Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 21 Desember 2019

erdogan, mahathir, dan imran khanJakarta, ICMES. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membongkar sebab mengapa Perdana Menteri Pakistan Imran Khan tak jadi mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Islam (KTT) di Kuala Lumpur (KL), Malaysia.

Erdogan juga menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam jika “tentara bayaran” Rusia membantu pasukan Khalifa Haftar di Libya.

AS menyatakan tentaranya akan tetap berada di Suriah dengan dalih membantu pasukan lokal (milisi Kurdi Suriah) dalam menghadapi kelompok teroris.

Pasukan Zionis Israel melukai puluhan warga Palestina yang menggelar aksi  unjuk rasa “Great March of Return” pada hari Jumat ke-85 di dekat pagar pemisah Jalur Gaza-Israel.

Berita selengkapnya:

Erdogan: Saudi Ancam Usir 4 Juta Orang Pakistan Jika Imran Khan Ikuti KTT Kuala Lumpur

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membongkar sebab mengapa Perdana Menteri Pakistan Imran Khan tak jadi mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Islam (KTT) di Kuala Lumpur (KL), Malaysia.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Turki, Anatolia, Erdogan kepada wartawan, Jumat malam (20/12/2019), menyatakan bahwa Arab Saudi mengancam akan mengusir empat juta orang Pakistan dari wilayah Saudi jika Imran Khan mengikuti KTT KL.

“Pakistan mendapat tekanan kuat dari Saudi demi mencegahnya partisipasinya dalam KTT Islam di Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia… Perlakuan Saudi dan Emirat, Abu Dhabi, seperti ini bukanlah yang pertama kalinya” ujar Erdogan.

Dia menambahkan, “Saudi mengancam akan menarik simpanan Saudi dari Bank Sentral Pakistan, sebagaimana Saudi juga mengancam akan mengusir empat juta orang Pakistan yang bekerja di Saudi dan menggantikan mereka dengan tenaga kerja Bangladesh.”

Menurut Presiden Turki, Pakistan sedang mengalami krisis ekonomi besar sehingga terpaksa memutuskan untuk tidak menghadiri KTT Islam ini ketika mendapat ancaman dan tekanan demikian.

Erdogan juga menyinggung bahwa Indonesia semula juga akan mengutus Wakil Presiden Ma’ruf Amin untuk KTT KL tapi kemudian tak jadi.  Media di Indonesia melaporkan bahwa Ma’ruf Amin mengaku batal mengikuti KTT KL akibat kelelahan sehingga digantikan oleh Menteri Luar Negeri Masduki Baidlowi.

Erdogan tidak menyebutkan alasan mengapa Ma’ruf Amin batal, namun mengingatkan bahwa tekanan Saudi tidak semestinya digubris jika berkenaan dengan masalah prinsipal. Dia mencontohkan Somalia yang tetap teguh pada prinsipnya meskipun Saudi dan Uni Emirat Arab akhirnya tidak memberikan bantuan kepada Somalia.

Seperti diketahui, KTT KL dibuka pada Kamis lalu dan akan berakhir hari ini, Sabtu (21/12/2019). Sebelumnya, surat kabar Pakistan The News melaporkan bahwa Imran Khan urung menghadiri KTT KL setelah mengadakan pertemuan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman.

Imran Khan memutuskan untuk mengirim Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi ke Malaysia untuk menghadiri KTT KL yang dihadiri oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Iran Hassan Rouhani, dan Emir Qatar Qatar Tamim bin Hamad Al-Thani. (raialyoum)

Erdogan Nyatakan Turki tidak akan Diam jika Rusia Menyokong Haftar di Libya

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam jika “tentara bayaran” Rusia membantu pasukan Khalifa Haftar di Libya.

Seperti dilansir Anatolia, Jumat (20/12/2019), Erdogan dalam wawancara dengan saluran NTV mengatakan, “Melalui kelompok yang disebut ‘Wagner , yang secara harfiah bekerja sebagai tentara bayaran untuk Haftar di Libya…  Anda tahu siapa yang membayar mereka?”

Dia melanjutkan, “Ini adalah kebenaran, dan tidak tepat bagi kami untuk tetap diam tentang semua ini. Kami telah melakukan semua yang kami bisa sejauh ini, dan kami akan terus melakukannya.”

Sehari sebelumnya, pemerintah rekonsiliasi Libya yang berkuasa di Tripoli mengumumkan bahwa mereka telah meratifikasi perjanjian militer antara Ankara dan Tripoli, yang membuka jalan bagi kemungkinan adanya bantuan militer Turki di Libya.

Erdogan melontarkan pernyataan tersebut juga beberapa jam setelah sumber di Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa intervensi militer asing di Libya hanya dapat memperumit situasi di negara ini.

Erdogan mengingatkan bahwa kubu Haftar tidak memiliki legitimasi politik di Libya sehingga tidak seharusnya dilegalkan dengan mengorbankan pemerintah rekonsiliasi pimpinan Fayez al-Sarraj yang diakui secara internasional.

Menurut Erdogan, ada pihak-pihak tertentu, termasuk Mesir, Uni Emirat Arab, Prancis, dan Italia, justru mengabaikan pemerintah al-Sarraj. Dia kemudian menyayangkan apa yang disebutnya keterlibatan Rusia secara diam-diam dalam masalah ini.

Beberapa laporan media menyebutkan bahwa ada perusahaan keamanan Rusia, termasuk Wagner, berperang di Libya bersama milisi Haftar, dengan dukungan diam-diam dari Moskow. (raialyoum)

AS Nyatakan akan Tetap Bertahan di Suriah dengan Dalih Memerangi ISIS

Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyatakan pihaknya akan tetap berada di Suriah dengan dalih membantu pasukan lokal (milisi Kurdi Suriah) dalam menghadapi kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS/ISIL/DAESH).

“Saya pikir kami akan tinggal di sana selama kami tidak dapat memastikan IS sudah terbasmi,” kata Esper kepada wartawan, Jumat (20/12/2019).

Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan penarikan sejumlah besar pasukan negara ini dari kawasan timur laut Suriah menyusul adanya operasi militer Turki terhadap milisi Kurdi.

Namun, Kementerian Pertahanan AS Pentagon kemudian menyatakan bahwa satuan-satuan pasukan AS dalam jumlah kecil masih bertahan di selatan dan timur Suriah demi “melindungi” situs-situs minyak.

Presiden Suriah Bashar Assad beberapa hari lalu memastikan tak ada prospek bagi eksistensi militer AS di Suriah, dan memperingatkan bahwa pasukan negara arogan itu pasti mendapat perlawanan dari rakyat Suriah. Dia juga mengatakan bahwa AS menjual minyak curian dari Suriah ke Turki.

Sementara itu, tentara Suriah telah mencegah patroli pasukan AS melewati jalur internasional (Hasakah – Qamishli) di Suriah timur laut, Jumat.

Sumber di Provinsi Hasakah mengatakan, “Personel tentara Suriah di pos pemeriksaan di sebuah desa kecil Damkhiah di sekitar kota Al-Qamishli, utara kota Al-Hasaka, telah memaksa konvoi militer pasukan pendudukan AS kembali ke tempat asalnya setelah tentara Suriah menolak mengizinkan mereka melewati jalur internasional (Hasakah – Qamishli) di gerbang selatan ke kota Qamishli.” (raialyoum)

Pasukan Zionis Lukai Puluhan Warga Palestina di Gaza

Pasukan Zionis Israel melukai puluhan warga Palestina yang menggelar aksi  unjuk rasa “Great March of Return” pada hari Jumat ke-85 di dekat pagar pemisah Jalur Gaza-Israel.

Departemen Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan 30 orang terluka dalam aksi protes di wilayah timur Gaza, Jumat (20/12/2019).

Juru bicara departemen tersebut, Ashraf al-Qudra, di Twitter menyebutkan bahwa delapan orang di antara puluhan korban itu menderita luka tembak.

Aksi “Great March of Return” digelar setiap hari Jumat sejak 30 Maret tahun lalu untuk memperjuangkan hak para pengungsi Palestina pulang ke kampung halaman mereka, termasuk di Israel (Palestina pendudukan 1948).

Departemen Kesehatan Gaza menyatakan bahwa dalam aksi protes yang dilakukan warga Palestina selama ini pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 307 warga Palestina dan melukai lebih dari 18.000 lainnya.

Pada Maret lalu tim pencarian fakta PBB menyatakan bahwa pasukan Israel melakukan pelanggaran HAM yang berpotensi menjadi kejahatan perang dalam menindak para demonstran Palestina di Gaza.

Israel memblokade Jalur Gaza sejak Juni 2007 hingga terjadi penurunan standar hidup warga Palestina di kawasan ini.

Israel juga telah melancarkan tiga perang besar terhadap Gaza sejak tahun 2008 , membunuh ribuan warga Gaza, dan  menghancurkan infrastruktur kawasan ini. (presstv)