Rangkuman Berita Utama Timteng  Rabu 8 Desember 2021

Jakarta, ICMES. Para pejabat Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi menyatakan bahwa pemerintah Saudi telah meminta kepada AS pasokan rudal Patriot “secepatnya” serta menghubungi beberapa negara Teluk, termasuk Qatar, dan negara-negara Eropa.

Kedubes Arab Saudi untuk Prancis di Paris membantah laporan yang beredar bahwa warga negara Saudi yang baru ditangkap di Prancis terkait dengan kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, dan karena itu meminta supaya warga negaranya itu segera dibebaskan.

Berbagai perwakilan kelompok adat di timur provinsi Taiz, Yaman, menggelar aksi konsentrasi anti-Arab Saudi di distrik Mawiyah dengan dihadiri oleh perwakilan resmi pemerintahan Penyelamatan Nasional (kubu Sanaa) dan otoritas setempat.

Sistem pertahanan udara pasukan Ansarullah (Houthi) di Yaman berhasil menembak jatuh drone pengintai buatan AS dari angkasa provinsi Ma’rib.

Berita Selengkapnya:

Saudi Panik, Rudal Patriot Hampir Habis Sehingga Minta Pasokan Segera dari Berbagai Negara

Para pejabat Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi menyatakan bahwa pemerintah Saudi telah meminta kepada AS pasokan rudal Patriot “secepatnya” serta menghubungi beberapa negara Teluk, termasuk Qatar, dan negara-negara Eropa.

Dikutip surat kabar Wall Street Journal, Selasa (7/12), para pejabat AS mengatakan bahwa Kemlu AS sedang mempertimbangkan masalah penjualan langsung rudal ini, dan akan ada kesepakatan suplai ke Saudi melalui negara lain semisal Qatar.

Saudi dan sekutunya berharap segera mendapat suplai rudal Patriot untuk menghadapi intensitas serangan Ansarullah (Houthi) setelah persediaan rudal itu di Saudi menipis.

Seorang pejabat Saudi mengatakan kepada surat kabar itu bahwa jumlah serangan dari Yaman terhadap Saudi meningkat drastis dan tercatat bahwa serangan drone Yaman terjadi sebanyak 29 kali pada November dan 25 kali pada Oktober, sementara serangan rudal balistik sebanyak 11 kali pada November dan 10 kali pada Oktober.

Utusan Khusus AS untuk Yaman Timothy Lenderking Jumat lalu menyebutkan bahwa pasukan Ansarullah Yaman telah melancarkan sekira 375 kali serangan terhadap Saudi pada tahun 2021.

Bulan lalu Kemlu AS menyetujui penjualan “sistem rudal udara-ke-udara jarak menengah canggih” senilai US$ 650 juta, dan Kongres diberitahu tentang ini  setelah Riyadh meminta pembelian 280 rudal dan 596 peluncur jenis ini untuk mengatasi serangan Ansarullah.

Selasa kemarin Ansarullah mengumumkan pihaknya telah melancarkan operasi serangan baru ke wilayah Saudi dengan sejumlah rudal balistik dan 25 drone.

Seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan,  “AS berkomitmen penuh untuk mendukung pertahanan regional Arab Saudi, termasuk terhadap rudal dan pesawat nirawak yang diluncurkan oleh militan Houthi yang didukung Iran di Yaman,”

Dia menambahkan, “Kami bekerjasama dengan Saudi dan negara mitra lainnya untuk memastikan tidak ada celah dalam perlindungan.”

Sementara itu, Gedung Putih, Selasa, menyatakan pihaknya menentang keputusan Senat yang akan memblokir usulan penjualan 280 rudal udara-ke-udara jarak menengah ke Arab Saudi.

Kantor Manajemen Anggaran Gedung Putih dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa pengesahan resolusi Senat “akan merusak komitmen Presiden untuk membantu mendukung pertahanan mitra kami pada saat meningkatnya serangan rudal dan drone terhadap warga sipil di Arab Saudi.”

Gambar-gambar satelit pada September lalu memperlihat bahwa AS telah menarik rudal-rudal Patriotnya dari Saudi sebagai dampak perubahan pengalihan konsentrasi pemerintahan Presiden AS Joe Biden dari Timur Tengah kepada konflik AS dengan China.   (mm/raialyoum)

Saudi Minta Prancis Bebaskan Tersangka Kasus Pembunuhan Kashoggi yang Baru Ditangkap

Kedubes Arab Saudi untuk Prancis di Paris membantah laporan yang beredar bahwa warga negara Saudi yang baru ditangkap di Prancis terkait dengan kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, dan karena itu meminta supaya warga negaranya itu segera dibebaskan.

Kantor berita Arab Saudi, SPA, hari ini, Rabu (8/12), menyebutkan, “Terkait dengan laporan yang beredar di media massa mengenai penangkapan seorang warga negara Saudi yang diduga terlibat dalam kasus Jamal Khashoggi –semoga Allah merahmatinya-, Kedubes Kerajaan Arab Saudi di Republik Prancis ingin menjelaskan bahwa laporan yang beredar itu tidak benar, dan bahwa orang yang ditangkap itu tak ada kaitannya dengan kasus tersebut. Karena itu Kedubes Saudi meminta supaya orang itu dibebaskan secepatnya.”

SPA menambahkan, “ Kedubes Saudi juga ingin menegaskan bahwa pengadilan Saudi telah mengambil putusan-putusan hukum terhadap semua orang yang terbukti terlibat dalam kasus Jamal Khasoggi –semoga Allah merahmatinya-, dan mereka sedang menjalani masa hukuman yang telah diputuskan.”

Sebelumnya, berbagai laporan media Prancis menyebutkan bahwa salah satu tersangka telah ditangkap di Bandara Charles de Gaulle, Paris, tiga tahun setelah terbunuhnya Khashoggi.

Saluran RTL milik Prancis, Selasa, mengutip keterangan polisi bahwa orang yang ditangkap itu adalah pria berusia 33 tahun yang merupakan satu di antara 20 tersangka yang menjadi buronan internasional terkait dengan kasus tersebut.

Pria itu adalah mantan anggota Pengawal Kerajaan Saudi, dan dia bermaksud naik pesawat menuju Riyadh dengan menggunakan nama asli dan kartu identitasnya. Kepolisian Internasional (Interpol) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya atas tuduhan pembunuhan terlibat dalam kasus Khashoggi yang dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada tanggal 2 Oktober 2018.

Mantan tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz, menyambut baik penangkapan tersebut. Di halaman Twitternya, Selasa, dia mencuit; “Prancis harus mengadili kejahatannya, atau menyerahkannya kepada negara yang mampu dan siap menyelidiki atau mengadili dia dan orang yang telah mengeluarkan perintah pembunuhan Jamal.” (mm/raialyoum/alalam)

Kelompok-Kelompok Adat Bersenjata Yaman di Taiz Gelar Aksi Konsentrasi Anti-Saudi

Berbagai perwakilan kelompok adat di timur provinsi Taiz, Yaman, menggelar aksi konsentrasi anti-Arab Saudi di distrik Mawiyah dengan dihadiri oleh perwakilan resmi pemerintahan Penyelamatan Nasional (kubu Sanaa) dan otoritas setempat.

Dalam aksi itu mereka menegaskan keharusan melanjutkan perlawanan terhadap agresi Saudi dan Uni Emirat Arab serta pemberian dukungan logistik kepada front-front perlawanan terhadap eskalasi agresi itu di wilayah barat yang telah menyasar warga sipil.

Mereka datang ke lokasi konsentrasi dengan membawa bantuan dana dan bahan pangan serta mengumumkan mobilisasi umum untuk menunjang perlawanan sampai terwujudnya kemenangan dan terusirnya pasukan agresor dari semua wilayah Yaman.

Mereka juga bersumpah bahwa orang-orang Taiz siap berkorban sepenuhnya demi membela negara dan kehormatan, dan dalam rangka ini mereka akan menjadikan Taiz sebagai kuburan bagi agresor dan orang-orang Yaman yang menjadi antek agresor.  Mereka mengimbau kepada para antek itu agar segera kembali ke pangkauan negara Yaman dan memanfaatkan kesempatan pemberian amnesti umum sebelum terlambat.

Kelompok-kelompok adat itu juga mengecam kebungkaman Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap invasi militer dan blokade terhadap Yaman yang sudah berlangsung lebih dari tujuh tahun dan telah menjatuhkan banyak korban di mana yang terbaru di antaranya ialah serangan di Maqbanah yang menjatuhakn lebih dari 30 korban tewas dan luka warga sipil. (mm/alalam)

Tak Sampai Seminggu, Satu lagi Drone Jenis Scan Eagle Buatan AS Tertembak Jatuh Ma’rib

Sistem pertahanan udara pasukan Ansarullah (Houthi) di Yaman berhasil menembak jatuh drone pengintai buatan AS dari angkasa provinsi Ma’rib, Selasa (7/12).

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah menyebutkan bahwa drone pengintai yang juga bersenjata jenis Scan Eagle itu ditembak jatuh dengan “senjata yang sesuai” ketika sedang menjalankan misi agresi di angkasa daerah Jowba.

Tercatat bahwa drone itu adalah drone kedelapan dari jenis yang sama yang tertembak jatuh di Yaman pada tahun 2021.

Pada Rabu 4 Desember lalu satu drone dari jenis yang sama juga rontok ditembak pasukan Ansarullah di distrik Jowba.

Sementara itu, Pusat Komando Operasi Komunikasi dan Kordinasi di Hudaydah, Selasa, mengumumkan pihaknya telah memantau 116 pelanggaran dari pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi dalam 24 jam terakhir.

Pusat itu menjelaskan bahwa beberapa pelanggaran di antaranya berupa empat serangan udara ke kawasan Hais dan Al-Jarahi serta penerbangan jet tempur dan pesawat pengintai di angkasa Haiz, Al-Jarahi dan Al-Jabalbah.

Pusat itu juga menyebutkan bahwa pelanggaran itu mencakup 58 serangan artileri dan tembakan dengan berbagai jenis senjata. (alalam/almasirah)