Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 16 November 2019

rouhani dan ayatullah khameneiJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa rasa persaudaraan dan persatuan Islam dan kepatuhan kepada ajaran Rasulullah saw merupakan kebanggaan dan keistimewaan bagi bangsa Iran.

Ulama besar Syiah Irak Grand Ayatullah Sayid Ali Sistani menegaskan bahwa gelombang aksi protes di Baghdad, ibu kota Irak, dan berbagai kota di wilayah selatan negara ini merupakan peristiwa besar di mana pemerintah tak dapat berkelit darinya.

Presiden Suriah Bashar Assad mengatakan pihaknya akan mengadukan kepada Dewan Keamanan PBB tindakan AS mencuri minyak Suriah, meskipun dia juga mengaku sangat pesimis PBB akan bertindak.

Pasukan Zionis Israel menyerang posisi-posisi Hamas, Sabtu, setelah faksi yang berkuasa di Jalur Gaza ini menahan diri dalam kontak senjata sengit antara Israel dan faksi pejuang Gerakan Jihad Islam Palestina yang terjadi belakangan ini.

Berita selengkapnya:

Ini Pengakuan Presiden Iran di Hadapan Ratusan Ulama Sunni dan Syiah

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa rasa persaudaraan dan persatuan Islam dan kepatuhan kepada ajaran Rasulullah saw merupakan kebanggaan dan keistimewaan bagi bangsa Iran.

“Keistimewaan kami ialah mengikuti Rasulullah, dan apa yang kami kehendaki di kawasan adalah persaudaraan dan persatuan umat Islam, dan kepatuhan kepada ajaran Nabi Besar Muhammad saw, sehingga Persia ataupun Arab bukanlah keistimewaan,” tuturnya dalam kata sambutan pada pertemuan ratusan alim ulama Sunni dan Syiah peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-33 serta para duta besar negara-negara Islam dengan Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei di Teheran, Jumat (15/11/2019).

Dia juga memastikan negaranya sama sekali tidak berniat menguasai negara lain dan tidak pula bermaksud menjadi imperium sebagaimana Persia di masa silam.

Sedangkan mengenai pengaruhnya di Timteng dia mengatakan, “Pengaruh kami di kawasan bukanlah karena kemampuan dan kekuatan milite, sains, dan posisi geografis kami, melainkan karena pengaruh revolusi dan simpati.

Dia melanjutkan,“Sekarang bangsa-bangsa di Irak, Suriah, Libanon, Bahran, Yaman dan lain-lain merasa terjalin kuat dengan Iran. Ini adalah karena keberadaan revolusi Islam di jalur Rasulullah saw. Pengaruh kami di kawasan adalah berkat seruan revolusi Islam yang telah memikat banyak hati orang.”

Presiden Iran juga menjelaskan, “Anak-anak kami datang ke Irak dan Suriah sebagai konsultan dan telah mengorbankan hidup mereka untuk memerangi terorisme bersama rakyat Irak dan Suriah. Tolok ukur utama mereka adalah kemerdekaan manusia.”

Presiden Rouhani juga menyebutkan bahwa negaranya menjalin perjanjian dengan berbagai kalangan, dan sama sekali tidak pernah melanggar perjanjian. (alalam)

Ayatullah Sistani Ingatkan Pemerintah Irak Tak Dapat Berkelit dari Tuntutan Rakyat

Ulama besar Syiah Irak Grand Ayatullah Sayid Ali Sistani menegaskan bahwa gelombang aksi protes yang sudah berjalan lebih dari satu setengah bulan di Baghdad, ibu kota Irak, dan berbagai kota di wilayah selatan Negeri 1001 Malam ini merupakan peristiwa besar di mana pemerintah tak dapat berkelit darinya.

“Jika para penguasa mengira bahwa mereka akan dapat berkelit dari realisasi reformasi yang hakiki dengan mengulur-ulur waktu maka sungguh mereka sedang berilusi, sebab apa yang terjadi setelah gelombang aksi protes ini bagaimanapun juga tidak akan seperti sebelumnya, maka mereka hendaknya mengindahkan hal ini,” ungkap Sayid Sistani dalam seruan yang dibacakan dalam khutbah Jumat oleh wakilnya, Sayid Ahmad al-Shafi di Karbala, Jumat (15/11/2019).

Otoritas Syiah Tertinggi di Irak yang dipimpin oleh Sayid Sistani menyerukan percepatan perancangan undang-undang pemilu baru yang dapat mengembalikan kepercayaan rakyat kepada proses politik tanpa bias partai serta memberikan kesempatan nyata “untuk mengubah wajah-wajah yang ada sekarang dengan wajah-wajah baru”.

“Sebuah undang-undang baru harus diadopsi untuk komisi pemilihan baru yang akan netral dan kredibel tanpa campur tangan pihak luar yang beresiko mengubah negara menjadi arena pelampiasan dendam di mana pihak yang paling dirugikan adalah rakyat,” lanjut Sistani.

Dia menambahkan bahwa “Otoritas keagamaan mendukung aksi protes, menekankan kedamaiannya, dan mengutuk pembunuhan, penganiayaan, penculikan, dan intimidasi terhadap pengunjuk rasa.”

Dia mengingatkan bahwa rakyat turun ke jalan-jalan sedemikian rupa adalah “karena mereka sudah tidak menemukan jalan lain untuk bebas dari korupsi dan kerusakan”.

Menurut laporan kantor PBB di Irak Rabu lalu, gelombang unjuk rasa dan kerusuhan di Irak telah menelan korban jiwa sebanyak 319 orang dan korban luka 15000 lainnya. (raialyoum)

Suriah akan Adukan AS kepada PBB Ihwal Pencurian Minyak

Presiden Suriah Bashar Assad mengatakan pihaknya akan mengadukan kepada Dewan Keamanan PBB tindakan AS mencuri minyak Suriah, meskipun dia juga mengaku sangat pesimis PBB akan bertindak dalam masalah ini, karena “tidak ada PBB dan tidak ada pula hukum internasional”.

Dia menekankan bahwa kehadiran pasukan AS akan menghasilkan perlawanan militer untuk mengeluarkan mereka, sementara keberadaan Rusia di Suriah diperlukan untuk menciptakan keseimbangan di dunia.

“Semua pengaduan yang dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa tetap ada di dalam laci, karena ada semi-negara (AS) yang diperintah oleh geng dan mengandalkan kekuatan, dan seperti yang baru saja kita katakan, mereka adalah kawanan pencuri, sedang konflik di antara mereka (Trump dan lawan politiknya) adalah konflik mengenai untung dan rugi,” tutur Assad kepada Russia21 dan Rossiya Segodniya, seperti dikutip Rai al-Youm, Jumat (15/11/2019).

Dia menambahkan, “Kita sekarang hidup di alam yang menyerupai alam rimba, yang lebih menyerupaiu dunia pra Perang Dunia II, bukan setelahnya. Karena itu kami akan melayangkan pengaduan, tapi itupun akan tertahan dalam laci.”

Assad percaya bahwa pengalaman Irak masih menjadi cermin bagi AS, dan hasilnya tidak terduga bagi AS,

“Tapi kami melihatnya di Suriah, dan saya mengatakan dalam salah satu wawancara pasca-invasi Irak pada tahun 2003 bahwa pendudukan akan menghasilkan perlawanan militer,” ujarnya

Mengenai keberadaan  militer Rusia di Suriah, Assad menekankan bahwa hal ini penting bagi keseimbangan global.

“Kekuatan militer Rusia diperlukan untuk keseimbangan di dunia di satu sisi, dan sisi lain adalah perang melawan terorisme. Rusia merupakan negara besar, memiliki tugas di dunia,  dan tanggung jawab. Tanggung jawab ini membantu dunia dan membantu Rusia sendiri dan rakyat Rusia,” terangnya.

Assad menilai Rusia tidak punya pilihan ulain ntuk memainkan peran negara adidaya atau mundur dan menjadi negara yang sangat biasa, “dan itu tidak baik untuk dunia.” (raialyoum)

Gencatan Senjata Berlaku, Israel Malah Gempur Posisi Hamas di Gaza

Pasukan Zionis Israel menyerang posisi-posisi Hamas, Sabtu (15/11/2019), setelah faksi yang berkuasa di Jalur Gaza ini menahan diri dalam kontak senjata sengit antara Israel dan faksi pejuang Gerakan Jihad Islam Palestina yang terjadi belakangan ini.

Sabtu pagi Israel mengumumkan pihaknya telah melancarkan beberapa serangan ke Jalur Gaza setelah sistem Kubah Besi miliknya mencegat dua rudal yang melesat dari Gaza ke arah Israel (Palestina pendudukan 1948).

Hanya saja, pada serangan kali ini terjadi perkembangan krusial, yaitu bahwa posisi-posisi yang diserang itu bukan lagi milik Gerakan Jihad Islam, melainkan milik Hamas.

Militer Israel dalam sebuah pesannya yang disebar melalui aplikasi WhatsApp menyatakan, “Dua roket telah ditembakkan dari Jalur Gaza ke arah wilayah Israel, dan sistem Kubah Besi telah mencegat keduanya.” Militer Israel menambahkan bahwa hal ini menyebabkan pihaknya menyerang “posisi-posisi Hamas” di Gaza.

Sumber-sumber keamanan Palestina menyatakan serangan Israel itu menargetkan dua posisi Hamas di Jalur Gaza utara, tempat dua juta warga Palestina hidup dalam blokade Israel.

Wartawan AFP mengkonfirmasi adanya serangan Israel dan menyebutkan pula adanya reaksi balasan dari Jalur Gaza.

Tentara Israel Selasa lalu melancarkan serangkaian serangan yang disebutnya hanya menargetkan para anggota Gerakan Jihad Islam di Gaza dan tidak sampai menyerang Hamas, yang sudah sekian bulan terikat perjanjian gencatan senjata dengan Israel.

“Selama operasi kami menbedakan antara Hamas dan Jihad Islam. Kami ingin menjauhkan Hamas dari pertempuran,” ungkap juru bicara militer Israel Jonathan Conricus.

Hamas sendiri tampak memutuskan untuk tidak menyokong serangan Jihad Islam agar tidak melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Israel, yang telah dinegosiasikan di bawah naungan Mesir dan Qatar, dan menyediakan bantuan dana bulanan sebesar jutaan dolar.

Setelah dua hari konfrontasi yang menewaskan 34 orang di Jalur Gaza dan, menurut pihak Israel, tidak menyebabkan korban tewas di Israel, yang diserang dengan 450 roket dari Gaza, Gerakan Jihad Islam dan Israel akhirnya menyetujui gencatan senjata yang berlaku sejak Kamis pagi.

Namun gencatan senjata ini praktis rapuh ketika pesawat tempur Israel melancarkan serangan ke Gaza pada hari Jumat menyusul adanya tembakan roket dari Jalur Gaza meskipun gencatan senjata sudah diberlakukan. (raialyoum)