Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 30 Januari 2019

iran ali shamkhaniJakarta, ICMES: Iran menyatakan senjata-senjata baru telah sampai ke Lebanon dan Gaza, dan menyebut isu terowongan lintas perbatasan Lebanon-Israel yang dihembuskan Israel sebagai propaganda untuk mengalihkan perhatian publik dari skandal korupsi pemerintahannya.

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berulang kali mengaku berhasil mengalahkan ISIS, namun intelijen AS sekarang justru memperkirakan kelompok teroris takfiri ini masih tangguh.

Penyelidik HAM PBB yang memimpin penyelidikan internasional atas pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi menyatakan akan memublikasi laporannya tentang kasus ini pada Mei mendatang.

Berita selengkapnya:

Iran Umumkan Terkirimnya Senjata Baru Kepada Kubu Resistensi Di Lebanon Dan Gaza

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani bahwa senjata-senjata baru dari Iran telah sampai ke Lebanon dan Gaza, dan menyebut isu terowongan lintas perbatasan Lebanon-Israel yang dihembuskan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai propaganda untuk mengalihkan perhatian publik dari skandal korupsi ekonomi dan moral dalam pemerintahannya.

“Penemuan ratusan kilometer terowongan di bawah kaki Zionis adalah skandal besar bagi instansi keamanan Zionis,” ujar Samkhani dalam sebuah pernyataan pers, Selasa (29/1/2019).

Dia menambahkan, “Rudal berpresisi tinggi berada di tangan kubu resistensi di Libanon dan Gaza untuk menanggapi kebodohan yang dilakukan Israel,” lanjutnya.

Petinggi Iran ini  kemudian menuduh media Barat dan Israel berusaha menciptakan opini yang mengaitkan program luar angkasa Iran dengan program pengembangan rudalnya.

Di hari yang sama saat mengomentari peringatan sanksi Eropa dan Amerika Serikat (AS) atas program rudal balistik Iran, seorang pejabat senior militer Iran menyatakan negaranya “tidak memiliki rencana untuk mengembangkan jangkauan misil-misilnya.”

Dia menekankan bahwa Iran secara sukarela sudah menetapkan jangkauan roketnya sejauh 2.000 kilometer, jarak yang cukup untuk mencapai Israel dan pangkalan-pangkalan Barat di Timur Tengah.

Washington dan sekutunya menuduh Teheran semakin memperkuat kemampuan misil pada skala yang menimbulkan ancaman bagi Eropa.

Ali Shamkhani mengatakan,Iran sama sekali tidak menderita kerugian secara ilmiah dan operasional jika menambah jarak jangkau rudal militernya. Namun, kecuali melanjutkan upaya untuk meningkatkan akurasi, Iran tidak berniat mengembangkan jarak jangkau itu, berdasarkan strategi pertahanannya.”

Presiden AS Donald Trump menyebut program rudal Iran sebagai salah satu alasan mengapa Washington pada tahun lalu mengumumkan keluar dari perjanjian nuklir Iran yang diteken Iran dan beberapa negara besar dunia pada tahun 2015.

Negara-negara Eropa bersikeras mempertahankan perjanjian nuklir itu, namun beberapa di antara mereka menuntut kesepakatan tambahan agar menyentuh masalah program rudal balistik Iran dan keterlibatannya dalam konflik di Timur Tengah.

Shamkhani merilis pernyataan pers tersebut setelah Perancis pada Jumat lalu menyatakan siap menjatuhkan sanksi baru jika tidak ada kemajuan dalam pembicaraan terkait dengan masalah perjanjian tambahan.

“Kami sudah mulai melakukan dialog sulit dengan Iran yang seharusnya berlanjut, dan kami siap menjatuhkan sanksi berat jika gagal. Mereka mengetahui hal ini,” kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian.

Iran menanggapi peringatan ini dengan balik menyebut penjualan senjata Prancis di Timur Tengah sebagai penyebab instabilitas kawasan ini.

Program luar angkasa Iran telah mendapat kecaman dari Barat ketika Washington mengklaim bahwa upaya Iran yang telah gagal untuk mengorbitkan satelit terbarunya awal bulan ini tidak lebih dari kedok bagi upaya mengembangkan rudal balistik antarbenua.

Namun, Shamkhani dalam pidatonya pada Konferensi Nasional Teknologi dan Aplikasi Antariksa di Teheran mengatakan Iran tidak akan pernah menerima pembatasan peluncuran satelit.

“Kami akan serius menindak lanjuti pengembangan program luar angkasa,” tegasnya. (mm/ raialyoum)

Intelijen AS Sebut ISIS Masih Punya Ribuan Militan

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berulang kali mengaku berhasil mengalahkan ISIS, namun intelijen AS sekarang justru memperkirakan kelompok teroris takfiri ini “sangat mungkin akan terus mengupayakan serangan eksternal dari Irak dan Suriah terhadap musuh-musuh regional dan Barat, termasuk AS.”

Direktur Intelijen Nasional AS Dan Coats dalam laporannya yang berjudul “Penilaian Ancaman Sedunia”, Selasa (29/1/2019), juga menyatakan bahwa setelah kehilangan wilayahnya baru-baru ini, “ISIS akan berupaya untuk mengeksploitasi keluhan Sunni, instabilitas masyarakat, dan memperluas pasukan keamanan untuk mendapatkan kembali wilayah di Irak dan Suriah di wilayah tersebut dalam jangka panjang.”

Coats menyatakan kepada anggota Komite Intelijen Senat bahwa ISIS “telah kembali ke akar perang gerilya sambil terus merencanakan serangan dan mengarahkan para pendukungnya ke seluruh dunia.”

Namun dia juga memastikan ISIS mempertahankan kehadirannya di Irak dan Suriah.

“ISIS bermaksud untuk bangkit kembali dan masih memimpin ribuan pejuang di Irak dan Suriah,” katanya.

Mengenai rencana penarikan pasukan AS dari Suriah,  intelijen AS menilai pemerintah Suriah kemungkinan tidak akan fokus pada pembasmian ISIS dari negara ini.

“Rezim ini tampaknya tidak akan segera fokus pada pembersihan ISIS dari daerah-daerah terpencil yang tidak mengancam infrastruktur militer, ekonomi, dan transportasi utama, dilihat dari upaya kontra-ISIS sebelumnya,” bunyi laporan baru itu.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Pertahanan Patrick Shanahan, Selasa, mengatakan kepada wartawan bahwa ISIS telah kehilangan “99,5% plus” dari wilayah yang pernah dikuasainya di Suriah dan Irak, dan “dalam beberapa minggu, itu akan menjadi 100%.”

“ISIS tidak lagi dapat memerintah di Suriah, ISIS tidak lagi memiliki kebebasan untuk pasukan massa, Suriah tidak lagi menjadi tempat yang aman,” kata Shanahan.

Para pejabat pemerintahan Trump telah berulang kali menyepelekan jangkauan dan dampak ISIS di Suriah sejak Presiden Donald Trump pada bulan Desember lalu mengumumkan rencana AS untuk menarik pasukannya dari Suriah.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga telah menggembar-gemborkan beberapa hal yang dianggapnya sebagai prestasi AS dan para mitranya dalam perang melawan ISIS. (mm/cnn)

Mei Mendatang Penyelidik HAM PBB Akan Publikasi Laporannya Mengenai Pembunuhan Khashoggi

Penyelidik HAM PBB yang memimpin penyelidikan internasional atas pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi, Selasa (30/1/2019), dilaporkan akan mengadakan pertemuan dengan kepala Kejaksaan Istanbul.

Sehari sebelumnya, Pelapor Khusus PBB Agnes Callamard, dalam kunjungan selama seminggu ke Turki dengan tim forensik dan hukum, menemui Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu.

“Kami telah meminta kepada pemerintah Saudi untuk akses ke konsulat serta pertemuan dengan pihak berwenang Saudi di sini. Kami sedang menunggu tanggapan mereka,” kata Callamard.

“Agar adil, permintaan datang kepada mereka agak terlambat sehingga kami harus memberi mereka waktu untuk memproses permintaan kami. Kami dengan hormat meminta izin untuk memberi kami akses pada tahap tertentu,” lanjutnya.

Callamard mengatakan laporannya akan dipublikasikan tepat waktu untuk sidang Dewan HAM PBB pada Juni mendatang.

Dia menjelaskan, “Laporan itu akan dipublikasikan beberapa minggu sebelum saya menyerahkannya ke Dewan HAM di Jenewa. Jadi, mungkin akhir Mei.”

Khashoggi yang bekerja sebagai jurnalis Washington Post dibunuh dan dimutilasi di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018.

Agen intelijen AS meyakini Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MbS) memerintahkan operasi pembunuhan  Khashoggi.

Pemerintah Riyadh tentu saja membantah MbS terlibat dalam kejahatan yang menggemparkan dunia itu, dan mengklaim bahwa pembantaian itu dilakukan oleh para oknum “nakal” yang bertindak atas kemauan sendiri. (mm/aljazeera)