Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 12 Desember 2020

iran dan turkiJakarta, ICMES. Pembacaan sebuah puisi oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berkunjung ke Azerbaijan berbuntut panjang. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran telah memanggil Duta Besar Turki Derya Ors di Teheran untuk menyampaikan nota protes terhadap Erdogan.

Para pejuang Palestina, Hizbullah Libanon, dan Iran mengutuk normalisasi hubungan Maroko dengan Israel.

Dua jet tempur Angkatan Udara Kerajaan Saudi telah mengawal pesawat pembom B-52H Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) melintasi wilayah udara Saudi.

Berita Selengkapnya:

Kecam Keras Pernyataan Erdogan di Azerbaijan, Kemlu Iran Panggil Dubes Turki

Pembacaan sebuah puisi oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berkunjung ke Azerbaijan berbuntut panjang. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran telah memanggil Duta Besar Turki Derya Ors di Teheran untuk menyampaikan nota protes terhadap Erdogan.

Juru bicara Kemlu Iran  Saeed Khatibzadeh, Jumat (11/11/2020), mengatakan bahwa Duta Besar Turki untuk Teheran Derya Ors telah dipanggil menyusul pernyataan ‘usil dan tidak dapat diterima’ yang diucapkan Presiden Erdogan di Baku, ibu kota Azerbaijan.

Menurut Khatibzadeh, Teheran telah menyuarakan ‘protes keras’ terhadap pernyataan Erdogan, dan mendesak pemerintah Turki untuk memberikan penjelasan secepat mungkin.

Dalam pertemuan dengan Duta Besar Turki Derya Ors Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Iran urusan Eurasia mengingatkan bahwa “era klaim wilayah dan imperium penghasutan perang sudah lama berlalu”.

Iran juga memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan siapa pun mencampuri integritas teritorialnya dan tidak akan berkompromi pada keamanan nasionalnya sebagaimana terlihat dalam sejarah.

Sehari sebelumnya, Erdogan berkunjung ke Azerbaijan untuk menghadiri parade militer negara ini dalam rangka pembebasan wilayah Nagorno-Karabakh dari pendudukan gerilyawan pemberontak yang didukung Armenia.

Pada parade dan upacara yang juga dihadiri oleh Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev itu, Erdogan membacakan puisi tentang Sungai Aras di perbatasan Iran-Azerbaijan.

“Mereka memisahkan Sungai Aras dan mengisinya dengan batu dan batang. Aku tidak akan terpisahkan darimu. Mereka telah memisahkan kami secara paksa, ”bunyi bagian dari puisi yang mengusik Iran tersebut. Pernyataan ini telah menuai reaksi dan kecaman dari pejabat dan warganet Iran.

Syair itu sendiri digubah oleh penyair Azerbaijan Mohammad Ibrahimov dan berisi klaim “nilai sejarah” sungai Aras bagi bangsa Azerbaijan.

Iran gusar atas pembacaan syair itu oleh Erdogan karena isinya mengekspresikan keprihatinan atas apa yang disebut oleh penggubahnya sebagai “pemisahan secara paksa” sungai Aras dengan semua sisinya dari bangsa Azerbaijan, sementara sungai yang terletak di dekat perbatasan Azerbaijan-Iran itu ada di wilayah Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di halaman Twitter-nya juga telah mengecam pembacaan syair itu oleh Erdogan, sembari menyebutkan bahwa Erdogan bisa jadi membacakannya begitu saja tanpa dia mengerti maksud yang terkandung di dalamnya.

“Presiden Erdogan tidak diberi tahu bahwa apa yang dia ucapkan dengan buruk di Baku itu mengacu pada pemisahan paksa wilayah utara Aras dari tanah air Iran. Tidakkah dia sadar bahwa dia sedang merongrong kedaulatan Republik Azerbaijan? TIDAK ADA yang bisa bicara tentang Azerbaijan tercinta kami,” tulis Zarif.

Dengan cuitan ini Zarif mengingatkan bahwa Erdogan tak perlu berbicara soal sungai itu karena negara Azerbaijan sendiri semula adalah bagian Iran, yang kemudian terampas dari Iran dalam peristiwa perang Persia (Iran)-Rusia pada tahun 1804-1913 yang berujung kekalahan pihak dinasti Qajar Iran. (fna/mehr/wikipedia)

Para Pejuang Palestina dan Hizbullah Kutuk Normalisasi Hubungan Maroko dengan Israel

Para pejuang Palestina, Hizbullah Libanon, dan Iran mengutuk normalisasi hubungan Maroko dengan Israel, Jumat (11/12/2020).

Faksi-faksi pejuang Palestina dalam sebuah statemen bersama menyebut normalisasi itu pengkhianatan terbaru beberapa rezim Arab terhadap bangsa Palestina dan Quds (Baitul maqdis/Yerussalem), dan karena itu mereka menuntut Maroko mundur dari kepemimpinan atas Komisi Quds Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

“Dengan menyerahnya Maroko kepada perjanjian dengan Rezim Penjajah Israel maka kepemimpinan Komisi Quds OKI harus diambil alih dari rezim Maroko,” bunyi statemen itu, sembari menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah Maroko tersebut tidak merefleksikan aspirasi rakyat Maroko yang selama ini mendukung perjuangan bangsa Palestina.

Faksi-faksi pejuang Palestina juga mengutuk Rezim Zionis Israel dengan menegaskan, “Rezim Penjajah Israel sedang berhalusinasi belaka jika berasumsi bahwa normalisasi hubungan dengan beberapa rezim Arab akan dapat menutupi kejahatan sejarahnya.”

Presiden Amerika Serikat Donald Trump Kamis lalu mengumumkan terdapainya kesepakatan normalisasi hubungan Maroko dengan Israel, dan dengan demikian Maroko menjadi negara keempat setelah Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Sudan, yang terlibat dalam gerakan normalisasi hubungan Arab-Israel sejak Agustus lalu.

Sementara itu, kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Libanon dalam sebuah statemennya, Jumat, juga mengutuk normalisasi hubungan Maroko-Israel.

Kelompok yang dipimpin oleh Sayid Hassan Nasrallah ini memperingatkan bahwa para pendukung normalisasi itu cepat atau lambat akan menyadari kesia-siaan mereka menjalin perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel.

“Menyerahnya rezim-rezim ini kepada tekanan Amerika dan Rezim Zionis (Israel) dengan harapan dapat meraih keuntungan atau supaya sanksi terhadapnya dicabut tidaklah lebih dari ilusi dan fatamorgana belaka. Tindakan itu tidak akan mendatangkan manfaat apapun untuk mereka,” tegas Hizbullah.

Dari Iran, kecaman terhadap normalisasi itu sejauh ini telah dinyatakan oleh Ajudan Khusus Ketua Parlemen Iran Urusan Internasional, Hossein Amir-Abdollahian. Di halaman Twitter-nya, Jumat,

dia menegaskan bahwa rezim Zionis tidak memiliki tempat di masa depan kawasan Timur Tengah.

Dia menyebut normalisasi hubungan Maroko dengan Israel sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.

Abdollahian juga menganggap dengan normalisasi itu para penguasa Arab telah memperlihatkan pengabaian total mereka terhadap ajaran Islam. (almayadeen/almanar/mehr)

Jet Tempur Saudi Iringi Pesawat Pembom AS

Kantor berita resmi Arab Saudi, SPA, Jumat (11/12/2020), melaporkan bahwa dua jet tempur Angkatan Udara Kerajaan Saudi telah mengawal pesawat pembom B-52H Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) melintasi wilayah udara Saudi pada hari Kamis.

Pesawat pembom yang dicirikan “berkemampuan meluncurkan sejumlah besar senjata dan membidik target mereka secara akurat di kedalaman wilayah musuh” itu, menurut SPA, terbang di sepetak wilayah Timur Tengah, dan mengirimkan kepada Iran apa yang disebut oleh pejabat AS sebagai pesan tentang pencegahan.

“Kerajaan Arab Saudi dan mitra internasionalnya terus bekerja untuk meningkatkan keharmonisan di antara mereka, karena para pekerja Angkatan Udara Kerajaan Saudi bekerja dengan rekan-rekan mereka dari negara sekutu untuk mencapai integrasi antara komunikasi, perencanaan, dan sistem teknis,” lanjut SPA.

Disebutkan bahwa penerbangan dua pesawat pembom B-52H di kawasan tersebut merupakan misi kedua dalam waktu kurang dari sebulan dengan tujuan menekankan komitmen berkelanjutan AS di Timur Tengah bahkan ketika pemerintahan Presiden Donald Trump menarik ribuan pasukan AS dari Irak dan Afghanistan.

Pembom berat jarak jauh, yang dapat membawa senjata konvensional dan nuklir, itu disebut-sebut sebagai pemandangan yang langka karena sangat  jarang diterbangkan di Timur Tengah dibandingkan pesawat tempur AS yang lebih kecil.

Peristiwa ini terjadi di tengah ancaman Iran untuk melakukan pembalasan atas pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh yang diduga dilakukan oleh Israel. Selain itu, Iran juga masih mengancam akan membalas darah jenderal tersohornya Qasem Soleimani yang gugur diserang AS di Baghdad, Irak, pada Januari 2020. (arabnews/fna)