Rangkuman Berita Utama Timteng  Sabtu 2 Oktober 2021

Jakarta, ICMES. Angkatan Laut Aljazair menghalau sebuah kapal selam Israel yang bergerak mendekati zona perairan yang sedang ditempati oleh AL Aljazair untuk latihan perang bersandi “Deterensi 2021”.

Situs berita AS Intel Sky yang membidangi urusan militer dan intelijen melaporkan bahwa kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon memiliki sistem pertahanan udara canggih buatan Rusia dan Iran.

Sekjen Organisasi Badr Irak Hadi Al-Amiri memastikan pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi  (Pasukan Mobilisasi Popular/PMF) tidak akan dibubarkan ataupun digabungkan dengan pasukan lain.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian mengecam pemerintah Bahrain karena menyambut kedatangan Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid ke Manama dan membuka Kedubes Israel untuk Bahrain.

Berita Selengkapnya:

Bermakdus Mengintai Latihan Perang, Kapal Selam Israel Dipaksa Mengambang oleh AL Aljazair

Dua kapal selam Angkatan Laut (AL) Aljazair berhasil menghalau sebuah kapal selam Israel yang bergerak mendekati zona perairan yang sedang ditempati oleh AL Aljazair untuk latihan perang bersandi “Deterensi 2021” bersamaan dengan memburuknya hubungan negara ini dengan Maroko yang dipicu antara oleh lain oleh ulah Israel.

Dikutip situs Mena Defence yang membidangi berita militer Aljazair, Jumat (1/10), pakar militer Rusia Darko Todorovsky di Twitter menyebutkan bahwa peristiwa penghalauan itu terjadi pada hari Senin lalu ketika sedang dilakukan persiapan latihan perang yang digelar pada hari Rabu dan Kamis. Saat itu AL Aljazair mendeteksi kapal selam jenis Dolphin di perairan internasional sejarak 5 km dari area latihan perang tersebut.

Dua kapal selam Aljazair dan dua helikopter Aljazair berhasil memaksa kapal selam Israel itu mengapung ke permukaan di perairan internasional dan menjauh dari area latihan perang. Mengapung ke permukaan dalam bahasa kapal selam dan maritim militer berarti mengurungkan misi dan memilih mundur.

Kapal selam Israel itu diduga bermaksud memantau penggunaan rudal canggih Kalibr buatan Rusia oleh Aljazair. Rudal ini tergolong senjata utama AL Rusia dan AL Aljazair.

Kapal selam Rusia pernah menembakkan rudal itu dari dasar laut, dan ini merupakan teknologi yang sejauh ini hanya tersedia di tiga negara di Laut Mediteranian, yaitu Israel sejak beberapa tahun silam, Aljazair sejak tahun 2019 dan Prancis sejak tahun lalu.

AL Aljazair dalam latihan perang tersebut menggunakan rudal itu dengan memasangnya di dasar laut dan menembakkannya ke sasaran di laut sejarak 270 km.

Perkembangan militer krusial ini terjadi bersamaan dengan ketegangan hubungan antara Aljazair dan Maroko setelah Aljazair memutus hubungan diplomatiknya dengan Maroko dan menutup zona udaranya bagi pesawat Maroko.

Mena Defence menyoal pihak mana yang berada di balik upaya pengintaian yang dilakukan oleh kapal selam Israel terhadap latihan perang maritim Aljazair.

Hubungan Aljazair dengan Maroko terputus antara lain karena dugaan adanya koordinasi militer antara Maroko dan Israel terhadap Aljazair. (raialyoum)

Intelijen AS: Hizbullah Punya Pertahanan Udara Rusia dan Iran

Situs berita AS Intel Sky yang membidangi urusan militer dan intelijen melaporkan bahwa kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon memiliki sistem pertahanan udara canggih buatan Rusia dan Iran.

“Intelijen AS menunjukkan bahwa Hizbullah mungkin memiliki dua sistem pertahanan udara dan dapat segera diaktifkan; Bavar-373 dan Pantsir,” tulis situs itu di Twitter, Jumat (1/10), sembari menandai masing-masing sistem dengan bendera Iran dan bendera Rusia.

Pantsir adalah pertahanan udara yang terbukti cukup efektif. Sistem ini dibuat oleh salah satu perusahaan Rusia yang membidangi produksi senjata-senjata berpresisi tinggi.

Pantsir yang dalam bahasa Rusia berarti “perisai” memiliki kelebihan antara lain menyerang sasaran terlebih dahulu dengan peluru mortir, dan jika peluru ini gagal menghancurkan sasaran maka dilanjutkan dengan penembakan misil pertahanan udara.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Ekskutif Hizbullah Syeikh Ali Damoush menyatakan bahwa kubu resistensi di Lebanon akan terus berjihad dan konsisten pada perjuangan melindungi negara, dan dalam rangka inilah Hizbullah pada Kamis lalu menembak jatuh drone militer Israel.

Dia menjelaskan bahwa selagi ada rezim pendudukan Israel serta agresinya terhadap kedaulatan Lebanon maka Hizbullah akan tetap konsistensi membela negara dan kedaulatan Lebanon dan tak akan diam melihat agresi musuh.

“Penembak jatuhan drone Israel yang melanggar zona udara Lebanon kemarin adalah dalam rangka komitmen ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Musuh, Israel, tahu bahwa Lebanon bukanlah lapangan terbuka untuk agresi dan drone pengintainya, dan kubu resistensi memiliki kehendak, tekad dan kesiapan menanggapi agresi dan pelanggaran kapan dan bagaimanapun kubu ini berkehendak.”

Dia menyebutkan bahwa musuh-musuh Lebanon dan para anteknya di dalam negeri gagal mewujudkan tujuan mereka, terutama membawa Lebanon kepada normalisasi hubungan dengan Israel sebagaimana dilakukan oleh sejumlah negara Arab Teluk, dan menerima persyaratan Israel dalam penetapan peta perbatasan maritim demi menistakan hak Lebanon di bidang perminyakan.

“Meski semua upaya itu dilakukan, Hizbullah semakin kuat secara kerakyataan dan eksistensial, kami akan terlibat jauh dalam pemilu, kepercayaan kami besar kepada kecerdasan rakyat kami, dan konspirasi serta permainan musuh tak akan dapat  memperdaya mereka,” pungkasnya. (raialyoum)

Hadi Al-Amiri Tolak Keras Rencana Pembubaran Pasukan Al-Hashd Shaabi

Sekjen Organisasi Badr Irak Hadi Al-Amiri memastikan pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi  (Pasukan Mobilisasi Popular/PMF) tidak akan dibubarkan ataupun digabungkan dengan pasukan lain.

Dalam konferensi pemilu Aliansi Fath di Kirkuk, Jumat (1/10), Al-Amiri menolak desakan pembubaran pembubaran PMF atau penggabungannya dengan Angkatan Bersenjata Irak. Dia beralasan bahwa PMF diperlukan demi mencegah kembalinya terorisme dan sektarianisme di tengah keragaman agama dan aliran keagamaan di Negeri 1001 Malam.

“Al-Hashd Al-Shaabi datang untuk bertahan lestari, dan kami tak akan menerima ide apapun untuk pembubaran atau penggabungannya. Kami di Aliansi Fath berjuang untuk dipersenjatainya tentara dan badan keamanan,” tegasnya.

Dia juga mengatakan, “Kami di Aliansi Fath siang malam berusaha memotivasi rakyat agar berpartisipasi dalam pemilu dan menyukseskannya agar perubahan yang diinginkan terjadi di Irak, dan akan tercapai melalui kehadiran warga di kotak-kotak pemungutan suara.”

Al-Hashd Al-Shaabi adalah pasukan relawan yang dibentuk menyusul seruan jihad dari ulama Syiah terkemuka Irak Ayatullah Sayid Al-Sistani melawan kawanan teroris ISIS pada tahun 2014.

Pasukan yang didukung, dilatih dan dipersenjatai  oleh Iran ini menghimpunsekira 40 kelompok pasukan yang bukan hanya berasal dari komunitas Syiah, melainkan juga Sunni, Kristen dan Yazidi.  PMF berperan besar dalam penumpasan ISIS di Irak, dan belakangan ini juga getol menentang keberadaan pasukan AS dan sekutunya di Irak serta merupakan bagian dari Poros Resistensi anti AS dan Israel yang digalang Iran, dan karena itu PMF tak jarang disudutkan Barat dan sekutunya dengan tuduhan sektarian. (mawazinnnews)

Dikunjungi Menlu Israel, Bahrain Disebut Iran Pengkhianat Palestina

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian mengecam pemerintah Bahrain karena menyambut kedatangan Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid ke Manama dan membuka Kedubes Israel untuk Bahrain.

Abdollahian menyatakan bahwa Israel sudah pasti tidak akan membawa apa-apa kecuali ketidakamanan bagi Bahrain dan kawasan sekitarnya.

“Langkah pejabat Bahrain menyambut Menteri Luar Negeri rezim palsu Israel di Manama adalah pengkhianatan yang jelas terhadap cita-cita rakyat Palestina yang tertindas”, ungkapnya di Twitter, Jumat (1/10).

“Kami hanya mengakui satu negara bernama Palestina dan ibu kotanya adalah Al-Quds”, lanjutnya.

Yair Lapid tiba di Manama pada hari Kamis lalu untuk meresmikan Kedutaan Besar Israel untuk Bahrain, dan kedatangan disambut hangat  oleh para pejabat Bahrain.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyatakan bahwa tindakan pemerintah Bahrain itu  bertentangan dengan keinginan rakyat Bahrain dan para pencari kebebasan. Dia juga menyebut kehadiran Israel itu menjadi sumber ketegangan dan ketidakamanan di kawasan. (mna)