Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 6 November 2019

rouhani dan proyek nuklir iranJakarta, ICMES. Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan negaranya akan memulai injeksi gas uranium ke sentrifugal di fasilitas pengayaan Fordow, langkah terbaru Teheran  mengurangi komitmennya kepada perjanjian nuklir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumbar lagi bahwa negaranya bertekad mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan memperkaya uranium.

Pemerintah Kuwait mengaku telah menyampaikan pesan Iran kepada Arab Saudi dan Bahrain tentang situasi di Teluk Persia, dan belum ada jawaban.

Pasukan Arab Suriah (SAA) dilaporkan telah memasuki ladang minyak di provinsi Hassakah di bagian timur laut negara ini untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Berita selengkapnya:

Rouhani Umumkan Fase Keempat Pemangkasan Komitmen Nuklir Iran

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan negaranya akan memulai injeksi gas uranium ke sentrifugal di fasilitas pengayaan Fordow.

Tindakan ini merupakan langkah terbaru Teheran  mengurangi komitmennya kepada perjanjian Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) sebagai reaksi atas keluarnya Amerika Serikat (AS) dari perjanjian nuklir multinasional yang diteken pada tahun 2015 ini.

Dalam pidato yang disiarkan langsung di TV, Selasa (5/11/2019), Rouhani mengatakan Badan Tenaga Atom Iran (AEOI) akan diperintahkan untuk memulai proses injeksi gas di fasilitas nuklir Fordow  – tempat sebanyak 1.044 sentrifugal terpasang – di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Rabu (6/11/2019).

Betapapun demikian, Rouhani menegaskan lagi bahwa semua tindakan yang telah dilakukan Iran sejauh ini dalam mengurangi komitmennya tetap dapat dibalikkan asalkan pihak-pihak lain yang tersisa dalam JCPOA menyudahi tawar-menawar mereka.

Di bawah JCPOA, Iran setuju untuk menggunakan kembali Fordow Fuel Enrichment Plant sebagai pusat produksi isotop stabil, yang memiliki aplikasi penting dalam industri, pertanian dan kedokteran.

Kesepakatan itu memungkinkan sentrifugal IR-1 generasi pertama di Fordow berputar tanpa gas uranium, sementara lebih dari 5.000 di fasilitas Natanz Iran dapat memperkaya uranium.

Terkait dengan negara-negara Barat yang menegosiasikan perjanjian dengan Teheran, Rouhani mengatakan, “Kami tahu sensitivitas mereka (Barat) berkaitan dengan Fordow … (dan) sentrifugal ini, tapi pada saat yang sama ketika mereka menjunjung tinggi komitmen mereka maka kamipun akan memotong gas lagi … Jadi ada kemungkinan untuk membalikkan langkah ini.”

Presiden Rouhani lebih lanjut menyatakan kesiapan Iran untuk memulai kembali perundingan nuklir dengan negara-negara anggota kelompok P5 +1 (AS, Prancis, Inggris, Rusia, China plus Jerman)  jika Washington kembali kepada JCPOA dan menghapus semua sanksi “keliru, kejam, dan ilegal” yang kembali ia terapkan terhadap Iran setelah keluar dari JCPOA pada tahun lalu.

Senin lalu Iran secara resmi mulai menyuntikkan gas ke sentrifugal IR-6 canggih di Fasilitas Nuklir Natanz Nuclear di mana sebanyak 60 mesin IR-6 centrifuge dijalankan. (presstv)

PM Israel Bersumbar Tak akan Biarkan Iran Kembangkan Senjata Nuklir

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumbar lagi bahwa negaranya bertekad mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan memperkaya uranium.

Tekad ini dia nyatakan pada hari Selasa (5/11/2019) sembari menuding Iran “memperluas agresi di mana-mana dan berusaha mengepung, mengancam, dan menghancurkan Israel.”

Dia bersumbar, “Mengingat upaya Iran memperluas program pengembangan senjata nuklir dan memperluas pengayaan uranium, yang ditujukan untuk membuat bom nuklir, saya katakan dan ulangi di sini bahwa kami tidak akan pernah membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir.”

Dia menambahkan, “Ini tidak hanya untuk menjamin keamanan kita dan masa depan kita, melaikan juga untuk menjamin masa depan Timur Tengah dan seluruh dunia.”

Sebelumnya di hari yang sama Wakil Presiden Iran dan kepala Badan Tenaga Atom Iran, Ali Akbar Salehi, mengumumkan bahwa Teheran akan mulai memperkaya uranium ke tingkat 5% sejak Rabu (6/11/2019) di fasilitas Fordow di mana pengayaan itu ditangguhkan di bawah perjanjian nuklirnya dengan negara-negara anggota kelompok P5 +1 (AS, Prancis, Inggris, Rusia, China, plus Jerman)  .

Selain itu Presiden Iran Hassan Rouhani mengkonfirmasi bahwa negaranya akan mulai menerapkan fase keempat pengurangan komitmennya kepada perjanjian nuklir sebagai reaksi atas keluarnya AS dari perjanjian yang dinamai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tersebut. (raialyoum)

Kuwait Mengaku Sampaikan Pesan Iran Kepada Saudi dan Bahrain

Pemerintah Kuwait mengaku telah menyampaikan pesan Iran kepada Arab Saudi dan Bahrain tentang situasi di Teluk Persia, dan belum ada jawaban.

“Kuwait telah menyampaikan pesan-pesan ini kepada negara-negara saudaranya ini…  dan sampai sekarang belum mengkristal jawaban apapun terkait masalah ini,” ungkap Wakil Menteri Luar Negeri Kuwait Khaled al-Jarallah, Selasa (5/11/2019), seperti dikutip kantor berita Kuwait, KUNA.

Dia juga menyebutkan bahwa Kuwait telah memberi tahu Dewan Kerjasama Teluk (GCC) dan Sekretariat GCC tentang pencalonan Menteri Keuangan Nayef Al-Hajraf untuk jabatan Sekretaris Jenderal GCC.

“Kami berharap KTT Teluk berikutnya akan mengambil keputusan untuk menyetujui penunjukan Dr. Nayef Al-Hajraf sebagai sekretaris jenderal dewan ini,” imbuhnya.

Kementerian Luar Negeri Iran Sabtu lalu mengumumkan bahwa teks lengkap proposal inisiatif perdamaian Selat Hormuz yang diluncurkan oleh Presiden Hassan Rouhani akan dikirim kepada para pemimpin GCC dan Irak.

“Inisiatif Perdamaian Hormuz” telah diajukan oleh Presiden Iran Hassan Rouhani dalam sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, beberapa waktu lalu.

Saat itu Rouhani menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan “mempromosikan perdamaian, kemajuan dan kemakmuran bagi semua orang yang memanfaatkan Selat Hormuz, membangun hubungan persahabatan, dan melakukan tindakan kolektif untuk mengamankan pasokan energi dan kebebasan pelayaran.”

Situasi di kawasan Teluk Persia belakangan ini tegang setelah AS dan sekutunya, terutama Arab Saudi, menuduh Iran menyerang kapal dan fasilitas minyak Teluk serta mengancam keamananan pelayaran.  Iran yang menepis keras tudingan itu lantas menawarkan penandatangan perjanjian non-agresi dengan negara-negara Teluk.

Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa pembentukan aliansi militer yang diklaim untuk menjamin keamanan Selat Hormuz justru akan “membuat kawasan itu tidak aman”. Teheran menekankan bahwa penyelesaian ketegangan memerlukan dialog, bukan aliansi militer. (raialyoum)

Pertama Kalinya Sejak Beberapa Tahun Lalu, Tentara Suriah Masuki Ladang Minyak Rumailan

Pasukan Arab Suriah (SAA) dilaporkan telah memasuki ladang minyak di provinsi Hassakah di bagian timur laut negara ini untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini terjadi bersamaan dengan berlanjutnya pengerahan personil mereka di daerah-daerah di dekat perbatasan Suriah-Turki guna menghadapi serangan lintas-perbatasan tentara Turki dan kelompok-kelompok militan sekutunya terhadap milisi Kurdi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).

Beberapa media, Selasa (5/11/2019), melaporkan bahwa SAA mendatangi ladang minyak Rumailan yang terletak di dekat desa Mulla Abbas ketika Damaskus sangat membutuhkan cadangan minyak utama untuk memperoleh pendapatan dan memenuhi kebutuhan energinya di tengah ketatnya sanksi Barat.

Di pihak lain, AS membekukan keputusan menarik semua pasukannya dari timur laut Suriah. Pekan lalu AS mengumumkan pengerahan sekira 500 tentaranya ke ladang minyak yang dikendalikan oleh pasukan Kurdi.

Kepala Pentagon Mark Esper berdalih bahwa pengerahan pasukan itu bertujuan mengamankan sumber daya minyak dari potensi serangan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS).

Dia juga menegaskan pihaknya akan menggunakan kekuatan “luar biasa” terhadap aktor lain yang menantang AS, termasuk pemerintah Suriah sendiri.

Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengisyaratkan negaranya akan mencari kepentingan ekonomi dengan mengendalikan ladang minyak.

Suriah sejauh ini  Suriah baru memanfaatkan minyak hanya sebanyak 10 persen dari kapasitasnya sebelum perang.

Bersama Iran dan Turki, Suriah telah mengecam penggunaan minyak Suriah secara ilegal oleh Washington. (presstv)