada keterbukaan Saudi kepada Israel sehingga, menurutnya, normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi hanyalah “masalah waktu.”

TV Israel saluran 7 menyebutkan bahwa Burg yang baru mengunjungi Bahrain dan Arab Saudi bersama para pebisnis Yahudi menyebut kerajaan Saudi  “luar biasa,” dan mengaku telah melihat sebuah tempat “bergerak maju dengan komunitas bisnis yang bersedia ingin menjauh dari minyak menuju kondisi ekonomi yang lebih baik”.

Burg mengatakan, “Sementara Riyadh belum menandatangani perjanjian Abraham untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, orang-orang yang saya ajak bicara di Arab Saudi mengatakan bahwa itu hanya masalah waktu.”

Dia menambahkan, “Mungkin perlu dua tahun.. Ini adalah masyarakat konservatif, dan mereka perlu memajukan negara, tapi intinya adalah bahwa Iran adalah penyebab umum dari semua… Mereka melihat sekeliling dan berkata  bahwa(Israel ) benar-benar tempat di mana kita bisa mendapatkan keuntungan ekonomis.”

Burg juga mengatakan, “Status Anda sebagai Yahudi secara terbuka dan mendukung Israel di Kerajaan itu tak membuat kita mendapat masalah apapun. Mereka sangat terbuka atas apa yang terjadi di sini (Israel), dan semacam menunggu kita bergerak maju.”

Sejak beberapa tahun lalu tersebar desas-desus adanya hubungan di balik layar antara Israel dan Arab Saudi, tapi Saudi menepisnya.

Para pejabat Saudi juga telah berulang kali menekankan bahwa pembentukan negara Palestina dengan Quds  Timur sebagai ibu kotanya merupakan prasyarat untuk normalisasi hubungan Saudi dengan Israel.

Pada pertengahan September 2020, Eni Emirat Arab dan Bahrain menandatangani Perjanjian Abraham di Gedung Putih, AS, untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Setelah itu, lingkaran perjanjian normalisasi diperluas hingga mencakup Maroko dan Sudan, meski mendapat penolakan dari publik Arab dan Islam. (railayoum)