Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 17 Juli 2021

hamas dan roketJakarta, ICMES. Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, memperingatkan Rezim Zionis Israel untuk tidak mencoba “menguji kesabaran kubu resistensi” menyusul adanya seruan warga Zionis untuk penyerbuan ke Masjid Al-Aqsa di Quds (Yerussalem).

Pemerintah China mendesak pemerintah AS agar mencabut sanksi-sanksinya terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut misi Amerika Serikat (AS) di Afghanistan gagal, sementara Mantan Presiden AS George W. Bush mengecam keras penarikan pasukan AS dan sekutunya dari Afghanistan.

Berita Selengkapnya:

Soal Masjid Al-Aqsa, Hamas Peringatkan Israel untuk Tidak Menguji Kesabaran Para Pejuang Palestina

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, memperingatkan Rezim Zionis Israel untuk tidak mencoba “menguji kesabaran kubu resistensi” menyusul adanya seruan warga Zionis untuk penyerbuan ke Masjid Al-Aqsa di Quds (Yerussalem).

Belakangan ini kelompok-kelompok ekstrem Israel menyerukan penyerbuan massa Zionis dalam jumlah besar ke Masjid Al-Aqsa dalam peringatan apa yang mereka sebut “Kehancuran Kuil” (Tisha B’Av) pada tanggal 18 Juli.

Sebuah kelompok yang menamakan dirinya Gerakan Kedaulatan di Israel juga bersiap menyelenggarakan aksi pawai warga Zionis di sekitar pagar Kota Lama Quds di hari yang sama.

Hamas menegaskan, “Kami peringatkan kepada pemerintahan para remaja keji (rezim Israel) untuk tidak mencoba menguji kesabaran kubu resistensi, para pejuang gagah berani dan orang-orang yang telah berjanji kepada Allah untuk tak kenal lelah dan jenuh dalam membela Masjid Al-Aqsa yang berkahi, sesuatu yang paling berharga di antara apa yang mereka miliki.”

Hamas menyerukan kepada “orang-orang Palestina dan para pejuang gagah berani di Jalur Gaza untuk tetap meletakkan jarinya di pelatuk sampai rezim pendudukan memahami bahwa Jalur Gaza yang sabar adalah tameng bagi Masjid Al-Aqsa dan pedang tajam bagi Quds”.

Hamas meminta “para pemuda Quds bergerak dan bersiaga di gerbang-gerbang Kota Lama dan di semua penjuru kota Quds, di jalan-jalannya mulai hari Sabtu 7 Dzulhijjah (17 Juli) untuk menghadang aksi ugal-ugalan warga Zionis.”

Hamas mengimbau “para pemuda di Tepi Barat dan di dalam Palestina untuk bergerak menuju Masjid Al-Aqsa pada Hari Arafah (19 Juli) dan menjadikannya sebagai hari mobilisasi dan kesiagaan di komplek Masjid Al-Aqsa”.

Aksi provokatif puluhan warga Zionis di komplek Masjid Al-Aqsa dengan bantuan dan pengawalan oleh polisi Israel nyaris menjadi pemandangan sehari-hari.

Polisi Israel mulai memperkenankan aksi demikian pada tahun 2003 meski berulangkali dikutuk oleh Kantor Wakaf Islam di Quds.

Wakaf-wakaf Islam di Quds, termasuk Masjid Al-Aqsa, ada di bawah kewenangan Kementerian Wakaf Yordania. (anadolu)

China Desak AS Cabut Sanksi terhadap Iran

Pemerintah China mendesak pemerintah AS agar mencabut sanksi-sanksinya terhadap Iran.

Dalam sambutan pada peringatan enam tahun penandatanganan pernjanjian nukllir Iran (JCPOA), Jumat (16/7),  Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian menyebut kesepakatan itu sebagai hasil dari 13 tahun negosiasi yang cermat serta diplomasi multilateral, yang juga didukung oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231.

Dia mengatakan JCPOA adalah contoh klasik untuk menyelesaikan perselisihan melalui dialog dan konsultasi serta elemen kunci dalam mencapai rezim non-proliferasi nuklir dan memperkuat perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah.

Lijian memastikan China percaya bahwa implementasi JCPOA secara penuh dan efektif merupakan satu-satunya cara efektif untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran.

China menyambut baik upaya AS untuk kembali ke JCPOA, namun AS harus menunjukkan kejujurannya dengan mengambil langkah-langkah konkret untuk mendapatkan kembali kepercayaan global.

Lijian menilai bahwa dalam keadaan saat ini AS harus segera membuat keputusan untuk mencabut semua sanksi sepihak dan ilegal terhadap Iran dan pihak ketiga, sebagaimana Iran juga harus sepenuhnya melanjutkan komitmennya.

Di pihak lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS dalam jumpa pers, Jumat, menyatakan Washington masih tetap berusaha mengembalikan AS dan Iran kepada JCPOA.

Dia menambahkan bahwa jika Washington berhasil mengembalikan kedua negara kepada JCPOA maka Washington juga akan memanfaatkan perjanjian untuk interaksi AS dengan Iran dalam berbagai isu lain yang juga “meresahkan”.

Seperti diketahui, JCPOA diteken pada tahun 2015 oleh Iran dan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Inggris, Prancis, Rusia dan China) plus Jerman tapi lantas ditinggal oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump pada tahun 2018. Trump kemudian menerapkan sanksi-sanksi berat terhadap Iran, dan Iranpun membalasnya dengan memangkas komitmennya kepada JCPOA sejak tahun 2019.

Sejak April 2021 Wina diwarnai perundingan Iran dengan negara-negara tersebut, kecuali AS, untuk menghidupkan kembali JCPOA setelah pengganti Trump, Joe Biden, berulang kali menyatakan hasratnya untuk mengembalikan AS kepada JCPOA. Meski demikian Uni Eropa dan Washington mengkonfirmasi keterlibatan AS dalam perundingan itu namun tanpa berkomunikasi langsung dengan pihak Iran.

Iran sendiri menolak berunding langsung dengan AS sebelum Negeri Paman Sam ini mencabut sanksinya terhadap Iran, sementara AS menekankan prinsip selangkah dibalas selangkah. (mna/raialyoum)

Rusia Sebut Misi AS di Afghanistan Gagal

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut misi Amerika Serikat (AS) di Afghanistan gagal, sementara Mantan Presiden AS George W. Bush mengecam keras penarikan pasukan AS dan sekutunya dari Afghanistan.

Dikutip Sputnik, Jumat (16/7), dalam jumpa pers Lavrov menyebutkan bahwa Presiden AS Joe Biden mengklaim bahwa pasukan AS sedang ditarik dari Afghanistan setelah misinya membuahkan hasil. Namun, lanjut Lavrov, semua orang, termasuk masyarakat AS sendiri, mengetahui bahwa misi itu sebenarnya kandas.

Lavrov menjelaskan bahwa kelompok teroris ISIS dan Al-Qaeda justru menguat di Afghanistan dan kini keduanya bahkan semakin menggila dalam memroduksi dan menyelundupkan bahan-bahan narkoba.

Menurutnya, sekira 90% bahan narkoba yang dipasarkan secara gelap di dunia berasal dari Afghanistan sehingga ada asumsi bahwa produksi bahan narkoba merupakan salah satu sumber utama pendapatan berbagai kelompok yang ada di Afghanistan, tak terkecuali Taliban.

Menteri Luar Negeri Rusia juga menyebutkan bahwa meski AS keluar dari Afghanistan, Rusia siap melanjutkan kerjasamanya dengan AS, China dan berbagai negara lain untuk berperan positif di Afghanistan.

Dalam hal ini, lanjutnya, Iran dan India di masa mendatang bisa ditambahkan pada segi tiga tersebut untuk bersama-sama membantu menyelesaikan krisis Afghanistan.

Sebelumnya, Lavrov memperingatkan dampak meluasnya gejolak Afghanistan pada negara-negara jirannya.

Dalam beberapa hari terakhir pertempuran antara Taliban dan pasukan keamanan Afghanistan meningkat drastis di mana para petinggi Taliban kemudian mengklaim pihaknya telah berhasil mengendalikan 85% wilayah negara ini.

Proses penarikan pasukan AS dan negara-negara sekutunya dari Afghanistan dimulai usai penandatangan perjanjian damai antara AS dan Taliban pada Februari 2020.

AS di masa kepresidenan George W. Bush dan sejumlah negara sekutunya yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada 2001 melancarkan invasi militer ke Afghanistan dengan dalih mereaksi serangan 11 September yang terjadi di tahun yang sama. Sejak itu militer AS dan sekutunya bercokol di Afghanistan hingga kemudian ditarik secara bertahap setelah terlibat perang yang paling berkepanjangan bagi AS.

Penarikan ini mendapat kecaman dari George W. Bush yang menyebutnya sebagai kesalahan yang akan berdampak “sangat buruk”, terutama bagi kaum perempuan Afghan.

“Saya pikir konsekuensinya akan sangat buruk,” kata Bush beberapa hari lalu kepada lembaga pemberitaan Jerman Deutsche Welle ketika ditanya apakah penarikan itu merupakan suatu kesalahan. (mm/fna/cnn)