Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 8 Mei 2019

pasukan iranJakarta, ICMES: Harian Wall Street Journal melaporkan bahwa intelijen Amerika Serikat (AS) telah mengantongi informasi yang menyebutkan adanya rencana Iran untuk melancarkan serangan terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah.

Iran menyampaikan peringatan mengenai upaya AS mengacaukan stabilitas kawasan Timur Tengah. Presiden Iran Hassan Rouhani menekankan keharusan semua negara mengetahui krusialitas situasi saat ini untuk kemudian berusaha mencegah kelancangan AS.

Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, menjelaskan bahwa pihaknya berhasil “mangatasi” sistem anti-rudal “Kubah Besi” milik Israel dalam konfrontasinya belakangan ini dengan Rezim Zionis Israel adalah berkat taktik baru peluncuran misilnya.

Iran meluncurkan empat obat produksi domestiknya untuk pengobatan kanker dan diabetes dalam sebuah seremoni di Kota Industri Eshtehard di Provinsi Alborz.

Berita selengkapnya:

Iran Dikabarkan Berencana Menyerang Pasukan AS Di Darat Dan Laut Timteng

Harian Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa intelijen Amerika Serikat (AS) telah mengantongi informasi yang menyebutkan adanya rencana Iran untuk melancarkan serangan terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah.

Sebagaimana diberitakan Rai al-Youm, Selasa (7/5/2019), harian yang bermarkas di New York, AS, itu mengutip pernyataan para pejabat AS bahwa intelijen negara ini mengungkapkan bahwa Iran “berencana untuk menyerang pasukan AS di Irak, dan mungkin pula di Suriah, serta mengatur serangan di Selat Bab al-Mandab dekat Yaman dengan menggunakan pasukan yang ada di sana, dan di Teluk Persi menggunakan pesawat nirawak bersenjata.”

WSJ menambahkan bahwa intelijen AS juga memiliki informasi lain yang menunjukkan adanya rencana Iran untuk menyerang pasukan AS yang bercokol di Kuwait, serta menekankan adanya bahaya darat dan laut dari Iran.

Sumber-sumber itu mengaku “terkejut dengan rencana Iran, yang menyebut AS sebagai target potensial.”

Surat kabar itu menyatakan bahwa tidak jelas apakah pembicaraan dalam intelijen ini berkenaan dengan rencana pasti Iran ataukah rencana yang implementasinya bergantung pada tingkat ketegangan dalam hubungan antara kedua negara.

Menurut sumber-sumber militer, kepala Komando Pusat AS, Jenderal Kenneth McKenzie telah meminta penambahan unit militer setelah mendapat informasi intelijen tentang ancaman Iran itu. Menanggapi hal ini, pemerintahan Presiden Trump berencana mengirim kapal induk dan 4- 6 pesawat pembom, dan tidak menutup kemungkinan juga akan mengerahkan sistem anti-rudal Patriot ke ke Timur Tengah.

Gedung Putih hari Minggu lalu menyatakan akan mengirim kapal induk dan pesawat pembom ke kawasan pantai Iran untuk memperingatkan Teheran ihwal konsekuensi dari setiap serangan terhadap kepentingan AS atau sekutunya. (raialyoum)

Iran Ingatkan Upaya AS Kacaukan Stabilitas Timteng

Iran menyampaikan peringatan mengenai upaya Amerika Serikat (AS) mengacaukan stabilitas kawasan Timur Tengah. Presiden Iran Hassan Rouhani menekankan keharusan semua negara mengetahui krusialitas situasi saat ini untuk kemudian berusaha mencegah kelancangan AS.

Peringatan ini disampaikan setelah Washington mengumumkan pengiriman kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, dan Teheran menganggap gerakan AS itu sekedar lagak belaka.

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam percakapan telepon dengan Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani, Selasa (7/5/2019), mengatakan bahwa perkembangan regional dewasa ini dipersulit oleh kebijakan ilegal pemerintah AS.

Dalam percakapan telefon lain dengan sejawatnya dari Irak, Barham Salih, Rouhani menyatakan bahwa semua negara harus mengetahui keadaan sensitif saat ini dan bekerja sama mencegah upaya Washington mendestabilisasi kawasan.

Sebelumnya, penasihat keamanan nasional Gedung Putih John Bolton menyatakan AS akan mengirim kapal induk dan pasukan pembom ke Timur Tengah sebagai suatu pesan yang “jelas dan tidak ambigu” untuk Iran.

Menlu AS Mike Pompeo mengklaim negaranya telah memantau kegiatan Iran yang mengindikasikan kemungkinan eskalasi dan bahwa AS akan mengambil semua langkah yang tepat, baik dalam hal keamanan maupun untuk menyediakan opsi kepada presiden AS.

Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengatakan bahwa pengerahan kapal induk AS di Timur Tengah adalah “respons terhadap indikasi ancaman serius pasukan Iran.”

Juru bicara Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Keivan Khosravi menanggapi pernyataan Bolton dengan menyebutnya tidak berkompeten di bidang militer dan keamanan, dan pernyataannya hanyalah untuk tujuan-tujuan demonstratif.

“Pernyataan Bolton itu merupakan jalan keluar untuk pengembangan yang gagal untuk (tujuan) perang psikologis,” ungkapnya.

Dia menambahkan, “Bolton kurang memahami masalah militer dan keamanan. Pernyataannya lebih dimaksudkan untuk berlagak belaka.” (raialyoum/presstv)

Hamas Dan Israel Jelaskan Mengapa “Kubah Besi” Melempem

Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, menjelaskan bahwa pihaknya berhasil “mangatasi” sistem anti-rudal “Kubah Besi” milik Israel dalam konfrontasinya belakangan ini dengan Rezim Zionis Israel adalah berkat taktik baru peluncuran misilnya.

Juru bicara Brigade Ezzedine al-Qassam, Abu Obeida, melalui media sosial, Senin (6/5/2019), menyebutkan bahwa taktik peluncuran roket baru telah membuat Kubah Besi kewalahan hingga menyebabkan kematian dan cederanya banyak orang Israel dalam dua hari konfrontasi.

“Segala puji bagi Allah, Brigade al-Qassam berhasil mengatasi apa yang disebut Kubah Besi dengan mengadopsi taktik menembakkan puluhan rudal dalam satu ledakan tunggal,” tuturnya.

Dia menjelaskan,”Intensitas serangan yang tinggi dan kemampuan menghancurkan yang besar dari rudal yang diperkenalkan oleh al-Qassam … berhasil menimpakan kerugian besar dan kehancuran bagi musuh.”

Serangan udara Israel di Gaza memicu pertempuran tersengit antara Israel dan para pejuang Palestina sejak Perang Gaza tahun 2014.

Para pejuang Palestina melancarkan serangan balik dengan menembakkan sekira 700 roket dari Gaza ke berbagai wilayah pendudukan hingga menewaskan empat orang Israel dan melukai sedikitnya 80 lainnya pada akhir pekan lalu. Padahal, dalam perang tujuh minggu di tahun 2014, hanya lima orang Israel tewas dan 67 lainnya terluka.

Media Israel melaporkan bahwa “Kubah Besi” mencegat hanya 240 roket, sementara sekitar 35 roket dan mortir telah menghantam daerah-daerah berpenduduk selama Sabtu dan Minggu lalu.

Dalam sebuah wawancara dengan The Jerusalem Post, mantan kepala departemen penelitian intelijen militer Israel, Yaakov Amidror, mengungkapkan bahwa “Kubah Besi” gagal mencegat semua rudal yang diluncurkan dari Gaza karena sejumlah alasan, termasuk bahwa roket itu diluncurkan dari jarak yang sangat dekat sehingga sistem Israel nyaris tidak punya waktu untuk bereaksi dan mencegatnya.

Dia juga menyebutkan alasan desain sistem yang aneh, yang membuatnya mengabaikan rudal-rudal yang ditujukan pada area yang dianggap kosong atau tidak berpenghuni. (presstv/raialyoum)

Iran Produksi Obat Kanker dan Diabetes Yang Selama InI Hanya Diproduksi Oleh AS Dan Jerman

Iran meluncurkan empat obat produksi domestiknya untuk pengobatan kanker dan diabetes dalam sebuah seremoni di Kota Industri Eshtehard di Provinsi Alborz, Selasa (7/5/2019).

Obat anti kanker itu antara lain Regorafenib dan Sorafenib yang sangat penting dan mahal, sedangkan obat untuk pasien diabetes adalah Empagliflozin dan Dapagliflozin.

Regorafenib pertama kali dikembangkan dengan merek obat kemoterapi Stivarga oleh Jerman pada tahun 2012 untuk pengobatan kanker kolorektal, tumor stroma gastrointestinal (GIST), dan kanker hati.

Peneliti Iran berhasil mendapatkan pengetahuan yang sangat kompleks untuk produksi obat mahal ini setelah tujuh tahun riset dan percobaan tanpa henti. Paket 28 tablet Regorafenib dibandrol US$ 5.870 di pasar global, sedangkan versi Iran dijual hanya 5% dari harga produk Jerman itu.

Sorafenib, yang dikenal dengan nama merek Nexavar, digunakan untuk mengobati kanker ginjal, hati, dan tiroid. Produk ini sampai sekarang hanya diproduksi oleh Jerman dan AS. Versi produk Iran dijual dengan harga kurang dari sepersepuluh harganya di pasar global, yang mencapai US$ 4.880.

Empagliflozin, dijual dengan merek dagang Jardiance, digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2. Iran sekarang adalah produsen ketiga obat itu setelah Jerman dan AS.

Dapagliflozin, yang dijual dengan merek Farxiga, juga digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2. Iran berhasil memperoleh teknologi untuk memproduksi obat setelah Inggris.

Diprediksi bahwa dua obat anti-kanker Iran berpotensi menghasilkan pendapatan US$ 1 miliar untuk negara ini. (mehrnews)