Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 7 Juli 2021

ayatullah ali khamenei dan mohamed bin salmanJakarta, ICMES. Pemerintah Iran menyatakan bahwa perundingannya dengan pemerintah Arab Saudi “menghasilkan beberapa kemajuan” dan akan terus berlanjut sampai titik-titik perselisihan dapat ditekan seminimal mungkin.

Serangan terhadap kepentingan-kepentingan AS di Irak masih menjadi berita harian di Negeri 1001 Malam ini, sementara Kepala Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan telah mengadakan kunjungan rahasia ke Baghdad sehari sebelum pangkalan-pangkalan AS mendapat serangan.

Badan Informasi Keamanan Irak dalam sebuah statemennya melaporkan tertangkapnya seorang teroris yang terlibat dalam peristiwa pembantaian massal ISIS terhadap banyak anggota pasukan keamanan dan warga sipil Irak di Provinsi Anbar.

Gagasan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah untuk penyelesaian krisis bahan bakar di negaranya membangkitkan kegelisahan Rezim Zionis Israel.

Berita Selengkapnya:

Teheran Umumkan Adanya Kemajuan dalam Perundingan Iran-Arab Saudi

Pemerintah Iran menyatakan bahwa perundingannya dengan pemerintah Arab Saudi “menghasilkan beberapa kemajuan” dan akan terus berlanjut sampai titik-titik perselisihan dapat ditekan seminimal mungkin.

Juru bicara pemerintah Iran Ali Rabiei, Selasa (6/7), mengatakan, “Perundingan yang dilakukan dengan pihak Saudi sejauh ini telah membahas berbagai isu antara kedua negara dengan iktikad baik, dan telah menghasilkan beberapa kemajuan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, “Perundingan ini akan terus berlanjut sampai titik-titik perselisihan menyempit meniminal mungkin.”

Dia menjelaskan, “Dialog dengan Saudi bertolak dari keyakinan mendalam Iran pada pengutamaan negara-negara tetangga dan urgensi kerukunan hidup demi mewujudkan keamanan dan perdamaian di kawasan. Teheran berkeyakinan bahwa dialog internal umat Islam adalah satu-satunya jalan yang relevan untuk penyelesaian aneka problema dan perselisihan.”

Mengenai kendala perundingan itu dia mengatakan, “Kami menyadari adanya kesulitan-kesulitan yang mengitari beberapa hal yang diperselisihkan, sesuatu yang memerlukan waktu yang cukup untuk penyelesaiannya.” (irna)

Kepala Intelijen Iran ke Baghdad, Pangkalan Militer AS di Arbil Diserang

Serangan terhadap kepentingan-kepentingan AS di Irak masih menjadi berita harian di Negeri 1001 Malam ini, sementara Kepala Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan telah mengadakan kunjungan rahasia ke Baghdad sehari sebelum pangkalan-pangkalan AS mendapat serangan.

Berbagai sumber melaporkan bahwa pangkalan militer AS di Bandara Arbil di wilayah Kurdistan Irak mendapat serangan roket dan pesawat nirawak (drone), Selasa (6/7).

Saluran berita Al-Arabiya melaporkan bahwa Bandara Arbil ditutup, semua lampunya dipadamkan dan semua pesawat dikosongkan dari penumpang.

Sabereen News di aplikasi Telegram menyebutkan sedikitnya 20 roket telah ditembakkan ke pangkalan militer AS di Arbil, dan pesawat nirawak juga telah digunakan dalam serangan ini.

Saluran berita Al-Jazeera mengutip media Irak bahwa Konsulat AS di Arbil membunyikan sirine, sementara badan kontra-terorisme Kurdistan Irak mengkonfirmasi laporan adanya serangan roket ke Bandara Arbil.

Beberapa media Irak memberitakan bahwa serangan itu menggunakan 20 roket dan tiga pesawat nirawak hingga menyebabkan semua jalur menuju Bandara Arbil ditutup.

Kementerian Pertahanan AS mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa pihaknya mengetahui laporan-laporan adanya serangan roket ke bandara tersebut.

Di hari yang sama, sumber Irak menyatakan bahwa kepala intelijen IRGC Hussain Taeb mendatangi Baghdad, ibu kota Irak, secara diam-diam dan tanpa pemberitahuan sebelumnya beberapa jam sebelum serangan tersebut.

“Taeb tiba di Baghdad beberapa jam lalu dan menemui para pejabat Irak serta para petinggi (pasukan relawan) Al-Hashd Al-Shaabi dan faksi-faksi bersenjata,” ungkap sumber itu kepada RT.

Dia menambahkan, “Kepala Intelijen IRGC telah membahas masalah keberadaan pasukan AS dan serangan yang menimpa pangkalan-pangkalan militer dan perdelegasian AS. Dia akan menemui kepala pemerintahan Irak Mustafa Al-Kadhimi pada sore hari.” (fna/raialyoum)

Pasukan Irak Ringkus Pentolan ISIS Penanggungjawab Pembantaian Massal

Badan Informasi Keamanan Irak dalam sebuah statemennya, Selasa (6/7) melaporkan tertangkapnya seorang teroris yang terlibat dalam peristiwa pembantaian massal ISIS terhadap banyak anggota pasukan keamanan dan warga sipil Irak di Provinsi Anbar.

“Berdasar data-data rinci badan informasi komando Operasi Al-Jazira, kami mengetahui keberadaan seorang teroris berbahaya anggota DAESH (ISIS) di desa Al-Ish, distrik Al-Ramanah, Provinsi Anbar, yang bertanggungjawab atas eksekusi terhadap banyak personil badan-badan keamanan dan warga Irak sebelum dimulainya operasi pembebasan Irak dari cengkraman DAESH,” bunyi statemen tersebut.

Disebutkan bahwa personil intelijen militer komando Operasi Al-Jazira dengan partisipasi pasukan kontra-terorisme Al-Anbar berhasil menangkap teroris itu dan menemukan keberadaan sepucuk senapan AK dan sepucuk senjata revolver darinya.

Badan Informasi Keamanan Irak juga menyebutkan bahwa sesuai instruksi penangkapan dan undang-undang kontra-terorisme Iran, teroris itu sudah sekian lama dikenai jerat hukum dan dipasrahkan kepada lembaga-lembaga terkait. (fna)

Yedioth Ahronoth: Israel Gelisah Iran Kirim Minyak ke Libanon

Gagasan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah untuk penyelesaian krisis bahan bakar di negaranya membangkitkan kegelisahan Rezim Zionis Israel.

Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth (YA), Selasa (6/7), menyebutkan bahwa usulan Sayid Nasrallah yang menuntut pendatangan kapal-kapal tanker minyak Iran untuk menyembuhkan Libanon dari krisis bahan bakar berarti “kekuasaan Iran atas Libanon”.

Website YA dalam sebuah laporan panjangnya mengklaim bahwa krisis di Libanon berarti tercapainya tujuan-tujuan Sekjen Hizbullah berupa jatuhnya Libanon ke dalam cengkraman Iran.

Menurut YA, usulan itu sudah pasti menimbulkan keresahan Israel sehingga Menteri Pertahanan Benny Gantz menyatakan Isael siap memberikan segala bentuk bantuan kepada Libanon, terlebih setelah pemerintah Iran beberapa kali menekankan bahwa Teheran serius menunggu dan siap mengekspor minyak ke Libanon jika menerima permintaan dari Beirut.

Sayid Nasrallah juga berulangkali menyebutkan bahwa minyak Iran adalah solusi bagi krisis bahan bakar yang sedang melanda Libanon.

Akhir-akhir bulan lalu Kedubes Iran untuk Libanon di Twitter memosting pernyataan bahwa kedatangan kapal-kapal tangker minyak Iran ke Libanon tak memerlukan “hal-hal sepele” dari Dubes AS untuk Libanon, Dorothy Shea.

Cuitan itu merupakan tanggapan atas pernyataan Dorothy Shea bahwa pengiriman minyak Iran ke Libanon menandakan bahwa Libanon mengekor pada Iran.

Situs El-Nashra yang berbasis di Libanon menilai bahwa tanggapan Kedubes Iran itu tak berarti bahwa kapal-kapal tanker minyak Iran memang sudah tiba di Libanon. Beberapa sumber juga menepis kedatangan minyak Iran dan menyatakan bahwa cuitan Kedubes Iran itu masih sebatas reaksi diplomatik atas pernyataan Dubes AS. (raialyoum)