Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 6 Januari 2021

iran vs israelJakarta, ICMES. Iran memberikan tanggapan sengit terhadap ancaman keras Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait perkembangan terbaru dalam proyek nuklir Iran.

Iran memulai latihan yang mengerahkan ratusan unit drone buatan dalam negeri.

Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, menyatakan bahwa negara Republik Islam ini mampu memperkaya uranium hingga 40-60 persen.

Kementerian Luar Negeri Rusia berkomentar bahwa pengayaan uranium 20% oleh Iran bukanlah pelanggaran Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).

Berita Selengkapnya:

Tak Kalah Garang, Teheran: “Mengaku Bertanggungjawab atau Tidak”, Israel akan Diganyang oleh Iran

Iran memberikan tanggapan sengit terhadap ancaman keras Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait perkembangan terbaru dalam proyek nuklir Iran.

Seperti diketahui, Senin lalu Iran mulai melakukan pengayaan uranium 20%, dan ini menjadi tindakan  terbaru Iran dalam mengabaikan perjanjian nuklir JCPOA sebagai reaksi atas pelanggaran kewajiban oleh berbagai pihak lain, terutama Amerika Serikat (AS).

Menanggapi hal ini, Netanyahu menyatakan, “Langkah (Iran) ini bertujuan mengembangkan senjata nuklir, dan Israel sama sekali tidak akan membiarkan Teheran berbuat demikian.”

Dia juga menegaskan bahwa Iran sama sekali tak akan berkesempatan untuk memiliki senjata nuklir.

Dikutip dari lembaga pemberitaan Nour News yang dekat dengan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Selasa (5/1), seorang petinggi keamanan Iran balik melontarkan ancaman yang tak kalah garangnya.

“Rezim ini (Israel) harus tahu bahwa segala bentuk agresi terhadap kepentingan dan keamanan Iran dari sisi manapun, baik mereka menyatakan bertanggungjawab ataupun membantah, akan berhadapan dengan reaksi tegas dan mematikan dari Iran,” tegas pejabat yang tak disebutkan namanya itu.

Dia juga memperingatkan, “Pernyataan terbaru perdana menteri Israel saat mengomentari peningkatan pengayaan uranium secara legal oleh Iran hingga 20 persen adalah pengakuan yang relatif jelas atas peran Rezim Zionis dalam kejahatan terorisme yang menimpa Iran dalam beberapa bulan terakhir,”

Pejabat anonim Iran itu menambahkan, “Dalam kondisi demikian, Rezim Zionis hendaknya menunggu sampai memperoleh semua akibat dari serangan-serangan yang menimpa Iran sebelumnya di mana para pemimpin Israel memikul tanggungjawab sepenuhnya.”

Berbagai media Iran lain juga mengutip dan melaporkan pernyataan tersebut secara meluas. (raialyoum)

Iran Gelar Latihan Drone Tempur, Ratusan Unit Dikerahkan

Iran memulai latihan yang mengerahkan ratusan unit drone buatan dalam negeri, Selasa 5 Januari 2021.

Latihan itu digelar manakala Iran masih dalam suasana peringatan satu tahun terbunuhnya jenderal legendaris negara ini, Qassem Soleimani, oleh serangan udara Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak, pada 3 Januari 2020.

Di tengah kekhawatiran akan adanya balasan terhadap AS, angkatan bersenjata Iran bermaksud menguji berbagai jenis drone tempur pembom, pencegat, dan pengintai dalam latihan dua hari di provinsi Semnan tengah.

Pesawat-pesawat nirawak Iran itu dapat menjatuhkan amunisi serta melakukan penerbangan “kamikaze” ketika diisi bahan peledak dan dilesatkan ke sasaran.

Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Mohammad Hossein Dadras, mengatakan Iran telah berhasil memproduksi berbagai pesawat nirawak meskipun dikenai sanksi AS.

“Angkatan Bersenjata akan membuktikan bahwa mereka siap menanggapi segala ancaman,” katanya.

Petinggi militer Iran lainnya, Laksana Mahmoud Mousavi, mengatakan kepada wartawan, “Republik Islam sekarang sudah menjadi salah satu negara termaju di dunia di bidang drone.”

Dia juga menyebutkan bahwa latihan itu melibatkan ratusan unit drone milik angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara Iran.

Iran dan pasukan regional sekutunya semakin mengandalkan drone di Yaman, Suriah, Irak, dan Selat Hormuz di mulut Teluk Persia dalam beberapa tahun terakhir.

Iran telah mengembangkan industri senjata dalam negeri berskala besar dalam upaya mematahkan sanksi internasional dan embargo yang mencegahnya mengimpor banyak senjata. (fna/rta)

Iran Mengaku Sanggup Perkaya Uranium hingga 60%

Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, menyatakan bahwa negara Republik Islam ini mampu memperkaya uranium hingga 40-60 persen.

Dalam sebuah pernyataan, Selasa (5/1), Kamalvandi menyebutkan bahwa saat ini sentrifugal IR1 digunakan untuk menghasilkan 20% uranium yang diperkaya, dan bahwa Iran juga berkemampuan menggunakan sentrifugal IR4, IR2M, dan IR6.

Menurutnya, Iran memiliki 4 ton uranium yang diperkaya 3,5 hingga 4 persen, dan AEOI dijadwalkan dapat memproduksi hingga 10 ton uranium dalam satu tahun.

Sehari sebelumnya, Kamalvandi menyatakan bahwa Republik Islam telah menghasilkan 20% uranium yang diperkaya di Fasilitas Nuklir Fordow dalam 12 jam.

Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Majid Takht-Ravanchi, menyatakan bahwa langkah-langkah nuklir itu bisa dibatalkan setelah semua pihak terkait mengimplementasikan secara penuh komitmen mereka kepada JCPOA, perjanjian nuklir Iran dengan sejumlah negara terkemuka dunia.

“Di Teheran sekarang dan kembali di NY pertengahan Januari: Pemerintah berfokus pada kemampuan domestik untuk menetralkan sanksi ilegal AS,” tulis Takht-Ravanchi di halaman Twitternya, Selasa.

Dia melanjutkan, “Sementara Iran telah melanjutkan pengayaan 20%, kami telah menegaskan kembali bahwa semua langkah nuklirnya akan dibatalkan setelah implementasi penuh komitmen JCPOA oleh semua.” (mn)

Salahkan AS, Rusia Sebut Pengayaan Uranium 20% oleh Iran Tak Melanggar NPT

Kementerian Luar Negeri Rusia berkomentar bahwa pengayaan uranium 20% oleh Iran bukanlah pelanggaran Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).

Tindakan Teheran itu dinilai Rusia memang menyimpang dari ketentuan pernjanjian nuklir Iran, JCPOA, tapi pelanggaran kewajiban ini tidak dipertimbangkan di bawah Perjanjian Non-proliferasi (NPT).

“Semua uranium yang diperkaya hingga 20% tetap di bawah kendali IAEA. Badan tersebut tidak mendaftarkan aplikasinya dalam kegiatan yang tidak diumumkan, yang akan melanggar NPT,” ungkap kementerian itu, Selasa.

Merujuk pada penerapan sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada 2018, Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan bahwa penyimpangan Iran dari JCPOA dipicu oleh pelanggaran Washington terhadap kewajiban internasional, dan Moskow telah mengutuk AS tindakan tersebut sebagai pelanggaran langsung terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengukuhkan JCPOA.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan bahwa untuk memulihkan JCPOA, Washington harus menghentikan pelanggarannya terhadap kesepakatan internasional, dan pada gilirannya, Teheran juga harus menempuh langkah timbal balik yang signifikan begitu Washington mulai kembali ke kesepakatan nuklir.

Zakharova menambahkan bahwa bagaimana juga Iran sekarang menjadi lebih sulit dari sebelumnya untuk mematuhi JCPOA, antara lain karena Teheran akan membutuhkan upaya tambahan dan menanggung biaya tambahan untuk membuat kompleks pengayaan Fordow sesuai dengan kesepakatan nuklir lagi.

Seperti diketahui, Senin lalu Iran telah memulai proses produksi uranium dengan pengayaan 20% di fasilitas Fordow. (mn)