Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 13 Juli 2019

hassan nasrallah lebanonJakarta, ICMES: Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasralah menegaskan bahwa Poros Resistensi semakin kuat, rudal-rudal berpresisi tingginya menggetarkan nyali Israel, dan segala bentuk perang baru Israel dengan poros ini akan menggiring rezim Zionis itu menuju jurang kemusnahan.

Iran bersumpah akan memberikan “respon menghancurkan ” terhadap pelanggaran kedaulatan negara republik Islam ini setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan ancaman akan menyerang Republik Islam dengan jet tempur siluman F-35.

Iran mendesak Inggris untuk segera membebaskan kapal supertanker Iran yang ditahan secara ilegal di Gibraltar, dan memperingatkan London agar tidak memasuki “permainan berbahaya” yang tak jelas ujungnya.

Militer Arab Saudi di Yaman bergerak untuk mengamankan dua pelabuhan di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb setelah sekutu utamanya, Uni Emirat Arab (UEA), menarikan sebagian pasukannya dari Yaman dalam jumlah yang mencolok.

Berita selengkapnya:

Nasrallah: Saya Akan Shalat di Masjid Al-Aqsa

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasralah menegaskan bahwa Poros Resistensi semakin kuat, rudal-rudal berpresisi tingginya menggetarkan nyali Israel, dan segala bentuk perang baru Israel dengan poros ini akan menggiring rezim Zionis itu menuju jurang kemusnahan.

Dalam wawancara dengan saluran Al-Manar milik Hizbullah pada momen peringatan perang Hizbullah-Israel pada bulan Juli tahun 2006, Jumat (12/7/2019), dia mengatakan bahwa segala upaya para pemimpin Israel untuk memulihkan kepercayaan kepada pasukannya telah gagal sejak perang itu, dan ada kemunduran pada pasukan darat Rezim Zionis.

Sayid Nasrallah memastikan bahwa Poros Resistensi dapat menggempur seluruh bagian Israel, termasuk Eilat, dan sanggup menghancurkan semua markas Israel dari wilayah Netanya hingga Ashdod sepanjang 70 kilometer dan selebar 20 kilometer.

“Poros Resistensi sanggup mengembalikan Israel ke jaman batu dengan menghancurkan kawasan yang terjangkau oleh rudal-rudal kami ini,” sumbar Nasrallah.

Sembari menyebutkan bahwa serbuan ke al-Jalill (Galilee) merupakan bagian dari rencana Hizbullah jika terjadi perang, dia mengaku, “Saya tak punya kalimat untuk menggambarkan kehancuran yang akan terjadi pada Israel jika terjadi konfrontasi.”

Dia kemudian memastikan bahwa jika terjadi perang lagi maka Israel akan tergiring ke jurang kemusnahan, dan Hizbullah tidaklah terkait dengan personal karena bekerja sebagai lembaga di mana setiap orang memiliki peranannya masing-masing.

“Saya yakin menang atas Israel jika terjadi perang…. Usia di tangan Allah, namun menurutku dan berdasarkan logika, saya akan shalat di Al-Quds (Masjid al-Aqsa), ” ujarnya. (raialyoum)

Iran Tanggapi Ancaman Penggunaan Jet Tempur F-35 Israel

Iran bersumpah akan memberikan “respon menghancurkan ” terhadap pelanggaran kedaulatan negara republik Islam ini setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan ancaman akan menyerang Republik Islam dengan jet tempur siluman F-35.

“Setiap musuh yang berusaha melanggar kedaulatan Republik Islam Iran, di level mana pun, akan menerima balasan telak, menghancurkan, dan menjerakan,” tegas Menteri Pertahanan Iran Brigjen  Amir Hatami, Jumat (13/7/2019).

Pernyataan ini merupakan tanggapan atas pernyataan bernada ancaman Netanyahu terhadap Iran. Di pangkalan udara Nevatim Israel awal pekan ini, Netanyahu melontarkan pernyataan mengandung ancaman akan menyerang Iran dengan menggunakan jet tempur F-35.

Berdiri di depan pesawat tempur siluman F-35 saat meninjau pangkalan udara Israel, Selasa (9/7/2019), Netanyahu mengatakan bahwa Iran “belakangan ini mengancam dengan kehancuran Israel” sehingga “harus ingat bahwa pesawat-pesawat ini dapat mencapai setiap tempat di Timur Tengah, termasuk Iran dan, tentu saja, Suriah “.

Dalam pidato di dekat reaktor nuklir di Dimona pada Agustus 2018 Netanyahu mengancam akan “memusnahkan musuh Israel”, yang oleh banyak kalangan dinilai sebagai ancaman penggunaan bom nuklir terhadap Iran.

Menanggapi ancaman nuklir itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif saat itu mengatakan, “Iran, sebuah negara tanpa senjata nuklir, terancam pemusnahan atom oleh penghasut perang yang berdiri di sebelah pabrik senjata nuklir yang sebenarnya.”

Lebih lanjut menanggapi pernyataan Netanyahu “paling memalukan”, Hatami menyebutkan bahwa provokasi Israel itu melanggar Pasal 2 Piagam PBB dan bahwa Iran berhak menanggapi serangan demikian berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB.

Hatami kemudian mendesak Kementerian Luar Negeri Iran agar memperkarakan “perilaku Israel yang tidak sesuai dan berbahaya” itu di lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan Dewan Keamanan. (alalam/presstv)

Iran Desak Inggris Tidak Melakukan “Permainan Berbahaya”

Iran mendesak Inggris untuk segera membebaskan kapal supertanker Iran yang ditahan secara ilegal di Gibraltar, dan memperingatkan London agar tidak memasuki “permainan berbahaya” yang tak jelas ujungnya.

Pada 4 Juli, kepolisian dan agen bea cukai Gibraltar, dibantu oleh detasemen Marinir Kerajaan Inggris, menaiki dan menahan kapal supertanker Iran Grace 1 di Selat Gibraltar atas permintaan AS.

Para pejabat Inggris dan Gibraltar mengklaim bahwa kapal supertanker berkapasitas 300.000 ton itu berkemungkinan mengirim minyak hingga 2 juta barel ke kilang Baniya di Suriah sehingga melanggar sanksi Uni Eropa terhadap Suriah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi menepis klaim itu dan menyatakan kapal tanker itu tidak menuju Suriah karena tidak ada pelabuhan Suriah yang bisa menerima kapal dengan kapasitas sebesar itu.

“Semua dokumen, bukti dan pernyataan kontradiktif yang dibuat oleh Inggris menunjukkan bahwa tuduhan London, secara hukum, tidak begitu penting dan patut diperhatikan kecuali jika mereka ingin masuk ke dalam permainan berbahaya di bawah pengaruh Amerika tanpa akhir yang terlihat, ” tegas Mousavi dalam wawancara dengan kantor berita resmi Iran, IRNA, Jumat (12/7/2019).

Juru bicara Iran ini menyarankan Inggris untuk tidak terlibat dalam skenario seperti “dalam situasi saat ini”.

“Kami masih menuntut mereka melepaskan kapal tanker minyak ini sesegera mungkin karena itu menguntungkan semua orang,” imbuhnya.

Tak lama setelah penahanan kapal tanker itu, Kementerian Luar Negeri Iran memanggil duta besar Inggris untuk Iran, Rob Macaire, guna menyampaikan nota protes keras Teheran terhadap tindakan tersebut.

Saat itu Macaire diberitahu bahwa tindakan Marinir Kerajaan Inggris itu tak ubahnya dengan “pembajakan laut”, dan bahwa Inggris harus segera melepaskan kapal itu.

Presiden Iran Hassan Rouhani juga memperingatkan Inggris tentang “konsekuensi” tindakan itu serta menyebutnya “sangat kekanakan, keji, dan salah” dan “merugikan mereka (Inggris)”. (presstv)

Pasukan Saudi Gantikan Posisi Pasukan UEA Yang Ditarik dari Yaman

Militer Arab Saudi di Yaman bergerak untuk mengamankan dua pelabuhan di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb setelah sekutu utamanya, Uni Emirat Arab (UEA), menarikan sebagian pasukannya dari Yaman dalam jumlah yang mencolok.

UEA menarik tentaranya di beberapa bagian Yaman, di mana ia mendirikan pangkalan-pangkalan besar selama empat tahun perang melawan kelompok pejuang Ansarullah (Houthi).

Dua komandan militer dan dua pejabat pemerintahan Yaman dari kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi mengatakan kepada Reuters bahwa perwira Saudi mengambil alih komando pangkalan militer di pelabuhan al-Mokha dan al-Khokha, yang semula digunakan pasukan UEA untuk mendukung serangan mereka di Hodeidah di dekatnya dan untuk memantau garis pantai.

Riyadh juga mengirim sejumlah pasukan ke kota pelabuhan selatan Pulau Aden dan Perim di jalur pelayaran Bab al-Mandeb yang strategis, tempat yang mempertemukan antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Juru bicara koalisi yang dipimpin Saudi dan pemerintah UEA tidak menanggapi permintaan komentar tentang ini.

Seorang pejabat senior UEA mengatakan bahwa meski telah memulangkan sebagian pasukannya, UEA tidak meninggalkan kevakuman di Yaman karena telah “melatih sekitar 90.000 pejuang lokal” dan tetap berkomitmen untuk koalisi dan pemerintahan terguling Yaman. Dia juga menyebutkan bahwa UAE dan Saudi telah mendiskusikan panjang lebar masalah penarikan pasukan ini.

Dengan memperluas keberadaan militer Saudi di Yaman, Riyadh dapat mengintensifkan kritikan internasional terhadap peran Saudi dalam Perang Yaman, yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia serta menewaskan banyak warga sipil akibat serangan udaranya ke berbagai rumah sakit, sekolah, dan pasar.

Puluhan ribu orang terbunuh sejak aliansi Saudi dan UEA menginvasi Yaman pada 2015. Selain itu, sekira 14 juta warga Yaman menghadapi kelaparan dan wabah penyakit, termasuk kolera.

Setelah empat tahun bertempur, kelompok Ansarullah masih dapat menguasai sejumlah besar wilayah Yaman, termasuk Sanaa, ibu kota negara ini. (aljazeera)