Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 30 Desember 2020

roket di gazaJakarta, ICMES. Sebuah latihan militer yang diikuti oleh semua faksi pejuang Palestina dari berbagai wilayah Jalur Gaza dengan sandi “Pilar Keras” telah berakhir pada hari Selasa (29/12).

Militer Israel mengklaim bahwa personelnya telah melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk menghalau sejumlah orang yang berusaha menyusup dari wilayah Lebanon

Iran memperingatkan bahwa normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Rezim Zionis Israel tidak akan menghasilkan apa pun bagi Riyadh kecuali ketidakamanan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menunda jadwal kunjungannya ke Uni Emirat Arab dan Bahrain karena rezim  ilegal Zionis penjajah Palestina itu sedang memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran inveksi virus corona (Covid-19).

Berita Selengkapnya:

Faksi-Faksi Palestina Berlatih Militer di Gaza, Roket Ditembakkan ke Laut

Sebuah latihan militer yang diikuti oleh semua faksi pejuang Palestina dari berbagai wilayah Jalur Gaza dengan sandi “Pilar Keras” telah berakhir pada hari Selasa (29/12).

Latihan itu dimulai dengan konferensi pers yang diselenggarakan oleh juru bicara Brigade Al-Quds, Abu Hamzah, yang juga mewakili faksi-faksi tersebut di sebuah lokasi di selatan kota Gaza bersamaan dengan penembakan sejumlah roket percobaan ke arah laut, seperti terlihat dalam video yang beredar terkait dengan peristiwa itu.

Latihan itu juga melibatkan pesawat-pesawat nirawak pengintai yang difungsikan untuk memantau sekaligus menyerang.

Para pejuang Palestina dalam manuver itu antara lain berlatih mencegah serbuan pasukan Zionis Israel ke Jalur Gaza, meningkatkan kemampuan pasukan komando, termasuk pasukan katak, menjalankan operasi penawanan pasukan Israel, dan meluncurkan roket.

Dalam latihan itu terlihat adanya perkembangan pada jenis roket-roket yang dibuat oleh poros resistensi Palestina.

Dalam jumpa pers, Abu Hamzah menjelaskan bahwa manuver militer itu “mensimulasikan ancaman musuh yang terprediksi, dan bertujuan meningkatkan kepabilitas dan kemampuan para petempur kubu resistensi untuk berlaga dalam berbagai keadaan dan waktu.”

Dia juga menegaskan bahwa jika Israel berpikir untuk melakukan petualangan militer maka kubu resistensi akan menghadapinya dengan segenap kekuatan dan “akan ada banyak kejutan”.

Kubu resistensi Palestina memiliki berbagai jenis senjata, terutama roket buatan lokal yang dapat menjangkau berbagai kota di bagian tengah Israel, termasuk Tel Aviv, dan bahkan kota-kota lain di Israel utara.

Latihan militer itu juga membawa pesan yang menegaskan bahwa para pejuang Palestina siap sepenuhnya melawan segala bentuk agresi Israel, membom semua tempat di Israel, dan mengantisipasi eskalasi militer Israel terhadap Gaza sebagaimana yang pernah berulang kali terjadi di masa lalu. (alquds)

Militer Israel Klaim Ada Upaya Penyusupan dari Wilayah Libanon

Militer Israel mengklaim bahwa personelnya telah melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk menghalau sejumlah orang yang berusaha menyusup dari wilayah Lebanon.

Juru bicara militer Israel, Avichai Adraee, di halaman Twitter-nya, Selasa (29/12), menyebutkan bahwa pasukan Israel saat itu melihat sejumlah orang mendekati pagar keamanan satu di antaranya memanjat pagar, dan menyusup ke perbatasan namun tak lama kemudian kembali wilayah ke Lebanon.

Dia juga menyatakan “Pasukan kami yang segera tiba di tempat kejadian melihat para tersangka dan mengambil tindakan yang diperlukan, termasuk tembakan peringatan ke udara, untuk menyingkirkan mereka dari pagar.”

Dia menambahkan, “Pasukan juga menyisir daerah tersebut dan memastikan tidak ada tindakan infiltrasi lainnya.”

Belum ada komentar dari para pejuang Libanon, termasuk Hizbullah.

Situasi di perbatasan antara Israel (Palestina pendudukan 1948) dan Libanon dikenal sangat sensitif mengingat tajamnya permusuhan antara para pejuang Libanon dan pasukan Zionis Israel, sehingga sedikit saja terjadi benturan antara kedua pihak dapat berubah menjadi perang berskala besar.  (rta)

Iran Ingatkan Normalisasi Saudi-Israel hanya akan Mengusik Keamanan Saudi sendiri

Ajudan Khusus Ketua Parlemen Iran Majelis Syura Islam untuk Urusan Internasional, Hossein Amir Abdollahian, menyatakan bahwa normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Rezim Zionis Israel tidak akan menghasilkan apa pun bagi Riyadh kecuali ketidakamanan.

“Kompromi pemerintah Arab Saudi dengan rezim Zionis hanya akan membuat Riyadh tidak aman,” ungkapnya dalam s wawancara dengan saluran Al-Mayadeen, Selasa (29/12).

Mengenai agresi militer Saudi dan sekutunya terhadap Yaman, Abdollahian mengatakan, “Perang terhadap Yaman adalah plot Amerika-Zionis, sementara pemerintah Arab Saudi hanyalah pion dan boneka di tangan mereka.”

Dia menambahkan, “Kami menyesalkan bahwa beberapa negara terburu-buru menormalisasi hubungan mereka dengan rezim Zionis, sebuah kompromi yang membuat negara-negara Muslim menjadi musuh.”

Tentang sepak terjang Jenderal Qassem Soleimani yang gugur diserang pasukan Amerika Serikat (AS) di Irak pada Januari 2020, Abdollahian menyebut mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu  telah berjuang membelaki dan melatih pasukan Poros Resistensi,  dan “aksi strategis” ini akan terus berlanjut.

Dia menyebutkan beberapa kelebihan Soleimani dengan mengatakan, “Syahid Soleimani, selain karakteristik militernya, memiliki pengetahuan diplomatik yang unik. Dia adalah seorang komandan pemberani yang tak pernah lelah, dan sangat serius dalam apa yang dia lakukan. ”

Qassem Soleimani adalah sosok jenderal terkemuka dan legendaris Iran yang telah melatih pasukan di Irak dan Suriah dan mengelola berbagai operasi penumpasan kelompok-kelompok teroris di dua negara tersebut, terutama ISIS.

Para pengamat juga menyebutnya sebagai tokoh yang telah mengandaskan berbagai rencana besar Amerika Serikat (AS) untuk menyulap Timur Tengah sebagai kawasan yang ramah bagi Zionisme dan imperialisme serta aman bagi terorisme.  (mn)

Untuk Ketiga Kalinya, Netanyahu Tunda Kunjungan ke UEA dan Bahrain

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menunda jadwal kunjungannya ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain karena rezim  ilegal Zionis penjajah Palestina itu sedang memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran inveksi virus corona (Covid-19).

Reuters mengutip keterangan pejabat UEA dan Israel bahwa kunjungan yang dijadwalkan minggu depan ditunda ke kemudian hari.

Penundangan ini tercatat sebagai yang ketiga kalinya untuk rencana safari Netanyahu ke beberapa negara Arab di Teluk Persia beberapa hari sebelum tanggal yang dijadwalkan.

Dilaporklan pula bahwa dalam beberapa pekan terakhir telah dilakukan kontak antara kantor Netanyahu dan pejabat senior UEA dan Bahrain untuk mengoordinasikan tanggal baru untuk menggantikan jadwal yang ditetapkan sebelumnya, yaitu minggu pertama Januari mendatang.

Media Israel saat itu menyebutkan bahwa pada tanggal 13 Desember Netanyahu menunda kunjungan ke dua negara Arab Teluk itu, yang dijadwalkan pada tanggal 20 Desember, akibat “perkembangan di kancah Israel”, dan penundaan itu merupakan yang kedua kalinya.

UEA dan Bahrain telah menormalisasi hubungan dengan Israel dengan mediasi Amerika Serikat sejak beberapa bulan lalu. Langkah dua negara Arab Teluk ini kemudian diikuti oleh dua negara Arab lain, yaitu Sudan dan Maroko. (rta).