Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 7 April  2021

ziyad al-nakhalah palestina dan jenderal qasem soleimaniJakarta, ICMES.  Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina Ziyad al-Nakhalah menyebut Yaman sebagai negara kembaran Palestina dalam perjuangan dan resistensi.

Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Brigjen Esmail Qaani mengakhiri kunjungan dua harinya ke Irak, Selasa (6/4), menjelang putaran ketiga “dialog strategis” antara Irak dan AS.

Wakil komandan Pasukan Quds IRGC Brigjen Mohammad Hejazi menyatakan bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) mau tidak mau akan segera ditarik dari Irak setelah gagal menjalankan misinya.

Sebuah kapal kargo Iran dikabarkan mendapat serangan di Laut Merah, di tengah berlanjutnya ketegangan Iran-Israel terkait serangkaian insiden yang diduga sebagai sebagai aksi saling serang kapal dagang antara keduanya.

Berita Selengkapnya:

Pemimpin Jihad Islam Palestina: Yaman Kembaran Palestina dalam Resistensi

Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina Ziyad al-Nakhalah menyebut Yaman sebagai negara kembaran Palestina dalam perjuangan dan resistensi.

“Yaman akan menjadi kembaran Palaestina dalam resistensi dan ketahanan, dan kami selalu merasakan dukungannya kepada resistensi Palestina. Ada solidaritas, komunikasi, dan pendirian yang jelas dari bangsa Yaman kepada bangsa Palestina, yang dilakukan oleh bangsa lain, dan ini menjadi kebanggaan bagi kami,” ujar Al-Nakhalah, seperti dikutip laman berita Al-Alam, Selasa (6/4).

Dia juga mengatakan, “Bangsa Palestina terbiarkan sendirian di bawah blokade, sementara bangsa Yaman diserang agresor dengan dalih palsu. Semula kami berharap ‘Badai Mematikan’ (sandi operasi militer Saudi dan sekutunya di Yaman – red.) dilancarkan terhadap rezim pendudukan Israel, bukan terhadap bangsa Yaman… AS di belakang serangan terhadap kawasan Arab untuk memecah belahnya, dan dilakukan demi kepentingan proyek Zionis. Energi yang terkuras di Yaman dan bahkan kerugian yang menimpa Saudi, semuanya demi kepentingan musuh, Israel.”

Seperti diketahui, Yaman dilanda perang lebih dari enam tahun silam antara kubu gerakan Ansarullah (Houthi) dan kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi.  Ansarullah yang didukung tentara Yaman menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, sejak 2014, selain beberapa provinsi lain.

Sejak Maret 2015 pasukan koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi dan didukung AS, Israel dan negara-negara Barat melancarkan intervensi militer ke Yaman untuk membela kubu Mansour Hadi dengan asumsi bahwa Ansarullah dapat segera dikalahkan.

Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman yang merasa negaranya kaya senjata dan peralatan perang serta didukung Barat dan Israel menjelang invasi itu sempat bersumbar bahwa pihaknya akan dapat menumpas Ansarullah dalam tempo beberapa hari atau paling lambat beberapa minggu.

Nyatanya, Ansarullah dan tentara Yaman yang mendapat dukungan mental, asistensi, dan politik dari Iran semakin tangguh serta gencar melesatkan rudal balistik dan drone ke wilayah Saudi sebagai balasan atas blokade dan serangan udara Saudi dan sekutunya.

Sedangkan Palestina yang juga didukung penuh oleh Iran sudah sekian dekade dijajah oleh kaum Zionis Israel yang didukung AS dan negara-negara besar Eropa. Kaum Zionis hanya menyisakan sebagian kecil tanah Palestina untuk penduduk pribuminya, itupun dengan status otonomi.

Jihad Palestina adalah salah satu faksi besar pejuang Palestina yang bermarkas di Jalur Gaza, kawasan yang sudah belasan tahun diblokade secara ketat oleh Israel, namun tetap sanggup bertahan dan terus menjalankan perjuangan dan resistensinya terhadap pendudukan kaum Zionis. (alalam)

Komandan Pasukan Quds Iran Berkunjung ke Baghdad Jelang Dialog Irak-AS, Ada Apa?

Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Brigjen Esmail Qaani mengakhiri kunjungan dua harinya ke Irak, Selasa (6/4), menjelang putaran ketiga “dialog strategis” antara Irak dan AS.

Dalam kunjungan ketiga Qaani ke Irak sejak dia menjadi penerus jenderal legendari Iran Qasem Soelimani itu telah mengadakan pertemuan dengan para tokoh berbagai partai dan kelompok pejuang resistensi Irak sehingga ada kesan bahwa kunjungan ini berkaitan dengan dialog Irak-AS tersebut.

Qaani diduga kuat mengemban misi yang diisyaratkan oleh Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya pada 11 Maret, yaitu bahwa “AS harus menarik pasukannya dari Irak”.

Kedubes AS untuk Irak menyatakan bahwa pertemuan virtual antara pejabat AS dan pejabat Irak akan diadakan dalam bingkai kesepakatan strategis yang diteken pada tahun 2018.

Tak ada pengumuman resmi mengenai agenda dialog itu, sementara dua dialog sebelumnya di masa kepresiden Donald Trump di AS juga diadakan secara tertutup.

Namun beberapa sumber Irak mengatakan kepada Rai al-Youm bahwa tema yang akan dibicarakan antara lain mengenai jadwal penarikan pasukan AS dari Irak, yang jumlahnya diperkirakan kurang lebih 2500 orang setelah sebanyak 2700 personil ditarik dari Irak selama satu tahun terakhir kepresidenan Donald Trump.

Sumber-sumber itu menambahkan bahwa pemerintah Irak telah membentuk komisi khusus untuk jadwal penarikan pasukan AS.  Komisi ini dipimpin oleh menteri luar negeri dan dianggotai oleh penasehat keamanan nasional, kepala staf angkatan bersenjata, dan kepala kantor perdana menteri.

Penarikan pasukan AS dari Irak menjadi tuntutan utama banyak kekuatan politik di Irak sesuai keputusan parlemen negara ini pada 5 Januari 2020, yang menugaskan pemerintah Baghdad untuk mengeluarkan pasukan AS di Irak, menyusul serangan udara AS yang menewaskan jenderal legendaris Iran Qasem Soleimani dan tokoh pejuang Irak Abu Mahdi al-Muhandis pada 3 Januari 2020. (alalam/raialyoum)

Jenderal IRGC: Misi AS di Irak Gagal, Pasukannya akan Segera Terusir dari Kawasan

Wakil komandan Pasukan Quds IRGC Brigjen Mohammad Hejazi menyatakan bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) mau tidak mau akan segera ditarik dari Irak setelah gagal menjalankan misinya.

Dalam sebah pernyataannya, Selasa (6/4), Hejazi mula-mula berbicara mengenai Rezim Zionis Israel yang disebutnya telah beberapa kali melancarkan serangan secara serampangan ke Suriah sehingga menyasar berbagai “kawasan kosong” semata demi propaganda.

“Para Zionis beberapa kali menyasar kawasan-kawasan kosong di Suriah, dan berusaha mengadakan operasi mental dan membuat kehebohan media. Melalui berita-berita palsu dan dikarang mereka menebar rumor untuk membesar-besarkan aksinya dengan mengumumkan bahwa mereka telah membunuh puluhan anasir resistensi sebagai upaya mengatur keadaan dan melancarkan tekanan,” ungkap Hejazi.

Dia menambahkan, “Tapi bangsa Iran, dengan pertolongan Allah, telah menjadi duri di mata para Zionis dan melanjutkan peranannya dengan penuh daya dan kekuatan. Poros Resistensi di Suriah dan Libanon terus berkembang dan menjalankan semua tugasnya dengan lebih baik dari sebelumnya.”

Mengenai AS, Hejazi mengatakan bahwa negara ini sia-sia berupaya mempertahankan keberadaannya pasukan di Irak.

“Musuh-musuh Israel, terutama AS dan para arogan dunia semula ingin membungkam suara di Irak dan menghancurkan resistensi rakyat negara ini untuk mempertahankan keberadaannya di sana, tapi mereka gagal,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Presiden AS dalam beberapa hari terakhir ini juga menyatakan negaranya sekarang bekerja untuk mengurangi pasukannya di kawasan Timur Tengah. Demi menjaga pamornya dan untuk mengecilkan pentingnya tindakan dan langkah-langkah yang diambil oleh berbagai bangsa di kawasan ini dia mengatakan bahwa negaranya menarik baterai Patriot dari Saudi.”

Hejazi juga menegaskan, “Ini merupakan awal dan dimulainya pengusiran mereka dari kawasan. Inilah kehendak mutlak bangsa-bangsa itu setelah terjadi pembunuhan keji yang dilakukan oleh pemerintah AS dan  menggugurkan pemimpin kubu kemenangan, mantan komandan Pasukan Quds Jenderal Qasem Soleimani, dan Mantan Wakil Ketua (pasukan relawan Irak) al-Hashd al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, serta beberapa rekan mulia keduanya. Dalam waktu dekat ini kita akan melihat keterusiran orang-orang AS dari kawasan.”

Di hari yang sama, Komandan Pasukan Quds IRGC Brigjen Esmail Qaani mengakhiri kunjungan dua harinya ke Irak, Selasa (6/4), menjelang putaran ketiga “dialog strategis” antara Irak dan AS yang disebut-sebut akan membicarakan jadwal penarikan pasukan AS dari Irak. (alalam)

Kapal Kargo Iran Terkena Serangan di Laut Merah

Sebuah kapal kargo Iran dikabarkan mendapat serangan di Laut Merah, di tengah berlanjutnya ketegangan Iran-Israel terkait serangkaian insiden yang diduga sebagai sebagai aksi saling serang kapal dagang antara keduanya.

Saluran berita televisi Al-Arabiya milik Arab Saudi, Selasa (6/4), melaporkan bahwa kapal itu mengalami beberapa kerusakan akibat serangan yang terjadi di dekat pantai Eritrea.

Lembaga pemberitaan Tasnim milik Iran juga memberitakan insiden itu dengan menyebutkan bahwa serangan terhadap kapal bernama Saviz itu dilakukan dengan cara menempelkan ranjau laut ke bodi kapal.

Menurut Tasnim, Saviz adalah salah satu kapal ditempatkan di Laut Merah untuk memantau kapal-kapal dagang Iran.

Hingga berita disusun, belum ada keterangan lebih rinci maupun pernyataan resmi mengenai kejadian tersebut.

Belakangan ini terjadi aksi saling tuding menyerang kapal kargo antara Iran dan Israel. (alalam)