Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 5 Januari 2022

Jakarta, ICMES. Akun telegram Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengaitkan jatuhnya helikopter Israel yang menewaskan dua perwira negara Zionis ilegal ini pada hari Senin lalu  dengan ancaman IRGC untuk membalas darah jenderal legendaris Iran Qasem Soleimani.

Pasukan koalisi Arab yang dipimpinan Arab Saudi dalam perang di Yaman mengancam akan menggempur pelabuhan-pelabuhan Yaman yang digunakan pasukan Ansarullah (Houthi) dalam menghentikan dan menahan sebuah kapal bermuatan senjata dan berbendera Uni Emirat Arab.

Tahanan Palestina Hisham Abu Hawash yang telah melakukan mogok makan selama 141 hari untuk memrotes pemenjaraan dirinya tanpa dakwaan akhirnya berkenan mengakhiri aksi mogoknya setelah Israel menyetujui pembebasannya pada bulan depan.

Berita Selengkapnya:

Tanggapi Jatuhnya Helikopter Israel, Pasukan Iran: “Darah Dibalas Darah!”

Akun telegram Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengaitkan jatuhnya helikopter Israel yang menewaskan dua perwira negara Zionis ilegal ini pada hari Senin lalu (3/1) dengan ancaman IRGC untuk membalas darah jenderal legendaris Iran Qasem Soleimani.

Akun itu, Selasa (4/1), menyebutkan, “Tak sampai 24 jam dari postingan ancaman pembalasan terhadap para komandan Amerika Serikat (AS) dan Israel akun IRGC di Twitter, seorang perwira tinggi serta satu pilot  Angkatan Udara (AU) Israel tewas dalam sebuah insiden jatuhnya helikopter secara mengerikan. Otoritas Zionis melarang media menyebarkan rincian insiden ini.”

Akun telegram itu menutup postingannya tersebut dengan ungkapan; “Darah dibalas darah!”

Senin lalu akun IRGC memosting gambar-gambar buram tokoh-tokoh yang telah dihabisi sebagai balasan atas darah Jenderal Soleimani, disertai ancaman untuk melancarkan operasi ketiga dalam waktu dekat, tanpa menyebutkan nama dan cukup dengan ungkapan: “Darah dibalas darah.”

Hari ini, tentara Israel mengungkapkan nama dua orang yang tewas akibat kecelakaan helikopter kemarin di dekat Haifa. Keduanya adalah Letkol Erez Sachyani, wakil komandan Pangkalan Angkatan Udara Ezer Weizmann di Ramat David, dan Mayor Chen Fogel, pilot helikopter di skuadron “Pembela Barat” (193).

Media melaporkan bahwa seorang wanita Israel mengatakan bahwa kecelakaan itu juga mengakibatkan cederanya seorang perwira patroli angkatan laut berpangkat kapten.

Israel menyatakan bahwa helikopter itu terjatuh akibat kerusakan, bukan karena serangan. (raialyoum/timesofisrael)

Koalisi Arab Ancam Gempur Pelabuhan Yaman Jika Ansarullah Tak Lepaskan Kapal Senjata yang Disita

Pasukan koalisi Arab yang dipimpinan Arab Saudi dalam perang di Yaman, Selasa (3/1), mengancam akan menggempur pelabuhan-pelabuhan Yaman yang digunakan pasukan Ansarullah (Houthi) dalam menghentikan dan menahan sebuah kapal bermuatan senjata dan berbendera Uni Emirat Arab (UEA).

Sehari sebelumnya, pasukan Ansarullah menyita sebuah kapal bernama Rwabee yang berbendera UEA di selatan Laut Merah dekat kota Hudaydah Yaman. Koalisi mengklaim kapal itu memuat peralatan medis, namun Ansarullah membantahnya dengan merilis video yang memperlihatkan kapal itu memuat senjata dan perlengkapan militer.

Jubir tentara Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah, Brigjen Yahya Saree, mengatakan, “Angkatan Laut Yaman  berhasil melancarkan sebuah operasi militer berkualitas yang menyasar sebuah kapal militer di perairan regional Yaman di Laut Merah, tepatnya di depan provinsi Hudaydah, ketika sedang melakukan aktivitas agresif.”

Dia menambahkan, “Kapal agresif ini membawa perlengkapan militer berupa kendaraan dan berbagai peralatan yang digunakan dalam agresi terhadap bangsa Yaman.”

Saree menyampaikan pesan kepada negara-negara koalisi dengan mengatakan bahwa pasukannya mampu melindungi  perairan Yaman, dan siap untuk semua opsi, termasuk menguasai kapal-kapal bermuatan senjata yang digunakan untuk menyerang bangsa Yaman.

Di pihak lain, Jubir Koalisi Arab Turki Al-Maliki menegaskan bahwa Ansarullah harus membebaskan kapal Rwabee dengan semua muatannya yang “bercorak kemanusiaan dan non-militer” dari Pelabuhan Al-Salif .

Dia memperingatkan bahwa jika permintaan ini tidak dipenuhi maka “pelabuhan-pelabuhan yang menjadi tempat peluncuran dan perlindungan operasi perompakan, penculikan dan perampokan bersenjata serta para anasir perompakan laut yang telah terjadi itu akan menjadi target serangan militer yang sah.”

Seorang pejabat Saudi yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan kepada AFP , “Pasukan koalisi bisa jadi akan menyerang kapal itu jika tidak dilepaskan oleh Houthi.” Dia mengklaim bahwa Ansarullah Yaman telah membuat video palsu yang memperlihatkan adanya senjata dan kendaraan-kendaraan militer Saudi di dalam kapal tersebut.

Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) di Teluk Persia, yang juga meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengkonfirmasi kepada AFP pada Senin lalu bahwa “proses penahanan (kapal) ini adalah tindakan yang tidak biasa. Tampaknya ini adalah kasus pertama yang diketahui dari penyitaan kapal koalisi pimpinan Saudi oleh Houthi selama lebih dari dua tahun.”

Namun, pejabat itu mengaku tidak mengetahui isi kapal atau apakah kapal itu memuat peralatan militer.

Pada November 2019, Ansarullah pernah menyita lokomotif Saudi serta kapal dan eskavator Korea Selatan di utara kota Hudaydah di pantai Laut Merah, tapi kemudian melepaskannya lagi.

Sejak pertengahan 2014, Yaman diwarnai perang perebutan kekuasaan antara Ansarullah dan pasukan pemerintah yang didukung oleh koalisi militer pimpinan Saudi sejak Maret 2015. (raialyoum)

Israel Akhirnya Setujui Pembebasan Abu Hawash, Tahanan Palestina yang Mogok Makan

Tahanan Palestina Hisham Abu Hawash yang telah melakukan mogok makan selama 141 hari untuk memrotes pemenjaraan dirinya tanpa dakwaan akhirnya berkenan mengakhiri aksi mogoknya setelah Israel menyetujui pembebasannya pada bulan depan.

Hisham Abu Hawwash, 40 tahun, ayah lima anak, adalah yang terbaru dari beberapa orang Palestina yang melakukan mogok makan untuk memprotes “penahanan administratif”, sebuah tindakan di mana seseorang  dapat ditahan tanpa batas waktu dan tanpa dakwaan atau pengadilan.

Tahanan administratif ditangkap atas “bukti rahasia”, tanpa menyadari dakwaan terhadapnya, dan tidak diperkenankan membela diri di pengadilan.

Pengacara Abu Hawwash, Jawad Boulos, Selasa (4/1) mengatakan bahwa Abu Hawwash berkenan mengakhiri mogok makan setelah Israel berjanji untuk membebaskannya pada 26 Februari mendatang, namun tak ada komentar segera dari pejabat Israel.

Warga Palestina telah berunjuk rasa di Tepi Barat dan Jalur Gaza untuk menandai dukungan mereka kepada Abu Hawwash. Faksi Jihad Islam Palestina bahkan mengancam akan melakukan aksi militer terhadap Israel jika dia meninggal dalam tahanan.

Kelompok-kelompok tahanan telah memperingatkan bahwa Abu Hawwash menghadapi “bahaya kematian yang akan segera terjadi”.

Pemogokan makan biasanya dirawat di rumah sakit untuk waktu yang lama sampai pihak berwenang Israel menyetujui pembebasan mereka.

Abu Hawwash dirawat di rumah sakit sejak bulan lalu. Selama beberapa hari terakhir, dia mengalami koma, dan sempat kehilangan penglihatan dan kemampuan berbicara, menurut laporan media setempat.

Aksi mogok makan Abu Hawwash adalah yang terpanjang setelah mogok makan selama delapan bulan yang diluncurkan oleh tahanan yang dibebaskan Samer Issawi yang berakhir pada 2013.

Klub Tahanan Palestina menyatakan bahwa  Hisyam Abu Hawash meraih kemenangan setelah 141 hari pertempuran heroik di mana dia menolak penahanan administratif atas dirinya. (aljazeera/raialyoum)