Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 18 Januari 2020

shalat jumat teheran 17-1-2020Jakarta, ICMES. Rakyat Iran kembali menggelar unjuk rasa akbar di pelbagai penjuru negara republik Islam ini untuk menandai kebulatan tekad mereka melawan arogansi Amerika Serikat (AS) di kawasan Timteng dan dunia.

Iran mengimbau negara-negara lain yang kehilangan jiwa warganya dalam insiden jatuhnya pesawat Ukraina di Teheran tidak mengeksploitasi masalah ini untuk “agenda politik”.

Mantan kepala badan intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki Al-Faisal, menyebut jenderal Iran, Qassem Soleimani, sebagai sosok yang “sangat pintar”, dan dia dibunuh oleh AS karena “berbahaya”.

Berita selengkapnya:

Seluruh Penjuru Iran Kembali Dilanda Unjuk Rasa Akbar

Rakyat Iran kembali menggelar unjuk rasa akbar di pelbagai penjuru negara republik Islam ini untuk menandai kebulatan tekad mereka melawan arogansi Amerika Serikat (AS) di kawasan Timteng dan dunia, Jumat (17/1/2020).

Hari itu rakyat Iran di turun ke jalanan di berbagai kota dan daerah, dari yang paling timur, yaitu Masyhad, ibu kota provinsi Khorasan Razavi dan Khorasan Utara, hingga Golestan, Rasht, Mazandaran, dan Azerbijan Timur, kemudian dari bagian tengah, yaitu Semnan, Yazd, Isfahan, Kerman, Qum, Qazwin, Hamadan hingga Kurdistan di bagian barat, serta Sistan va Balucistan di bagian tenggara hingga Abadan dan Ahwaz.

Jutaan pengunjuk rasa damai mendemonstrasikan keteguhannya kepada nilai dan prinsip yang diajarkan oleh arsiteks revolusi Islam Iran Ayatullah Khomaini, loyalitas mereka kepada darah syuhada, dan dukungan mereka revolusi Islam.

Mereka mengangkat slogan “mampus Amerika”, “mampus Israel”, dan “mampus Inggris”, serta memperlihatkan spanduk dan poster bertuliskan dukungan kepada jalan yang telah ditempuh oleh jenderal tersohor dan legendaris Qassem Soleimani yang gugur diserang AS.

Jutaan massa itu menegaskan bahwa jalan yang telah dibuka oleh Soleimani akan terus diperjuangkan, dan menyatakan siap melawan kekuatan-kekuatan arogan dunia, terutama AS dan Rezim Zionis Israel.

Massa mengutuk serangan AS terhadap Soleimani serta menyebutnya sebagai kejahatan yang fatal. Mereka juga menuntut pengusiran Duta Besar Inggris dari Iran.

Para pengunjuk rasa memuji keberanian pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC/Pasdaran) membalas serangan teror militer AS.

Selain itu, lautan massa juga mengekspresikan belasungkawa mereka atas korban tewas jatuhnya pesawat Ukraina di Teheran akibat salah tembak pasukan IRGC.

Dalam deklarasi bersamanya, para pengunjuk rasa Iran menegaskan kesiapan jiwa dan raga mereka membela nilai-nilai revolusi Islam, dan menekankan keharusan mematuhi pentunjuk Pemimpin Besar Iran Ayatullah Khamenei pasca “gelombang pertama” serangan rudal balistik IRGC yang telah mengguncang dan memorak porandakan pangkalan militer AS di Irak sebagai balasan atas kematian Jenderal Soleimani. Massa menegaskan keharusan berjuang mengusir pasukan AS dari kawasan Timur Tengah.

Dalam berbela sungkawa atas tragedi pesawat Ukraina, massa menegaskan penolakannya terhadap eksploitasi peristiwa ini oleh musuh Iran. Mereka juga mengekspresikan apresiasinya kepada semua “pengorbanan besar” angkatan bersenjata Iran di bidang pertahanan dan keamanan negara.

Mereka juga menegaskan dukungan penuh kepada perjuangan Poros Resistensi melawan konspirasi AS, menyebutnya sebagai kewajiban berbasis agama dan kemanusiaan bagi pemerintah, dan memandangnya sebagai bagian dari pilar keamanan nasional Iran.

Di Teheran, ibu kota Iran, Masjid Agung Imam Khomaini dan jalanan sekitarnya juga dibanjiri lautan jemaah yang mengikuti khutbah dan shalat Jumat yang diimami oleh Ayatullah Khamenei.  (alalam)

Iran Imbau Negara-Negara Lain Tidak Mempolitisir Insiden Pesawat Ukraina

Iran mengimbau negara-negara lain yang kehilangan jiwa warganya dalam insiden jatuhnya pesawat Ukraina di Teheran tidak mengeksploitasi masalah ini untuk “agenda politik”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi dalam sebuah pernyataannya, Jumat (16/1/2020), mengecam pertemuan di London, Inggris, yang dihadiri oleh para menteri luar negeri dari Kanada, Inggris, Ukraina, Swedia, Belanda, dan Afghanistan, serta desakan mereka agar dilakukan penyelidikan internasional atas insiden tersebut.

Mousavi menyebut pertemuan itu “peristiwa yang mengherankan” dan mengimbau supaya “insiden pesawat yang memprihatinkan itu tidak semestinya dieksploitasi untuk agenda-agenda politik”.

“Iran bersimpati atas penderitaan keluarga korban, bekerjasama secara total, dan terbuka bagi delegasi negara-negara itu,” ungkapnya.

Dia juga memastikan adanya “pendataan identitas korban, dan berlanjutnya proses penyelidikan teknis seputar insiden ini”.

Sehari sebelumnya, enam negara yang terlibat dalam pertemuan di ibu kota Inggris itu mendesak Iran bertanggungjawab atas jatuhnya pesawat yang jatuh akibat salah tembak pasukan Iran tersebut, memperkenankan penyelidikan internasional, dan menebus kerugian keluarga korban.

Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh Menteri Luar Negeri Kanada Francois-Philippe Champagne, mereka juga mendesak Iran agar mengidentifikasi dan memperlakukan para korban dengan hormat, transparan, dan sesuai standar internasional, serta menghormati semua tuntutan keluarga korban untuk pemulangan jenazah ke negara asal.

Sebuah pesawat Ukraina jenis Boeing 737 tertembak jatuh di Teheran pada 8 Januari  lalu hingga seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 176 orang tewas. Para korban itu tercatat 82 orang warga negara Iran sendiri, 57 warga negara Kanada, 11 warga negara Ukraina, 10 warga negara Swedia, 4 warga negara Afghanistan, 3 warga negara Jerman, dan 3 warga negara Inggris. (raialyoum)

Mantan Ketua Intelijen Saudi Sebut Jenderal Soleimani “Sosok Pintar” Yang Sulit Dicarikan Gantinya

Mantan kepala badan intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki Al-Faisal, menyebut jenderal Iran, Qassem Soleimani, sebagai sosok yang “sangat pintar”, dan dia dibunuh oleh AS karena “berbahaya”.

Seperti diberitakan Rai al-Youm, Jumat (17/1/2020), hal itu dia katakan al-Faisal dalam wawancara CNBC yang berbasis di AS  tentang serangan AS yang menewaskan Soleimani. Dia mengklaim Iran adalah pihak yang telah berulangkali memprovokasi AS hingga akhirnya direaksi keras oleh AS.

“Serangan udara Amerika yang menewaskan Qassem Soleimani menunjukkan kepada Teheran bahwa Amrika tidak dapat menghindar dari provokasinya, tetapi itu tidak akan mencegah negara ini (Iran) melanjutkan agendanya,” ujar al-Faisal.

Dia menjelaskan, “Iran menyerang tanker minyak di Teluk, namun Amerika tidak menyerang mereka. Iran menyerang fasilitas minyak, namun Amerika tidak menyerang mereka, tapi ia pikir Amerika diam. Saya pikir Amerika memutuskan untuk membunuh Soleimani karena provokasinya sudah melebihi batas yang dapat ditolerir.”

Al-Faisal menambahkan, “Penyingkiran Soleimani sepenuhnya dari perimbangan politik adalah langkah penting untuk menanggapi setidaknya beberapa ambisi Iran, dan untuk menyampaikan kepadanya bahwa tindakan provokatifnya yang berbahaya tidak akan didiamkan. Pembunuhan Soleimani merupakan seruan kepada pemerintah dan para pemimpin Iran agar sadar bahwa mereka tak dapat selamat dari provokasi-provokasi ini.”

Namun, dia menilai kematian Soleimani bagaimanapun juga tidak akan dapat menghentikan apa yang dia sebut “agenda Iran untuk Timur Tengah”, dan Iran akan terus melanjutkannya dengan “cara-cara yang sama”.

“Tapi menang, Soleimani adalah sosok yang sangat pintar dalam menggunakan cara-cara provokatif itu,” kata al-Faisal.

Dia menuduh Iran berambisi terhadap seluruh dunia Islam.

“Krisisnya ada di sini, para pemimpin Iran memiliki agenda dan rencana untuk berdominasi atas Dunia Islam secara keseluruhan… Teheran menggunakan para proksinya semisal Hizbullah di Libanon dan Houthi (Ansarullah) di Yaman, dan ini akan berlanjut meskipun dengan kapabilitas yang sudah berkurang,” tudingnya.

Dia menilai kemampuan Iran sepeninggal Soleimani tidak akan seperti semula karena “dia adalah sosok yang sangat berpengaruh dan sulit dicarikan gantinya.” (raialyoum)