Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 2 Januari 2021

ziyad al-nakhala jihad islam palestinaJakarta, ICMES. Sekjen gerakan Jihad Islam Palestina Ziyad Al-Nakhalah membenarkan apa yang dikatakan oleh Sekjen Hizbullah Libanon mengenai peranan besar jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani dalam mempersenjatai para pejuang Jihad Islam dan Hamas.

Ulama dan filsuf kontemporer Iran Ayatullah Mohammad Taqi Misbah Yazdi meninggal dunia pada hari Jumat (1/1) setelah berjuang melawan penyakit pada usianya yang ke-86 tahun.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memastikan semua angkatan bersenjata negara ini siap sepenuhnya meladeni segala bentuk pergerakan militer Amerika Serikat (AS) anti-Iran di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.

Presiden Iran Hassan Rouhani menyamakan sejawatnya dari AS Donald Trump dengan mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

Berita Selengkapnya:

Kesaksian Pemimpin Jihad Islam Palestina: Jenderal Soleimani Dukung Palestina dengan Senjata dan Teknologi

Sekjen gerakan Jihad Islam Palestina Ziyad Al-Nakhalah membenarkan apa yang dikatakan oleh Sekjen Hizbullah Libanon mengenai peranan besar jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani dalam mempersenjatai para pejuang Jihad Islam dan Hamas.

Al-Nakhalah memberikan kesaksian bahwa mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Letjen Qassem Soleimani yang telah gugur diserang pasukan Amerika Serikat (AS) di Baghdad pada 3 Januari 2020 adalah sosok yang telah membekali para pejuang Palestina di Gaza dengan “berbagai jenis senjata klasik dan rudal jarak jauh”.

Dia menjelaskan bahwa Soleimani telah mengirim senjata sebanyak 10 kapal ke Palestina, serta mendukung para pejuang Jihad Islam dan Hamas di Jalur Gaza dengan teknologi rudal setelah melatih mereka di Iran sampai kedua faksi pejuang Palestina itu dapat mandiri seperti sekarang.

Menurutnya, para pakar Iran sendirilah yang melatih para insinyur dan teknisi lokal Palestina sehingga “para pejuang kami di Gaza dan unit-unit industri sekarang setiap hari berbicara mengenai perkembangan dalam industri senjata”.

Dalam partisipasinya pada peringatan haul Jenderal Soleimani dan tokoh pejuang Irak Abu Mahdi Mahdi Al-Muhandis yang gugur bersama Soleimani, Al-Nakhalah mengatakan, “Qassem Soleimani mengirim kami dengan rudal-rudal yang menghantam ibu kota entitas Zionis. Rudal-rudal ini masih aktif, dan dia (Soleimani) telah hadir di semua front pertempuran dan di front Palestina secara tersendiri.”

Dalam wawancara dengan saluran TV Al-Mayadeen, Kamis (31/1), Al-Nakhala mengaku takjub pada akhlak dan jiwa kemanusiaan sosok Soleimani. Sebab Soleimani di tengah segala kesibukannya pernah menyempat diri bahkan sampai sekira lima kali menjenguk seorang tokoh pejuang Palestina yang mengalami koma, dan setiap kali menjenguk itu dia membacakan Al-Quran selama lebih dari satu jam di sisi kepala sang pejuang.

“Ini adalah hal yang bahkan tak dilakukan oleh saudara-saudara kami sendiri,” ungkap Al-Nakhala.

Dia mengaku sangat terharu ketika dia dan rekan-rekannya diundang makan di rumah Soleimani, sebab tokoh sehebat dan setenar ini ternyata tinggal di rumah yang sangat bersahaya, sehingga rekan-rekan Al-Nakhala mengatakan, “Rumah kita lebih bagus daripada rumah beliau.”

Mengenai terbunuhnya Soleimani, dia mengatakan, “Qassem Soleimani dibunuh karena dia menjadi kendala bagi upaya AS dan Israel untuk merekonstruksi kawasan.”

Sementara itu, di Irak Sekjen gerakan Ahl Al-Haq Syeikh Qais Al-Khaz Ali, Jumat, menyerukan partisipasi luas masyarakat dalam pawai akbar yang akan digelar pada hari Ahad (3/1) untuk menandai peringatan satu tahun gugurnya Jenderal Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis.

“Kami menyerukan kepada semua pribadi mulia di antara anak-anak negeri ini untuk berpartisipasi dalam unjuk rasa hari-hari peringatan kesyahidan dan kedaulatan pada Ahad mendatang di Lapangan Al-Tahrir,”imbau Al-Khaz Ali di halaman Twitternya.

Pemerintah Irak mengumumkan hari libur resmi pada hari haul tersebut. (raialyoum/alalam)

Filsuf Kontemporer Iran Ayatullah Misbah Yazdi Tutup Usia

Ulama dan filsuf kontemporer Iran Ayatullah Mohammad Taqi Misbah Yazdi meninggal dunia pada hari Jumat (1/1) setelah berjuang melawan penyakit pada usianya yang ke-86 tahun.

Ayatullah Yazdi lahir di kota Yazd, Iran tengah, pada tahun 1935 dan berguru kepada beberapa ulama besar besar, termasuk Ayatullah Borojourdi, Imam Khomaini, dan Ayatullah Bahjat serta banyak terlibat dalam revolusi Islam yang menggulingkan rezim diktator Raja Syah Pahlevi pada tahun 1979.

Dia juga memangku beberapa jabatan dalam pemerintahan Republik Islam Iran serta menghasilkan banyak karya tulis dalam bahasa Persia dan Inggris.

Dia belajar ilmu tafsir Al-Quran al-Karim serta kitab filsafat Al-Syifa’ karya Ibnu Sina dan Al-Asfar karya Mulla Sadra kepada Allamah Ayatullah Thaba’thabai ra.

Dia mengikuti kuliah fikih Ayatullah Bahjat selama 15 tahun setelah kuliah fikih Imam Khomaini berhenti akibat pengasingan Imam ke luar negeri.

Dia juga memberi kuliah di bidang-bidang sosial dalam Islam, termasuk studi tentang jihad, pengadilan, dan pemerintahan Islam.

Dalam perjuangan melawan rezim Pahlavi, dia bekerjasama dengan Syahid Baheshti, Syahid Qudusi, dan mantan presiden Hujjatul Islam Rafsanjani. Saat itu dia meluncurkan jurnal Al-Bi’tsah dan Al-Intiqam serta mengepalai bidang penerbitan dan publikasi pada peluncuran yang kedua.

Pasca kemenangan revolusi Islam, dengan dukungan dan motivasi dari Imam Khomani, Ayatullah Yazdi mendirikan beberapa sekolah dan lembaga pendidikan, termasuk Yayasan Thariq al-Haq dan Yayasan Baqir al-Ulum.

Dia juga diangkat oleh Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagai pemimpin Yayasan Pendidikan dan Riset Imam Khomaini di kota Qum.

Pada tahun 1990 dia terpilih sebagai wakil provinsi Khuzestan di Dewan Ahli Kepemimpinan (Majlis-e Khubregan), dan belakangan ini juga terpilih sebagai wakil provinsi Teheran di dewan yang sama.

Pemikir besar kontemporer Iran ini menghasilkan banyak karya tulis di bidang filsafat, teologi, etika, dan akidah Islam. (alalam)

Komandan IRGC Pastikan Pasukan Iran Siap Bertempur Melawan Pasukan AS

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memastikan semua angkatan bersenjata negara ini siap sepenuhnya meladeni segala bentuk pergerakan militer Amerika Serikat (AS) anti-Iran di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.

“Kami siap meladeni setiap langkah anti-Iran AS di kawasan…. Ketika kami menemukan diri kami di medan perang, kami menang,” tegas panglima IRGC Mayjen Hossein Salami pada momen peringatan 1 tahun atau haul pertama gugurnya mantan Komandan Pasukan Quds IRGC Letjen Qassem Soleimani di kampus Universitas Teheran, Jumat (1/1).

Menanggapi pertanyaan mengenai kelanjutan “pembalasan keras” atas darah Jenderal Soleimani yang dibunuh oleh pasukan AS di Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020, Salami mengatakan, “Kami meyakinkan masyarakat bahwa kami akan melakukan pembalasan sangat keras terhadap para pelaku pembunuhan Syahid Letjen Soleimani dan rekan-rekannya.”

Dia menyebut pembalasan itu sebagai jalan menuju kemusnahan rezim Zionis Israel dan terusirnya pasukan AS dari kawasan.

“Martabat umat Islam yang agung harus dijaga dan pembalasan keras ini harus dijaga dan diambil sebagai jalan,” ujarnya. (mn)

Rouhani Sebut Trump Sama Dengan Diktator Irak Saddam Hossein

Presiden Iran Hassan Rouhani menyamakan sejawatnya dari AS Donald Trump dengan mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

“Sejarah akan mengingatnya (Trump) sebagai pria tak bermartabat,” ujar Rouhani di Teheran, Kamis (31/12), pada momen peringatan haul pertama terbunuhnya mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Letjen Qassem Soleimani, di tangan pasukan AS di Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020.

Rouhani menjelaskan bahwa Saddam melancarkan perang terhadap Iran selama 8 tahun, tapi kemudian dia jatuh dan binasa.

“Trump juga memberlakukan perang ekonomi terhadap kami selama 3 tahun, namun kehidupan politiknya juga akan berakhir dalam beberapa minggu mendatang, dan sejarahpun akan mengingatnya sebagai orang yang berbermartabat,” tegas Rouhani.

Jumat kemarin (1/1) Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan negara ini tidak akan berhenti sampai pelaku pembunuhan Jenderal Soleimani diseret ke pengadilan.

“Dengan melakukan aksi teror pengecut terhadap komandan senior Iran Letjen Soleimani, AS telah melanggar hukum internasional dan Piagam PBB dalam pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak,” tulis Kementerian Luar Negeri Iran di akun Twitter-nya.

“Pelanggaran hukum AS secara penuh. #Iran tidak akan berhenti sampai membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan,” tambahnya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyebut kepengecutan dalam membunuh para pemimpin asing sebagai merek dagang AS-Israel.

“Kepengecutan dalam membunuh para pemimpin asing adalah merek dagang AS-Israel; BUKAN orang Iran,” cuitnya.  (mn/fna)