Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 9 Desember 2020

Negara-negara penandatangan perjanjian nuklir Iran, JCPOA, sebelum AS keluar darinya.

Negara-negara penandatangan perjanjian nuklir Iran, JCPOA, sebelum AS keluar darinya.

Jakarta, ICMES. Juru bicara pemerintah Iran Ali Rabiei menyatakan bahwa perjanjian nuklirnya dengan sejumlah negara terkemuka dunia tidak memerlukan negosiasi lagi untuk ditambahkan anggota baru.

Asisten Ketua Parlemen Iran Amir Abdollahian menyatakan bahwa negaranya telah mengidentifikasi sumber perintah pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan pihaknya telah menemukan rudal anti-Tank di Libya, yang mirip dengan rudal Dehlavieh buatan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengajak negara-negara jirannya berdialog dengan Iran secara langsung tanpa keterlibatan pihak asing mengenai isu regional.

Berita Selengkapnya:

Iran Pastikan Perjanjian Nuklirnya Tak Dapat Dinegosiasikan Lagi

Juru bicara pemerintah Iran Ali Rabiei menyatakan bahwa perjanjian nuklirnya dengan sejumlah negara terkemuka dunia tidak memerlukan negosiasi lagi untuk ditambahkan anggota baru. Dia juga menyerukan kepada semua negara anggota perjanjian itu agar kembali konsisten kepada apa yang telah disepakati.

Hal itu dinyatakan Rabiei dalam konferensi pers virtualnya, Selasa (8/12/2020), sebagai tanggapan atas pernyataan pejabat sejumlah negara, termasuk Jepang dan negara-negara Arab Teluk Persia mengenai kesiapan mereka untuk berpartisipasi dalam perjanjian nuklir Iran jika ada perundingan baru di masa mendatang.

“Kami menyambut baik meningkatnya peranan Jepang  sebagai negara sahabat dan penting bagi kami dalam urusan internasional, tapi menurut kami, perjanjian nuklir sudah selesai secara mendasar… Perjanjian nuklir ini tak dapat dinegosiasiakan untuk ditambahkan padanya anggota baru. Pemulihan konsistensi semua pihak bukanlah perkara yang pelik, dan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang akan datang tahu persis apa yang harus ia lakukan terkait perjanjian nuklir ini,” paparnya.

Juru bicara pemerintah Iran menambahkan, “Kami berharap Washington bertindak di arah yang berlawanan dengan semua kecenderungan desktruktif tanpa prasyarat serta dengan kecepatan yang sama dengan ketika Trump keluar dari perjanjian ini… Pemerintah AS yang akan datang tahu persis yang harus ia lakukan untuk meyakinkan Iran dan apa saja tindakan merugikan yang dapat dihindari dan yang mungkin dapat merugikan diplomasi.”

Dia kemudian menegaskan, “Sama sekali tidak mungkin berpikir soal negosiasi baru sebelum AS kembali kepada titik di mana ia berkelit dari kewajibannya terkait dengan kesepakatan nuklir ini.“ (fna)

Tuding Israel Terlibat, Iran Identifikasi Para Perencana Pembunuhan Ilmuwan Nuklirnya

Asisten Ketua Parlemen Iran Amir Abdollahian menyatakan bahwa negaranya telah mengidentifikasi sumber perintah pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh, dan menegaskan bahwa Israel terlibat dalam kejahatan itu sesuai bukti petunjuk awal.

“Pelaku pembunuhan ini, beberapa di antaranya telah diidentifikasi dan ditangkap oleh dinas keamanan, dan tidak akan lolos dari pengadilan,” ujarnya kepada saluran TV Al-Alam, Selasa (8/12/2020).

Secara terpisah, Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam  (IRGC) Laksamana Muda Ali Fadavi mengumumkan adanya kemajuan dalam penyelidikan kasus pembunuhan Fakhrizadeh,  yang hasil finalnya akan diumumkan secepat mungkin.

“Kami pasti akan bergerak maju dalam kasus ini, dan berbagai instansi terkait dari IRGC dan Kementerian Intelijen sedang menyelidiki kasus ini sepanjang waktu,” katanya.

Mengenai pembalasan Iran terhadap para pelaku pembunuhan, dia menegaskan, “Kami pasti akan bertindak segera setelah respon kami memadai dan tepat.”

Pada hari Ahad lalu Fadavi mengungkapkan beberapa rincian pembunuhan Fakhrizadeh di sebuah daerah dekat Teheran, ibu kota Iran, pada 27 November lalu, termasuk penggunaan kecerdasan artifisial. Iran menduga kuat pembunuhan itu didalangi oleh Rezim Zionis Israel. (raialyoum/mehrnews)

PBB Temukan Misil Anti-Tank Mirip Buatan Iran di Libya

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan pihaknya telah menemukan rudal anti-Tank di Libya, yang mirip dengan rudal Dehlavieh buatan Iran.

Guterres melaporkan temuan tersebut kepada Dewan Keamanan PBB berdasarkan hasil analisa foto empat rudal anti-tank di Libya, yang satu di antaranya “memiliki karakteristik yang konsisten dengan rudal Dehlavieh yang diproduksi Iran”.

Namun, dalam laporan dua tahunannya – yang diserahkan ke dewan itu pada Senin malam (7/12/2020), dan dilihat oleh Reuters pada Selasa – dia mengatakan bahwa sekretariat PBB “tidak dapat memastikan apakah rudal anti-tank itu telah dikirim ke Libya” sehingga melanggar sanksi Dewan Keamanan.

Pada tahun 2007 Dewan Keamanan beranggotakan 15 negara itu menetapkan larangan ekspor senjata Iran. Berdasarkan kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan beberapa negara terkemuka dunia, yang diabadikan dalam resolusi Dewan Keamanan, larangan tersebut dicabut pada Oktober tahun ini.

Israel menuduh Iran melanggar sanksi tersebut, dan mengirimkan foto-foto rudal anti-tank di Libya kepada  Guterres pada Mei 2020. Beberapa minggu kemudian, Iran menyurati Guterres berisikan “penolakan tegas” terhadap klaim Israel yang disebutnya “sama sekali tidak berdasar.”

Israel menyatakan foto-foto itu muncul pada November 2019 dan senjata itu digunakan oleh kubu Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Khalifa Haftar, yang memerangi Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui secara internasional.

“Berdasarkan analisis Sekretariat dari foto-foto yang disediakan, Sekretariat menetapkan bahwa salah satu dari empat peluru kendali anti-tank memiliki karakteristik yang konsisten dengan Dehlavieh yang diproduksi Iran, meskipun tidak ada tanggal produksi untuk peluru kendali anti-tank ini yang terlihat,” bunyi laporan Guterres.

Dia menambahkan, “Sekretariat tidak dapat memastikan apakah rudal anti-tank ini telah dikirim ke Libya dengan cara yang tidak sesuai dengan resolusi 2231 (tahun 2015).”

Guterres melaporkan ihwal implementasi resolusi tersebut dua kali setahun kepada Dewan Keamanan. (reuters)

Iran Ajak Para Jirannya Berdialog Tanpa Melibatkan Pihak Asing

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengajak negara-negara jirannya berdialog dengan Iran secara langsung tanpa keterlibatan pihak asing mengenai isu regional.

“Para tetangga yang terhormat, mengapa meminta AS/E3 (Amerika Serikat dan tiga negara terkemuka Eropa – red.) untuk dimasukkan dalam pembicaraan dengan Iran ketika: a) Tidak akan ada pembicaraan APA PUN tentang kawasan KITA dengan mereka karena mereka sendiri adalah masalahnya. b) Kita dapat berbicara langsung tentang wilayah kita tanpa campur tangan dari luar,” ungkap Zarif di halaman Twitter-nya, Selasa (8/12/2020).

“Hormuz Peace Endeavour (#HOPE) masih akan dibahas,” lanjutnya.

Sebelumnya, dalam cuitan berbahasa Arab, kepada negara-negara tetangga Iran di kawasan Teluk Persia  Zarif mematikan Iran tidak akan bernegosiasi dengan Barat mengenai isu-isu kawasan.

“Beberapa negara tetangga tampaknya telah meminta Barat untuk menjadi bagian dari proses negosiasi dengan Iran…Kami tidak akan bernegosiasi dengan Barat mengenai kawasan. Masalah utamanya adalah intervensi mereka,”lanjutnya.

Menteri Luar Negeri Iran lantas menyebutkan, “Sementara itu, kami selalu siap bernegosiasi dengan para tetangga, dan proyek-proyek seperti Keamanan Regional 1986, Forum Dialog Regional 2016, dan Inisiatif Perdamaian Hormoz 2019 menggambarkan hal ini.” (mehrnews)