Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 18 Mei 2019

perahu tempur IRGC iranJakarta, ICMES: Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam bahwa rudal negara ini dapat dengan mudah menjangkau kapal perang Amerik Serikat (AS) di Teluk  Persia.

Seorang pejabat senior militer Iran mengatakan bahwa kapal induk AS Abraham Lincoln melego jangkar di Laut Arab dan tidak mendatangi Teluk Persia, tak seperti klaim AS sebelumnya.

Kelompok pejuang Hamas di Jalur Gaza, Palestina, dilaporkan telah mengembangkan pesawat nirawak penyerang yang membawa rudal berhulu ledak anti-tank.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa kelompok teroris takfiri Jabhat  Fateh al-Sham alias Jabhat al-Nusra sedang mempersiapkan serangan kimia  di Suriah dengan tujuan menyudutkan Angkatan Udara Rusia.

Berita selengkapnya:

IRGC: Rudal Iran Mudah Membidik Kapal-Kapal AS Di Teluk Persia

Rudal-rudal Iran, bahkan yang berjarak tempuh pendekpun, dapat dengan mudah mencapai kapal perang Amerik Serikat (AS) di Teluk  Persia, dan AS tidak akan sanggup menanggung resiko perang baru, demikian dilaporkan kantor berita Fars mengutip pernyataan wakil komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) urusan parlemen, Mohammad Salih Jokar, Jumat (17/5/2019).

“Bahkan rudal jarak dekat kita dapat dengan mudah mencapai kapal perang AS di Teluk,” tegas Jokar.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat belakangan ini sehingga merebak kekhawatiran atas kemungkinan terjadinya perang antara keduanya pada saat Washington memperketat sanksi dan tekanan politik terhadap Teheran serta dikabarkan mengintensifkan kehadiran militernya di kawasan Teluk Persia.

Dia menjelaskan bahwa AS berambisi menguasai “jantung dunia”, Timteng, dan memandang ambisi itu sebagai strategi baru untuk mencapai tujuan-tujuannya, “tapi para pemimpinnya tahu persis bahwa selagi Iran masih kuat maka mereka tidak dapat mewujudkan tujuannya.”

Menurutnya, Iran mendapat tekanan hebat dan total dari AS karena Washington ingin memusnahkan kemampuan nuklir, pertahanan, dan pengaruh Iran di Timur Tengah, serta bermaksud menghentikan dukungan Iran kepada kelompok-kelompok pejuang semisal Hizbullah Lebanon.

“AS menempuh jalan ini sejak 2006, tapi Hizbullah dan Poros Resistensi bukan saja tidak melemah, melainkan malah muncul faksi-faksi baru semisal al-Hashd al-Shaabi (di Irak) dan Ansarullah (di Yaman),” terang Jokar.

Dia menambahkan bahwa kemusnahan Rezim Zionis Israel dan keterhinaan AS akan berproses dalam “langkah kedua revolusi Islam.” (alalam/raialyoum)

Militer Iran Nyatakan Kapal Induk AS Terhenti Di Laut Arab

Seorang pejabat senior militer Iran mengatakan bahwa kapal induk Amerika Serikat (AS) Abraham Lincoln melego jangkar di Laut Arab dan tidak mendatangi Teluk Persia, tak seperti klaim AS sebelumnya.

Pejabat itu, Jumat (17/5/2019), menjelaskan bahwa gerakan militer AS di kawasan itu bertujuan mempertahankan satuan pasukan mereka dan bahwa semua hal lain yang ditunjukkan oleh AS belakangan hanyalah untuk mengobarkan perang psikologis dan memengaruhi opini publik dalam dan luar negeri AS.

Menurut analisis intelijen dan militer, lanjutnya, apa yang terjadi belakangan ini di media pembenci Iran dan beberapa pejabat AS tentang gerakan militer AS di kawasan Teluk Persia sama sekali tidak bernilai, dan bahwa kondisi satuan-satuan pasukan darat, laut, dan udara AS menunjukkan fakta ini dan fakta bahwa mereka hanya mengantisipasi bahaya yang mungkin mengancam satuan-satuannya.

“Kapal induk USS Abraham Lincoln sekarang diparkir di Laut Arab dan tidak datang ke Teluk Persia. Semua armada perang mereka telah keluar dan Teluk Persia telah menjadi lebih kosong dari sebelumnya. Jadi, klaim Amerika bahwa ia mengirim armadanya (ke Teluk Persia) adalah klaim palsu,” ujar petinggi militer anonim itu .

Dia mengatakan bahwa ketidak mampuan AS  dan negara-negara sekutunya melakukan tindakan militer terhadap Iran sangat jelas dari sikap dan pengakuan para pemimpin rezim-rezim itu bahwa mereka tidak berniat berperang melawan Iran.

“Tetapi mereka menunjukkan sikap ini melalui penggunaan teknik perang psikologis … supaya momok perang tetap mendominasi opini publik, momok yang pada hakikatnya bukan karena kemauan, melainkan karena ketidakberdayaan,” tuturnya.

Dia kemudian menegaskan, “Republik Islam Iran sebagai negara yang aman belum dan tidak akan pernah mengawali perang,  tapi angkatan bersenjata kami saat ini lebih kuat dan lebih siap daripada sebelumnya untuk menghadapi konspirasi, dan AS dan sekutunya sangat menyadari hal ini.” (alalam)

Media Israel Laporkan Hamas Kembang Nirawak Penyerang

Kelompok pejuang Hamas di Jalur Gaza, Palestina, dilaporkan telah mengembangkan pesawat nirawak penyerang yang membawa rudal berhulu ledak anti-tank.

Dalam perang dua hari yang terjadi pada 4-5 Mei lalu Hamas berusaha menghancurkan kendaraan militer Israel dengan menggunakan rudal  yang diharapkan dapat mengatasi kendaraan lapis baja Israel tersebut.

Hal tersebut dilaporkan oleh surat kabar Israel “Yedioth Ahronoth”, Jumat (17/5/2019), sembari menyebutkan bahwa pengoperasian nirawak Palestina yang dipersenjatai dengan rudal belum pernah diketahui sebelumnya.

Pengamat militer untuk surat kabar itu, Alex Fishman, menuliskan bahwa upaya menggempur kendaraan militer Israel telah gagal, tapi dapat diasumsikan bahwa Hamas akan mengambil pelajaran dan terus mengembangkan senjata.

Sebelumnya sudah  pernah dilaporkan adanya operasi pengembangan di Jalur Gaza, termasuk penjatuhan bom dari pesawat nirawak, tapi dalam perkembangan terbaru terlihat adanya kemajuan baru dalam pengembangan industri senjata Hamas.

Menurut Fishman, pesawat nirawak bersenjata itu merupakan versi nirawak serupa yang digunakan oleh kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon.

Laporan tersebut menambahkan bahwa nirawak itu digunakan antara lain untuk menghantam sistem pertahanan udara Israel “Iron Dome” dan menjebol kendaraan lapis baja dari bagian atas -yang tingkat perlindungannya lebih rendah-  dengan hulu ledak ganda, dan rudal itu dipasang pada peluncur rudal anti-tank RPG-29 yang diproduksi oleh eks-Uni Soviet.

Laporan itu menyatakan bahwa selama lebih dari empat tahun Hamas telah bekerja keras untuk pengembangan pesawat nirawak  serta memodifikasi nirawak sipil untuk keperluan militer. (raialyoum)

Rusia Peringatkan Rencana Serangan Bom Kimia Teroris Di Suriah

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa kelompok teroris takfiri Jabhat  Fateh al-Sham alias Jabhat al-Nusra sedang mempersiapkan serangan kimia  di Suriah dengan tujuan menyudutkan Angkatan Udara Rusia.

Pusat Rekonsiliasi Suriah yang bernaung di bawah kementerian itu dalam sebuah pernyataannya yang dirilis Jumat (17/5/2019) mengaku telah menerima informasi tentang itu dari beberapa warga kota Saraqib, provinsi Idlib.

Disebutkan bahwa para ekstremis itu berencana membuat rekaman video pada apa yang nanti akan mereka klaim sebagai kasus keracunan warga sipil di dekat  amunisi Rusia, dan kemudian menerbitkan video itu di media sosial atau menyerahkannya kepada media Barat  untuk menebar hoax bahwa jet tempur Rusia telah menggempur kawasan permukiman di sana dengan senjata kimia.

Pada 23 April lalu sumber-sumber lokal yang meminta tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita resmi Suriah, SANA, bahwa kawanan teroris Jabhat Fateh al-Sham dan White Helmets yang didukung Barat telah bersiap melancarkan serangan kimia di provinsi Idlib dan provinsi Hama.

Dalam  jumpa pers di, Moskow, ibukota Rusia, pada 18 April lalu juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova memperingatkan bahwa kelompok White Helmets dan Jabhat Fateh al-Sham sedang “mempersiapkan provokasi lebih lanjut yang bertujuan menuduh pemerintah yang sah di Suriah menggunakan zat beracun. ”

Amerika Serikat (AS) pernah memperingatkan bahwa pihaknya akan bertindak dan melancarkan serangan yang lebih sengit  dari serangan kolektif  yang pernah dilakukan AS bersama Inggris dan Perancis pada tahun lalu jika tentara Suriah menggunakan senjata kimia.

Pada 14 April 2018, AS, Inggris dan Prancis melakukan serangkaian serangan udara terhadap Suriah dengan dalih mereaksi serangan senjata kimia di kota Duma yang terletak di sekitar 10 kilometer timur laut Damaskus, ibu kota Suriah. Saat itu AS dan sekutunya menyalahkan Damaskus atas serangan di Duma, namun pemerintah Suriah menepis keras tudingan itu. (raialyoum)