Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 30 Juni 2021

sayid nasrallah dan ismail haniyehJakarta, ICMES. Kepala Biro Politik Hamas di luar negeri, Ismail Haniyeh, dalam kunjungannya ke Libanon telah mengadakan pertemuan dengan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah.

Sekjen faksi Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Al-Nakhalah menegaskan bahwa para pejuang Palestina siap membalas dengan menggempur kota Tel Aviv jika Rezim Zionis Israel melakukan aksi teror.

Ketua Otoritas Palestina Mahmoud Abbas alias Abu Mazen menyebut normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Rezim Zionis Israel sebagai halunisinasi yang tak akan pernah bermuara pada perdamaian.

Kelompok pejuang Irak Ashaib Ahl al-Haq menyatakan pihaknya sedang bersiap siaga untuk membalas serangan tentara AS terhadap pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi.

Berita Selengkapnya:

Berkunjung ke Libanon, Pemimpin Hamas Jumpai Sekjen Hizbullah

Kepala Biro Politik Hamas di luar negeri, Ismail Haniyeh, dalam kunjungannya ke Libanon telah mengadakan pertemuan dengan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah, Selasa (29/6).

Dalam pertemuan ini keduanya membahas hasil dan perkembangan situasi pasca perang Gaza-Israel 10-21 Mei 2021 yang dinamai “Perang Pedang Qud” serta menegaskan pentingnya penguatan hubungan antara Hamas dan Hizbullah  dan kedudukan keduanya dalam Poros Resistensi dan perang di masa mendatang yang dinilai akan sangat determinan.

Sejak beberapa hari lalu Ismail Haniyeh beserta rombongan delegasi Hamas yang dipimpinnya melakukan safari ke beberapa negara Arab dan mengadakan pertemuan dengan para pejabat maupun tokoh masyarakat negara setempat.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa safari itu masih berlanjut tanpa menyebutkan jadwal waktu dan negara yang dituju. Mereka juga mengatakan bahwa kunjungan delegasi Hamas ke Libanon membawa empat agenda, yang utamanya adalah membicarakan perkembangan situasi politik Palestina pasca perang 11 hari Gaza-Israel.

Dalam pertemuan dengan para pejabat Libanon, delegasi Hamas menyatakan apresiasinya atas dukungan pemerintah dan rakyat Libanon kepada Palestina serta upaya mereka mendekatkan pandangan antarfaksi Palestina.

Agenda lain ialah mengevaluasi hasil perang terbaru Gaza-Israel, yang menurut mereka, satu di antaranya ialah keterbuktian bahwa kota suci Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) adalah pusat konflik Palestina-Israel serta merupakan jarum Kompas pemersatu bangsa Palestina. (almanar)

Jihad Islam Palestina: Bukan Waktunya lagi Israel Dapat Menyerang Gaza Semaunya

Sekjen faksi Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyad Al-Nakhalah menegaskan bahwa para pejuang Palestina siap membalas dengan menggempur kota Tel Aviv jika Rezim Zionis Israel melakukan aksi teror.

“Perang terbaru (Gaza-Israel 10-21 Mei 2021) telah membuat musuh, Zionis, berpikir seribu kali sebelum mengagresi Gaza, karena mereka tak akan sanggup membayar besarnya biaya dampak serangan ke Gaza,” ungkap Al-Nakhalah, Selasa (29/6).

“Sudah berlalu masa di mana (mantan perdana menteri Israel Ariel) Sharon dapat menyerang Gaza kapanpun dia menghendakinya. Dia telah sedemikian pongah sehingga dalam peristiwa serangan Zionis ke Libanon pada tahun 1982 dia bersumbar bahwa dengan pasukannya itu dia dapat masuk bahkan sampai ke Karachi (Pakistan),” imbuh Al-Nakhalah.

Sekjen PIJ, kelompok pejuang Palestina yang sangat dekat dengan Iran, menyebutkan bahwa sebagian besar senjata yang dimiliki faksi-faksi pejuang Palestina di Gaza adalah buatan lokal.”

“Kami terus berusaha menguasai sarana-sarana kekuatan, dan kami memotivasi bangsa kami untuk berjuang melawan musuh,” terangnya.

Ziyad Al-Nakhalah lantas menegaskan bahwa jika Israel sampai melakukan aksi teror terhadap tokoh Palestina di dalam maupun di luar negeri maka “kami akan membalasnya dengan membombardir Tel Aviv”.

Dia juga memastikan bahwa “Quds akan senantiasa ada untuk kami, Palestina”, dan bahwa spirit persatuan nasional adalah kunci kemenangan dalam perang melawan Rezim Zionis Israel. (tasnim)

Mahmoud Abbas: Normalisasi dengan Israel, Halusinasi yang Tak akan Berbuah Perdamaian

Ketua Otoritas Palestina Mahmoud Abbas alias Abu Mazen menyebut normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Rezim Zionis Israel sebagai halunisinasi yang tak akan pernah bermuara pada perdamaian.

Bersamaan dengan ini, Hamas menyebut pembukaan Kedubes Israel di Abu Dhabi sebagai bukti kebersikukhan Uni Emirat Arab (UEA) pada “kesalahan nasional”-nya.

Dikutip Al-Quds Al-Arabi, Selasa (29/6), dalam kata sambutan pada sebuah konferensi ilmiah di Universitas Quds, Ramallah, Tepi Barat, Mahmoud Abbas mengatakan, “Sudah jelas bagi semua orang bahwa perjanjian normalisasi yang dinamai Perjanjian Abraham adalah ilusi yang tak akan pernah membuahkan hasil. Perdamaian dan keamanan tidak akan tercapai kecuali jika pendudukan diakhiri dan rakyat Palestina dapat meraih haknya untuk bebas, merdeka dan memiliki negara yang beribu kotakan Baitul Maqdis (Quds/Yerussalem).”

Mengenai konferensi itu sendiri, Abu Mazen mengatakan, “Dunia mulai melihat realitas bahwa Israel adalah rezim pendudukan dan rasis… Saya yakin bahwa para peneliti dan peserta konferensi ini dapat memainkan peran penting dalam pengungkapan fakta dan pembongkaran narasi-narasi keliru proyek Zionis yang dibuat oleh negara-negara Barat demi tujuan yang sepenuhnya imperialistik.”

Dia menjelaskan, “Kekuatan-kekuatan imperialis Barat telah membentuk Israel di Timteng pada abad-abad 19 dan 20. Tujuan mereka adalah memecah belah dan melemahkan kawasan ketika mereka membuat konspirasi di mana mereka mengalirkan imigran Yahudi ke Palestina dan mengakui negara bernama Israel. Dukungan Barat kepada Israel telah menyebabkan pengungsian lebih dari separuh penduduk pribumi Palestina, yang jumlahnya mencapai lebih dari 6.5 juta jiwa.”

Abu Mazen menyatakan demikian bersamaan dengan pembukaan Kedubes Israel untuk Uni Emirat Arab (UEA) di Abu Dhabi, Selasa.  UEA adalah negara Arab pertama yang pada tahun lalu mengadakan normalisasi hubungan dengan Israel melalui mediasi AS. Negara ini kemudian disusul oleh Bahrain, Sudan dan Maroko dalam normalisasi tersebut.

Faksi pejuang Hamas menyebut pembukaan Kedubes Israel di Abu Dhabi sebagai “kebersikerasan pemerintah Emirat pada kesalahan nasional”.

Jubir Hamas Hazim Qasim dalam sebuah statemennya menyatakan, “Pembukaan Kedubes Rezim Zionis di Abu Dhabi merefleksikan kebersikukuhan pemerintah Emirat pada kesalahan nasional yang mereka lakukan dengan meneken perjanjian normalisasi.”

Dia juga menyebutkan bahwa peresmian Kedubes itu terjadi bersamaan dengan operasi Israel menghancurkan rumah-rumah orang Palestina di lingkungan Salwan di kota Quds.

“Ini membuktikan kebenaran apa yang selalu kami peringatkan bahwa perjanjian normalisasi akan mendorong rezim pendudukan untuk meningkatkan agresinya terhadap bangsa kami dan apa yang mereka sucikan,” ungkap jubir Hamas. (fna/raialyoum)

Kelompok Pejuang Irak: Balasan Segera Kami terhadap AS akan di Luar Dugaan  

Kelompok pejuang Irak Ashaib Ahl al-Haq menyatakan pihaknya sedang bersiap siaga untuk membalas serangan tentara AS terhadap pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi.

Sekjen gerakan Ashaib Ahl al-Haq, Qais Khazali, Selasa (29), menegaskan, “Kami sedang bersiaga penuh, dan berkemampuan membalas serangan musuh… Balasan kami akan di luar dugaan musuh, baik dari segi tempat maupun jenis senjata.”

Seperti pernah diberitakan, tentara AS pada dini hari Senin lalu telah melancarkan serangan udara sengit terhadap beberapa posisi pasukan relawan Al-Hashd Al-Shaabi di perbatasan Irak-Suriah hingga menyebabkan empat relawan Irak gugur.

Khazali mengimbau agar aksi pembalasan terhadap serangan AS tak dikaitkan dengan konflik Iran-AS karena murni merupakan perlawanan terhadap pasukan pendudukan yang bercokol di Irak.

“Kami sebagai anggota resistensi Irak tak ada kaitannya dengan apa yang disebut berkas nuklir (Iran),” tegasnya.

Sehari sebelumnya, faksi-faksi militan bersenjata Irak melalui statemen Dewan Koordinasi Resistensi Irak bersumpah akan membalas serangan udara AS tersebut. Dewan ini mencakup faksi-faksi pejuang Irak yang didukung Iran, termasuk Brigade Hizbullah Irak, Ashaib Ahl Haq, Kataib Sayyid Al-Syuhada dan Harakah Al-Nujaba. (fna/tasnim)