Rangkuman Berita Utama Timteng  Rabu 7 November  2024

Jakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem memastikan kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini memiliki puluhan ribu pejuang terlatih untuk menghadapi Israel. Dia juga menegaskan bahwa penghentian “agresi” Israel tidaklah bergantung pada hasil pilpres AS.

Kelompok pejuang perlawanan Islam Lebanon, Hizbullah, telah menggempur kota Tel Aviv dan Haifa di wilayah pendudukan Palestina dengan drone dan rudal kamikaze serta meluncurkan rudal presisi baru yang akan digunakan dalam perang melawan Rezim Zionis Israel.

Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mayjen Hossein Salami mengatakan bahwa Hizbullah bangkit kembali dan pulih secara ajaib meskipun telah jatuh banyak korban dan insiden yang tidak diharapkan.

Berita selengkapnya:

Peringati 40 Hari Kesyahidan Sayid Nasrallah, Syeikh Qassem:  Kami Punya Puluhan Ribu Kombatan Terlatih

Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem memastikan kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini memiliki puluhan ribu pejuang terlatih untuk menghadapi Israel. Dia juga menegaskan bahwa penghentian “agresi” Israel tidaklah bergantung pada hasil pilpres AS.

Media Hizbullah pada hari Rabu (6/11) menyiarkan rekaman video pernyataan  Syeikh Qassem  pada peringatan 40 hari kesyahidan pendahulunya, Sayid Hassan Nasrallah,  yang gugur akibat  serangan Israel di pinggiran selatan Beirut.

“Kami memiliki puluhan ribu mujahidin perlawanan, yang terlatih, berkemampuan tempur dan teguh,” tegas Syeikh Qassem.

Dia menambahkan, “Fasilitas tersedia, baik di arsenal maupun di berbagai posisi, dengan berbagai jalur. Israel akan menjerit akibat rudal dan drone. Pada gilirannya, tak ada tempat di entitas Israel yang ‘terlarang’ bagi drone maupun rudal (Hizbullah).”

Pidato Qassem disampaikan beberapa jam setelah Hizbullah mengaku telah menggempur pangkalan pelatihan militer di dekat Bandara Ben Gurion, selatan Tel Aviv, dengan rudal, untuk pertama kalinya.

Syeikh Qassem mengatakan bahwa jika Israel “bertaruh bahwa mereka akan memperpanjang perang, dan ini akan menjadi perang yang menguras tenaga… maka kami hadir,” dan “tidak peduli berapa lama waktu berlalu, kami akan tetap solid menghadapi kalian.”

Sejak tanggal 23 September, Israel memulai kampanye serangan udara yang terfokus pada kubu partai tersebut di pinggiran selatan Beirut dan di Lebanon selatan dan timur. Pada tanggal 30 September Israel mengumumkan dimulainya serangan darat “terbatas” ke Lebanon selatan, dimana pasukan Zionis kemudian terlibat pertempuran dengan Hizbullah.

Syeikh Qassem menegaskan bahwa penghentian agresi Israel tidak bergantung pada hasil pemilihan presiden AS yang mengarah pada mediasi untuk pencapaian gencatan senjata. Menurutnya, kondisi lapangan di perbatasan serta front internal Israel-lah yang akan menghentikan agresi pasukan Zionis.

 “Kami tidak akan mendasarkan harapan untuk menghentikan agresi pada gerakan politik, kami juga tidak akan memohon untuk menghentikan agresi, kami juga tidak akan mendasarkannya pada pilpres AS, terserah apakah (Kamala) Harris berhasil atau ( Donald) Trump berhasil. Kami akan mengandalkan lapangan,” ungkapnya.

Dia menekankan bahwa “batas” dari setiap negosiasi dengan Israel adalah “perlindungan atas kedaulatan Lebanon secara penuh tanpa terkurangi.” (alalam/raialyoum)

Hizbullah Gempur Tel Aviv dan Haifa dan Tunjukkan Rudal Presiden Presisi Baru

Kelompok pejuang perlawanan Islam Lebanon, Hizbullah, telah menggempur kota Tel Aviv dan Haifa di wilayah pendudukan Palestina dengan drone dan rudal kamikaze serta meluncurkan rudal presisi baru yang akan digunakan dalam perang melawan Rezim Zionis Israel.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (6/11), Hizbullah mengaku telah melancarkan serangan udara balasan “dengan satu skuadron drone penyerang di Pangkalan Belo, milik brigade penerjun payung pasukan cadangan Divisi 98 Israel di selatan Tel Aviv, untuk pertama kalinya, tepat waktu, dan mencapai targetnya secara akurat.”

Hizbullah menyebutkan bahwa operasi itu dilancarkan sebagai bagian dari rangkaian operasi Khaibar dengan slogan, “Labbaika, ya Nasrallah.”

Pembalasan tersebut, ungkapnya, dilakukan “untuk mendukung keteguhan rakyat Palestina di Jalur Gaza dan untuk mendukung perlawanan mereka yang berani dan terhormat, serta untuk membela Lebanon dan rakyatnya.”

Hizbullah telah melakukan ratusan serangan serupa sejak Oktober lalu, ketika Rezim Zionis melancarkan perang genosida di Gaza dan secara signifikan meningkatkan agresinya terhadap Lebanon.

Serangan brutal Israel sejauh ini telah merenggut nyawa sedikitnya 43.391 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, sementara eskalasi terhadap Lebanon telah menggugurkan sedikitnya 3.050 orang.

Secara terpisah, Hizbullah mengumumkan akan melancarkan serangan udara menggunakan satu skuadron pesawat nirawak serang terhadap Pangkalan Angkatan Laut Haifa yang menampung armada kapal rudal dan kapal selam di Teluk Haifa.

Seperti halnya serangan terhadap Tel Aviv, operasi terhadap Haifa dilakukan “untuk pertama kalinya dan mengenai sasarannya secara akurat,” ungkap Hizbullah.

Pejuang Hizbullah juga melancarkan “operasi kompleks” terhadap pangkalan angkatan laut Stella Maris, pangkalan strategis yang digunakan untuk pemantauan dan pengawasan angkatan laut di barat laut Haifa, dengan rentetan rudal dan satu skuadron pesawat nirawak.

Dalam pernyataan terpisah, Hizbullah melaporkan bahwa para pejuangnya telah menggempur pangkalan industri militer Zevulun di sebelah utara Haifa serta kota Safad dengan salvo roket.

Rekaman yang beredar juga menunjukkan tank canggih Merkava-4 milik Israel terbalik akibat tembakan balasan Hizbullah di Desa Maroun al-Ras di Lebanon selatan, hingga melukai awaknya.

Pada hari Rabu, Hizbullah menyatakan  Fateh-110, rudal permukaan-ke-permukaan presisi yang digunakan untuk menyerang target vital dengan akurasi 10 meter, telah memasuki daya tembaknya saat terus menanggapi agresi rezim Israel terhadap Gaza dan Lebanon.

Rudal itu dapat melesat sejauh 300 kilometer, memiliki kemampuan destruktif tinggi, dapat diluncurkan dari platform tetap ataupun bergerak, dan bekerja dengan bahan bakar padat.

Proyektil itu berdiameter 616 milimeter dengan panjang 8,8 meter, bobot  3.450 kilogram, dan berhulu ledak seberat 500 kilogram.

Hizbullah bersumpah untuk terus mempertahankan serangannya sampai Israel mengakhiri perangnya di Gaza dan agresinya terhadap Lebanon. (raialyoum/presstv)

Panglima IRGC: Hizbullah Pulih Secara Ajaib

Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mayjen Hossein Salami mengatakan bahwa Hizbullah bangkit kembali dan pulih secara ajaib meskipun telah jatuh banyak korban dan insiden yang tidak diharapkan.

“Rezim Zionis mengira bahwa dengan melenyapkan para pemimpin dan struktur komando Hizbullah di Lebanon, efektivitas kelompok perlawanan ini dapat dihentikan,” ujar Salami dalam pernyataan pada peringatan 40 hari kesyahidan mantan sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah akibat serangan Israel di Beiut selatan.

“Namun, meskipun banyak korban dan insiden yang tidak diharapkan, Hizbullah telah bangkit kembali secara ajaib dalam menghadapi pukulan yang berulang dan sengit ini,” lanjutnya.

Salami juga mengatakan, “Sekarang, Hizbullah berdiri dengan gagah berani dan percaya diri di medan perang melawan rezim Zionis, dengan keseimbangan kekuatan yang bergeser setiap hari pada posisi yang menguntung gerakan perlawanan.” (presstv)