Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 6 April 2022

Jakarta, ICMES. Sinagog Yahudi Tzedek Chicago di kota Chicago, Amerika Serikat (AS), mengumumkan bahwa para anggotanya memberikan suara mendukung resolusi yang menetapkan komunitas sinagog ini sebagai kelompok “anti-Zionisme” dan bersimpati kepada bangsa Palestina.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh melontarkan ancaman berbau rudal terhadap Rezim Zionis Israel.

Surat kabar Hurriyet terbitan Turki, Senin (4/4), melaporkan  bahwa otoritas Turki sedang mendiskusikan kemungkinan dimulainya dialog negara ini dengan pemerintah Suriah, hal yang pada gilirannya dapat menjurus pada pemulihan hubungan antara kedua negara.

Menteri Kerjasama Regional Israel, Issawi Frej, menyatakan bahwa negaranya menjalin hubungan rahasia dengan banyak negara Arab namun Israel lebih mengutamakan untuk tetap merahasiakan hubungan ini.

Berita Selengkapnya:

Gempar, Sinagog Chicago Nyatakan Anti Zionis dan Dukung Palestina

Sinagog Yahudi Tzedek Chicago di kota Chicago, Amerika Serikat (AS), mengumumkan bahwa para anggotanya memberikan suara mendukung resolusi yang menetapkan komunitas sinagog ini sebagai kelompok “anti-Zionisme” dan bersimpati kepada bangsa Palestina.

Sinagog yang memiliki lebih dari 3.000 pengikut ini merilis pernyataan yang mengutuk pendirian Israel, menyebutnya sebagai “kezaliman terhadap rakyat Palestina”, dan menegaskan bahwa Zionisme bergantung pada penjagaan mayoritas demografis Yahudi di tanah pendudukan Palestina.

“Sejak didirikan, Israel berusaha mempertahankan mayoritas ini dengan secara sistematis mengusir warga Palestina dari rumah mereka melalui berbagai cara, termasuk pengusiran secara militer, penghancuran rumah, perampasan tanah, dan pencabutan hak tinggal,” bunyi pernyataan Sinagog Tzedek Chicago, seperti dikutip Rai Al-Youm, Selasa (5/4).

Sinagog ini menekankan bahwa semakin sulit untuk menyangkal kezaliman mendasar dalam substansi Zionisme.

“Mengingat realitas kezaliman historis dan berkelanjutan ini, kami berkesimpulan bahwa tidaklah cukup menyebut diri kami sebagai non-Zionis, sebab istilah yang netral ini gagal menghargai hipotesis sentral anti-rasisme yang intinya ialah bahwa penindasan tak bisa bisa diabaikan begitu saja, sebaliknya hal ini harus berubah,” ungkap Sinagog Tzedek Chicago.  

Menolak kaitan antara anti-Zionisme dan anti-Semitisme, pernyataan itu menyebutkan, “Adalah suatu penyesatan anggapan bahwa kontra-Zionisme pada dasarnya merupakan anti-Semitisme. Sebab, Yahudi yang merupakan sebuah kelompok keagamaan berusia sekian abad tidaklah identik dengan Zionisme yang merupakan ideologi kebangsaan modern, bukan eksklusif Yahudi.” (raialyoum)

Berbau Rudal Balistik, Iran Ancam Israel dengan Satu Kata: “Erbil”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh melontarkan ancaman berbau rudal terhadap Rezim Zionis Israel.

Dalam konferensi pers mingguannya, Senin (4/4), dia mengatakan, “Rezim Zionis tak pernah kendur berusaha merusak keamanan di kawasan dan jalur politik regional, dan untuk mengingatkannya saya cukupkan dengan satu kata; Erbil.”

Dia mengatakan demikian ketika ditanya tentang Israel yang telah menunjuk atase militer untuk Armada Kelima AS di Bahrain.

Seperti diketahui, sekira tiga minggu lalu pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggempur markas dinas intelijen Israel (Mossad) di kota Erbil, pusat wilayah semi-otonomi Kurdistan Irak, dengan selusin rudal.

Kementerian Dalam Negeri di wilayah Kurdistan Irak mengklaim serangan itu itu “dilakukan terhadap markas baru Konsulat Amerika Serikat (AS) di Erbil serta daerah pemukiman sipil dekat gedung saluran Kurdistan 24 dan sekitarnya”.

Menanggapi pertemuan AS dan Israel dengan empat negara Arab di Negev, Israel, pada 27-29 Maret lalu, Khatibzadeh mengatakan, “Pertemuan-pertemuan seperti pertemuan Negev adalah untuk sekelompok orang buangan yang mengemis untuk keamanan mereka”.

Dia lantas mengingatkan bahwa “Palestina adalah urusan utama Dunia Islam meskipun telah terjadi pengkhianatan” dari empat negara Arab tersebut, yaitu Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran menyalahkan AS atas lambatnya proses pemulihan kesepakatan nuklir 2015, ketika para pejabat yang terlibat dalam pembicaraan di Wina, Austria, belakangan ini kerap menyebutkan bahwa Teheran dan negara-negara besar dunia, termasuk AS, sudah hampir menandatangani kesepakatan itu.

“Washington belum memutuskan masalah yang tersisa, kami tidak bisa menunggu selamanya … AS harus membuat keputusan politiknya,” tegas Khatibzadeh.

Khatibzadeh menyebut Gedung Putih menyandera perjanjian nuklir akibat tidak adanya sepakatan politik internal AS.

Dia menambahkan bahwa tak sesuai retorika Joe Biden, pemerintahan Presiden AS ini masih cenderung mengikuti jejak pendahulunya,  Donald Trump, dalam masalah nuklir.

“AS bertanggung jawab atas penghentian negosiasi hari ini dan kelanjutannya dalam beberapa hari mendatang. Solusinya ada di Gedung Putih dan mereka harus memberikan tanggapan logis kepada Iran sehingga kami dapat kembali ke Wina,” pungkasnya. (fna/raialyoum)

Media Turki: Ankara Pertimbangkan Kemungkinan Buka Dialog dengan Damaskus

Surat kabar Hurriyet terbitan Turki, Senin (4/4), melaporkan  bahwa otoritas Turki sedang mendiskusikan kemungkinan dimulainya dialog negara ini dengan pemerintah Suriah, hal yang pada gilirannya dapat menjurus pada pemulihan hubungan antara kedua negara.

Surat kabar Turki itu mengutip pernyataan sumber-sumber informasi bahwa “kebijakan keseimbangan yang diadopsi Turki belakangan ini serta peran yang dimainkan Ankara dalam beberapa bulan terakhir, terutama untuk penyelesaian perang di Ukraina” menghadirkan waktu yang tepat untuk penyelisaian krisis  hubungan Turki-Suriah.

Sumber-sumber itu menyebutkan  bahwa Turki, “dalam semua kontaknya dengan pemerintah Suriah,” telah menekankan tiga masalah urgen, yaitu “melestarikan struktur kesatuan dan kesatuan wilayah Suriah, memastikan keamanan pengungsi yang kembali ke negara mereka, dan masalah “aktivitas Partai Pekerja Kurdistan (PKK).”

Hurriyet mengabarkan bahwa Ankara telah menyampaikan tiga pesan penting ini kepada Damaskus, terutama menjelang kunjungan Presiden Suriah Bashar Al-Assad ke Uni Emirat Arab (UEA) beberapa waktu lalu. (alalam)

Israel Mengaku Menjalin Hubungan Rahasia dengan Banyak Negara Arab

Menteri Kerjasama Regional Israel, Issawi Frej, menyatakan bahwa negaranya menjalin hubungan rahasia dengan banyak negara Arab namun Israel lebih mengutamakan untuk tetap merahasiakan hubungan ini.

Dia menjelaskan bahwa dewasa ini negara-negara Arab tersebut menghendaki hubungan mereka dengan Israel tidak dipublikasikan sebagaimana normalisasi hubungan Israel dengan Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Dikutip saluran TV i24News milik Israel, Senin (4/4), Issawi juga menyebut normalisasi hubungan dengan empat negara Arab dalam Perjanjian Abraham sebagai satu prestasi besar.

Web site Al-Khalij Al-Jadid menyebutkan bahwa Issawi Frej menyatakan demikian manakala aliansi keamanan internasional belakangan ini menggelar pertemuan tingkat menteri di Dubai, UEA, yang dihadiri oleh 11 negara, yaitu; UEA, Maroko, Bahrain, Israel, Prancis, Italia, Spanyol, Senegal, Singapura, Slovakia dan Belanda.

Dalam pertemuan itu alians tersebut membahas penguatan upaya-upaya kontra-kejahatan terorganisir dan tran-nasional serta pemberantasan radikalisme dengan semua bentuknya.

UEA, Bahrain, Sudan dan Maroko menandatangani perjanjian kompromi dengan rezim Zionis pada akhir 2020, dan sejak hubungan mereka dengan Israel terus berkembang. (fna)