Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 20 Maret  2021

peta perang ma'rib 20-03-21Jakarta, ICMES. Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa serangan udara telah menerjang kilang minyak di Riyadh hingga menyebabkan kebakaran.

Para pejuang Ansarullah serta tentara Yaman yang bersekutu dengannya terus bergerak maju di sekitar kota Ma’rib meskipun pasukan lawannya dari kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga terus mengirim senjata dan perlengkapan militer ke Ma’rib.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir menuding Iran sebagai negara yang telah membuat dan menyelundupkan semua rudal dan drone yang menyasar wilayah Saudi.

Al-Jubeir juga menyatakan negaranya masih bersikukuh pada pendirian bahwa normalisasi hubungan Saudi dengan Israel tak dapat dilakukan kecuali setelah dicapai kesepakatan damai Israel dengan Palestina.

Berita Selengkapnya:

Ansarullah Gempur Aramco di Riyadh, Kilang Minyak  Saudi Terbakar

Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa serangan udara telah menerjang kilang minyak di Riyadh hingga menyebabkan kebakaran pada hari Jumat (19/3).

Penyataan tersebut dikemukakan setelah gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman mengumumkan serangannya ke kilang yang dikelola oleh perusahaan minyak nasional Saudi Aramco tersebut dengan enam pesawat nirawak (UAV) atau drone berbahan peledak.

Kementerian Energi Saudi menyebutkan serangan itu terjadi pada pukul 6.05 pagi waktu setempat dan meski menimbulkan kebakaran namun tidak menjatuhkan korban dan tidak pula menyebabkan gangguan pasokan minyak dan produk-produknya.

Kementerian itu tidak menyebutkan serangan itu datang dari arah mana dan siapa yang bertanggungjawab atasnya. Pihak perusahaan Aramco juga enggan memenuhi permintaan komentar dari Reuters, namun mengaku akan menyampaikan keterangan secepatnya.

Ansarullah mengumumkan bahwa pihaknya telah menyerang fasilitas minyak Saudi Aramco di Riyadh.

Brigjen Yahya Saree, juru bicara militer Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah menyatakan, “Angkatan Bersenjata kami pada dini hari ini telah melancarkan operasi serangan dengan enam pesawat nirawak dengan sasaran perusahaan Aramco dan telah mengena sasaran-sasarannya dengan presisi tinggi.”

Dalam beberapa pekan terakhir Ansarullah mengintensifkan serangannya ke Saudi, negara eksportir minyak terbesar di dunia.

Kamis lalu serangan pesawat nirawak Ansarullah tipe Qasif 2K juga menerjang sasaran militer penting di Bandara Internasional Abha, Saudi.

Saree mamastikan bahwa serangan terhadap Saudi akan terus berlanjut selagi Saudi masih melancarkan agresi dan blokade terhadap Yaman. Dia juga kembali menyerukan kepada perusahaan asing dan warga sipil agar menjauh dari sasaran-sasaran militer dan lokasi-lokasi vital lain di Saudi karena akan tetap menjadi sasaran serangan dari Yaman.

Seperti diketahui, Saudi memimpin koalisi militer yang mengintervensi Yaman sejak Maret 2015 dengan dalih membela pemerintahan Abd Rabbuh Mansour Hadi yang pada akhir-akhir tahun 2014 terguling oleh revolusi rakyat yang digerakkan oleh Ansarullah. (raialyoum/alalam)

Perang Ma’rib, Kawasan Strategis Sirwah Hampir Jatuh Sepenuhnya  ke Tangan Ansarullah

Para pejuang Ansarullah serta tentara Yaman yang bersekutu dengannya (kubu Sanaa) terus bergerak maju di sekitar kota Ma’rib meskipun pasukan lawannya dari kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) juga terus mengirim senjata dan perlengkapan militer ke Ma’rib.

Dalam perkembangan  terbaru yang dilaporkan pada hari Jumat (19/3), pasukan kubu Sanaa di front Al-Masyja’ dan al-Kasarah mengalami kemajuan signifikan, merebut beberapa posisi militer, dan membebaskan daerah Al-Atif dan daerah Al-Malbadah, meskipun terjadi serangan udara intensif pasukan koalisi.

Terjadinya perkembangun baru itu melemahkan kemampuan manuver pasukan kubu Hadi karena kubu Sanaa berhasil merebut 17 markas militer kubu Hadi.

Kubu Sanaa menguasai beberapa dataran tinggi yang membuat mereka leluasa menyerang kawasan Idat Al-Ra’ serta memperketat kepungan ke daerah Al-Tal’ah Al-Hamra’. Kawasan ini merupakan zona strategis terakhir kubu Hadi di sekitar Ma’rib.

Beberapa sumber suku di Ma’rib mengatakan kepada Al-Akhbar bahwa mental pasukan kubu Hadi makin menurun melihat kemajuan baru kubu Sanaa, sementara ratusan militan Salafi yang berafiliasi dengan jaringan teroris Al-Qaeda di Al-Masyja’ turut bertempur bersama kubu Hadi melawan kubu Sanaa.

Menurut sumber-sumber itu, pembebasan Malbadah dan Al-Atif di bagian timur kawasan Sirwah membuat kubu Sanaa juga berhasil membebaskan front Al-Masyja’ sepenuhnya, sementara pembebasan wilayah sekitar Al-Tal’’ah al-Hamra’ di bagian timur kawasan Sirwah juga membuat kawasan ini nyaris jatuh sepenuhnya ke tangan kubu Sanaa.

Gerak maju kubu Sanaa di barat kota Ma’rib terjadi di sela-sela operasi militer besar-besaran untuk pergerakan mereka ke arah jalur barat kota ini, karena dengan menguasai sepenuhnya daerah-daerah Al-Tal’ah al-Hamra’, Bukit Mahir, Bukit Salafiyyin, dan Bukit Al-Mashariyah maka pertempuran akan bergeser ke wilayah-wilayah barat Ma’rib.  (alakhbar)

Saudi Klaim Semua Rudal dan Drone yang Menerjang Saudi Buatan Iran

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir menuding Iran sebagai negara yang telah membuat dan menyelundupkan semua rudal dan drone yang menyasar wilayah Saudi.

Dalam wawancara berbahasa Inggris dengan saluran Arab News, Jumat (19/3), Al-Jubeir mengatakan, “Semua rudal dan pesawat nirawak yang menyasar Saudi adalah buatan Iran, atau diimpor dari Iran, dan sebagian di antaranya, seperti pernah kami katakan, datang dari utara, dan sebagian lagi dari laut.”

Dia menambahkan, “PBB melimpahkan tanggungjawab kepada Iran atas serangan ke (ladang minyak) Abqaiq, dan ini juga dilakukan oleh beberapa negara yang kami undang bergabung dengan kami dalam penyelidikan. Karena itu, jelas sekali bagi kami dari mana rudal-rudal itu diimpor (oleh Ansarullah) dan atau siapa yang membuatnya.”

Al-Jubeir mengklaim demikian menyusul peningkatan dan intensitas serangan Ansarullah dengan rudal balistik dan drone ke wilayah Saudi.

Di hari yang sama Saudi mengumumkan bahwa kilang minyaknya di Riyadh terkena “agresi teror” dengan drone hingga menyebabkan terjadinya kebakaran pada instalasi, sementara Ansarullah mengaku telah menggempur perusahaan minyak Saudi Aramco dengan enam unit drone dan Pangkalan King Khalid di kota Khamis Mushait, Saudi, dengan dua drone. (rt)

Saudi Jelaskan Pendiriannya Mengenai Normalisasi Hubungan dengan Israel

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir menyatakan negaranya masih bersikukuh pada pendirian bahwa normalisasi hubungan Saudi dengan Israel tak dapat dilakukan kecuali setelah dicapai kesepakatan damai Israel dengan Palestina.

“Sikap kami terhadap konflik Israel-Palestina jelas, dan terletak pada bahwa kami menghendaki solusi dua negara berdasarkan Inisiatif Perdamaian Arab dan resolusi-resolusi PBB terkait, yang sekiranya ada negara Palestina dan negara Israel yang hidup berdampingan satu sama lain dengan damai dan aman. Ini menjadi pendirian kami,” terang Al-Juber dalam wawancara dengan Arab News, Jumat (19/3).

Dia juga menjelaskan, “Kami berkeyakinan bahwa kami merupakan bagian yang vital dalam menjauhkan Dunia Arab dari tiga poin penolakan yang didekralasikan di Khartoum pada tahun 1967 dan menyatakan ‘tidak kepada perundingan, tidak kepada pengakuan, dan tidak kepada perdamaian’, melalui prakarsa Mendiang Raja Fahd yang terdiri atas delapan poin dalam KTT Arab di kota Fes, Maroko, pada awal-awal dekade 1980-an di mana Arab mengadopsi dan secara mendasar menyerukan solusi dunia negara.”

Al-Juber menambahkan, “Selanjutnya, di KTT Liga Arab di Beirut tahun 2002 Riyadh mengajukan Inisiatif Perdamaian Arab yang menyerukan perdamaian, pengakuan, dan normalisasi hubungan, dan segala yang tercakup olehnya berupa hubungan rukun pertetanggaan, dan yang diandalkan oleh masyarakat internasional. Hal itu masih merupakan pendirian kami.”

Mengenai normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel, Al-Jubeir mengatakan bahwa semua itu merupakan keputusan mereka sebagai negara yang berdaulat sehingga terpasrah kepada mereka.

Seperti diketahui empat negara Arab, yaitu Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko telah mencapai kesepakatan dengan Israel untuk normalisasi hubungan di tengah kuatnya dugaan banyak kalangan terhadap kemungkinan Saudi juga akan melakukan hal yang sama. (rt)