Rangkuman Berita Utama Timteng  Rabu 7 Oktober 2020

sistem radar iranJakarta, ICMES. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan sebuah sistem militer yang akan menjadi kendala serius bagi jet-jet siluman Amerika Serikat (AS).

Wakil Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk Urusan Politik Brigjen Yadollah Javani memperingatkan bahwa Amerika Serikat (AS) akan celaka jika terjadi perang di kawasan Teluk Persia.

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan memastikan Rusia akan campur tangan secara militer jika dirasa perlu untuk menjamin keamanan Armenia sesuai perjanjian bilateral antara kedua negara.

Warga Suriah berunjuk rasa dengan mengepung pos pantau militer Turki di sebuah daerah di barat laut Suriah dan  menuntut pasukan Turki angkat kaki dari Suriah.

Berita selengkapnya:

Pasukan Elit Iran Luncurkan Sistem Radar Pemburu Jet Siluman

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan sebuah sistem militer yang akan menjadi kendala serius bagi jet-jet siluman Amerika Serikat (AS).

Dalam sebuah upacara khusus, Selasa (6/10/2020), IRGC mengumumkan bahwa sebuah sistem radar baru yang sepenuhnya dibuat oleh Pasukan Dirgantara IRGC telah bergabung dengan IRGC.

Radar yang dibuat untuk mendukung jaringan radar pertahanan udara Iran itu akan menjadi kendala bagi jet-jet tempur siluman AS semisal RQ-170 yang selama ini dikenal dapat berkelit dari radar.

IRGC telah menyajikan dua jenis baru sistem radar Qadir yang diungkap pertama kali pada tahun 2013, dan sebelumnya Angkatan Bersenjata Iran telah didukung dengan 800 sistem yang tersebar di berbagai penjuru wilayah negara ini.

Sistem radar Iran Qadir  merupakan “jenis radar array bertahap”, yang mengandung sejumlah besar pemancar dan penerima “dalam format empat arah dan tanpa rotasi dan gerakan mekanis.”

Sistem ini mencakup semua sudut, yaitu 360 derajat dengan jangkauan hampir 1000 km, dan dioperasikan hanya oleh tiga personel.

Sistem baru itu dinilai unggul karena dapat mendeteksi berbagai jenis pesawat siluman, selain kemampuannya menghadapi peperangan elektronik serta berbiaya rendah dan diproduksi di dalam negeri.

Komandan Pasukan Dirgantara IRGC Brigjen Amir Ali Hajizadeh memastikan tingginya kemampuan negaranya dalam produksi peralatan militer yang berbeda. Dia juga menyebut Iran masuk dalam 10 negara besar yang memproduksi radar.

“Di antara 20 negara pembuat radar di dunia, tentu Iran masuk dalam 10 besar,” kata Jenderal Hajizadeh dalam kata sambutannya pada upacara tersebut.

Dia menambahkan bahwa jaringan radar saling melengkapi yang dikembangkan oleh Angkatan Bersenjata Iran dan IRGC merupakan salah satu pencapaian utama militer Iran, dan bahwa para profesional muda Iran mampu menghasilkan semua radar yang dibutuhkan oleh pasukan operasional.

Angkatan Bersenjata Iran pada September lalu menyatakan bahwa negara republik Islam ini telah mencapai tahap swasembada di bidang produksi dan meluncurkan radar semikonduktor buatan dalam negeri bernama Soroush dengan kemampuan untuk mendeteksi dan melacak target siluman dan sistem integrasi radar pintar. (fna/raialyoum)

Jenderal IRGC: Pasukan AS Manja, Tinggalkan Tumpukan Popok, dan Tak akan Berani Berperang

Wakil Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk Urusan Politik Brigjen Yadollah Javani memperingatkan bahwa Amerika Serikat (AS) akan celaka jika terjadi perang di kawasan Teluk Persia.

“Amerika mengancam akan menyerang unit dan pangkalan Hashd al-Shaabi (pasukan relawan Irak) , dan saya yakin Hashd telah menunjukkan kehormatan dan menahan diri (dalam bereaksi terhadap AS sejauh ini),” ungkap Javani dalam wawancara dengan al-Ittijah, Selasa (6/10/2020).

Dia memperingatkan bahwa jika pasukan relawan Irak yang didukung Iran itu memutuskan untuk mengobarkan perang terhadap AS maka semua orang akan melihat berbagai adegan dan hasil baru.

“Amerika tak boleh lupa bagaimana militer mereka dimanja untuk tidak menghadapi masalah,” lanjutnya, mengacu pada laporan panglima IRGC dua tahun lalu bahwa tentara AS telah “meninggalkan tumpukan besar popok” di beberapa pangkalan dan bunker mereka.

Menurut Javani, perjanjian keamanan AS dengan Irak bertujuan membuka jalan bagi AS untuk hengkang dari Irak secara terhormat. Dia juga menilai reaksi dan dampak kasus penangkapan anggota Hashd al-Shaabi beberapa waktu lalu sangatlah berpengaruh.

Dia memastikan AS telah gagal dalam semua perang dan karena itu tidak akan merasa berada dalam situasi yang kondusif untuk berkonfrontasi dengan Iran.

Mengenai pengerahan kapal perang AS di Teluk Persia belakangan ini, menurut Javani, hal itu justru menyiratkan ketakutan mereka terhadap Iran.

“Sebenarnya, kami percaya bahwa setiap kali Amerika mengerahkan kapal perangnya di Teluk Persia, perang justru tidak mungkin terjadi karena mereka sangat menyadari bahwa penempatan mereka di Teluk Persia berarti kematian dan kehancuran mereka, sebab tak mungkin bagi Amerika dapat meninggalkan Teluk Persia dengan aman jika pecah perang di kawasan ini,” sumbarnya. (fna)

Rusia Dilaporkan akan Bela Armenia Jika Dirasa Perlu

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan memastikan Rusia akan campur tangan secara militer jika dirasa perlu untuk menjamin keamanan Armenia sesuai perjanjian bilateral antara kedua negara.

“Armenia menjadi tuan rumah pangkalan militer Rusia ke-102, dan kami memiliki sistem pertahanan udara bersama,” katanya wawancara dengan surat kabar Jerman Bild, seperti dikutip Al-Masdar, Selasa (6/10/2020)

Dia menambahkan, “Perjanjian bilateral itu menjelaskan secara gamblang dalam kasus apa saja pasukan itu dapat terlibat untuk memastikan keamanan Armenia.”

Pashinyan juga menjelaskan, “Kasus-kasus ini sangat spesifik, dan saya yakin bahwa Rusia, jika (kasus-kasus ini) terjadi, akan melaksanakan kewajibannya dalam kerangka perjanjian.”

Pada pagi hari tanggal 27 September lalu pertempuran meletus di jalur kontak antara pasukan Azerbaijan dan Armenia di wilayah Nagorno-Karabakh dan daerah sekitarnya. Perkembangan ini menjadi ketegangan yang paling berbahaya antara kedua belah pihak selama lebih dari 20 tahun terakhir di tengah kondisi saling tuding memulai serangan dan  mengerahkan militan asing. (amn)

Kepung Pos Militer, Massa Tuntut Pasukan Turki Keluar dari Suriah

Warga Suriah berunjuk rasa dengan mengepung pos pantau militer Turki di sebuah daerah di barat laut Suriah dan  menuntut pasukan Turki angkat kaki dari Suriah.

Dilaporkan bahwa pengepungan itu terjadi di daerah yang dikuasai pemerintah Suriah di Provinsi Hama dan massa mengecam kebercokolan pasukan Turki di wilayah Suriah.

Sebuah rekaman video beredar terkait dengan peristiwa itu dan disebutkan bahwa massa berkonsentrasi di sekitar pos pantau militer Turki di Provinsi Hama.

Peristiwa ini merupakan aksi protes kedua kalinya yang dilakukan warga Suriah  di sekitar pos militer Turki dalam dua bulan terakhir. Aki protes pertama kalinya digelar di sekitar pos militer Turki di Provinsi Idlib.

Sebelumnya, Turki menolak desakan Rusia agar pasukan Turki mundur dari pos pantau di wilayah yang dikuasai oleh pemerintah Suriah, meskipun Damaskus menuntut demikian. (amn)