Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 20 Juli 2019

rekaman drone iranJakarta, ICMES: Televisi Iran menayangkan secara live video  rekaman kamera drone Iran yang diklaim Presiden AS Donald Trump telah ditembak jatuh oleh kapal perang AS di Selat Hormuz, Teluk Persia.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akhirnya mencegat dan menggelandang satu kapal tanker minyak Inggris yang melintas di Selat Hormuz dan dianggap melanggar undang-undang kelautan internasional.

Arab Saudi meminta dukungan militer AS untuk mengisi kevakuman yang terjadi akibat penarikan sebagian besar pasukan Uni Emirat Arab (UEA) dari Yaman.

Kemhan AS Pentagon menyatakan bahwa Plt. menteri pertahanan negara ini telah mengizinkan pengiriman pasukan dan logistik AS ke Arab Saudi sebagai satu langkah “perlindungan tambahan” terhadap ancaman.

Berita selengkapnya:

Media  Iran Tayangkan Hasil Rekaman Drone Yang Diklaim Trump Tertembak Jatuh oleh Kapal AS

Televisi Iran, Jumat (19/7/2019), menayangkan secara live video  rekaman kamera drone Iran yang diklaim Presiden AS Donald Trump telah ditembak jatuh oleh kapal perang AS di Selat Hormuz, Teluk Persia.

Tayangan itu dimaksudkan untuk membuktikan bahwa drone itu masih utuh dan dapat kembali ke pangkalannya di Iran dengan selamat.

Saluran Press TV dan al-Alam milik Iran menyebutkan, “Gambar-gambar video ini menepis pernyataan AS mengenai penembakan jatuhan drone itu.”

Dalam video itu terlihat geladak kapal  perang AS USS Boxer di Teluk Persia yang menjadi obyek pengintaian dari jarak dekat.

Disebutkan bahwa video itu dikirim oleh pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan memperlihatkan kondisinya saat melayang di angkasa Selat Hormuz untuk mengintai sebuah kapal perang AS.

Seperti pernah diberitakan, Trump mengklaim kapal USS Boxer milik AS “tanpa diragukan, telah menjatuhkan” drone Iran di Selat Hormuz pada Kamis lalu. Klaim ini segera ditepis keras oleh Iran. (presstv/alalam)

Iran Membalas Menahan Kapal Tanker Minyak Inggris di Selat Hormuz

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akhirnya mencegat dan menggelandang satu kapal tanker minyak Inggris yang melintas di Selat Hormuz dan dianggap melanggar undang-undang kelautan internasional.

Departemen Hubungan Masyarakat IRGC dalam sebuah pernyataannya, Jumat (19/7/2019), menyebutkan bahwa kapal bernama “Stena Impero” itu telah disita “atas permintaan Pelabuhan Hormozgan dan Organisasi Maritim ketika melewati Selat Hormuz karena gagal menghormati peraturan maritim internasional.”

Disebutkan pula bahwa Stena Impero dialihkan ke pantai untuk menjalani proses hukum yang diperlukan.

Manajemen Kelautan Utara, yang memiliki Stena Impero, menyatakan di dalam kapal itu terdapat 23 awak kapal.

“Manajemen Kelautan Utara belum dapat melakukan kontak langsung dengan kapal itu sejak diberitahu tentang kejadian itu pada sekitar pukul 16.00 hari ini, 19 Juli 2019,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan.

Seorang pejabat militer yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita resmi Iran, IRNA, bahwa kapal itu telah melanggar peraturan maritim internasional, termasuk dengan melewati bagian laut yang dilarang di Selat Hormuz.

“Kapal tanker itu mematikan pelacaknya dan mengabaikan beberapa peringatan oleh IRGC sebelum disita,” lanjut sumber itu.

Kepala Organisasi Pelabuhan dan Maritim provinsi Hormozgan mengatakan kepada Press TV bahwa pihaknya menemukan bahwa kapal tanker Inggris itu gagal merespon panggilan darurat dari kapal penangkap ikan Iran yang dilanda kecelakaan karena telah mematikan pelacaknya.

Dia menambahkan bahwa pasukan IRGC yang berpatroli di daerah itu kemudian dipanggil untuk mengawal kapal tanker itu ke tempat di mana organisasi itu dapat menyelidiki masalah tersebut.

Seorang pejabat yang mendapat informasi dari Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran mengatakan bahwa selain pelanggaran yang disebutkan sebelumnya, kapal itu juga “melepaskan residu minyak dari kapal tankernya di Teluk Persia”.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt menyatakan sejauh ini sudah menyita dua kapal dan menyebut tindakan ini “tidak bisa diterima”.

Tapi kemudian, sumber-sumber militer Iran mengatakan bahwa kapal tanker berbendera Liberia kedua milik Inggris, Mesdar, diizinkan untuk melanjutkan program yang telah dijadwalkan sebelumnya setelah “diberi pengarahan tentang konsep lintas tidak bersalah dan mematuhi peraturan lingkungan”.

Pengumuman mengenai penahanan kapal tanker Inggris itu tersiar beberapa jam setelah pengadilan tinggi di Gibraltar memperpanjang 30 hari penahanan kapal supertanker minyak Iran Grace 1 yang ditahan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris sejak 4 Juli lalu dengan dalih membawa minyak mentah sebanyak 2,1 juta barel menuju Suriah, negara Arab yang dikenai embargo oleh Eropa dan AS.

Iran mengecam keras penahanan Grace 1 dan menyebutnya sebagai aksi bajak laut serta bersumpah akan membalasnya.

Ketegangan antara Iran di satu pihak dan AS dan sekutunya di pihak lain di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz yang notabene pintu gerbang bagi pelayaran sepertiga minyak mentah dunia meningkat sejak lebih dari dua bulan lalu, terlebih setelah IRGC menembak jatuh drone pengintai AS di Selat Hormuz. (presstv/alalam)

Saudi Minta AS Isi Kekosongan Akibat Penarikan Pasukan UEA dari Yaman

Arab Saudi meminta dukungan militer AS untuk mengisi kevakuman yang terjadi akibat penarikan sebagian besar pasukan Uni Emirat Arab (UEA) dari Yaman.

Hal tersebut dilaporkan oleh surat kabar Washington Post (WP) sembari mengutip keterangan sumber-sumber diplomat yang mengetahui masalah tersebut, Kamis (18/7/2019).

Sumber-sumber itu mengatakan bahwa Riyadh berharap AS berkenan memberi informasi intelijen tambahan dan mengerahkan pasukan khusus serta penasehat militer di Yaman, selain melanjutkan dukungan logistik dan ekspor senjata untuk Saudi.

Menurut WP, Saudi mengeluhkan adanya pesan-pesan yang kontradiktif terkait sikap Washington terhadap perang Yaman.

Di satu sisi, Kongres AS pada tahun ini telah mengesahkan draf undang-undang penghentian dukungan AS kepada operasi miiter pasukan koalisi Arab yang dipimpin Saudi di Yaman, dan para pejabat Pentagonpun berkesimpulan bahwa perang di Yaman telah membentur jalan buntu sehingga menyarankan Saudi sejak beberapa bulan lalu agar memulai perundingan untuk menyudahi konfrontasi.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menggunakan segenap kewenangannya untuk membendung inisiasi Kongres, dan para Hawkish (garis keras) dalam pemerintahannya, termasuk Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Penasehat Keamanan Nasional John Bolton, sangat tegas dalam menyokong serangan Saudi dan sekutunya terhadap kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman.

WP menilai Saudi sangat terpukul oleh keputusan UEA menarik banyak pasukannya dari Yaman, sebab peranan Saudi selama ini lebih banyak banyak terkait dengan serangan udara, sementara UEA terkait dengan serangan darat.

Menurut WP, Saudi tak semudah UEA untuk keluar dari Yaman, karena perbatasannya dengan Yaman sangat panjang.

WP juga mengutip pernyataan sejumlah diplomat Barat dan PBB bahwa penarikan pasukan UEA dari Yaman akan mendorong Saudi untuk memulai perundingan damai dengan Ansarullah, dan menghentikan serangan udaranya yang sejauh ini telah mengundang kecaman keras dari khalayak internasional karena telah menjatuhkan banyak korban sipil.

Hanya saja, para diplomat itu tak dapat memastikan apakah Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman akan mengutamakan opsi perundingan, terlebih ketika pemerintahan Trump masih memberinya semangat untuk melanjutkan serangan ke Yaman. (raialyoum)

Saudi Setuju Jadi Tuan Rumah Pasukan AS di Teluk Persia

Kemhan AS Pentagon, Jumat (19/7/2019), menyatakan bahwa Plt. menteri pertahanan negara ini telah mengizinkan pengiriman pasukan dan logistik AS ke Arab Saudi sebagai satu langkah “perlindungan tambahan” terhadap ancaman.

Pernyataan Pentagon ini dirilis tepat setelah Riyadh mengumumkan persetujuan Raja Salman bin Abdul Aziz dari Arab Saudi untuk menjadi tuan rumah pasukan AS.

Pejabat senior anonim Saudi mengatakan bahwa keputusan itu diambil oleh Raja Salman untuk “meningkatkan taraf kerjasama menjaga keamanan dan stabilitas serta menjalin perdamaian di kawasan.”

Perkembangan ini terjadi ketika hubungan antara AS dan Iran memanas setelah Presiden AS Donald Trump menarik keluar negaranya dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018, dan Washington kemudian menerapkan lagi sanksi-sanksinya terhadap Teheran.

Ketegangan antara keduanya melonjak setelah pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembak jatuh drone pengintai canggih pasukan AS di angkasa Selat Hormuz. Dalam perkembangan terbaru, AS mengklaim telah menembak jatuh drone Iran pada Kamis lalu, namun Jumat kemarin Iran membantahnya. (alalam)