Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 18 Juli 2020

pertahanan udara iranJakarta, ICMES. Seorang pejabat Amerika Serikat  mengatakan bahwa negaranya mendapatkan laporan bahwa Iran telah menetapkan status “siaga tinggi”  pada sebagian pertahanan udara dalam beberapa hari terakhir.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Mesir dan Uni Emirat Arab melakukan aksi “ilegal” menyokong kubu Tentara Nasional Libya yang dipimpin Khalifa Haftar dan berbasis di Libya timur.

Kerajaan Arab Saudi dan Mesir menegaskan penolakan terhadap “kelancangan” atas keamanan kawasan Arab.

Pasukan pertahanan udara Suriah telah mencegat sejumlah drone tak dikenal yang terbang di atas posisi mereka di pinggiran kota Salamiyah, Provinsi Hama.

Berita selengkapnya:

Pejabat AS: Pertahanan Udara Iran Sedang “Siaga Tinggi”

Seorang pejabat Amerika Serikat  (AS) mengatakan bahwa negaranya mendapatkan beberapa laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Iran telah menetapkan status “siaga tinggi”  pada sebagian pertahanan udara dalam beberapa hari terakhir.

Menurut laporan CNN, Jumat (17/7/2020), pejabat AS yang mengikuti perkembangan situasi itu menjelaskan bahwa siaga demikian berarti bahwa baterai pertahanan udara Iran siap untuk menembak sasaran “yang diyakini sebagai ancaman”.

Pejabat anonim itu tidak menyebutkan bagaimana negaranya mendapatkan informasi itu, namun satelit, pesawat mata-mata, dan kapal AS dilaporkan rutin beroperasi di jalur internasional terdekat, dan intensif memantau Iran.

Kekhawatiran utama AS, lanjutnya, terletak pada kemungkinan “serangan” Iran dengan cara yang tidak dapat diprediksi karena Teheran curiga akan diserang oleh Israel atau AS.

“Taktik militer Iran untuk membuat pertahanan udara dalam keadaan siaga mungkin tidak benar-benar mengatasi potensi ancaman yang mereka bayangkan. Semua serangan sepenuhnya dilakukan di darat, tanpa indikasi adanya jet tempur, peluncur, atau rudal yang diluncurkan terhadap Iran,” kata pejabat itu.

Dia menduga status siaga itu bukan bagian dari pelatihan, melainkan merupakan respons terhadap serangkaian insiden yang terjadi belakangan ini, karena Iran khawatir terhadap kemungkinan menghadapi ancaman yang tidak diketahui.

Beberapa insiden ledakan dan kebakaran terjadi di berbagai lokasi di Iran belakangan ini, dan kemudian muncul spekulasi keterlibatan Israel di baliknya, meski pejabat AS telah mengkonfirmasi bahwa Israel membantahnya.

Insiden paling serius di antaranya terjadi  di situs nuklir Natanz Iran pada 2 Juli, ketika kebakaran menyebabkan kerusakan pada sebuah bangunan. Situs itu pernah menjadi target serangan cyber Stuxnet pada tahun 2010. (amn)

Erdogan Tuding Mesir Terlibat Aksi “Ilegal” di Libya

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) melakukan aksi “ilegal” menyokong kubu Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Khalifa Haftar dan berbasis di Libya timur.

“Langkah-langkah yang diambil oleh Mesir di sini, terutama berpihak pada putschist (pasukan kudeta) Haftar, menunjukkan mereka dalam proses ilegal,” kata Erdogan, Jumat (17/7/2020).

Dia juga menyebut pendekatan Uni Emirat Arab (UEA) terhadap konflik Libya sebagai “pembajakan.”

Erdogan melontarkan tudingan dan kecaman tersebut setelah Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengadakan pertemuan dengan para sesepuh kelompok-kelompok suku Libya yang mendesak Mesir untuk campur tangan di negara kaya minyak tersebut.

Ditanya tentang kemungkinan intervensi Mesir, Erdogan memastikan Turki bertekad mempertahankan dukungannya untuk GNA.

Seperti diketahui, Libya dilanda perang saudara antara kubu pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang disokong Turki di satu pihak dan kubu Tentara Nasional Libya (LNA) yang didukung Mesir dan Uni Emirat Arab (AS).

Dalam beberapa minggu terakhir terjadi perkembangan dan gerakan militer yang dramatis pada kubu GNA yang berbasis di Tripoli. Dengan bantuan Turki, GNA berhasil menghalau dan memukul mundur LNA dari Tripoli.

Parlemen yang berbasis di timur pekan ini meminta Mesir campur tangan dalam konflik di Libya, sementara el-Sisi dalam pertemuan dengan para pemuka suku Libya mengatakan Kairo tidak akan tinggal diam di depan ancaman langsung terhadap keamanan Mesir dan Libya.

El-Sisi bulan lalu menyatakan tentara Mesir mungkin akan memasuki Libya jika pemerintah Tripoli dan Turki memperbarui serangan ke garis depan  Sirte-Jufrah, yang dipandang sebagai pintu gerbang terminal ekspor minyak utama Libya dan kini dikuasai kubu Haftar.

Libya terjerumus dalam konflik sejak sejak penguasa lama Muammar Gaddafi tewas dalam pemberontakan yang didukung NATO pada tahun 2011. (aljazeera/amn)

Sindir Turki, Saudi dan Kairo Kecam “Kelancangan” Terhadap Keamanan Bangsa-Bangsa Arab

Kerajaan Arab Saudi dan Mesir menegaskan penolakan terhadap “kelancangan” atas keamanan kawasan Arab.

Sebagaimana dilaporkan SPA, Jumat (17/7/2020), dalam percakapan telefon antara Wakil Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman bin Abdulaziz, dan Panglima Angkatan Bersenjata, Menteri Pertahanan dan Produksi Militer Mesir, Letjen Muhammad Zaki, keduanya telah membahas hubungan bilateral Kairo-Riyadh, terutama di bidang pertahanan dan militer, dan penguatan kerjasama dalam segala hal yang menunjang keamanan kawasan.

SPA menyebutkan kedua negara ini berhasrat meningkatkan stabilitas, mengatasi segala bentuk terorisme, dan menegaskan kembali sikap penolakan sepenuhnya terhadap kelancangan atas kawasan Arab.

Kontak telefon itu terjadi beberapa jam setelah Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengadakan pertemuan dengan delegasi suku-suku Libya untuk membahas perkembangan krisis Libya. Delegasi itu mendesak Mesir terlibat dalam perang Libya untuk menghadapi intervensi Turki.

Pada 16 Juli, Saudi dan Mesir menekankan pentingnya penyelesaian konflik Libya melalui solusi yang komprehensif, menjaga integritas teritorial Libya, dan membuka jalan bagi pulihnya keamanan dan stabilitas negara ini.

Libya dilanda perang saudara antara kubu pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang dibantuTurki di satu pihak dan kubu Tentara Nasional Libya (LNA) yang didukung Mesir dan Uni Emirat Arab. (railayoum)

Pertahanan Udara Suriah Cegat Drone Tak Dikenal

Pasukan pertahanan udara Suriah telah mencegat sejumlah drone tak dikenal yang terbang di atas posisi mereka di pinggiran kota Salamiyah, Provinsi Hama.

Dilaporkan bahwa  pertahanan udara Suriah pada Jumat tengah malam (17/7/2020) mencegat beberapa drone itu sebelum dapat melakukan serangan ke kota Salamiyah yang padat penduduk dan daerah-daerah lain di sekitarnya.

Sumber drone ini tidak diketahui, namun dugaan mengarah kepada anggota kelompok militan di Provinsi Idlib.

Bulan lalu, Kementerian Pertahanan Suriah mengumumkan bahwa pertahanan udaranya telah menghadapi serangan Israel di daerah yang sama.

Serangan Israel itu ditujukan ke beberapa situs militer di kota Al-Salamiyah dan dekat Al-Sabbourah. (amn)