Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 19 Desember 2020

israel Yitzhak YosefJakarta, ICMES. Kepala Rabi Yahudi Sephardi di Israel, Yitzhak Yosef, bertolak ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), dalam kunjungan pertama kalinya seorang kepala rabi Israel ke sebuah negara Arab.

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyatakan keharusan adanya tekanan terus menerus terhadap Iran, dan bahwa pasukan militer Israel “siap untuk menghadapi segala kemungkinan ancaman Iran di kawasan” Timur Tengah.

Turki dilaporkan telah menarik pasukannya dari tujuh pos pengamatan militer strategis di barat laut Suriah dan dari daerah yang dikendalikan pemerintah Suriah ke daerah yang dikendalikan oleh kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Ankara.

Sebuah video merekam jatuhnya drone milik pasukan Zionis Israel. Lembaga pemberitaan RT Arabic milik Rusia yang mengunggah video itu Youtube, menyebutkan bahwa awak medianya telah merekam peristiwa itu.

Berita Selengkapnya:

Rabi Ekstremis Israel akan Buka Sekolah Yahudi di UEA

Kepala Rabi Yahudi Sephardi di Israel, Yitzhak Yosef, bertolak ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Kamis (17/12), dalam kunjungan pertama kalinya seorang kepala rabi Israel ke sebuah negara Arab.

Pusat Komunitas Yahudi Dubai (JCC) dalam sebuah pernyataannya mengumumkan, “Dalam kunjungannya, dia akan bertemu dengan pejabat senior Emirat, meresmikan sekolah Yahudi yang baru disertifikasi, dan dalam upacara khusus mengangkat Rabbi Levi Duchman sebagai rabi komunitas Yahudi Emirat.”

Kunjungan Yosef ini dijadwalkan berlangsung hingga Ahad (20/12), dan selama berada di UEA dia akan dianggap sebagai tamu kehormatan JCC.

Dalam kunjungan ini, Yosef dijadwalkan mengunjungi Sinagoga Beit Tefillah di Dubai, meresmikan sinagoga lain, meresmikan taman kanak-kanak, membuka lahan di Mikveh, mengunjungi restoran halal yang baru dibuka di gedung Burj Khalifa, dan memeriksa rumah pemotongan unggas halal.

Yitzhak Yosef dikenal sebagai sosok rasis yang telah mengeluar keputusan-keputusan keagamaan yang kontroversial. Pada Maret 2016, dalam sebuah pidatonya dia menyatakan bahwa sesuai hukum Yahudi, para “gentile” (non-Yahudi) tidak boleh tinggal di Israel.

Dia mengatakan, “Seandainya kami memiliki kekuatan maka kami akan mengusir semua orang non-Yahudi dari tanah suci, dan satu-satunya alasan yang membolehkan para gentile tinggal di Israel ialah melayani orang-orang Yahudi.”

Ovadia Yosef adalah putra Ovadian Yosef, mantan kepala Rabi Sephardi yang meninggal tiga tahun lalu. Ovadian Yosef juga merupakan sosok rasis radikal yang bahkan menganggap orang-orang Arab sebagai kecoa yang harus dibasmi.

Ovadian pernah mengatakan bahwa ketika seorang membunuh seorang Muslim maka dia seolah membunuh seekor ular atau ulat. (timesofisrael/fna)

Menhan Israel Minta Militer AS Terus Menekan Iran

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menyatakan keharusan adanya tekanan terus menerus terhadap Iran, dan bahwa pasukan militer Israel “siap untuk menghadapi segala kemungkinan ancaman Iran di kawasan” Timur Tengah.

Hal itu dia ungkap dalam  pertemuannya dengan Kepala Staf militer Amerika Serikat (AS), Jenderal Mark Milley, Jumat (18/12), yang membicarakan “ancaman Iran terhadap kawasan”.

“Dalam pertemuan itu kedua pihak membahas berbagai tantangan dan perubahan di Timur Tengah,” bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor Gantz.

Kepada Milley yang sedang berkunjung ke Israel, Gantz negatakan, “Penting untuk mempertahankan kehadiran militer AS di Timur Tengah, yang merupakan elemen kunci untuk stabilitas di kawasan.”

Kepala Staf AS tiba di Israel Kamis lalu, dan mengadakan pertemuan dengan Kepala Staf militer Israel, Aviv Kochavi, serta sejumlah perwira militer lain untuk membahas kerjasama di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran menyusul pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh.

Fakhrizadeh dibunuh di dekat Teheran, ibukota Iran, pada tanggal 27 November oleh penyerang tak dikenal. Iran mensinyalir Israel berada di belakang aksi teror tersebut, sedangkan Israel sejauh ini enggan mengomentari tragedi berdarah itu. (amn)

Pasukan Turki Mendadak Tinggakan Pos-Pos Militer Strategisnya di Suriah

Turki dilaporkan telah menarik pasukannya dari tujuh pos pengamatan militer strategis di barat laut Suriah dan dari daerah yang dikendalikan pemerintah Suriah ke daerah yang dikendalikan oleh kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Ankara.

Laporan itu dinyatakan oleh sebuah sumber Turki, Jumat (18/12), dan tergolong sebagai tindakan mengejutkan.

Sumber yang enggan disebutkan identitasnya itu menjelaskan bahwa pengosongan terakhir selesai pada Kamis malam, dan bahwa pasukan Turki dikerahkan kembali di wilayah yang dikendalikan oleh pasukan yang didukung Ankara sesuai perjanjiannya dengan Moskow.

“Masalahnya bukan dalam bentuk penarikan pasukan atau pengurangan jumlah mereka, kondisi itu hanya terkait dengan perubahan lokasi,” katanya.

Militan Suriah mengatakan Turki menempatkan 10.000-15.000 tentara di barat laut Suriah, bersama militan oposisi yang didukungnya serta militan yang telah berkomitmen untuk perlucutan senjata dan keterlindungan mereka.

Pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia telah mengepung beberapa pos militer Turki tahun lalu. Turki saat itu berjanji untuk mempertahankan eksistesinya di sana, tapi kemudian mulai mundur sejak Oktober lalu.

Turki mendirikan puluhan pos militer di wilayah tersebut pada tahun 2018 sebagai bagian dari kesepakatannya yang tak berkelanjutan dengan Rusia dan Iran untuk meredakan pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata. Ankara mendukung pasukan yang memerangi Bashar al-Assad, sementara Moskow dan Teheran mendukung pemerintah Suriah. (railayoum)

Drone Israel Terjatuh ketika Digunakan untuk Membubarkan Massa Demonstran Palestina

Sebuah video merekam jatuhnya drone milik pasukan Zionis Israel. Lembaga pemberitaan RT Arabic milik Rusia yang mengunggah video itu Youtube, Jumat (18/12), menyebutkan bahwa awak medianya telah merekam peristiwa itu.

Dalam video itu terlihat sebuah drone perlahan-lahan merendah, dan kemudian terhempas ke tanah dan disusul kepulan asap tebal yang disambut dengan pekikan takbir masa pengunjuk rasa Palestina.

Menurut RT Arabic, drone itu terhempas ketika digunakan untuk menembakkan gas air mata dalam upaya pasukan Zionis membubarkan massa Palestina yang berunjuk rasa anti-permukiman Zionis di distrik Kfar Qaddum, Tepi Barat.

Laporan lain menyebutkan bahwa pada Jumat pagi pasukan pendudukan Israel dikerahkan di jalan bebas hambatan yang berdekatan dengan pemukiman Itamar dan Allon Moreh, sebelah timur Nablus, Tepi Barat.

Pengerahan pasukan itu dilakukan menjelang aksi longmarch yang diserukan oleh Komite Pertahanan Tanah di Beit Dajan, usai salat Jumat, untuk menandai penolakan warga Palestina terhadap pemukiman Zionis. (rta/palinfo)